Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Apa Yang Mereka Bicarakan?


__ADS_3

Menjelang sore, Rihan baru bangun dari tidurnya. Menatap jam digital di samping nakas tempat tidurnya, ternyata sudah pukul 4 sore, dan dia tertidur selama 2 jam. Rihan kemudian menuju kamar mandi dan membersihkan diri tanpa bantuan Alen karena dia hanya tidak ingin mengganggu asistennya saat ini.


Sekitar dua puluh menit, Rihan keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai pria. Setelah itu, sedikit melakukan perawatan wajah, Rihan kemudian menuju ruang kerjanya. Tidak lupa juga, Rihan mengirim pesan pada Alex untuk bertemu dengannya dan melaporkan penyelidikan para pengawal bayangan selama hampir satu minggu ini.


Tidak butuh waktu lama, Alex sudah ada di depan Rihan sambil membawa map di tangannya.


"Pengawal bayangan sudah berhasil mengumpulkan semua yang kita butuhkan, Tuan. Meski tidak ada rekaman cctv di rumah sakit saat itu, tetapi ada beberapa kejanggalan yang mereka temukan sehingga membawa mereka pada bukti-bukti ini.


Suster yang nona Ira ceritakan itu adalah Rine, sedangkan pria itu sepertinya teman Rine karena dari beberapa data yang diperoleh, mereka cukup dekat. Keduanya memang melakukan misi itu bersama. Data lengkap pria itu ada di sini, Tuan. Untuk Rine sendiri, kita tidak bisa mendapatkan data pribadinya sampai sekarang. Maafkan kami, Tuan."


"Hmm. Bagaimana dengan ruang rahasia itu?" Tanya Rihan tenang.


"Hanya beberapa orang yang tahu ruangan itu. Pertama, orang yang mendesain ruangan itu. Kedua, Tuan Evan selaku pemilik rumah sakit, dan terakhir dokter kepercayaan Tuan Evan. Dari ketiganya, hanya dua orang masuk dalam kategori tersangka. Setelah diselidiki, orang pertama ternyata sudah meninggal 10 tahun lalu. Jadi, hanya tersisa 1 orang. Si dokter kepercayaanTuan Evan.


Dari semua yang sudah terjadi, dokter itu hanya bersikap tenang. Tetapi para pengawal bayangan menangkapnya dan memberi sedikit ancaman sehingga dia mengaku bahwa dia hanya dibayar untuk membuka jalan pada Rine dan pria itu.


Dokter itu juga sedikit memberi bocoran bahwa Rine akan datang di Indonesia, tetapi entah itu kapan. Katanya Rine sudah menyiapkan sebuah rencana yang diyakini tidak akan gagal kali ini, mengingat nyawa taruhannya."


"Lalu, sudah ada tanda-tanda keberadaannya?"


"Posisi terakhirnya yang kami tahu adalah Jepang. Setelah itu, kita kehilangan jejaknya lagi. Maafkan kami, Tuan."


"Kamu bisa kembali."


"Baik Tuan, saya pamit."


"Tunggu! Lex." Ucap Rihan di saat Alex baru beberapa langkah menuju pintu.


"Ada apa, Tuan?"


"Di mana para pengungsi itu?"


"Di ruang tamu, Tuan."


"Baik. Kembalilah."


"Iya, Tuan."


Setelah kepergian Alex, Rihan mengambil ponselnya dan menelpon Phiranita sekedar meminta gadis itu menceritakan kronologi pelecehan seksual padanya waktu itu. Dan semua yang dia ceritakan sama persis dengan yang Brand ceritakan. Hanya saja Phiranita takut pada Brand karena berpikir pria itu juga ikut memperkosanya.


Tidak lupa juga, Rihan mengirim foto Rine pada Phiranita untuk mengkonfirmasi wajah suster itu dan juga pria dengan jas dokter itu. Dan jawaban Phiranita sesuai dengan apa Rihan inginkan. Setelah menanyakan beberapa hal lain, Rihan lalu menutup panggilannya.


Malamnya, setelah makan malam, Rihan meminta Brand untuk berbicara berdua dengannya di ruang kerjanya. Rihan hanya meminta Alex mengantar Neo ke kamarnya. Alen juga ikut bersama Rihan, sedangkan Logan dan Max kembali ke kamar masing-masing, atau melakukan hal lain, entahlah.

__ADS_1


"Apa yang akan mereka bicarakan?" Tanya Neo pada Alex setelah melihat Rihan, Alen dan Brand melewati mereka ke ruang kerja Rihan, sedangkan dia dan Alex berhenti di pintu kamar Rihan.


