Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Jalan-jalan


__ADS_3

Pukul 5 sore, Neo sudah memboyong Rihan keluar mansion dengan mobil milik pria itu. Padahal Rihan sudah menolak ajakan Neo, tetapi seorang dengan sifat seenaknya seperti Neo tidak bisa dibantah. Pria itu dengan bermacam bujukan, dan berakhir dengan ancaman, membuat Rihan terpaksa ikut juga.


Di sinilah keduanya berada. Taman Suropati Jakarta Pusat. Sepanjang jalan mengelilingi setiap tempat di taman itu, sorot mata Rihan begitu senang. Sayangnya, tidak dia tunjukan pada Neo.


Jika pria itu melihatnya, maka Rihan pasti akan menerima hukumannya. Rihan kagum dengan setiap spot terbaik di taman Suropati, karena ini pertama kalinya dia datang ke sini.


Jika Rihan yang hanya menampilkan ekspresi datar, maka berbeda dengan Neo. Pria itu selalu tersenyum sepanjang jalan, mulai dari mansion hingga tiba di taman. Neo bahkan merangkul Rihan sejak mereka turun dari mobil. Rihan hanya bisa menghembuskan nafas kesal pada Neo.


Neo tidak ingin memikirkan kepergian Elle. Pria itu mengatakan pada Rihan akan menanyakan sendiri pada Elle saat pulang nanti. Dia hanya ingin jalan-jalan dengan Rihan sekarang.


Keduanya terus mengelilingi taman Suropati sekitar setengah jam tanpa ada pembicaraan sama sekali. Neo yang sudah tidak tahan, akhirnya membuka suara.


"Bagus 'kan?" Tanya Neo sedikit menunduk karena perbedaan tinggi badan mereka.


"Lumayan." Balas Rihan datar.


"Ayo foto bersama! Sebagai kenang-kenangan." Ajak Neo lalu mengeluarkan ponsel di saku celananya. Pria itu juga menatap di sekitarnya untuk mencari orang yang bisa dimintai bantuan.


"Aku sedang tidak mood." Balas Rihan datar.


"Tidak masalah. Kebetulan di sini sedang ramai, jadi satu kecupan cukup untuk menimbulkan kehebohan." Pancing Neo dan tersenyum tipis.


"Ck... kamu membuatku kesal, Kak."


"Terima kasih untuk pujiannya, Sayang."


"Kau... Aku menyerah. Lakukan sesukamu!"


"Anak baik. Kita akan foto di sana, di taman bunga itu. Ayo!" Neo menunjuk taman bunga 5 meter di depan mereka. Pria itu lalu meraih pergelangan tangan Rihan menuju taman bunga itu.


"Permisi... bisa tolong ambilkan foto kami berdua?" Neo meminta tolong pada seorang gadis muda. Gadis itu mungkin seusia anak SMA.


"Iya, Kak. Bisa." Balas gadis itu sesaat setelah dia sadar dari linglungnya karena terpesona dengan pria tampan di depannya.


"Ini ponselnya."


"Baik, Kak."


Neo kemudian menarik Rihan dan memposisikan gadis itu di depannya. Posisi kedua tangan Neo melingkar dari belakang di bagian atas dada Rihan, dengan dagu pria itu juga diletakkan di atas kepala Rihan.


"Dalam hitungan ketiga, saya akan mengambil gambarnya, Kak. Siap-siap, ya. Satu, dua, tiga..."


Cekrek


"Ulang sekali lagi. Kakak tampan yang di depan wajahnya terlalu datar."


"Senyum, Rei." Bisik Neo.


"Jangan memaksaku, Kak." Rihan menjawab dengan datar.


"Ayolah... sedikit saja. Hm?"


"Aku akan pulang kalau begitu."


"Baik-baik... Aku tidak akan memaksamu lagi."


"Wajahnya sudah begitu. Fotokan saja."


"Baik, Kak."


Cekrek


"Ganti posisi lain, Kak." Gadis muda itu tersenyum manis. Kapan lagi dia bisa mencuci matanya seperti sekarang.


"Oke." Neo mengangguk senang lalu beralih ke samping Rihan kemudian merangkul bahu Rihan posesif. Neo kemudian menoleh ke depan kemudian memasang senyum terbaiknya. Rihan sendiri hanya berwajah datar.

__ADS_1


Cekrek


"Sudah cukup!" Rihan melepas rangkulan Neo dengan cepat. Dia merasa tidak nyaman.


