
Bandar Udara Internasional, Soekarno Hatta.
Seorang pria berjas hitam sedang mendorong kursi roda dengan seorang gadis yang sedang duduk sambil menunduk. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat karena baru saja diobati beberapa hari lalu dan lukanya belum sepenuh sembuh, gadis itu sudah dipulangkan ke tanah kelahirannya, kota Jakarta.
Sampai di pintu keluar, sudah berdiri seorang wanita paru baya dan seorang pria yang lebih tua beberapa tahun dengan gadis itu menunggu kedatangan mereka.
"Mami..." Panggil gadis itu lirih. Air matanya tiba-tiba mengalir melihat wajah sang ibu.
"Angel sayang... bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya sang ibu dan tersenyum sedih.
Gadis itu tidak lain adalah Ariana. Pria yang mendorong kursi roda itu adalah bawahan Rihan yang ditugaskan untuk mengantar kepulangan Ariana ke Jakarta. Wanita paru baya dan pria muda itu adalah ibu dan kakak laki-laki Ariana. Alvin.
"Angel sakit, Mi. Mereka menyiksa Angel sampai seperti ini. Tolong balaskan dendam Angel pada mereka Mi, kak Alvin." Rengek Ariana dengan sangat pelan.
"Kakak rasa, yang kamu terima ini bukanlah apa-apa, Angel. Nona Rihan sudah sangat baik dengan tidak menghancurkan keluarga kita sampai ke titik terendah. Mereka punya kuasa untuk melakukan apapun pada kita. Kita bersyukur masih bisa bernafas sampai saat ini. Mulai sekarang, jadilah gadis yang baik. Berhenti bersikap sombong seperti dulu!" Alvin berbicara dengan tegas.
Meski kasihan melihat kondisi sang adik, tetapi Alvin harus tegas agar keluarga mereka tidak hancur.
"Mami setuju dengan kakakmu, Angel. Mami sangat kecewa padamu, setelah tahu apa yang sudah kamu lakukan dulu. Mami juga berharap kamu berubah menjadi lebih baik lagi.
Jika saja Alvin tidak menghentikan mami, mungkin mami sudah melaporkan pada polisi dan memasukanmu ke penjara. Meski mami menyayangimu, tapi mami tidak ingin masa depanmu hancur karena perbuatanmu sendiri.
Mami hanya tidak ingin kamu berulah lagi. Mami hanya takut keluarga Lesfingtone menghancurkan kita. Jadi mami harap, dengan ini kamu berubah, Nak. Mau, ya?" Ibu Alvin dan Ariana itu berbicara sambil menangis. Ariana hanya menunduk sambil meremas jari jemarinya.
"Ayo kembali ke rumah! Kamu pasti lelah karena perjalanan jauh. Besok kita harus menjenguk papi di penjara." Alvin kemudian mengambil alih kursi roda. Bawahan Rihan juga bergegas pergi.
Beberapa meter di depan mereka, ketiganya dikagetkan dengan kerumunan orang-orang yang berdesakan ingin melihat Ariana. Diantara kerumunan itu ada beberapa wartawan. Sisanya adalah para anak muda yang sangat heboh berteriak memaki Ariana. Bahkan ada juga beberapa orang tua yang ikut serta dalam kerumunan itu.
[Dasar wanita iblis!]
[Wanita tidak tahu diri.]
[Perempuan gila!]
[Masukan dia ke penjara!]
[Bunuh saja dia!]
[Dia juga pernah membully anak-anak kami,]
[Dia pantas mati!]
[Dia pasti mengikuti sifat ayahnya yang serakah. Mati saja sana!]
[Dia pantas dilempari telur busuk.]
[Beraninya membully Nona Rihan. Kamu pantas diperlakukan seperti itu.]
Begitulah teriakan orang-orang di kerumunan itu, dan masih banyak lagi. Ariana hanya menunduk dan mengepalkan tangannya entah apa yang gadis itu pikirkan.
Tubuh Ariana sudah dipenuhi dengan cairan telur busuk yang dilemparkan padanya. Ada beberapa pengawal yang berusaha menghadang, tetapi tidak mampu karena banyaknya orang yang berusaha melempari Ariana.
Alvin juga ikut terkena lemparan telur busuk karena dia di belakang Ariana. Sang ibu sendiri, Amenda aman karena ada penjaga melindungi wanita paru baya itu. Alvin hanya menghela nafas dan mengambil sapu tangan di saku celananya dan membersihkan wajahnya.
"Maaf, Nona Ariana. Bisakah anda memberikan sedikit penjelasan tentang tindakan pembullyan anda dulu?" Seorang wartawan membuka suara. Wartawan yang lain seketika menyalakan siaran langsung.
