
"Iya Nona. Kuliah itu tidak terlalu penting menurut saya, karena hanya ada penjelasan singkat dan berbagi pengalaman tentang bisnis. Akan tetapi orang yang memberi kuliah sepertinya bukan orang biasa Nona. Identitasnya tidak bisa kami lacak!" Alex menjelaskan sambil menatap wajah cantik sang majikan yang sedang memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran tempat tidur.
Jika boleh jujur, jantung Alex akan berdetak kencang jika terlalu dekat atau menatap intens Rihan. Entah kenapa dia bisa seperti itu. Semakin memikirkannya, Alex jadi bingung sendiri.
"Tidak bisa dilacak?" Ulang Rihan yang sudah membuka matanya dan menatap tepat di kedua bola mata Alex.
"I... iya, Nona. Yang kami dapatkan hanya identitas yang sudah diketahui oleh publik. Sedangkan menurut sistem kita, semua identitasnya hanya samaran." Balas Alex tiba-tiba gugup.
"Kamu kenapa, Lex?" Tanya Rihan menaikkan sebelah alisnya. Bagi Rihan ini pertama kalinya dia melihat Alex seperti ini.
"Saya tidak apa-apa, Nona."
"Ya, sudah. Kamu sudah memberikan kue itu pada Tata?"
"Sudah, Nona."
"Baiklah. Aku akan membersihkan diri. Jangan lupa bangunkan Tata dan Max untuk sarapan bersama." Rihan melihat Alen yang baru keluar dari kamar mandi.
"Baik Nona, saya pamit."
"Hm."
...
"Selamat pagi, Han."
"Selamat pagi, Rei."
"Pagi."
"Terima kasih untuk kuenya, Han. Aku menyukainya. Aku juga punya sesuatu untukmu!" Phiranita berbicara dengan semangat, lalu mengambil sebuah kotak di sampingnya dan meletakkan di depan Rihan.
"Bukalah." Sambung Phiranita tersenyum sangat manis.
Rihan lalu mengambil kotak kecil itu dan membukanya. Terlihat sebuah gelang tali berwarna hitam bercampur putih di setiap sisinya. Yang imut lagi adalah gantungan kepala kucing kecil di bagian tengah gelang itu. Di belakang kepala kucing ada nama juga di sana.
"Terima kasih. Pasangkan di tanganku, Lex." Pintah Rihan pada Alex yang masih berdiri di sebelahnya.
Alex dengan tenang memasang gelang itu pada tangan Rihan. Meski hanya memasang gelang, jantung Alex berdebar kencang dikala tangannya bersentuhan dengan kulit tangan sang majikan. Alex berusaha keras agar tidak terlihat gugup.
"Sudah, Tuan."
"Terima kasih, Lex."
"Sama-sama, Tuan." Alex lalu mengambil posisi duduk di sisi kanan meja bersama Max, sedangkan sisi kiri meja di isi oleh Alen dan Phiranita.
"Aku juga punya gelang yang sama denganmu, Han." Phiranita dengan semangat empat lima memperlihatkan pergelangan tangan kirinya yang terpasang gelang yang sama dengan milik Rihan.
Bedanya, di gelang Rihan tertulis 'Tata ' sedangkan gelang yang dipakai Phiranita tertulis 'Ehan'.
"Begitu saja bangga," Cibir Max pelan,tetapi masih bisa didengar oleh yang lainnya.
"Terserah aku. Bleee..." Balas Phiranita menjulurkan lidahnya mengejek Max.
"Aku tidak suka ada keributan di meja makan." Ujar Rihan datar sebelum perdebatan keduanya makin panjang.
"Dia duluan, Han." Memelas Phiranita.
"Kau..."
"Diam atau aku yang pergi." Ancam Rihan mutlak.
__ADS_1
"Kami Diam."
"Bagus."
"Silahkan, Tuan" Alen mempersilahkan setelah memberikan piring berisi makanan untuk Rihan.
"Hm."
Setelah semua piring terisi, mereka berlima kemudian menikmati sarapan pagi dengan tenang.
Setelah sarapan pagi selesai, masing-masing melakukan aktivitasnya hingga waktunya bagi Rihan untuk berangkat ke kampus.
"Biarkan aku satu mobil denganmu Rei, aku sedang malas menyetir." Ujar Max ketika mereka baru keluar dari pintu mansion.
"Kamu yang menyetir, Lex."
"Baik, Tuan."
Mendengar perintah itu, Alex kemudian menuju garasi mobil dan mengambil sebuah mobil BMW keluaran terbaru di Indonesia yang baru dibeli Rihan beberapa hari yang lalu.
Max yang melihatnya tersenyum senang karena bisa satu mobil dengan Rihan. Max sebenarnya tidak ada kelas apapun hari ini, akan tetapi, pria itu sengaja pergi ke kampus dan satu mobil dengan Rihan agar bisa memamerkan kedekatan keduanya pada dunia.
Dengan cepat Max mengambil posisi duduk di kursi penumpang bagian belakang. Alex yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pelan. Padahal sebenarnya Alex ingin Max duduk bersamanya di depan agar tidak mengganggu sang majikan. Ingin menegur, tetapi melihat tingkah Max, Alex hanya bisa bersabar.
"Silahkan, Tuan." Alex mempersilahkan Rihan masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati di jalan Han, Kak Alex..."
"Hati-hati di jalan Tuan, Kak Alex, Tuan Max."
"Kami pamit. Dada Ira..." Max mengejek Phiranita yang menatapnya tajam. Tidak lupa juga lidahnya dijulurkan pada Phiranita yang berdiri bersebelahan dengan Alen.
Mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang keluar dan mansion menuju Antarik Universitas.
***
Semua mahasiswa diwajibkan untuk ikut karena pelajaran tentang bisnis juga dibutuhkan di dunia kerja jika gelar sarjana belum mendapat perkerjaan, sehingga mereka harus mengikutinya.
Rihan juga harus ikut karena dia penasaran dengan orang yang akan menjadi objek utama hari ini. Sebenarnya Rihan tidak terlalu memusingkannya, tetapi mendengar alasan Alex tentang identitas orang itu, Rihan juga penasaran. Diaa berharap lensanya bisa mendeteksi identitas orang itu.
Siapapun akan penasaran jika identitas seseorang tidak bisa dilacak. Bisa jadi orang itu adalah orang penting sehingga identitasnya tidak sembarang orang mengetahuinya.
Disinilah Rihan berada. Aula utama Antarik Universitas yang begitu besar.
Posisi duduk mereka adalah Rihan, Alex di sebelah kanan, setelah itu David, Albert dan Dian. Sedangkan di sebelah kiri ada Max, Ariana dan Ayu. Mereka duduk di bagian deret kedua dari belakang.
Karena tidak suka dengan keributan, Rihan memasang aerphone di telinganya untuk mendengar lagu sambil menunggu orang yang dimaksud.
Bagaimana tidak ribut jika hampir semua mahasiswa diikutsertakan dalam kuliah umum ini. Walau banyak mahasiswa di sana, tetapi aula utama ini masih bisa menampung semua orang.
Jangan heran, karena Antarik Universitas adalah kampus negeri yang masuk dalam kategori kampus favorit, kampus nomor satu di Indonesia, sekaligus kampus terbesar sehingga masih ada banyak tempat duduk kosong di dalam aula.
Tidak lama kemudian suara seseorang terdengar di depan podium.
"Selamat siang semuanya!" Sapa seorang moderator kuliah umum ini.
"SELAMAT SIANG, KAK!"
"Antarik Universitas mengucapkan banyak terima kasih, karena adik-adik sudah boleh meluangkan waktu untuk ada dalam kuliah umum ini. Pihak kampus sangat berharap, semoga kuliah ini dapat menambah wawasan kalian tentang bisnis.
Bukan tanpa alasan kami membuka kuliah umum ini. Sudah banyak para lulusan di luar sana yang belum mendapat pekerjaan, sehingga kegiatan ini kami lakukan untuk membantu kalian di masa depan. Untuk tidak membuang waktu, mari beri tepuk tangan meriah untuk menyambut pebisnis muda kita."
__ADS_1
Prok
Prok
Prok
Tepuk tangan meriah sekaligus siulan para mahasiswa menambah kemeriahan penyambutan orang yang dimaksud.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki beberapa orang menggema di aula tersebut hingga terlihatlah 4 orang pria berbeda usia memasuki aula dengan gaya masing-masing.
Dapat Rihan lihat dua pria yang sedang berjalan memiliki usia yang mungkin sama karena terlihat masih sangat muda, sedangkan dua pria paru baya, yang Rihan kenal adalah pemilik Antarik Universitas, Julian Antarik dan Rektor Antarik Universitas.
Ruangan yang tadinya hening setelah tepuk tangan para mahasiswa kini kembali ribut karena terjadi bisik-bisik membicarakan dua pria muda yang sedang berjalan ke atas podium dengan aura yang begitu khas.
"Mahasiswa sekalian, perkenalkan pengusaha nomor satu yang pastinya sudah kalian kenal. Silahkan, Pak!" Si moderator mempersilahkan.
"Ekhem... Selamat siang semuanya!" Ucap pria yang menurut Rihan lebih tampan dari pria muda satunya.
"SIANG, PAK!"
"Perkenalkan nama saya Neofrance Chiraus. Hari ini saya akan membagi sedikit pengalaman pribadi saya tentang bisnis. Saya harap kalian semua bisa mendengarnya, karena saya tidak akan mengulangnya dua kali. Dan ingat! saya paling tidak suka jika sedang berbicara tidak diperhatikan."
Ya, pria itu adalah Neo dan sahabatnya, Logan. Sebenarnya kuliah umum ini dijadwalkan bulan depan, tetapi karena mereka lebih dulu datang ke Indonesia sehingga jadwal dimajukan hari ini.
"BAIK, PAK!"
Neo kemudian menceritakan kisah singkat tentang bagaimana dia bisa menjadi pengusaha sukses tanpa bantuan orang lain di usianya yang sangat muda.
Sedangkan Rihan, dia mulai mengontrol jam tangannya yang terhubung dengan lensa matanya untuk melihat lebih jelas wajah Neo sekaligus menscannya agar bisa dicari identitasnya.
Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Hanya nama Neofrance Chiraus yang tampil di layar lensanya, itupun hanya nama samaran.
Rihan memang mengenal nama Neo sebagai pengusaha nomor satu, tetapi ini pertama kalinya dia melihatnya secara langsung. Cukup tampan juga, pikirnya
"Kenapa tidak bisa ditembus?" Batin Rihan merasa aneh.
Rihan lalu mengambil iPad di tangan Alex dan mulai mengetik sesuatu. Tidak lama kemudian layar iPad mulai meloading hasil yang Rihan inginkan.
20%
40%
60%
80%
99%
Hanya tersisa 1% dan hasil akan Rihan dapatkan, tiba-tiba iPad yang Rihan pakai mati.
"Sial..." Rutuk Rihan dalam hatinya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.