
Berakhirnya sambungan telepon dengan sang paman, Rihan lalu menekan nomor telepon daddynya. Sudah lama dia tidak mendengar suara tegas dan bijak itu ketika berbicara dengannya.
Tut
Tut
Tut.
"Hai Baby, sudah lama daddy menunggu panggilan darimu." Sambut Jhack, daddy Rihan ketika panggilan tersambung.
"Maaf, Dad. Aku sibuk. Bagaimana kabar, Daddy?" Tanya Rihan sambil melipat tangannya di dada. Sesekali dia akan menatap aktivitas kendaraan maupun orang-orang yang berlalu lalang di samping kiri dan kanan jalan, juga trotoar.
"Daddy baik, Baby. Bagaimana denganmu? Bagaimana keadaan RS Setia yang kamu kelolah? Bagaimana kesehatanmu? Daddy mendapat kabar dari orang kepercayaan daddy bahwa kamu mengalami kecelakaan kecil karena menolong dua anak kecil. Daddy dan mommy begitu khawatir dan ingin segera menghubungimu, tapi karena mengingat pesanmu untuk tidak menghubungi lebih dulu jika itu keadaan darurat, sehingga kami terpaksa harus menahan diri untuk itu. Jadi, bagaimana keadaanmu? Mommy pasti akan cemburu karena kamu menelpon daddy lebih dulu. Setelah ini jangan lupa untuk menelpon mommymu juga."
Inilah sifat asli seorang Jhack Roland Lesfingtone. Diantara daddy dan mommy Rihan, sang daddy yang paling cerewet dan posesif terhadap dua orang kesayangannya.
Tanpa sadar mata Rihan berkaca-kaca. Rihan teringat dengan masa-masa kecilnya yang begitu bahagia bersama kedua orang tuanya. Jika diingat lagi, kebersamaannya bersama kedua orang tersayangnya hanya sampai dia kelas 6 SD. Setelah itu Rihan sudah melanjutkan travelingnya hingga masa lalu kelamnya dan berakhir kembali kepada kedua orang tuanya. Sayangnya Rihan tidak lagi bisa seperti dulu. Semua keceriaannya sirna begitu saja hanya karena masa lalunya.
Jika waktu bisa diulang, Rihan ingin tetap tinggal di Amerika dan bersekolah di sana. Semuanya ingin dia lakukan di sana. Sayangnya semuanya sudah terjadi, dan semua itu hanya masa lalu.
Setelah menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak jatuh, Rihan lalu menghela nafas pelan agar tidak terdengar oleh sang daddy.
"Hmm. Aku baik. Semuanya baik, Dad. Aku akan menelpon mommy setelah ini."
"Kamu sudah dewasa nak, padahal daddy berharap kamu masih sama seperti dulu. Daddy merindukan masa kecilmu, Baby." Suara Daddy Jhack terdengar lirih.
"Aku akan segera kembali setelah semuanya berakhir, Dad. Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Biarkan orang kepercayaan daddy yang mengurus perusahaan."
"Kamu meragukan daddymu ini, Heh?" Daddy Jhack lalu terkekeh pelan.
"Daddy semakin menua, jadi jangan memaksakan diri." Balas Rihan singkat lalu tersenyum tipis.
"Wah... Daddy menarik kembali kata-kata daddy yang mengatakan kamu sudah dewasa." Nada suara Daddy Jhack terdengar seperti merajuk.
"Sudah kustempel sehingga tidak bisa ditarik lagi."
"Ya, terserah kamu, Baby. Oh, iya... Aniversary pernikahan daddy dan mommy sebentar lagi. Daddy ingin membuat acara besar-besaran. Bagaimana menurutmu?"
"Kenapa harus sebesar itu?" Tanya Rihan mengerutkan dahinya karena keluarga Lesfingtone tidak biasanya melakukan acara besar yang menghamburkan uang hanya untuk merayakan hal-hal seperti ini.
