Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pria Itu


__ADS_3

Rihan membuka matanya pelan dan menatap langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Rihan baru ingat, ternyata dia pingsan ketika melihat sebuah mobil yang datang dari jauh.


Rihan ingin bangun, tetapi lengannya sakit, juga perutnya. Dia hanya bisa menghela nafas pelan dan mengangkat tangan kirinya untuk melihat perban di telapak tangannya. Rihan tiba-tiba berkedip beberapa kali, karena merasa ada yang hilang di bagian tubuhnya. Lagi-lagi Rihan menghela napas karena penyamarannya sudah terbongkar.


Rihan menoleh ke samping kanannya untuk melihat pria yang duduk dengan tenang sambil bersidekap dada.


"Sepertinya kita harus bernegosiasi karena penyamaranmu sudah terbongkar, gadis kecil." Ujar pria itu sebelum Rihan membuka suara.


"Setahuku, seorang anak presiden seperti anda tidak suka mencampuri urusan orang lain." Balas Rihan datar sambil menatap tepat di kedua mata pria itu. Rihan tidak takut sama sekali, jika pria itu akan membongkar penyamarannya.


"Kamu memang gadis kecil yang tidak bisa dianggap remeh." Balas pria itu tenang.


"Siapa yang mengganti pakaianku?" Tanya Rihan datar.


"Di tempat ini, hanya ada saya sendiri. Sudah jelas siapa yang mengganti pakaianmu, 'kan?" Jawab pria itu dan menyeringai pada Rihan.


"Terima kasih kalau begitu," Rihan berbicara dengan datar, seakan tidak peduli dengan perkataan pria itu.


"Dia tidak terkejut atau malu sama sekali. Biasanya gadis lain akan malu karena pakaiannya diganti oleh seorang pria. Gadis kecil ini benar-benar sesuatu," Batin pria itu dan mengerutkan kening menatap aneh pada Rihan.


"Bisa bantu aku bangun?" Pintah Rihan datar. Rihan tidak peduli dengan pemikiran pria itu.


"Ck... ingat, jika saya Tuan rumah di sini." Ucap pria itu dan mendengus, tetapi menghampiri Rihan dan membantunya.


Pria itu dengan hati-hati memposisikan Rihan untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur setelah ditambahi beberapa bantal.


"Aku haus, tolong ambilkan aku air."


"Kau..." Pria itu mulai kesal.


"Bukankah, anda sendiri di sini, Tuan? Hanya anda yang bisa membantuku sekarang." Rihan berbicara dengan santai membuat pria itu kembali mendengus dan menuangkan segelas air pada Rihan.


"Terima kasih,"


Setelah itu hening beberapa menit, kemudian Rihan sedikit menyeringai lalu dengan pelan mengangkat baju yang dia pakai menggunakan tangan kiri yang diperban, hanya untuk melihat luka di perutnya.


"Bukankah tidak sopan seorang gadis memperlihatkan perutnya di depan seorang pria?" Komentar pria itu setelah memalingkan wajahnya ke arah lain. Tanpa sadar telinga pria itu memerah.


"Bukankah anda yang mengganti pakaianku? Seharusnya anda sudah melihat seluruh tubuhku." Balas Rihan dan menurunkan kembali bajunya.


"Sial... Gadis kecil ini menjebakku," Batin pria itu dan kembali menatap Rihan.


"Eum..." Pria itu tidak tahu harus berkata apa. Kenyataannya, memang bukan dia yang mengganti pakaian Rihan.


"Anda tidak pandai berbohong, Tuan." Balas Rihan dan kembali menyeringai.


Setenang apapun seseorang, mata mereka tidak bisa berbohong. Rihan mempelajari ini sejak pembalasan dendamnya dimulai. Oleh karena itu, Rihan hanya perlu menatap tepat di kedua mata mereka untuk tahu kebenarannya.


"Baiklah. Kamu menang gadis kecil," Pria itu menatap Rihan dengan tajam.


"Setahuku, aku pingsan di Indonesia. Kenapa saat sadar aku sudah di Jerman?" Tanya Rihan setelah menatap interior kamar yang dia tempati sekarang.


"Bagaimana kamu bisa tahu ini di Jerman?" Tanya balik pria itu heran. Padahal dia tidak mengatakan apapun bahwa mereka ada di Jerman.