"Sudah banyak bukti yang mengarah pada tindakan anda di masa lalu karena kasus pembullyan anak Jhack Lesfingtone. Kami ingin mendengar pembelaan anda langsung."
"Bukan hanya itu, anda juga terlibat dalam percobaan pembunuhan teman sekelas anda. Anda juga penggunaan senjata ilegal dan kejahatan lainnya,"
"Mohon komentar anda, Nona Ariana."
"DIAM...!!!" Teriak Ariana histeris.
"Apa yang ingin kalian dengar akan diberitakan secara resmi, setelah adik saya sembuh. Untuk sementara dia harus memulihkan diri lebih dulu. Saya sendiri yang akan menjamin pengakuannya. Kami keluarga Samantha tidak akan lari.
Dan juga... saya mewakili adik saya dan keluarga besar Samantha meminta maaf sebesar-besarnya pada Nona Rihan dan semua keluarga yang anak-anaknya pernah dibully oleh adik saya. Kami pihak keluarga akan memberikan kompensasi pada setiap keluarga korban bullyan." Suara Alvin terdengar tegas. Pria itu tidak malu menunduk untuk sang adik. Justru dia akan malu jika tidak melakukan apapun.
Meski sudah mendengar apa yang Alvin katakan, tetapi kerumunan masih tidak ingin melepas Ariana begitu saja. Mereka justru semakin bersemangat ingin menerobos para penjaga.
Seorang pria terlihat keluar dari kerumunan dengan cepat dan berlari ke arah Ariana. Dengan mengenakan topi hitam dan masker hitam, pria itu kemudian menghampiri Ariana.
"Kamu harus mati karena membully dewiku!" Teriak pria itu lalu ingin menusuk Ariana.
SRET!
Tangan pria itu berhasil ditahan oleh Alvin. Ariana sendiri bahkan gemetaran karena takut.
"Tahan pria ini!" Ucap Alvin gusar.
Dua penjaga lalu menahan pria itu.
Setelah itu, muncul entah dari mana, sekitar 10 pria dengan jas hitam lengkap datang dan membantu membuka jalan untuk Ariana dan keluarganya.
"Siapa mereka?" Tanya Alvin bingung. Setahunya, dia hanya menyewa beberapa penjaga untuk datang ke bandara.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi mereka terlihat tangguh." Jawab sang supir.
***
__ADS_1
"Kenapa membantu mereka?" Tanya Zant pada Rihan.
Keduanya duduk di sofa kamar Rihan. Tepatnya, Zant yang sedang membaringkan kepalanya di pangkuan Rihan. Keduanya sedang menonton apa yang terjadi di bandara internasional Soekarno Hatta. Zant yang memegang iPad.
"Ayo tebak!" Balas Rihan sambil mengusap pelan pucuk kepala Zant.
"Karena wanita paru baya itu?" Jawab Zant dan menyeringai.
Pletak!
"Apa jawabanku salah?" Tanya Zant sambil meringis karena Rihan menyentil dahinya.
"Jawaban kakak benar."
"Lalu?"
"Aku hanya kesal kakak bisa menebaknya. Itu juga balasan karena sering menyentil dahiku."
"Kamu diciptakan untukku, sehingga aku bisa tahu jalan pikiranmu, My Queen. Kamu separuh nafasku! Berjanjilah satu hal padaku."
"Katakan."
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku,"
"Ya. Kakak juga harus berjanji hal yang sama padaku."
"Itu pasti!"
"Terima kasih, My King."
"Sama-sama, My Queen."
"Tapi aku ingin mendengar alasanmu membantu mereka," Tanya Zant lalu kembali menoleh ke layar iPad.
"Dia ibu yang baik. Aku hanya tidak tegah melihatnya diperlakukan seperti itu. Lagipula, yang rubah itu alami hanya amukan kecil orang-orang itu. Masih banyak orang menunggunya di rumah. Jadi, pertunjukan sebenarnya baru saja dimulai."
"Kamu benar-benar,"
***
Cup
"My Queen, ayo bangun...!" Bisik Zant setelah mengecup sayang kening calon istrinya.
"Selamat pagi, My King. Ada apa?" Tanya Rihan setelah menguap pelan.
"Aku akan ke perusahaan. Ada sedikit masalah di sana. Mau ikut?" Tanya Zant sambil merapikan rambut yang menutupi wajah gadis kecilnya. Keduanya berbaring saling berhadapan dengan kepala Rihan berbantalkan lengan Zant.
"Masalah kali ini harus aku yang turun sendiri. Aku ingin melihat langsung cara kerja orang-orang itu. Kamu menyusul untuk membawa makan siang? Lama sekali. Aku akan kesepian. Ikut, ya?" Zant memelas layaknya anak kucing.