"Kamu ingin tahu alasan daddy?"
"Hmm."
"Karena daddy ingin melihatmu."
Hening.
"Halo, Baby. Kamu mendengar Daddy?"
__ADS_1
"Ya."
"Kamu tahu betapa susahnya mencari alasan untuk bertemu denganmu. Meski kamu menggunakan identitas menjadi keponakan daddy, itu bukan alasan yang tepat untuk berkunjung ke mansion kami. Jika publik mengetahui Tuan Muda Rehhand berkunjung kemari hanya karena menyapa, maka itu terlihat aneh.
Kamu tahu sendiri jika posisimu sekarang ada di Indonesia. Jika alasan menyapa sehingga kamu datang ke Amerika maka itu akan mengundang kecurigaan. Jika statusmu sekarang adalah CEO mungkin masih bisa diterima karena mereka berpikir kita membahas kerja sama.
Jika menggunakan alasan kerja sama di bidang kesehatan, itu juga aneh karena perusahaan daddy tidak ada sangkut pautnya dengan rumah sakitmu. Tetapi setelah ini, mungkin daddy harus berinvestasi ke sana agar bisa lebih dekat denganmu. Rencana yang sempurna." Jelas Daddy Jhack panjang lebar dan diakhiri dengan kekehan senang karena baru memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya dekat dengan anak gadisnya.
"Terserah, Daddy. Tapi, aku harap acaranya tidak mengundang iri hati dari pihak lain."
"Iya Baby, tenang saja! Kamu menelpon daddy pasti bukan untuk bertanya kabar, 'kan?"
"Ya. Aku menelpon daddy untuk memastikan keadaan kalian. Aku harap daddy lebih memperhatikan keamanan mansion."
"Memangnya ada apa, Baby?"
"Paman baru saja menelpon dan mengatakan jika ada yang mengintai mansion di Prancis."
"Baiklah. Bukannya kamu sudah memasang kamera tersembunyi di sini?"
"Ya. Tapi, belum aku sambungkan dengan sistem di sini sehingga untuk sementara harus dikontrol dari sana. Setelah ini akan aku sambungkan agar mudah bagiku untuk memantau keadaan kalian."
"Ya, sudah. Daddy serahkan semuanya padamu, Baby. Ingat untuk jaga kesehatan."
"Ya. Daddy juga. Aku tutup, ya."
"Hmm. Aku juga menyayangi kalian."
Panggilanpun berakhir. Rihan kemudian menelpon sang mommy dan pembicaraan keduanya tidak berbeda jauh dengan sang daddy yang hanya menanyakan keadaannya saja.
Setelah panggilan dengan sang mommy berakhir, Rihan mengembalikan setir mobil ke mode manual hingga tiba di kampus.
***
BRAKK...
"Orang kita yang mengintai mansion Jhon Roland di Prancis ternyata sudah diketahui. Aku juga bingung dimana mereka mengetahui keberadaan orang kita sedangkan orang-orang kita adalah orang-orang yang terpilih."
Logan dengan semangat berbicara setelah membuka pintu kamar Neo dengan cara mendorongnya kuat, membuat Neo yang sedang beristirahat terlonjak kaget dan duduk dengan wajah syok. Logan berbicara panjang lebar tanpa menyadari tatapan tajam yang diarahkan padanya.
"Maaf! Aku pikir kamu hanya..." Logan tiba-tiba merasa merinding di seluruh tubuhnya. Logan kini menyesal akan tindakan bodohnya yang tidak memperhatikan situasi.
Logan begitu antusias memberitahu kabar ini pada Neo sekaligus ingin menyampaikan apa yang dia pikirkan sehingga dia tidak lagi mempedulikan konsekuensi yang akan diterima dari seorang Neo.