Neo hanya bisa menghela nafas dan menghampiri gadis muda di depannya untuk mengambil ponselnya kembali.


"Terima kasih, Dik."


"Sama-sama, Kak." Gadis muda itu lalu pamit pergi dari sana.


"Kamu tidak ingin menyimpan foto kita?" Tanya Neo sambil menatap Rihan yang bersidekap dada menatapnya datar.


"Tidak penting!" Balas Rihan lalu beranjak dari sana.


"Ya, sudah. Biarkan aku yang menyimpannya sendiri." Gumam Neo lalu tersenyum menatap hasil foto gadis muda itu.


"Hasilnya tetap bagus meski dia berwajah datar." Gumam Neo dalam hati tersenyum lalu membuka pengaturan, kemudian mengatur foto pertama mereka sebagai wallpaper di ponselnya. Setelah itu, Neo menyusul Rihan dan kembali merangkul gadis itu.


"Siomay... Apa itu enak?" Tanya Neo ketika membaca nama di gerobak yang sedang didorong oleh seorang paru baya memasuki taman Suropati.


"Hm."


"Benarkah? Ayo kita coba!" Ucap Neo senang, lalu melepas rangkulannya kemudian menggenggam tangan Rihan menuju penjual siomay sekitar 7 meter di depan mereka.


"Dua porsi, Pak. Makan di sini." Pesan Rihan setelah mereka menghampiri penjual siomay itu.


"Siap! tunggu sebentar, Den." Si penjual siomay sangat senang. Pria paru baya itu lalu menghentikan gerobaknya kemudian mengambil dua kursi untuk Rihan dan Neo.


"Terima kasih, Pak." Balas Neo lalu duduk setelah Rihan.


"Sama-sama, Den."


Hanya beberapa menit, siomay sudah ada di tangan Rihan dan Neo.


"Wah... Aku pikir ini semacam nasi goreng atau apalah. Ternyata seperti ini. Ada bermacam campuran di dalamnya. Kelihatannya enak." Komentar Neo sambil menatap berbinar sepiring siomay di tangannya.


"Hm."


"Ini pertama kalinya aku memakan makanan selezat ini. Kelihatannya sederhana, tetapi rasanya hampir sama dengan masakan di restaurant bintang lima. Benar-benar lezat! Siapkan satu porsi lagi, Pak." Ucap Neo setelah menyuap satu sendok ke dalam mulutnya dan memberi komentar.


"Siap Aden."


Neo dengan cepat memakan siomay miliknya. Pria itu terlihat sangat menikmati makanannya. Rihan sendiri tetap tenang menikmati siomay miliknya. Sesekali dia akan menggeleng karena kelakuan Neo yang seperti anak kecil belajar makan. Dagunya tertinggal sambal kacang, ada juga sedikit mengenai bajunya.


Sekitar 30 menit, keduanya menikmati siomay dengan tenang. Lebih tepatnya Neo yang sudah menghabiskan dua porsi. Porsi yang ketiga sedang dia makan. Rihan cukup satu porsi, mengingat kesehatan tubuhnya.


"Sepertinya aku harus berolahraga sebelum tidur nanti," Gumam Neo sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


"Terima kasih sudah membuat makanan seenak ini. Tolong dibungkus 5 porsi ya, Pak." Pintah Neo setelah meminum segelas air.


"Siap, Den!"


10 menit kemudian, lima bungkus siomay sudah siap. Neo kemudian membayar pada sang penjual. Neo juga memberikan tambahan lembar seratus ribuan pada si penjual dengan alasan makanan buatan paru baya itu sangat enak.


"Satu juta dua ratus. Ini sangat banyak, Den." Penjual siomay itu berbicara dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, setelah menghitung jumlah uang kertas berwarna merah itu.


"Terima saja, Pak. Baginya itu sangat kecil." Rihan menepuk pelan bahu si penjual siomay itu menenangkan.


"Te...terima kasih, Den."


"Sama-sama, Pak. Jika ada waktu, saya akan mampir lagi ke sini. Kami pamit, ya." Neo berpamitan sambil tersenyum.


"Baik, Aden."


Rihan dan Neo lalu beranjak pergi dari sana dengan Neo yang membawa satu plastik berisi lima bungkus siomay.

__ADS_1


"Padahal aku masih ingin jalan-jalan. Tapi perutku sudah kenyang. Aku juga belum sempat mencoba deretan jajanan khas Indonesia di sana," Neo menunjuk dengan dagunya deretan gerobak yang menjual bermacam jajanan khas Indonesia.