"Hanya perumahan Jerman yang memiliki interior seperti ini," Jawab Rihan santai.


"Saya penasaran apa isi kepalamu," Pria itu menghela nafas pelan berusaha tenang dan tidak ingin memikirkan apa isi kepala Rihan.


Rihan hanya menatap pria itu sekilas lalu kembali menatap telapak tangannya yang dibalut perban. Dia kembali mengingat para manusia buatan itu. Tenaga mereka sangat besar.

__ADS_1


Jika tenaga sebesar itu diturunkan ke masyarakat, atau dipakai untuk misi yang berbahaya, maka hancur sudah dunia ini. Memikirkan itu, tanpa sadar tangan Rihan yang diperban itu terkepal kuat hingga perban yang tadinya berwarna putih, kini berubah menjadi merah karena darah kembali mengalir deras.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu melukai tanganmu lagi!" Pria itu kaget dengan tindakan Rihan. Pria itu kemudian menghampiri Rihan dan berusaha melonggarkan kepalan tangan Rihan.


Rihan tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah telapak tangannya. Kepalan tangannya mulai melonggar. Rihan menghela nafas berusaha tenang.


Rihan hanya menatap pria itu yang sedang melepas dengan hati-hati perban yang sudah berwarna merah itu, dan menggantinya dengan perban baru yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Rihan terus memperhatikan pria itu yang dengan teliti mengobati tangannya.


"Maaf, ini akan sedikit sakit. Tahan sebentar." Pria itu meminta izin sebelum menyiram alkohol pada telapak tangan Rihan.


"Lakukan saja! Itu bukan apa-apa." Balas Rihan datar.


"Gadis kecil ini..." Gumam pria itu dalam hati lalu menatap Rihan sebentar, kemudian menyiram luka di telapak tangan Rihan dengan cairan alkohol.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Rihan datar. Dia merasa familiar dengan pria di depannya ini.


"Ini pertemuan kedua kita, setelah pertemuan didekat toko roti beberapa hari lalu." Jawab pria itu sambil tangannya terus bergerak lincah mengobati tangan Rihan.


"Sebelum itu tidak?" Tanya Rihan.


"Hm."


"Tapi aku penasaran akan satu hal!" Tanya Rihan lagi membuat pria itu menatapnya datar.


"Kenapa anda bisa ada di sana dan menolongku?" Tanya Rihan membuat pria itu menghentikan gerakan tangannya yang membalut perban pada telapak tangan Rihan.


...Flasback on...


"Tuan, apa yang anda rencanakan dengan penerbangan tiba-tiba ini? Anda bahkan melewatkan pertemuan penting keluarga presiden bersama beberapa presiden dari negara lain," Tanya sopir pria itu. Mereka baru tiba di Indonesia setengah jam lalu, dan melanjutkan perjalanan.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku sampai sejauh ini," Gumam pria itu dan menatap keluar jendela mobil.


"Koordinat terakhir Tuan Muda itu di sebuah hutan, Tuan. Kita sedang dalam perjalanan ke sana." Sopir itu memberitahu dengan pelan.


"Apa yang dia lakukan di tengah hutan?" Tanya pria itu dalam hati.


Beberapa menit kemudian.


"Ada seseorang di tengah jalan, Tuan." Sopir itu berhenti dua meter di depan seseorang yang terlihat berbaring di tengah jalan.


Belum sempat sopir itu berbicara bahwa dia yang akan turun dari mobil dan melihat, Tuannya sudah turun lebih dulu.


Pria itu turun dari mobil dan menghampiri orang yang berbaring itu yang ternyata adalah Rihan.


"Apa yang dia lakukan di sini? Dia terluka parah." Ujar pria itu dalam hati sambil menatap seluruh tubuh Rihan yang terluka. Jangan lupakan banyaknya darah yang mengalir deras memenuhi jalan itu.


"Sudahlah." Gumam pria itu dan mengangkat tubuh Rihan kemudian membawanya ke mobil.


Baru saja Rihan ada dalam gendongannya, hujan deras akhirnya turun membuat keduanya basah kuyup. Pria itu kemudian berjalan cepat masuk ke dalam mobil. Mereka lalu pergi dari sana.


"Langsung kembali ke Jerman." Pintah pria itu lalu menatap wajah tenang Rihan di pangkuannya. Sebelum itu, luka di perut dan lengan Rihan sudah ditekan sedikit agar tidak mengeluarkan banyak darah.


"Tapi Tuan... bukankah sebaiknya kita bawa Tuan Muda itu pada keluarganya?" Tanya si sopir.


"Itu tidak aman untuknya. Ikut saja perintahku," Balas pria itu sambil membersihkan pelan wajah Rihan yang basah karena air hujan tadi.


"Tidak biasanya Tuan peduli dengan orang lain," Ujar sang sopir dalam hati.

__ADS_1


"Meski aku tahu seperti apa kekuasaanmu, tetapi untuk sementara ikutlah denganku, karena itu lebih aman untukmu." Gumam pria itu dalam hati.


"Siapkan tim medis untuknya. Kita akan mengobatinya di pesawat." Perintah pria itu lagi.


"Apa sebaiknya kita bawah saja ke rumah sakit, Tuan?" Balas si sopir.


"Jangan membuatku mengulang perkataannku, Ercel." Nada suara pria itu datar, dan menatap tajam sang sopir yang bernama Ercel itu lewat kaca spion.


"Baik, Tuan."


Mobil kemudian melaju dengan kecepatan rata-rata menuju bandara dimana jet pribadi mereka berada.


Sampai di bandara, pria itu juga yang menggendong Rihan naik ke pesawat tanpa menggunakan tandu. Padahal tim medis miliknya sudah menyiapkannya.


"Semua persiapan sudah siap, Tuan." Seorang pria yang diketahui adalah seorang dokter menghampiri pria itu.


"Hm. Jadilah asistenku," Pria itu menjawab setelah membaringkan Rihan di brankar.


"Anda akan turun langsung, Tuan? Setahu saya, lukanya tidak terlalu parah. Saya masih sanggup mengobatinya," Dokter itu kaget. Dia tidak menyangka sang Tuan akan turun langsung untuk mengobati pria yang menurutnya sangat asing ini.


"Hm. Sebelum itu, bersihkan dulu tubuhnya dari darah." Pria itu kemudian menuju toilet ingin membersihkan dirinya juga.


"Turun sedikit kecepatan pesawatnya juga," Sambung pria itu sebelum masuk ke dalam toilet.


"Aku juga bingung dengan diriku sendiri. Itu hanya luka di perut yang pastinya tidak sampai mengenai organ vital. Seharusnya Edward bisa melakukan operasi sendiri. Tapi kenapa aku seperti... sudahlah." Gumam pria itu dalam hati.


Sebelum pria itu selesai bersiap, pintu kamarnya sudah diketuk membuatnya sedikit kesal karena ada yang menganggu ketenanganya sebelum operasi.


"Maafkan saya, Tuan." Dokter bernama Edward itu menatap pria itu dengan wajah bersalah.


"Ada apa?" Tanya pria itu datar.


"Dia... Dia seorang gadis, Tuan." Jawab sang dokter dan menunduk.


"Kamu sudah melihat tubuhnya?" Tanya pria itu dingin membuat sang dokter mulai ketakutan.


"Saya hanya melihat penutup dadanya saja, Tuan. Maafkan saya." Balas dokter itu takut.


"Katakan pada suster untuk membersihkan tubuhnya," Perintah pria itu dan menutup kembali pintu.


"Siapa kamu sebenarnya? Kamu membuatku semakin ingin mengetahui semua tentangmu." Gumam pria itu.


...Flashback off....


"Saya ada urusan di sana," Jawab pria itu datar dan kembali mengobati tangan Rihan.


"Aku pikir anda penasaran dengan seorang Tuan Muda manja sepertiku, sehingga sampai di sana." Balas Rihan dan menyeringai.


"Sama sekali tidak. Saya memang ada urusan di sana." Elak pria itu berusaha tenang.


"Hm... urusan, ya." Gumam Rihan membuat pria itu menatapnya memicing.


"Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Saya sama sekali tidak tertarik dengan gadis kecil sepertimu." Ucap pria itu dan menggunting sisa perban di tangan Rihan. Pria itu mengangkat kepalanya menatap wajah Rihan.


"Benarkah?" Rihan memajukan wajahnya tepat beberapa senti dengan wajah pria itu. Sepertinya Rihan punya hobby baru, selain membuat orang lain kesal, dia akan menggoda mereka juga.


.


.

__ADS_1


.


Beri komentar kalian tentang pria itu.


__ADS_2