"Tidak."
"Hais... Aku tidak bisa menolakmu,"
Rihan hanya tersenyum tipis menanggapi keluhan pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya ini.
***
Pukul 11 siang, Rihan sudah siap dengan pakaian favoritnya yaitu celana cargo panjang berwarna hitam dan kaos kebesaran berwarna putih. Jangan lupakan sneakers putih, juga topi hitam.
Mommy Rosse hanya bisa geleng kepala melihat anak gadisnya yang belum merubah fashionnya menjadi lebih anggun. Padahal Mommy Rosse sudah membeli banyak pakaian untuk Rihan, tetapi gadis itu tidak memakainya.
Rihan hanya mengatakan bahwa sebelum menikah, dia akan seperti ini. Nanti setelah menikah, baru dia akan berubah menjadi lebih anggun.
Dengan tangan kanan menenteng kotak bekal makanan siang, tangan kiri memainkan kunci motornya, Rihan pamit ke Cognizant Technology, perusahaan milik calon suaminya.
Menggantungkan kotak makanan di salah satu setir motor, Rihan meninggalkan mansion menuju ke perusahaan.
Tidak sampai setengah jam, Rihan sudah sampai di Cognizant Technology.
Memarkirkan motornya, Rihan melepas helm dan bergegas masuk sambil menenteng kotak bekal di tangannya.
Awalnya Rihan berencana langsung bergegas ke ruangan CEO karena sudah diberi akses oleh Zant, tetapi Rihan ingin melihat bagaimana pelayanan para resepsionis di sini.
"Permisi, boleh saya tahu di mana ruangan CEO perusahaan ini?" Tanya Rihan datar.
"Boleh saya tahu ada keperluan apa dengan CEO kami, Nona?" Tanya salah satu resepsionis dengan ramah.
"Say..."
"Punya hak apa kamu ingin bertemu dengan CEO kami? Penampilanmu yang seperti preman pasar ini, ingin bertemu CEO kami yang tampan? Jangan mimpi!" Resepsionis lain lebih dulu menyahut sebelum Rihan menjawab. Resepsionis dengan penampilan terbuka ini berbicara sambil menatap jijik pada Rihan.
"Ternyata masih ada orang modelan ini di dunia. Hais..." Gumam Rihan dalam hati lalu menggeleng.
"Ada apa ini?" Tanya wanita lain yang baru muncul.
"Preman pasar ini ingin bertemu dengan CEO kita yang tampan, Manager Ani." Lapor Resepsionis kedua dengan pakaian terbuka tadi.
SRET!
__ADS_1
Dengan tanpa perasaan, si manager Ani membuka kasar topi yang Rihan pakai. Membuat wajah cantik Rihan terlihat oleh semua orang di sana. Banyak yang mulai terpesona karena kecantikan itu.
"Huh? Satu lagi, j*****g yang ingin menjadi seperti Nona Rihan, anak gadis Jhack Lesfingtone dengan mengoperasi wajahnya." Komentar Manajer Ani meremehkan Rihan. Tapi dalam hati dia iri dengan wajah sempurna di depannya ini.
"Sudah banyak kasus para gadis yang berlomba-lomba mengoperasi wajah mereka agar sempurna seperti Nona Rihan. Benar-benar menjijikan!" Resepsionis dengan pakaian terbuka bebricara masih dengan nada jijik.
"Katakan padaku, dimana kamu mengoperasi wajahmu?" Tanya si manager.
Rihan tetap tenang di tempatnya dan hanya menatap dua wanita yang meremehkannya dengan datar. Rihan tidak ada niat menjawab pertanyaan itu.
"Maaf, Maneger Ani. Menurut peraturan perusahaan, kita harus menerima tamu tanpa melihat penampilan mereka. Tugas kita menghormati tamu. Jadi..." Resepsionis pertama yang bersikap ramah pada Rihan tadi membuka suara lebih dulu.
"AKU JUGA TAHU PERATURAN ITU. BERHENTI MENGGURUIKU! AKU LEBIH DULU BEKERJA DI SINI!" Marah Manager Ani.
"Tapi..."
"Diam kamu! Manager Ani punya hak mengusir siapapun yang tidak memenuhi syarat masuk ke sini. Apalagi modelan j****g seperti ini." Tambah Resepsionis kedua.
"Benar. Aku punya hak! Sebaiknya kamu diam, sebelum aku pecat!" Ancam si manager sombong itu.
"Anda tidak punya hak memecat saya, Manager Ani." Resepsionis pertama berbicara dengan tenang.
"Tidak punya hak? Tidak lama lagi aku punya hak itu, karena aku adalah calon istri Pak Lyan. Pemilik perusahaan." Balas Manager Ani dengan angkuh.
Krik
Krik
Krik
Semua orang menatap aneh pada si manager. Mereka jelas tahu, sampai sekarang CEO mereka tidak memiliki siapapun di sisinya. Jikapun ada, tentu saja bukan si manager itu. Kualifikasinya sangat tidak sesuai untuk menjadi pasangan CEO mereka.
"Wow... kepercayaan dirinya benar-benar patut diancungi kelingking." Gumam Rihan dalam hati.
"Anda serius calon istri CEO kita manager?" Tanya Resepsionis kedua bernama Lala itu.
"Kamu tidak percaya?" Tantang si manager dengan kesal.
"Setahuku, calon istri CEO Cognizant Technology sangat cantik. Umurnya 20 tahun. Tinggi badan 170 cm. Berambut coklat, panjangnya sebatas pinggang, bermata biru. Apalagi, ya. Oh, iya... dia juga pewaris sebuah perusahaan besar. Anda tidak kelihatan memenuhi deskripsi itu, Manager Ani." Rihan berbicara dengan santai. Kedua tangannya terlipat di dada.
Semua orang mulai berbisik membenarkan ucapan Rihan dan mulai mencemooh si manager.
"Deskripsi itu..." Resepsionis pertama bernama Lea itu bergumam dalam hati, sambil menatap lekat Rihan.
"Omong kosong apa yang kamu katakan? Aku calon istri Pak Lyan! Tidak lama lagi kami akan menikah." Si manager masih saja berdalih.
"Hoaam... suara serangga benar-benar membuatku mengantuk." Gumam Rihan setelah menguap pelan.
"KAU..." Kesal manager Ani.
"Jadi, di mana ruangan CEO kalian?" Tanya Rihan pada Lea tanpa mempedulikan si manager yang tingkat emosinya mulai meningkat secara perlahan.
"Beliau di lantai paling atas, Nona. Anda bi..."
SRET!
BRUK!
Lea, si resepsionis ramah itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Rihan terlihat bergerak ke samping untuk menghindari tangan si manager yang ingin menampar pipinya. Alhasil, si manager itu terjatuh tengkurap mengundang tawa semua yang berlalu lalang di lobby perusahaan.
Rihan menaikan sebelah alisnya lalu berjongkok tepat di depan si manager.
"Perlu bantuanku?" Tawar Rihan santai.
PLAK
Sebelum si manager membuka suara, telapak tangan halus milik Rihan lebih dulu mendarat di pipi Manager Ani.
"Aku hanya membantu melakukan apa yang tidak sempat kamu lakukan tadi," Sambung Rihan datar.
"J****g...!" Marah Manager Ani sambil memegangi pipinya yang sakit.
"Sudah hampir makan siang, My King." Ucap Rihan setelah berdiri dan menatap datar tembok yang terhubungkan ke lorong lain.
"Pak Lyan..." Semua orang memberi hormat melihat kemunculan Zant dari balik tembok.
Zant sudah tahu kedatangan gadis kecilnya. Jangan heran karena perusahaan mereka merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi sesuai namanya, jadi kemunculan orang baru di perusahaan akan diketahui lebih dulu oleh pemilik perusahaan.
"Tanganmu pasti sakit karena kulitnya yang tebal. Biarkan aku melihatnya!" Zant lalu menarik tangan kanan Rihan yang menampar si manager.
CUP
"Bagaimana rasanya?" Tanya Zant setelah mengecup telapak tangan Rihan.
"Lebih baik. Masalahnya, kenapa tidak memberitahuku jika kakak punya calon istri baru?" Tanya Rihan santai.
"Hanya kamu calon istriku satu-satunya dan tidak akan pernah tergantikan. Hanya kamu yang pantas menyandang gelar Nyonya Veenick." Zant lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Rihan.
"Kalau begitu, siapa calon suami yang dia maksud?" Tanya Rihan lagi sambil menunjuk si manager yang mulai panas dingin karena takut.
__ADS_1
"Entahlah. Hantu yang menyemar jadi aku, mungkin. Biarkan Vian yang mengurus dua wanita itu. Ayo ke ruanganku untuk makan siang. Aku sudah lapar. Aku juga sangat merindukanmu, My Queen." Rihan hanya mendengus. Keduanya lalu pergi dari sana.
Vian kemudian meminta para penjaga menyeret si manager dan si resepsionis bernama Lala itu keluar dari perusahaan tanpa pasongan dan memblacklist nama keduanya agar tidak diterima di perusahaan lain.