"Kak Neo bisa mengajak Elle."


"Bagaimana denganmu? Aku ingin pergi bersamamu." Neo mengernyit tidak senang.


"Cukup hari ini saja. Pekerjaanku masih banyak," Balas Rihan datar dan berjalan cepat meninggalkan Neo.


"Aku juga banyak pekerjaan. Tapi demi bersamamu, aku meninggalkan semua itu. Pasti Logan sedang kesal padaku karena membuatnya bekerja keras." Gumam Neo pelan lalu mempercepat langkahnya menyusul Rihan.


***


Jam 6 pagi, Rihan sudah rapi dengan pakaian santai dan duduk di sofa ruang tamu ditemani segelas susu. Ada Alex yang setia berdiri di sampingnya. Alen sendiri, sedang menyiapkan sarapan pagi.


Alex dan Phiranita tiba di Indonesia tengah malam, sehingga belum ada yang tahu kedatangan sahabat Rihan itu. Rihan juga sengaja datang di ruang tamu untuk menunggu Phiranita yang sedang membersihkan diri, mungkin.


"Ehan... Tata kangen!" Seru Phiranita setelah keluar dari lift dan berjalan cepat menghampiri Rihan.


"Aku juga. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rihan sambil mengelus pelan pucuk kepala Phiranita yang bersandar padanya.


"Sangat baik. Aku kaget karena kedatangan kak Alex di mansion. Aku pikir ada masalah penting. Ternyata kak Alex datang menjemputku. Aku sangat senang."


"Hm."


"Papi akan datang besok atau lusa. Tidak usah jemput. Ada jet pribadi yang akan mengantar papi."


"Aku mengerti. Bagaimana kuliahmu?"


"Semua berjalan lancar. Untungnya kedatangan kak Alex, ujianku sudah berakhir kemarin. Jadi aku bisa lebih lama berlibur di sini."


"Itu bagus. Jangan lupa dengan apa yang sudah aku katakan padamu sebelumnya."


"Oke. Aku mengerti."


Keduanya terus bercerita dengan Phiranita yang masih bersandar pada bahu Rihan, hingga interaksi keduanya terganggu dengan kehadiran Neo.


"Siapa gadis itu, Rei? Kekasihmu?" Suara Neo terdengar kesal dari belakang Rihan dan Phiranita.


"Jika iya, itu bukan urusanmu, Kak." Balas Rihan datar. Rihan bahkan dengan sengaja mengusap pelan kepala Phiranita.


Phiranita sendiri ingin berbalik menatap Neo, tetapi Rihan segera menahannya sehingga gadis itu tidak bergerak. Tiba-tiba Phiranita tersenyum licik seakan mengerti maksud Rihan. Gadis itu semakin merapatkan dirinya pada Rihan.


"Kapan lagi aku bisa menjahili nak Neo? Hehehe..." Batin Phiranita dan terkekeh geli.


"Sepertinya kamu lupa dengan ancamanku, Rei." Nada suara Neo masih kesal. Neo lalu menghampiri sofa tempat Rihan dan Phiranita duduk.


"Surprise!" Seru Phiranita ketika Neo sudah berada di depan mereka. Neo terlihat mematung dan berkedip beberapa kali. Pria itu tiba-tiba merasa malu.


"Kakak suka Ehan, ya? Tingkah kakak seperti orang yang cemburu pada orang yang dia sukai. Hayo loh..." Tebak Phiranita setelah duduk tegak dan menunjuk Neo sambil memasang senyum menggoda.


"Eum..." Neo hanya bisa menggaruk pelipisnya malu bercampur gugup.


"Tapi... yang aku dengar, kakak sudah punya kekasih sejak lama. Apa sudah putus?" Tanya Phiranita mengerutkan kening.


"Siapa bilang kami putus? Kami saling mencintai, dan tidak akan pernah putus." Suara Elle sekaligus menghampiri Rihan dan yang lainnya.


Rihan sendiri hanya menyeringai dan duduk bersantai di tempatnya. Phiranita yang mendengar suara itu, segera berbalik ke sumber suara.


"Kamu..."


.


.


.

__ADS_1


Terima untuk semua dukungan pembaca sekalian. Jangan lupa untuk memberi saran di kolom komentar untuk cerita ini, ya.


__ADS_2