Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Korea Selatan


__ADS_3

Rihan dan Zant baru saja tiba di Bandar Udara Internasional Incheon-Seoul, yang merupakan bandar udara terbesar di Korea Selatan sekaligus merupakan salah satu yang terbesar di Asia.


Dengan pinggang yang dipeluk erat, takut miliknya diambil, Zant berjalan dengan wajah datar tetapi dalam hati bangga karena memiliki istri seperti Rihan.


Sepanjang jalan, keduanya selalu menjadi pusat perhatian karena visual mereka yang meresahkan.


Di belakang mereka, ada Alex dan Alen yang juga menjadi pusat perhatian. Barang bawaan mereka akan dibawa oleh para pengawal sehingga mereka hanya berjalan tanpa bawaan yang berat.


"Mau aku gendong?" Tawar Zant ketika melihat sang istri yang sedikit menguap.


"Tidak usah. Begini saja sudah jadi pusat perhatian. Aku tidak ingin semakin heboh," Tolak Rihan lalu menggeleng.


"Untuk apa mempedulikan orang lain? Mau gendong di depan atau di belakang?" Tawar Zant lagi dan tersenyum tipis. Rihan ingin menolak, tetapi wajah menanti suami posesifnya membuatnya menghembuskan nafas pelan.


"Di belakang." Rihan menjawab pelan.


"Ayo naik, My Queen." Ujar Zant setelah berjongkok. Rihan dengan tenang memposisikan diri agar digendong oleh suaminya di punggung.


Tindakan keduanya berhasil membuat para betina histeris karena tingkah romantis seorang Zant. Mereka hanya bisa berbisik iri dengan keberuntungan Rihan.


Rihan sendiri acuh dengan keadaan sekitar. Dia memilih mengalungkan tangan di leher Zant. Kepalanya juga diposisikkan di cekuk leher sang suami.


"Tidurlah jika kamu mengantuk." Ujar Zant pelan sambil menoleh ke samping. Rihan mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Alex dan Alen di belakang, saling pandang dan tersenyum tipis ikut senang melihat sepasang suami istri di depan mereka.


...


"Aku artis di sini, kenapa semua orang justru menuju ke sana? Ada apa di sana?" Tanya seorang gadis dengan nada kesal.


Biasanya gadis itu ketika tiba di bandara atau dimana pun dia berada, dia yang selalu menjadi pusat perhatian karena pamornya sebagai seorang artis Korea Selatan.


Tapi kini, hanya sedikit orang yang menyambut kedatangannya di bandara. Banyak orang terlihat menuju ke arah lain yang membuatnya kesal sekaligus penasaran.


"Saya tidak tahu siapa mereka, Nona. Tetapi mereka sepertinya sepasang kekasih yang sangat tampan dan cantik. Banyak orang penasaran dengan keduanya. Apalagi si pria yang begitu romantis." Seorang pria yang menjabat sebagai pengawal gadis itu menjawab setelah mengonfirmasikan keadaan sekitar melalui alat komunikasi di tangannya.


"Apa wanita itu lebih cantik dariku?"


"Jika boleh jujur, dia sangat cantik, Nona. Wajahnya sangat mirip dengan anak pengusaha kaya bernama Jhack Lesfingtone itu, Nona."


"Apa katamu? Itu tidak mungkin dia! Anak pengusaha kaya itu tidak mungkin naik penerbangan biasa. Beraninya mencuri pusat perhatianku? Aku ingin melihat wajah operasi plastik wanita itu. Dia pasti datang ke Korea karena ingin operasi plastik lagi. Ck... aku ingin membuka topengnya." Kesal gadis itu dan beranjak pergi ingin melihat Rihan dan Zant.


"Anda marah karena mengira dia operasi plastik sehingga menjadi cantik. Seperti anda tidak pernah operasi saja." Cibir pengawal gadis itu dalam hati.


Pengawal itu sejak awal tidak suka dengan gadis yang menjadi tuannya itu, karena sifat sombongnya. Akan tetapi, pengawal itu harus bertahan karena hanya ini pekerjaan dengan upah yang lumayan untuk menghidupi keluarganya.