"Itu bukan urusan anda. Silahkan masuk!" Jawab Alex setelah pintu terbuka.


"Ck..." Decak Neo dan masuk ke dalam kamar Rihan.


"Dia bahkan tidak menatapku sama sekali," Gumam Neo setelah membanting tubuhnya di tempat tidur Rihan kemudian memejamkan matanya.


...


Di ruangan sebelah kamar Rihan, tepatnya ruang kerja pemilik mansion itu, dua orang terlihat duduk berhadapan di sofa ruangan itu, sedangkan seorang lagi dengan setia berdiri di samping majikannya.


"Aku ingin semua bukti yang sudah kak Brand kumpulkan." Rihan membuka suara tanpa basa-basi setelah dia dan Brand duduk.


"Tunggu sebentar, aku akan meminta Dom membawa berkas-berkas itu ke sini."


"Oke."


Mendengar jawaban Rihan, Brand kemudian mengambil ponselnya dan menelpon Dom. Asisten Brand itu tidak percaya bahwa sang bos menginap di sana karena setahunya, Rihan dan Brand bermusuhan.


Brand hanya terkekeh dan menyuruhnya untuk datang membawa semua bukti-bukti itu ke mansion Rihan agar dia percaya bahwa Brand menginap di sini.


"Tidak perlu khawatir, karena Tuan Muda Rehhand sudah menjadi adikku mulai hari ini. Aku akan menceritakannya padamu jika kamu sudah sampai di sini. Aku tunggu. Secepatnya!" Brand lalu mengakhiri panggilan mereka.


"Jika aku adalah Dom, aku pasti tidak percaya bahwa dua orang yang awalnya saling bermusuhan, bukan. Lebih tepatnya, akulah yang selalu mencari masalah denganmu sehingga banyak anak buahku yang merupakan orang-orang yang cukup terlatih mati sia-sia. Betapa bodohnya aku karena melakukan itu tanpa mengetahui bahwa niatmu ternyata baik pada Ira. Aku minta maaf untuk itu," Brand sedikit malu.


"Kelinci percobaan?" Tanya Brand tidak mengerti.


"Ya. Aku mengembangkan beberapa teknologi dan semua itu diujicobakan pada orang-orangmu. Aku minta maaf untuk itu. Jika kakak mau, aku bisa memberikan ganti rugi."


"Tidak usah. Itu sudah menjadi tugas mereka jika gugur dalam misi. Mereka sudah menandatangi kontrak hidup dan mati bersamaku jadi tidak masalah. Aku hanya perlu membiayai keluarga mereka selagi aku masih mampu."


"Aku mengerti. Izinkan aku ikut membantu keluarga mereka untuk menebus kesalahpahaman ini." Rihan melirik Alen yang sedari tadi berdiri tegak di sampingnya. Asisten Rihan itu sama sekali tidak ingin duduk padahal sudah diizinkan.


"Tidak perlu. Semua itu sudah menjadi tanggung jawabku," Balas Brand sambil menggeleng kepalanya.


"Aku memaksa! Tapi jika kak Brand tidak mau, aku bisa mencari mereka sendiri."


"Kamu benar-benar. Aku akan minta pada Dom nanti. Tunggu saja!"


"Oke."


Tidak lama kemudian Alex masuk ke ruang kerja Rihan bersama Dom di belakangnya sambil membawa dua map yang cukup tebal di tangannya. Sesudah di depan Rihan dan Brand, Alex mengambil dua map itu di tangan Dom dan meletakkannya di atas meja. Dom juga memberikannya setelah mendapat anggukan setuju dari sang Bos.

__ADS_1


"Salin semua itu, dan berikan aslinya kembali, Lex." Ucap Rihan menatap Alex sekilas.


"Kenapa harus menyalinnya?" Tanya Brand mengerutkan keningnya.


"Itu kerja keras kak Brand. Kenapa harus memberikan semuanya padaku? Lagipula, kita belum lama kenal. Bukankah terlalu cepat untuk mempercayaiku? Bagaimana jika aku menipumu?"


"Aku tahu jelas kamu bukan orang seperti itu. Jadi, tidak masalah." Balas Brand dan tersenyum tipis.


"Ambilkan, Lex." Pintah Rihan dan diangguki oleh Alex. Asisten Rihan itu segera mengambilnya kemudian menarik ujung baju Dom untuk ikut dengannya menyalin semua itu di mesin yang sudah tersedia di sudut ruangan.


"Kamu memang berbeda dari kebanyakan orang. