Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pagi Yang Indah


__ADS_3

"Kamu melupakan sesuatu, gadis manis." Suara Tuan Han terdengar datar. Pria tua itu menatap Rihan dengan tajam. Wajahnya terlihat semakin mengerikan karena darah segar yang mengalir akibat goresan belati buatan Rihan.


Rihan mengerutkan kening menanti apa yang akan dilakukan pria tua di depannya ini. Begitu juga dengan Zant, dia sudah menggenggam tangan Rihan dengan erat.


"Akh... shhhh..." Rihan meringis menahan sakit di lengan kanannya. Rihan menatap tajam Tuan Han yang tersenyum senang memandang sesuatu di tangannya.


"Pelacak di lenganmu itu bukan pelacak biasa. Selain sebagai pelacak, itu juga berguna merusak sistem sarafmu secara perlahan-lahan. Dengan menekan ini, maka kamu akan merasakan bagaimana sakitnya saraf di tubuhmu. Rasa sakit itu akan bergerak secara perlahan hingga menyerang organ dalam tubuhmu. Hahaha..." Ujar Tuan Han dan tertawa setan diakhir kalimatnya.


"Bajingan ini..." Gumam Zant geram. Zant melepas genggamannya dan menyentuh lengan kanan Rihan. Zant begitu marah melihat kesakitan gadis kecilnya.


"Satu langkah kamu maju, aku akan menekan ini, dan pergerakan sakitnya akan semakin cepat ke jantungnya." Ancam Tuan Han ketika Zant akan menghampirinya.


"Aku baik-baik saja, Kak. Ini bukan apa-apa. Tenanglah," Rihan menenangkan Zant ketika melihat wajah merah padam pria itu karena marah.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Rihan pada Tuan Han.


"Biarkan aku pergi dari sini, maka kamu tidak akan merasa sakit lagi." Tuan Han menjawab dengan angkuh.


"Kalau begitu, pergilah." Balas Rihan datar.


"Hahahah... ini baru benar." Tuan Han begitu senang. Pria tua itu lalu berbalik pergi.


Melihat kepergian Tuan Han, Rihan menoleh pada Gledy di belakang. Seakan tahu tatapan itu, Gledy mengangguk pelan.


"Menangkapnya lagi bukan hal yang sulit. Serahkan saja semuanya padaku," Zant menarik Rihan kedalam pelukannya. Setidaknya gadis kecilnya tidak merasa sakit lagi. Rihan hanya mengangguk sebentar lalu melepas pelukannya dan menuju meja di sudut ruangan.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Zant ketika melihat Rihan menyalakan lampu kecil di atas meja.


"Arahkan lampunya padaku, Kak." Sahut Rihan membuat Zant tidak mengerti, tetapi melakukan apa yang Rihan katakan.


"Jangan bilang..." Gumam Zant membuat Rihan hanya tersenyum tipis padanya.


SRET!


Tanpa pikir panjang, Rihan segera menyayat lengan kanannya sendiri menggunakan belati yang sedari tadi dia pegang. Darah segar mengalir keluar. Zant menggertakkan giginya melihat Rihan yang seakan tidak merasa sakit ketika kulit lengannya berhasil dirobek membuat belahan cukup besar di sana.


"Ini pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu menyakiti dirimu sendiri di depanku!" Suara Zant terdengar sangat dingin.


Mendengar perkataan Zant, Rihan seketika tertegun. Senyum tipis kemudian terukir di bibirnya. Rihan mengangguk dan kembali menatap lengan kanannya yang terus mengeluarkan darah seiring jarinya bergerak masuk ke dalam luka sayatan itu untuk mencari sesuatu. Mendapat apa dicari, Rihan menghembuskan nafas legah.


"Masih ada cara lain untuk mengeluarkannya, tanpa harus menyakiti dirimu sendiri, gadis kecil." Suara Zant terdengar lirih. Pria itu menarik Rihan ke dalam pelukannya lagi.


"Ini bukan waktunya berpelukan. Aku harus membalut luka ini," Gumam Rihan ketika pelukan Zant semakin erat.


"Maaf. Biar aku yang melakukannya," Zant melepas pelukannya dan menatap ke segala arah mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menutup luka gadis kecilnya.


Zant meninggalkan Rihan sebentar dan menuju koper Tuan Han yang tidak sempat dibawa oleh pria tua itu. Membuka koper, selain ada satu jarum berisi serum, ada juga perban kecil dan beberapa alat medis di dalam koper. Zant mengambil yang dibutuhkan dan kembali pada Rihan.


"Untuk sementara, cukup diperban saja. Setelah pulang nanti, aku akan mengobatinya dengan baik." Ucap Zant disela dia menutup luka gadis kecilnya dengan perban.


"Terima kasih, Kak." Balas Rihan pelan. Zant hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan tempat ini?" Tanya Zant setelah menggunting sisa perban yang tidak diperlukan.

__ADS_1


"Awalnya aku ingin menghancurkan tempat ini. Tapi, aku berubah pikiran. Tempat ini akan dipakai di masa depan." Jawab Rihan sambil melihat sekeliling Lab.


"Apapun yang Nyonya Veenick inginkan, aku akan selalu mendukungnya." Balas Zant dan tersenyum lembut. Rihan hanya menggeleng dan tersenyum tipis.


BRUK


Rihan dan Zant mengalihkan pandangan ke arah suara tadi. Ternyata Tuan Han sudah tersungkur dengan kepala mencium lantai karena Gledy yang mendorongnya dengan kuat.


"Kamu menipuku..." Marah Tuan Han setelah mengangkat pelan kepalanya dan menatap tajam Rihan.


"Aku hanya menyuruhmu pergi, bukan berarti melepaskanmu," Balas Rihan dengan santai.


"J****G SIALAN...!!!" Teriak Tuan Han murka.


BUGH


"Arrrrgggg..."


Dengan santai Gledy menekan kuat kepala Tuan Han dengan kakinya hingga menempel kembali ke lantai.


"Ka....kalian... meskipun aku mati di sini, aku masih punya banyak orang yang akan membalaskan dendamku. Tunggu saja!" Ujar Tuan Han dengan suara dipaksakan.


Drrrtt


Drrrttt


Ponsel Rihan di saku celananya bergetar.


"Kebetulan," Gumam Rihan setelah membaca nama orang yang menelpon. Rihan kemudian menjawab panggilan dan menekan ikon speaker.


"Bagus. Berikan ponselmu pada salah satu di antara mereka. Aku ingin bicara dengannya." Balas Rihan singkat, lalu menoleh pada Tuan Han yang menatapnya tidak mengerti.


"Apa yang anda inginkan?" Tanya orang di seberang sana.


"Aku hanya ingin memberimu pilihan. Memilih kematianmu sendiri, atau kematian Tuanmu." Jawab Rihan dan menyeringai sambil menatap Tuan Han yang mengerutkan kening.


"Apa maksud anda?" Tanya suara itu lagi.


"Tuanmu sekarang ada di tanganku. Jika kamu memilih Tuanmu, maka dia akan mati sekarang juga. Sebaliknya, jika kamu memilih dirimu sendiri, maka kamu dan teman seperjuanganmu di sana akan mati di tangan orangku. Bagaimana?" Jawab Rihan dan terus menatap Tuan Han. Ekspresi Rihan saat ini semakin membuat Tuan Han murka.


"Mark! Jangan lupa jika aku yang memungutmu dan merawatmu hingga sekarang. Kalian semua juga begitu. Kalian hanya pengemis jalanan yang aku pungut kemudian rawat hingga seperti sekarang. Sudah saatnya kalian membalas budi dengan menyerahkan nyawa kalian padaku. Tenang saja, jika aku bebas, aku akan membalas dendam kematian kalian dua kali lipat." Sahut Tuan Han tanpa perasaan.


"Tuan kalian sangat baik hati ternyata. So... pilihan di tanganmu Mark. Aku tahu kamu bisa memilih dengan bijak." Ucap Rihan santai. Tuan Han sendiri sudah tersenyum senang. Pria tua itu sudah tidak sabar untuk bebas.


"Aku memilih kematian pria tua itu. Maafkan saya, Tuan Han. Sudah waktunya anda beristirahat. Mulai sekarang kami akan mengabdikan diri pada Tuan kami yang baru, Nona Rihan."


"BAJINGAN KAMU MARK... DASAR PENGEMIS TIDAK TAHU DIRI!" Marah Tuan Han sambil mengepalkan tangannya kuat.


"Pilihan yang bagus, Mark. Sayangnya, tidak semudah itu untuk bekerja denganku. Kamu harus tahu, mendapat kepercayaanku tidaklah mudah."


"Saya mengerti, Nona. Saya dan teman-teman akan berusaha mendapat kepercayaan anda. Jika ada diantara kami yang berhianat, saya sendiri yang akan membunuhnya." Suara Mark di seberang sana terdengar sangat tegas. Rihan hanya mengangguk. Nada suara Mark sedikit membuat Rihan percaya padanya.


"Aku menunggunya." Setelah mengatakan itu, Rihan memutuskan panggilan telepon.

__ADS_1


"Eksekusi dia, Gledy." Perintah Rihan datar.


Gledy hanya mengangguk, kemudian melepas kakinya dari kepala Tuan Han. Gledy lalu tanpa perasaan, menyeret Tuan Han dengan menarik kerah baju pria tua itu. Rihan dan Zant hanya menatap datar apa yang Gledy lakukan.


"Menonton seperti ini akan lebih baik," Gumam Zant setelah duduk kursi yang baru diambil kemudian menarik Rihan untuk duduk di pangkuannya. Rihan hanya mencibir tetapi tidak menolak tangan Zant yang melingkar di perutnya.


Keduanya menonton Gledy yang mulai memasukkan Tuan Han ke dalam tabung kaca. Setelah itu, Gledy menuju beberapa tabung mini yang berisi binatang-binatang beracun seperti; semut api, lebah pembunuh, laba-laba black widow, kalajengking hitam berekor tebal, ubur-ubur dan serangga lainnya.


Gledy kemudian menghubungkan setiap tabung mini berisi serangga itu dengan tabung besar berisi Tuan Han. Setelah semua terhubung, selanjutnya hanya perlu mengontrol cairan beracun yang serangga itu keluarkan ke tabung besar dengan sekali klik di program komputer.


Meski awalnya serangga itu hanya akan berbahaya ketika menggigit, akan tetapi karena sudah dipelihara selama belasan tahun dalam tabung, maka cairan dalam tabung mini tempatnya berada hanya perlu disalurkan atau disuntikkan pada manusia, maka efeknya 2 sampai 3 kali lipat lebih berbahaya dari sekedar gigitan.


Dengan santai, Gledy menekan satu tombol keyboard, sehingga cairan semut api masuk secara perlahan ke dalam tabung Tuan Han, dan hanya jeda beberapa detik, Gledy kembali melepas cairan lebah pembunuh.


"Arggggg....." Suara kesakitan Tuan Han terdengar sambil memukul-mukul tabung kaca. Semut api dan lebah pembunuh membuat Tuan Han mulai kepanasan meski dalam air, diikuti dengan rasa pusing, mual, muntah, sakit kepala, dan bercak merah pada kulit karena efek racun dari lebah pembunuh.


"Metode eksekusinya benar-benar luar biasa." Gumam Zant setelah menempatkan dagunya dengan pelan di bahu Rihan.


Setelah lima menit, Gledy kembali melepaskan cairan beracun dari laba-laba black widow, kalajengking hitam berekor tebal dan serangga berbahaya lainnya sekaligus. Padahal pria tua itu masih kesakitan, tetapi Gledy tidak peduli.


Racun kembali bekerja menyerang jaringan saraf dirasakan Tuan Han hingga kelumpuhan diafragmanya. Kulit pria tua itu mulai melepuh dan mengelupas secara perlahan-lahan. Cairan hijau dalam tabung sudah berubah warna menjadi merah karena darah yang dimuntahkan dan hitam karena efek racun dari serangga.


Betapa sakitnya racun yang masuk ke dalam tubuhnya. Bayangkan saja racun serangga yang masuk dan bekerja dalam tubuhnya secara bersamaan membuat pria tua itu ingin sekali cepat mati dari pada harus merasakan sakit ini.


Ekspresi dua manusia dan satu robot di dalam sana hanya datar menatap bagaimana tersiksanya Tuan Han di dalam sana.


Hampir setengah jam kesakitan itu berlangsung, Gledy kemudian melepas cairan serangga terakhir, yaitu ubur-ubur. Hanya dalam 2 menit cairan itu mulai bekerja. Racun itu menyerang jantung Tuan Han hingga pria itu akhirnya berhenti bergerak karena jantungnya juga berhenti berdetak.


"Tontonan yang menyenangkan," Gumam Zant lalu menoleh ke arah gadis kecilnya. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika melihat Rihan yang sudah terlelap dengan dengkuran halusnya.


"Dia sangat menggemaskan..." Gumam Zant dalam hati. Zant mengelus pelan pipi Rihan yang kini bersandar miring di dadanya.


Dengan hati-hati, Zant memposisikan Rihan di dalam gendongannya dan membawa pergi gadis kecilnya dari sana.


"Urus sisanya. Nyonya Veenick harus beristirahat," Ujar Zant pelan sebelum keluar dari sana. Gledy tidak membalas apapun.


Wajar saja Rihan tertidur, karena mungkin kelelahan naik pesawat dan sampai sore hari. Tidak langsung istirahat, mereka sudah datang ke sini. Cukup banyak waktu mereka habiskan hingga sudah pukul 3 pagi.


Sepanjang menyetir ke mansion, Zant selalu mencuri pandang menatap wajah tenang gadis kecilnya yang terlelap.


***


Pukul 8 pagi, Rihan membuka matanya. Melihat langit-langit ruangan ini, dia jelas mengenalinya. Sedikit merenggangkan tangannya, Rihan bangun dan sedikit menguap. Rihan baru tersadar, ternyata dia tidak sendiri di dalam sini.


"Selamat pagi, Nyonya Veenick. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Zant yang duduk di sebelah ranjang dan tersenyum lembut pada Rihan yang tertegun melihat wajah tampan Zant sehabis mandi.


"Sangat nyenyak, Tuan Veenick. Terima kasih." Balas Rihan setelah tersadar.


"Aku minta hadiah terima kasihmu." Zant tersenyum semakin lebar. Tatapan pria itu berbinar meminta diberi hadiah. Rihan hanya menaikan sebelah alisnya.


"Di sini," Zant menepuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya. Rihan hanya menggeleng, tetapi kemudian mengecup singkat pipi calon suaminya itu.


Setelah itu, Rihan dengan cepat berlari ke kamar mandi. Jantung gadis itu berdebar kencang hanya karena memberi kecupan singkat di pipi Zant.

__ADS_1


"Pagi yang indah," Gumam Zant sambil menyentuh pipinya dan tersenyum senang.


__ADS_2