Logan tahu pasti jika Neo akan sibuk dengan kertas-kertas lagi karena mereka baru pulang dari salon dan waktu juga menunjukan pukul 11.15 yang artinya Neo tidak akan tidur di saat seperti ini. Ternyata kebiasaan yang Logan tahu tentang Neo tiba-tiba berubah.
"Tumben kamu tidur di jam segini. Setahuku ini bukan kebiasaanmu," Logan sedang berusaha untuk menghindar sekaligus membuat dirinya terlihat tidak bersalah. Tapi percayalah, pria itu sedang takut.
"Periksa semua berkas di meja kerjaku sekarang! Tidak ada makan siang sebelum semua berkas itu selesai diperiksa." Suara datar yang keluar dari mulut Neo membuat Logan terduduk lesu di sofa yang ada di kamar Neo.
__ADS_1
"Padahal aku sudah mulai lapar. Semoga aku pingsan lebih cepat." Batin Logan lalu keluar dari sana meninggalkan Neo yang mulai turun dari tempat tidur dan membersihkan diri.
"Sepertinya kamu bukan orang sembarangan bocah. Aku semakin penasaran denganmu." Gumam Neo pelan di bawah guyuran sower.
***
"Hai, Rei" Sapa David ketika keluar dari mobil dan mendapati Rihan juga baru keluar dari mobilnya.
Rihan hanya membalas dengan anggukan, lalu berjalan menuju kelasnya. David yang melihatnya mengikutinya dari belakang.
"Kamu mengingatkanku pada seseorang." David berbicara dengan pelan setelah langkahnya sejajar dengan Rihan. Rihan yang mendengarnya tahu kemana arah pembicaraan David, tapi dia akan berpura-pura tidak tahu.
"Wajahmu mirip dengan orang yang aku cari selama ini." Sambung David ketika Rihan menoleh padanya dengan wajah seperti bertanya.
David baru menyadarinya sekarang jika wajah Rihan mirip dengan pujaan hatinya yang dia cari selama ini. Sayangnya yang di depannya ini adalah versi pria dari pujaan hatinya.
Setelah beberapa hari yang lalu, David menyadari wajah Rihan yang mirip dengan orang yang dia cari, jantungnya berdebar kencang karena senang dan tidak sabar untuk bertemu dan menanyakan keberadaan pujaan hatinya.
"Apa kamu memiliki kembaran seorang gadis?" Tanya David dengan memasang wajah yang berharap Rihan menjawab iya.
"Jika ya dan tidak, ada hubungan apa denganmu?" Pancing Rihan tenang.
"Benar kamu memiliki kembaran perempuan? Bisakah aku bertemu dengannya? Ak...aku sangat ingin bertemu dengannya." David begitu antusias. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang karena merasa senang pujaan hatinya bisa ditemukan.
Rihan hanya menatap datar David. Rihan terus berjalan tanpa ada niat menjawab lagi pertanyaan David hingga mereka masuk ke kelas yang sama.
"Aku tahu aku salah. Tapi bisakah aku bertemu dengannya? Aku ingin tahu keadaannya. Ak...aku..."
"Ada apa ini, Dev?" Tanya Albert yang baru datang bersama Dian membuat David tidak meneruskan kata-katanya.
"Kembali ke tempatmu!" Balas Rihan datar lalu membuka buku yang baru saja Alex letakkan di depannya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawab pertanyaanku." David menatap wajah Rihan dengan mata berkaca-kaca. Sudah lama dia ingin tahu keadaan pujaan hatinya setelah kejadian dulu. Kesempatan ini tidak akan David sia-siakan.
"Sebenarnya ada apa ini?" Albert begitu penasaran.
Bukan hanya David, tetapi semua mahasiswa dalam kelas itu juga penasaran karena tiba-tiba David memasang wajah serius dan menanyakan sesuatu yang membuat mereka bingung.
"Aku akan terus berdiri di sini sampai kamu mengatakannya."
"Dan aku tidak peduli!"
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1