"Minggir! aku mau lewat." Serobot gadis itu pada orang-orang yang menutupi jalannya.


Ketika berhasil melewati orang-orang itu dan sampai di depan Rihan dan Zant, gadis itu membeku di tempatnya karena terpana dengan wajah bak dewa yunani milik Zant. Selama 22 tahun hidupnya, ini pertama kalinya dia melihat pria yang sangat tampan.


"Sial, pria ini benar-benar tampan. Pantas saja semua orang ingin melihatnya. Dan gadis itu, ck... aku penasaran, rumah sakit mana yang sudah mengoperasinya." Gumam gadis itu dalam hati sambil menatap senyum tipis Zant yang sedang berbicara dengan Rihan.


"Maaf. Boleh aku tahu siapa namamu, pria tampan?" Tanya gadis itu tanpa tahu malu.


Gadis itu mengambil kesempatan bertanya pada Zant saat mereka berhenti sebentar karena Rihan mendapat telepon masuk.

__ADS_1


"Siapa yang menelponmu, My Queen?" Tanya Zant tanpa menghiraukan gadis di depannya.


"Kak Avhin."


"Angkat kalau begitu,"


"Turunkan aku, Kak."


"Tidak. Jawab saja. Kamu juga tidak berat,"


"Baiklah."


Gadis dengan status sebagai artis itu, sedang menahan malu sekaligus kesal karena diabaikan. Dia semakin malu karena tawa serta bisikan mengejek orang-orang di sekitarnya.


"Apa yang kakak ipar katakan?" Tanya Zant lembut.


"Kak Avhin ingin menyusul kita karena ada proyek penting di sini. Dia sedikit kesal karena terlambat mendapat informasi. Jika cepat, dia pasti berangkat bersama kita."


"Ya, sudah. Aku akan meminta orang menjemputnya. Ayo kita pulang, My Queen." Rihan hanya mengangguk setuju.


Zant beranjak pergi dari sana tanpa melirik gadis di depannya sedikitpun. Bukan hanya Zant dan Rihan, Alex dan Alen juga sama. Mereka menganggap artis itu seperti hantu yang tidak terlihat. Hanya saja, setelah melewati gadis itu, Alex dan Alen saling pandang kemudian menyeringai.


"Sialan... ini pertama kalinya aku diabaikan." Kesal artis itu dan berlalu pergi dari sana dengan keadaan malu dan marah. Sang pengawal pribadi hanya tersenyum senang melihatnya.


...


"Aku baru ingat! Sepertinya ada suara yang mengajakmu berkenalan tadi," Rihan membuka suara ketika mereka sudah ada dalam mobil.


"Apa aku salah dengar?" Gumam Rihan yang sudah berbaring sambil menatap wajah tampan suaminya.


"Pasti kamu salah dengar, My Queen."


"Mungkin saja."


Alex dan dan Alen yang duduk di kursi depan saling pandang kemudian menggeleng, setelah itu terkekeh lucu. Alex kemudian menjalankan mobil keluar dari bandara.


***


"Ini villa keluarga Veenick. Bagaimana menurutmu, My Queen?" Tanya Zant setelah mereka sampai dan sedang menatap villa mewah berlantai tiga di depan mereka.


"Sangat indah. Apalagi didekat pantai. Aku menyukainya."


"Benar. Ini sengaja dibangun di sini karena aku masih ingat jelas katamu sewaktu kita bermain bersama dulu. Kamu ingin tinggal di rumah mewah dekat pantai agar bisa bermain pasir setiap hari. Aku jadi terpikirkan untuk membangun villa di sini atas nama keluarga Veenick.


Tapi mungkin sudah beralih pemilik, karena mommy pasti sudah mengubah surat kepemilikan menjadi milikmu." Jelas Zant setelah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri kemudian mereka masuk ke dalam villa.


