Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pantry


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman ibu Neo. Semua kerabat datang ke pemakaman. Ayah Neo juga ikut dengan kursi roda. Pria paru baya itu hampir saja serangan jantung mendengar dua kabar buruk sekaligus. Pertama, istri tercintanya meninggal dunia dan anak perempuannya diculik.


Untungnya Ayah Neo dengan nama Asli Evaninno Jacon Chixeon itu, tidak memiliki riwayat penyakit jantung sehingga pria paru baya itu baik-baik saja.


Tanah pemakaman milik pribadi itu hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja sehingga bisa dihitung dengan jari. Semua orang berpakaian serba hitam menatap gundukan tanah dengan nama yang sangat mereka kenal. Venindara Ranya Chixeon.


Terlihat kerabat wanita menangis, sedangkan kerabat pria hanya menatap dengan bermacam ekspresi. Neo sendiri memegang kursi roda san papi dan berdiri tepat di samping makam sang mami.


Meski terlihat diluar wajah mereka biasa saja, tetapi percayalah, kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi kita bukan sesuatu yang biasa. Keduanya tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Mereka hanya bisa menatap datar makam orang yang mereka sayangi itu.


Neo mengepalkan tangannya yang menggenggam kursi roda sang papi dengan kuat. Dia berjanji dalam hati untuk membalaskan kematian sang mami dan mencari adiknya. Setelah pulang dari sini, Neo mungkin akan sibuk mengurus pencarian Phiranita. Ayahnya akan dijaga oleh dokter pribadi.


Rihan bersama Alex yang juga ikut serta dalam pemakamam hanya diam. Keduanya juga memasang ekspresi datar. Rihan tetap tenang seperti biasa karena tubuh asli ibu Neo ada bersamanya.


Karena Rihan yang mengurus pemakaman, maka bukan hal yang sulit untuk menukar tubuh ibu Neo dengan mayat lain yang terlihat sedikit mirip.


Sebelum pemakaman, Rihan sudah mendapat data hasil racun itu bersamaan dengan penawarnya. Ketika diujicoba, ternyata racun itu adalah racun yang membuat orang yang mengkonsumsinya kehilangan detak jantungnya selama 6 jam. Bisa dibilang semacam racun mati suri.


Jika melewati waktu dan penawar racun itu tidak diberikan maka jantung orang itu benar-benar akan berhenti berdetak dan dinyatakan mati selamanya. Bersyukur penawar racun diberikan sebelum waktunya pada ibu Neo sehingga wanita paru baya itu akhirnya sadar lagi.


Rihan kini berpikir, alasan pasti racun itu diberikan pada kedua orang tua Neo. Jika mereka ingin membunuh, kenapa harus menggunakan racun itu? Apa mereka salah membawa racun, atau itu sudah rencana mereka, siapa yang tahu.


Mungkin saja mereka sengaja melakukan itu agar orang lain berpikir kedua orang tua Neo sudah meninggal dan dikuburkan. Setelah itu mereka akan memberitahukan fungsi racun itu yang sebenarnya sehingga Neo mungkin akan menyesal. Ketika memikirkan hal itu, Rihan hanya bisa menggeleng kepalanya. Bisa-bisanya pemikiran itu muncul begitu saja.


Untuk saat ini, Rihan akan menyembunyikan keberadaan ibu Neo agar tidak diketahui oleh musuh. Lagi pula wanita paru baya itu sudah setuju dengan rencana Rihan.


Meski kasihan dengan dua pria yang saat ini hanya memasang ekspresi datar pada gundukan tanah di depan mereka, tetapi semua demi kebaikan mereka juga. Biarkan musuh senang terlebih dahulu. Itulah slogan yang selalu Rihan pakai.


Setelah pemakaman berakhir,  semua orang pulang ke tempat masing-masing. Hanya tersisa Rihan, Neo, ayah Neo, Alex dan Logan. Rihan dan dua asisten pribadi itu berdiri dua meter dari makam untuk memberikan sedikit ruang pada Neo dan sang papi. Setelah selesai, mereka pulang ke mansion utama keluarga Chixeon. Rihan dan Alex semobil, sedangkan Logan menyetir untuk Neo dan ayahnya.


...


"Malam nanti, nyonya Dara akan berangkat ke Prancis bersama beberapa anggota pengawal bayangan. Mereka akan menggunakan penerbangan biasa agar tidak mencurigakan," Lapor Alex sambil menyetir.


"Hmm. Ingat untuk tidak ceroboh. Aku juga sudah memberitahukan rencana kita pada mama dan papa di Prancis sehingga mama yang akan merawat bibi Dara hingga sembuh." Balas Rihan datar dengan pandangannya mengarah keluar jendela mobil.


"Baik, Tuan."


"Ada petunjuk dari pencarian Tata?" Tanya Rihan masih dengan posisi yang sama.

__ADS_1


"Yang kami dapatkan tadi hanya jejak kaki dua orang yang sudah dipastikan milik nona Phi dan penculik itu. Jejak kendaraan juga ditemukan di sekitar tempat itu yang mengarah ke jalan tol sehingga kami sedikit kesulitan karena ada banyak ban mobil dengan merek yang sama.


