Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pertemuan Dua Orang Sakit


__ADS_3

Selamat Membaca!


.


.


.


"Selamat pagi, Tuan. Saya sudah menghubungi pihak rumah sakit Setia untuk mengajak bertemu presdir mereka." Lapor Dom pada sang tuan.


"Hmm. Siapa yang akan menyiapkan tempat?"


"Bagaimana menurut anda?" Tanya balik Dom.


"Mereka?" Jawab sang tuan yang terdengar seperti bertanya.


"Mereka belum membahas tempatnya, Tuan. Haruskah saya bertanya pada mereka?"


"Tidak perlu. Biarkan kita yang menyiapkannya." Si tuan menerawang memikirkan sesuatu di kepalanya. Seringai jahil muncul di bibirnya.


"Sepertinya anda merencanakan sesuatu, Tuan." Tebak Dom ketika melihat seringai tidak biasa itu.


"Entahlah,"


***


"Selamat pagi, Nona. Pihak rumah sakit baru saja menghubungi saya. Kata mereka ada yang mengajak bertemu dengan presdir. Ketika mereka akan menolak, orang yang menghubungi mengatakan anda tidak akan menolak untuk bertemu mereka. Boleh saya tahu siapa mereka, Nona?"


"Orang yang menyusup kemarin. Sepertinya dia menerima tantanganku." Rihan lalu menatap Alex dengan senyum tipis tidak terlihat.


"Maksudnya, anda ingin bertemu musuh? Saya tidak setuju, Nona. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada anda? Saya tidak setuju, Nona!" Ucap Alex tegas sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia membiarkan majikannya masuk kandang musuh?


"Saya sepakat dengan kak Alex, Nona. Itu sama saja dengan nona masuk ke kandang harimau." Alen yang baru datang dari kamar mandi menyuarakan pendapatnya.


"Kamu akan menemaniku ke sana, Lex. Dan Alen akan memantaunya dari sini. Mereka tidak akan bertindak secepat itu. Jadi, tidak perlu khawatir!" Jelas Rihan tenang, setelah turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Baik, Nona. Semoga tebakan anda benar." Gumam Alex pelan sebelum keluar dari kamar sang majikan.


...


"Bagaimana keadaan Tata?" Tanya Rihan pada Alen yang sedang memijit pelan bahunya.


"Nona Phi sepertinya masih tidur. Obat tidur itu mungkin akan habis sebentar lagi, Nona." Jawab Alen sambil terus menggerakkan tangannya memijit lembut bahu majikannya.


"Hmm. Sudah cukup, Len." Rihan lalu berdiri dari bathup dan menuju sower untuk membersihkan sisa sabun yang menempel, kemudian mengambil dan memakai mantel mandi yang diberikan Alen padanya.


"Apa yang dilakukan perwakilan Antarik Hospital ketika aku tidak bertemu dengannya kemarin?" Tanya Rihan sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang sedang dipakaikan penutup dada untuk menyamarkan dadanya oleh Alen.


"Ayu pulang dengan keadaan emosi, Nona. Menurut mata-mata kita, ketika mendengar anda membatalkan pertemuan itu, Ayu membuang makanan yang ada di atas meja yang sudah dia siapkan untuk makan siang bersama anda." Jawab Alen kemudian merapikan penutup dada sang majikan. Sesekali Alen akan menatap pantulan Rihan lewat cermin di depannya.


"Biarkan saja. Resiko berurusan denganku." Rihan lalu memakai baju kaos yang diberikan Alen.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


***


"Maaf, Tuan! Ada pesan, sepertinya untuk anda." Ucap Alex ketika Rihan bersama Alen keluar dari kamar.


"Apa isinya?" Tanya Rihan sambil terus berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.


"Hanya sebuah alamat tempat pertemuan, Tuan." Jawab Alex lalu menempelkan kartu identitasnya untuk membuka pintu lift.


"Hmm. Persiapkan semuanya dengan baik. Aku percaya pada kalian. Kali ini jangan gagal lagi," Rihan memberi peringatan penuh penekanan lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh Alex dan Alen.


"Baik, Tuan." Jawab Alex dan Alen secara bersamaan.


"Kapan pertemuannya?" Tanya Rihan tenang.


"Hari ini Pukul 7 malam, Tuan."


"Hmm."


...


"Apa yang ingin anda makan, Tuan?" Tanya Alen setelah dia duduk dan mengambil piring.


"Seperti biasa."


"Baik, Tuan."


"Ada apa?" Tanya Alex ketika melihat keberadaan seorang pria di pintu masuk menuju meja makan. Sepertinya pria itu takut masuk dan mengganggu sarapan pagi sang majikan.


