Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Rihan membuka matanya. Sedikit mengernyit, Rihan menatap ke arah perutnya. Di sana ada Zant yang terlelap dengan memeluknya erat, sambil menyembunyikan kepala di perutnya.


Rihan sedikit bingung dengan gaya tidur baru pria yang sudah menjadi suaminya ini. Sebelum menikah, keduanya tidur seperti biasa. Semalam juga sama. Tetapi pagi ini, posisi tidur suaminya itu sudah berbeda.


"Kak..." Panggil Rihan pelan sambil mengusap lembut rambut hitam sang suami.


Tidak ada respon dari Zant.


"My King,"


"Hm."


"Biarkan aku bangun. Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu."


"Bagaimana kalau sarapanku, kamu saja?" Gumam Zant menggoda Rihan. Pria itu semakin menenggelamkan kepalanya di perut Rihan.


"Aku serius," Balas Rihan yang kini mengacak rambut Zant.


"Aku juga serius, My Queen." Zant kemudian dengan santainya sedikit mengangkat piyama Rihan kemudian mengecup perut rata sang istri.


"Astaga, Kak." Rihan kaget karena tindakan Zant.


Mendengar suara Rihan, Zant menyeringai kemudian mengecup berulang kali semua bagian perut sang istri, membuat Rihan hanya bisa menahan geli sambil berusaha mendorong Zant lepas dari perutnya.


"Geli Kak... berhenti... hahaha..." Rihan masih saja berusaha menarik diri dari Zant.


Rihan terus merontah ingin melepaskan diri sambil tertawa karena geli. Sayangnya, suaminya itu semakin membuatnya tidak berhenti tertawa. Zant kini sudah mengubah posisi mereka dengan Rihan yang terlentang, sedangkan dia sendiri sudah bangun dan sibuk menggelitik area perut kesayangannya.


"Rasakan itu..." Gumam Zant sambil tertawa senang. Tangannya tetap menggelitik perut Rihan.


10 menit kemudian, suasana tiba-tiba hening. Entah apa yang sudah terjadi, posisi pengantin baru itu sedikit berubah, dimana Zant yang sudah menindih Rihan. Kedua tangan Zant menopang tubuhnya di bagian leher Rihan. Keduanya kini saling bertatapan dalam diam.


Zant tersenyum tipis sambil menatap dalam bola mata Rihan. Setelah itu, Zant beralih menatap bibir sang istri yang selalu membuatnya candu.


"Boleh?" Tanya Zant meminta izin mencium bibir Rihan. Rihan hanya mengangguk pelan.


Mendapat persetujuan, Zant dengan lembut mencium dan m*****t bibir merah alami dan menggoda itu. Rihan mulai bisa mengimbangi ciuman itu, meski sedikit kaku.


Cukup lama keduanya dalam mode berciuman, hingga kini satu tangan Zant sudah berpindah mengusap perut rata Rihan yang tertutup piyama tidur. Hanya beberapa menit, tangan itu mulai bergerak naik ingin mencari bagian yang lebih kenyal. Sebelum itu, Zant menatap kembali wajah Rihan, ingin melihat ekspresi sang istri.


"Lanjut, atau berhenti sampai di sini? Aku akan menunggu hingga kamu siap, My Queen." Tanya Zant dengan suara serak.


Jangan lupakan pandangan sayunya menatap sang istri. Rihan jelas tahu ekspresi itu. Sedikit menelan ludah, Rihan menengok ke bawah karena kembali merasakan sesuatu yang keras menyentuh pahanya.


"Aku harus bisa melawan rasa gugupku." Gumam Rihan dalam ikut membalas tatapan Zant. Rihan mengangguk tanda setuju untuk lanjut.


Melihat anggukan setuju itu, Zant kembali mencium bibir Rihan. Kali ini ciuman Zant sedikit menuntut. Tangannya juga mulai naik dan menyentuh benda kenyal itu. Rihan sedikit mengerutkan kening merasakan sensasi aneh ketika tangan Zant menyentuh salah satu benda kembarnya.


Ciuman Zant kini berpindah dari bibir ke leher Rihan. Pria itu tidak lupa memberi tanda kepemilikan di sana, membuat Rihan hanya bisa pasrah dan menggigit bibirnya tidak ingin mengeluarkan suara aneh.


Zant yang merasa tanda kepemilikan di leher sang istri yang dibuat sudah cukup, pria itu tersenyum senang dan ingin membuat tanda di tempat lain.


Zant beralih menatap area dada Rihan sambil menelan ludah. Baru saja dia akan melanjutkan aksinya, Rihan sudah menahan tubuhnya membuat Zant mengerutkan kening bingung.


"Kenapa?" Tanya Zant lembut.


"Sepertinya harus ditunda dulu, Kak. Tamu bulananku datang lebih cepat dari biasanya. Maaf, ya." Rihan tersenyum bersalah menatap sang suami yang kini mendesah kecewa dan menenggelamkan kepalanya di cekuk lehernya.