"Mommy ada-ada saja," Gumam Rihan membuat Zant terkekeh lalu mengecup gemas pucuk kepala istri kecilnya yang cantik.


...


"Aku sangat senang melihat wajah kesalnya tadi Kak. Benar-benar senang. Aku sangat berterima kasih pada nona karena membawa kita kesini untuk balas dendam." Alen membuka suara setelah dia dan Alex duduk di tepi pantai sambil melihat Rihan dan Zant yang berjalan santai menikmati senja sore hari.


"Ya. Sepupu kita itu sepertinya sudah lupa dengan wajah kita. Dia juga terlihat bahagia dengan menikmati harta warisan almarhum papa dan mama bersama orang tuanya."

__ADS_1


"Iya, Kak. Waktu paman dan bibi... oh tidak. Keluarga matre itu, sepertinya tinggal sedikit lagi. Waktu mereka untuk bersenang-senang hanya tersisa sedikit. Sudah waktunya semua itu ditarik dari mereka. Sudah waktunya kekayaan mereka kembali pada pemiliknya."


"Benar. Hanya hitungan hari sebelum semua itu diambil dari mereka. Kita hanya perlu bergerak sesuai rencana."


"Iya, Kak. Aku sudah tidak sabar."


***


"Jangan menggangguku, Kak. Aku benar-benar lelah." Rihan bergumam dengan lelah karena Zant terus saja menciumi seluruh wajahnya dengan gemas. Padahal baru dua jam lalu mereka beristirahat, setelah pukul 9 malam hingga 3 pagi suami posesifnya itu mengisi dayanya, sedangkan tenaga Rihan yang terkuras habis.


"Hehehe... maaf, tapi terima kasih, My Queen. Aku sangat senang." Zant tersenyum senang sebelum menghentikan aksinya dan memeluk erat istri kecilnya sambil terus mendusel tengkuk Rihan menghirup wangi alami istrinya.


"Tidur, Kak. Kamu tidak lelah?" Tanya Rihan setelah menahan tangan Zant yang mulai bergerak pelan di perutnya yang hanya tertutup selimut.


"Tidak. Aku sudah mengisi dayaku, jadi aku tidak lelah. Justru aku masih bisa mengisi daya lagi." Rihan hanya mendengus dan memukul tangan liar suaminya.


"Biarkan aku istirahat, Kak."


"Baik-baik, aku akan berhenti. Tidurlah, My Queen."


Rihan akhirnya bisa tidur dengan tenang, meski waktu sudah menunjukan hampir jam 6 pagi.


...


"Masih lelah?" Tanya Zant sambil menyuapi Rihan makan, setelah dia membantu istrinya mandi hingga mengganti pakaian.


"Sedikit," Jawab Rihan setelah menelan makanan di mulutnya.


"Maafkan aku. Malam ini aku akan bermain lembut."


"Itu kalimat kemarin, tapi hasilnya sama saja." Cibir Rihan lalu mendengus.


"Hehehe... maaf. Sayang jika dilewatkan begitu saja. Kalau begitu, aku tidak akan berjanji lagi. Takut tidak ditepati," Rihan hanya menatap datar suaminya ini sambil terus mengunyah.


"Mau jalan-jalan?" Tawar Zant setelah memberikan segelas air untuk Rihan.


"Boleh."


"Oke. Jam 3 kalau begitu. Biar kamu bisa istirahat lagi." Balas Zant setelah menatap jam di atas nakas yang sudah menunjukan pukul 9 pagi.


***


"Perhatian! Hari ini Direktur perusahaan yang baru akan datang. Semua orang diharapkan hadir untuk penyambutan nanti."


"Baik, Pak."


"Di mana Kim Yura? Jangan sampai dia membuat ulah. Saya tidak ingin ada kekacauan dalam penyambutan nanti."


"Hari ini jadwalnya pemotretan, Pak. Dua jam lagi dia akan kembali."


"Baiklah. Sekali lagi saya ingatkan, jangan sampai ada kekacauan. Awasi Kim Yura!"


"Siap, Pak."

__ADS_1


__ADS_2