Rihan yang merasakan keberadaan pria itu sedari tadi hanya diam dan menikmati makanannya. Biarlah sang asisten yang akan mengurus hal itu.


"Saya minta maaf sudah mengganggu waktu sarapan anda, Tuan Muda. Harap beri saya hukuman." Ucap pria itu sambil menunduk takut.


"Berita apa yang kamu bawa?" Tanya Alex datar ketika mendapat lirikan tajam dari sang majikan.


"Ada seorang pria memaksa masuk ke dalam mansion. Dia mengatakan bahwa dia adalah teman Tuan Muda." Jawab pria itu gugup.


"Siapa namanya?" Tanya Alex mengerutkan keningnya merasa heran dengan orang yang bertamu di pagi ini. Teman majikannya? siapa orang berani itu?


"Dia mengaku bernama Max, Tuan."


"Apa lagi yang diinginkan pria aneh itu?" Batin Rihan sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Biarkan dia masuk!" Ujar Alex ketika mendapat anggukan dari sang majikan.


"Baik, Tuan. Saya permisi."


"Ya."


"Apa yang akan dilakukan pria aneh itu, Kak?" Tanya Alen setelah menyudahi makannya.

__ADS_1


"Mungkin membuat rusuh." Jawab Alex mengangkat bahunya tidak tahu. Bagi Alex, Max adalah perusu. Tingkahnya Max juga sangat mengganggu, pikir Alex. Mau mengusirnya, itu tidak mungkin tanpa persetujuan majikannya.


...


"Aku 'kan sudah bilang, jika aku adalah teman tuan muda kalian." Max memasang senyum kemenangan ketika pintu berhasil dibuka sehingga dia bisa masuk dengan mobilnya.


"Silahkan, Tuan! Tuan Muda sudah menunggu di dalam." Seorang penjaga gerbang mempersilahkan Max tanpa mempedulikan perkataan pria itu barusan.


"Aku tahu."


Setelah menghentikan mobilnya beberapa meter di depan mansion Rihan, Max lalu keluar sambil bersiul kemudian melempar sembarangan kunci mobilnya pada bawahan Rihan yang berdiri di depan pintu masuk mansion.


"Jaga mobilku. Jika lecet, kepala kalian taruhannya." Ancam Max sambil terus berjalan dan memasuki mansion. Sedangkan anak buah Rihan menggeleng kepala tidak mengerti dengan sikap Max.


"Rei... Aku datang!" Teriak Max ketika 3 langkah melewati pintu mansion.


"Kamu disitu rupanya," Sambung Max ketika mendapati Rihan sedang duduk di sofa ruang tamu dengan Alex yang berdiri di sampingnya.


"Ada urusan apa anda datang sepagi ini?" Tanya Alex menatap memicing Max yang langsung duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Sangat tidak sopan. Alex lebih setuju jika Max menderita kanker otak. Otaknya sepertinya tidak bekerja dengan baik. Sangat tidak sopan!


"Yang jelas bertamu. Dan itu bukan urusanmu," Balas Max menatap malas Alex. Asisten teman barunya ini sepertinya tidak suka padanya. Sayangnya dia tidak peduli. Selagi teman barunya tidak menolak, dia sangat senang.


"Aku datang sepagi ini untuk mengajakmu lari pagi Rei. Mau, ya?" Max memgutarakan maksud kedatangannya lalu tersenyum pada Rihan yang hanya menatapnya datar.


"Kamu tidak bisa mengajak Ehan begitu saja. Ehan harus menemaniku jalan-jalan di mansion. Enak saja mau membawa Ehan lari pagi. Aku tidak setuju!" Phiranita yang baru datang bersama Alen dan duduk di sebelah Rihan dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Jadi dia yang diprioritaskan Rehhand? Lihat saja nanti! Aku akan membuat Rei hanya peduli padaku." Batin Max menatap penuh permusuhan Phiranita.


"Apa lihat-lihat! Mau kucongkel matamu? Jangan pergi bersamanya, Han." Phiranita dengan nada memohon diakhir kalimatnya sambil menatap memelas pada Rihan.


"Tidak bisa! Rei harus ikut bersamaku lari pagi." Balas Max tidak mau kalah.


"Tidak! Ehan harus menemaniku jalan pagi."


"Rei yang harus menemaniku."


"Tidak!"


"Iya."


"MAU KEMANA HAN/REI!" Suara keduanya bersamaan karena Rihan tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar mansion diikuti oleh Alex dan Alen.


"Gara-gara kamu Ehan pergi. Hishhh..." Phiranita menyalahkan Max lalu berlari menyusul Rihan.


"Wah... Cari gara-gara gadis itu." Gumam Max pelan lalu ikut keluar.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2