
Rihan baru keluar dari ruangan tempat pengambilan darah bersama suster tadi yang langsung bergegas ke ruang operasi. Sekitar tiga kantong darah diambil sehingga wajah Rihan kini mulai pucat.
"Lain kali papa akan marah melihatmu melakukan hal ini lagi. Apapun yang terjadi, jangan pernah melakukannya. Ingat kondisi tubuhmu. Kita masih bisa memikirkan cara lain," Omel Papa Jhon yang menghampiri Rihan dan membawanya ke pelukannya.
"Hmm."
"Apa yang dikatakan papamu benar, Rei. Jangan memaksakan dirimu. Jika memang sudah takdir mami, maka kita tidak bisa menentangnya." Balas Neo ketika Rihan sudah duduk di sebelahnya.
"Sebaiknya kamu istirahat. Wajahmu pucat. Ada kamar di sebelah sana. Ayo, aku antar!" Usul Logan sambil menunjuk kamar yang tidak terlalu jauh dengan ruang operasi.
"Setelah operasi berakhir." Putus Rihan mengundang helaan nafas sang papa dan gelengan kepala Logan. Neo sendiri hanya menatap bersalah pada Rihan.
Setelah menunggu hingga tiga jam, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Di sana keluar beberapa suster sambil mendorong brankar berisi ibu Neo. Di bagian terakhir, Mama Shintia bersama seorang dokter paru baya juga keluar.
"Operasi berjalan lancar. Pasien akhirnya bisa melewati masa kritis. Mungkin besok beliau sudah bisa sadar." Jelas Mama Shintia membuat mereka yang sedari tadi menunggu, begitu senang.
"Terima kasih sudah menyembuhkan ibu saya, Nyonya. Jika ada yang anda inginkan, katakan saja. Saya siap mengambulkannya." Neo tersenyum tipis. Dia begitu senang mendengar kabar baik ini.
"Tidak perlu. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai seorang dokter. Saya hanya menyarankan agar ketika pasien sadar, buatlah dia tetap dalam keadaan baik. Jangan membuat pasien banyak pikiran. Saya juga tidak akan lama karena ada jadwal operasi di Prancis malam ini. Saya pamit!" Balas Mama Shintia dengan sopan.
"Baik, Nyonya. Sekali lagi terima kasih banyak. Jet pribadi akan mengantar nyonya dan tuan kembali. Mari saya antar!" Logan mempersilahkan Papa Jhon dan Mama Shintia ke jet pribadi.
"Kamu pasti mendonorkan darahmu untuk pasien 'kan? kamu tidak pernah berubah, Nak. Jaga dirimu! mama dan papa berangkat, Sayang." Mama Shintia mengelus sayang kepala Rihan yang duduk di kursi tunggu. Papa Jhon juga hanya tersenyum menatap keponakan yang sudah seperti anak sendiri.
"Iya Pa, Ma... Hati-hati di jalan."
"Iya, Sayang."
Paman dan bibi Rihan yang sudah menjadi orang tua kedua Rihan itu, segera pergi setelah menyempatkan untuk mencium pipi dan keningnya Rihan sebentar. Keduanya lalu pergi diantar oleh Logan.
"Karena operasi sudah selesai, sebaiknya kamu istirahat." Ucap Neo.
"Iya, Han. Istirahatlah. Aku tidak mau lihatmu sakit." Balas Phiranita sedih.
Rihan tanpa menjawab, segera berdiri dan menuju kamar yang dimaksud. Neo dan Phiranita juga segera menuju ruang rawat kedua orang tua mereka.
...
Rihan yang awalnya tertidur nyenyak, tiba-tiba mengerutkan kening karena merasakan kehadiran orang lain dalam ruangan ini. Merasa bukan bahaya, Rihan tidak membuka matanya. Dia penasaran siapa yang masuk di ruangan ini.
__ADS_1
Kriettt...
Terdengar gesekan kursi dengan lantai di samping tempat tidur Rihan. Disusul dengan seseorang yang duduk di sana. Dari bau tubuhnya, Rihan jelas tahu itu siapa.