"Tidak apa-apa, My Queen. Aku bisa menahannya. Lagipula ini hanya beberapa hari. Tenang saja. Berhenti merasa bersalah, hum?" Gumam Zant di cekuk leher Rihan.

__ADS_1


"Maaf... mau aku bantu?" Tawar Rihan sambil mengusap lembut kepala Zant yang masih di cekuk lehernya.


"Bantu? Serius?" Tanya Zant senang sambil tersenyum tipis. Pria itu kini sudah bangun dan menatap lekat wajah Rihan.


"Hm." Rihan menjawab dengan deheman lalu mengangguk.


Cup


"Itu merepotkanmu. Tidak perlu, My Queen. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tidak apa-apa." Ujar Zant setelah mengecup bibir Rihan lagi.


"Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku membersihkan diri." Rihan berusaha mendorong Zant agar berpindah dari atasnya.


"Morning kiss dulu. Di sini." Zant menepuk pelan bibirnya dengan telunjuk.


Rihan hanya menggeleng, tetapi kemudian memajukan wajahnya ingin mencium suaminya ini. Zant dengan senang hati menyambut ciuman itu. Keduanya cukup lama berciuman hingga Rihan lebih dulu melepaskan diri karena hampir kehabisan nafas.


"Bagaimana kalau kita membersihkan diri bersama?" Zant tersenyum menggoda menatap Rihan yang baru turun dari tempat tidur.


"Tidak." Rihan menjawab dengan datar dan segera berlari ke kamar mandi. Tidak lupa juga, dia mengunci pintu kamar mandi setelah menutupnya dengan sedikit kuat. Zant hanya bisa tergelak kencang melihat tindakan menggemaskan istri tercintanya.


...


Semua orang sudah duduk di meja makan. Ada tiga kepala keluarga beserta anak istri mereka. Ada Daddy Jhack dan Mommy Rosse, Papa Jhon dan Mama Shintia, Daddy Willy dan Mommy Lily, Kak Avhin, Alex, dan Alen. Mereka semua sedang menunggu pengantin baru sebelum sarapan pagi dimulai.


Dari arah pintu menuju meja makan, dua pasutri terlihat berjalan masuk sambil berpegangan tangan. Senyum Zant yang paling cerah, padahal pria itu belum melakukan malam pertama. Lucu sekali!


Para orang tua hanya geleng kepala melihat pengantin baru itu. Terlebih ketika melihat tanda kepemilikan di leher Rihan. Mereka berpikir malam pertama berjalan lancar. Sayangnya belum sama sekali.


Rihan sendiri tidak menutup tanda itu karena Zant melarangnya. Sedangkan ketiga orang jomblo yang duduk di meja makan hanya tersenyum melihat pengantin baru itu.


"Ibu mertuamu sudah menyiapkan sup pereda sakit untukmu, Sayang." Mommy Rosse membuka suara ketika Rihan dan Zant sudah duduk di meja makan. Rihan mengernyit tidak mengerti dengan sup pereda sakit yang dimaksud sang mommy.


"Sup pereda sakit? Memangnya aku sakit, Mom?" Tanya Rihan sambil menatap semangkuk sup di depannya.


Mommy Lily sendiri hanya terkekeh karena merasa lucu dengan tingkah polos sang menantu.


Rihan masih saja tidak mengerti. Dia menoleh ke samping menatap Zant yang tersenyum. Rihan menyipit matanya, menyadari senyuman suaminya adalah senyuman mengerti maksud orang tua mereka. Rihan memberi kode pada Zant, meminta jawaban.


"Katanya, malam pertama itu sakit, makanya mommy menyiapkan sup pereda sakit." Bisik Zant lalu terkekeh.


Rihan sendiri melotot kaget. Dia baru tahu hal ini. Rihan menelan ludahnya takut bercampur gugup. Apa benar-benar sakit?


"Tenang saja. Aku jamin itu tidak sakit, karena aku akan bermain pelan." Zant kembali berbisik dan berakhir dengan kekehan membuat semua orang menatapnya.


"Dunia serasa milik berdua," Cibir Avhin berpura-pura memasang wajah kesal, tapi dalam hati pria itu senang karena adik kesayangannya akhirnya bahagia.


"Namanya juga pengantin baru." Papa Jhon membuka suara dan dibalas anggukan oleh yang lainnya.


"Sudah waktunya sarapan. Jangan menggoda mereka lagi." Daddy Jhack tersenyum tipis.


Semua orang mengambil piring masing-masing dan mulai memakan sarapan mereka.


***


Pukul 3 sore, Zant mengajak Rihan untuk jalan-jalan. Kali ini Zant ingin dipeluk sepanjang jalan oleh Rihan, sehingga pria itu mengeluarkan salah satu koleksi motor sport Rihan dari garasi.


Keduanya pamit untuk jalan-jalan pada orang tua mereka. Penampilan keduanya benar-benar membuat orang iri. Selain visual mereka yang meresahkan, fashion mereka yang couple dan trend sangat membuat para anak muda iri.


"Kita mau kemana?" Tanya Rihan di belakang Zant yang mengendarai motor.