Belum lagi cctv jalan tol saat itu mati sehingga tidak ada petunjuk apapun, Tuan. Tapi kami akan tetap berusaha mencari."


"Hmm. Di mana Brand sekarang?"


"Brand masih di Indonesia, Tuan. Anda mencurigainya?"


"Tidak."


"Bukannya dia juga musuh Tuan Neo? Dia juga mengincar Nona Phi,"


"Jika dia menculik Tata, aku setuju. Tapi untuk rencana pembunuhan itu tidak mungkin karena Brand tidak akan membunuh ibu kak Neo yang sudah dia kenal cukup lama."


"Bisa saja dia melakukannya karena sudah menaruh dendam pada Tuan Neo,"


"Entahlah. Aku tidak yakin,"


"Apa ini rencana gadis itu?" Gumam Alex lalu melirik Rihan lewat kaca spion.


"Bisa jadi. Kamu tahu dimana keberadaannya?" Tanya Rihan membalas lirikan Alex.


"Cari terus keberadaannya."


"Siap, Tuan."


***


Malam hari di Mlmansion keluarga Chixeon yang begitu besar, terlihat sunyi. Maklum saja karena sudah pukul 9 malam. Semua orang sudah beristirahat. Belum lagi mereka dalam suasana berkabung.


Rihan juga sudah menyuruh Alex untuk beristirahat sehingga dia hanya duduk sendiri di tempat tidur sambil bersandar di kepala tempat tidur memainkan ponselnya. Merasa haus, Rihan melirik gelas di nakas sampingnya, ternyata kosong.


Rihan akhirnya memutuskan untuk keluar kamar mengambil minum. Kebetulan pantry milik keluarga Neo, lebih tepatnya itu dibuat oleh Neo yang jika suntuk, atau banyak pikiran akan mampir di sana. Pantry atau mini bar itu ada di lantai dua dekat kamar tamu yang Rihan tempati.


Rihan tahu keberadaan pantry itu karena setelah sampai di mansion keluarga Chixeon, kepala pelayan di sana mengajaknya berkeliling bersama Alex. Karena Pantry itu ada dalam sebuah ruangan yang juga tidak dikunci, sehingga siapapun bisa masuk ke sana.


Namanya pantry atau mini bar, tetapi bukan hanya disediakan minuman beralkohol atau minuman bersoda saja, tetapi juga disediakan minuman lainnya termasuk air mineral karena Neo juga memikirkan keluarganya atau kerabat lain yang sewaktu-waktu bisa masuk kesana.


Rihan sudah berada di depan pintu masuk pantry itu. Membukanya, Rihan kemudian masuk kedalam. Matanya lalu terfokus pertama kali pada seorang pria yang sedang duduk dengan sebotol minuman beralkohol dan segelas alkohol di depannya.

__ADS_1


Menghela nafasnya sebentar, Rihan menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral kemudian menuju tempat pria itu duduk. Ketika Rihan duduk, pria di depannya ternyata belum menyadari keberadaannya.


"Kamu baik-baik saja, Kak?"


"Eh... Sejak kapan kamu di situ?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Neo.


"Kemarin," Balas Rihan datar lalu membuka tutup botol air mineral di tangannya.


"Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu." Balas Neo lalu tersenyum tipis.


Rihan yang melihat senyum tipis itu tahu jelas jika senyum itu sangatlah terpaksa. Senyum itu di mata Rihan adalah senyum penuh kesedihan.


"Tidak apa, Kak."


"Kenapa belum tidur?" Tanya Neo setelah meneguk gelas berisi alkohol di dalamnya.


"Kak Neo juga kenapa belum tidur?" Tanya balik Rihan setelah menuangkan isi botol alkohol itu ke dalam gelas kosong milik Neo.


"Tidak bisa tidur," Jawab Neo lalu meminum alkohol yang Rihan tuangkan tadi.


"Aku juga tidak bisa tidur," Balas Rihan setelah meneguk air mineral di tangannya. Rihan beralih menatap setiap sudut pantry ini.


"Kamu tahu kak, Mungkin saat ini kita merasa sedih, tapi percayalah, besok kesedihan itu mungkin akan diganti dengan kebahagiaan lain." Gumam Rihan ketika beberapa saat hening.


"Aku tahu. Tapi kenapa harus dua orang sekaligus, Rei?" Suara Neo pelan.


"Tata hanya diculik, Kak. Yakinlah jika dia pasti baik-baik saja."


"Semoga saja," Neo tanpa menggunakan gelas, Neo langsung meneguk isi minuman beralkohol itu.


"Kenapa semua orang ketika dalam keadaan banyak pikiran suka sekali meminum ini?" Tanya Rihan ketika berhasil mengambil secara paksa botol minuman itu di tangan Neo.


"Aku hanya ingin melupakan hari ini, Rei." Neo menatap nanar botol alkohol di tangan Rihan.


"Dan besok ingatan itu datang lagi. Setelah itu, minuman ini lagi yang dicari. Begitu seterusnya hingga tanpa sadar kamu sudah merusak tubuhmu sendiri." Balas Rihan datar.


"Aku..." Neo tidak tahu harus berkata apa.


"Apa yang ingin kak Neo lakukan sekarang?" Tanya Rihan menatap lekat manik mata amber milik Neo.

__ADS_1


__ADS_2