"Terima kasih sudah menolong mami. Kamu satu-satu orang yang aku temui, yang sangat peduli pada orang lain. Kamu bahkan tidak memikirkan kondisi tubuhmu sendiri, hanya demi membantu orang lain. Sekali lagi terima kasih. Kamu adalah malaikat tanpa sayap bagi keluargaku," Gumam Neo yang menatap intens wajah tenang Rihan yang sedang berpura-pura terlelap.
"Mungkin saat ini aku belum bisa membantumu karena kamu tidak kekurangan apapun. Tetapi percayalah, suatu saat nanti jika kamu butuh, aku akan siap membantu." Sambung Neo lalu tersenyum tipis.
Setelah mengatakan itu, Neo segera berdiri dan pergi dari sana. Rihan yang mendengar pintu tertutup tanda Neo sudah pergi segera membuka matanya. Menghela nafasnya sebentar, Rihan menatap jam tangannya yang otomatis berubah sesuai lokasinya berada.
Terlihat pada jam tangannya sekarang pukul 4 sore. Itu berarti di Indonesia pukul 9 malam. Mengambil ponselnya, Rihan lalu menghubungi Alex.
"Selamat sore, Tuan! Anda butuh sesuatu?"
"Selamat malam, Lex. Kamu sedang apa?"
"Saya bersama Alen sedang memeriksa ulang laporan mingguan cabang R.A Group, Tuan."
"Hmm. Bagaimana keadaan Beatrix?"
"Beatrix baik-baik saja, Tuan. Pagi tadi Ariana dibuat kesal oleh Beatrix karena sejak kedatangannya, semua fokus para pria berpindah pada Beatrix."
"Mengerti, Tuan. Kapan anda kembali?"
"Mungkin besok."
"Baik, Tuan. Apa saya harus menjemput anda ke sana?"
"Akan lebih baik seperti itu."
"Siap, Tuan. Besok pagi saya akan berangkat."
"Hmm. Sebaiknya kalian istirahat. Salam untuk Alen."
"Iya, Tuan. Alen mengatakan untuk menjaga diri anda dengan baik."
"Hmm. Aku tutup teleponnya."
"Iya, Tuan."
__ADS_1
Panggilan berakhir.
Rihan melanjutkan tidurnya karena dia tidak tahu harus melakukan apa. Rihan tidak ingin mengganggu waktu kakak-beradik itu.
...
Rihan kembali tersadar dari tidurnya karena suara pintu yang terbuka. Tanpa membuka mata, Rihan kembali berpura-pura tidur.
"Waktunya makan, Rei. Tidak baik tidur terlalu lama." Ucap orang yang masuk tadi, yang tidak lain adalah Logan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Logan ketika melihat Rihan membuka matanya.
"Seperti yang kak Logan Lihat." Jawab Rihan bangun dan turun dari brankar.
"Ayo, kita makan malam. Neo dan Ira sudah menunggu."
"Hmm."
Rihan dan Logan lalu menuju ruang rawat kedua orang tua Neo dan Phiranita.
"Bagaimana keadaanmu?" Sambut Neo ketika Rihan baru masuk ke dalam.
"Baik."
"Ayo kita makan bersama,"
Padahal waktu masih menunjukan pukul 18.30, tetapi Neo sudah meminta Logan menyiapkan makan malam. Neo hanya khawatir pada Rihan sehingga pria itu berinisiatif melakukannya. Keempat manusia itu makan dengan tenang hingga selesai.
"Tugasku di sini sudah selesai, jadi aku akan pulang besok." Rihan membuka ketika mereka sudah selesai makan.
"Tunggu hingga mami sadar baru kamu pulang. Aku ingin memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku. Aku tidak terima penolakan!" Nada suara Neo penuh penekanan membuat Rihan menatapnya dengan datar.
"Aku memiliki hal yang harus dilakukan besok." Balas Rihan datar.
"Aku setuju dengan kak Neo. Ayolah, Han. Anggap ini sebagai permintaan kesembuhanku. Ya... Ya..." Rengek Phiranita membuat Neo tersenyum senang.
"Baiklah. Lusa aku akan pulang. Itu sudah keputusanku,"
"Oke, deal!"
__ADS_1