__ADS_1


"Melihat kado pernikahan dari pengusaha muda itu," Jawab Zant tenang.


Tadi siang, Logan datang dan membawa kotak yang katanya kado pernikahan dari Neo. Logan memang ditugasnya untuk mengurus semua hadiah pernikahan dari para tamu dan kerabat.


Di dalam kotak itu ada dua amplop. Amplop pertama setelah dibuka, isinya kunci rumah karena ada surat-surat kepemilikannya di sana. Amplop kedua hanya ada alamat yang sedikit diketahui Zant adalah kota kecil yang tidak terlalu jauh dari kota New York.


Karena Zant penasaran, pria itu mengajak Rihan untuk jalan-jalan, sekaligus melihat tempat yang tertulis di secarik kertas.


"Dari kak Neo?"


"Hm."


Rihan hanya mengangguk dan tidak bertanya lagi. Dia hanya menyenderkan dagunya di bahu Zant.


"Kita masih punya setengah jam sebelum sampai, jadi tidurlah. Aku akan membangunkanmu." Ujar Zant lembut. Rihan tidak menjawab. Sebaliknya dia memejamkan mata setelah mengeratkan pelukannya pada pinggang Zant.


Zant sedikit mengurangi kecepatan motor agar istrinya bisa terlelap. Zant juga hanya mengendari motor dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menahan kedua tangan kesayangannya yang melingkar di perutnya.


...


"My Queen, ayo bangun... kita sudah sampai." Zant membangunkan Riham setelah memarkirkan motornya.


Rihan sedikit menguap lalu melepas helmnya dibantu oleh Zant. Keduanya melihat sekeliling. Ternyata kota kecil ini sangat asri. Zant sedikit kaget karena perubahan besar di kota kecil ini.


Zant kemudian bertanya tentang alamat yang tertulis di kertas yang diberikan Neo. Ternyata di sana ada dermaga. Zant dan Rihan menebak dalam hati, hadiah apa yang diberikan oleh Neo.


Sampai di dermaga, suasana di sana benar-benar indah. Sepanjang dermaga itu sudah dihias dengan bunga-bunga pada pembatas dermaga. Di ujung dermaga, mereka bisa melihat sebuah kapal pesiar mewah dan cukup besar yang bisa menampung kira-kira ribuan orang.


Bukan hanya itu. Di bagian atas kapal pesiar, ada spanduk yang besarnya setengah dari kapal pesiar itu. Spanduk itu berkibar mengikuti arah mata angin dengan tulisan di atasnya.


...'Selamat untuk pernikahan kalian. Rihan dan Zant.'...


Rihan hanya bisa geleng kepala karena hadiah pernikahan ini. Akan tetapi tidak dipungkiri, gadis itu tersenyum tipis. Zant ikut tersenyum. Keduanya lalu masuk ke dalam kapal.


Di dalam kapal, suasananya benar-benar memanjakan mata. Ruangannya sangat luas dan mewah sama seperti gedung-gedung hotel yang mewah bahkan lebih dari itu.


Sudah ada banyak orang di dalam sana dengan tugas mereka masing-masing. Ada yang berdiri sepanjang jalan masuk membentuk pagar hidup, ada yang memainkan musik, melakukan atraksi dan lainnya.


Sebelum naik ke lantai atas, seorang pria tampan terlihat menuruni tangga menghampiri Zant dan Rihan. Zant sendiri sudah menatap pria itu tajam, karena tatapan pria itu tidak lepas dari wajah cantik sang istri.


Aura keasaman di tubuh Zant kembali menguar. Pria itu sudah menarik Rihan agar lebih dekat dengannya. Pelukannya pada pinggang Rihan sangat erat. Jelas sekali pria itu sangat posesif terhadap miliknya.


"Selamat datang Tuan, Nyonya... Saya Nakhoda kapal pesiar ini. Nama saya Lenoxis Tramph. Tuan dan Nyonya bisa memanggil saya Lenox. Saya yang akan memandu perjalanan ini," Suara Pria bernama Lenox itu begitu tegas. Rihan hanya mengangguk. Zant sendiri tetap dengan pandangan tajamnya.


"Berhenti menatap istriku!" Kesal Zant yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Maaf, Tuan. Wajah nyonya benar-benar mirip dengan sahabat saya sewaktu SMP di Prancis dulu." Jawab Lenox tetap tenang.


"Kamu, Lenoxis Therius Samara? Kenapa mengubah nama tengah dan belakangmu?" Sahut Rihan ketika menyadari bahwa nakhoda ini benar-benar sahabat SMPnya.


"Ceritanya panjang. Jadi kamu benar-benar Rihanku? Kesayanganku dulu?" Lenox begitu antusias dan bahkan melupakan aura dingin yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


.


.


.


Yang nunggu malam pertama, maaf, ya.. Baru nulis bagian itu aja, aku udah geli sendiri.

__ADS_1


Jadi, ya... begitulah.


Jangan lupa komen, ya.


__ADS_2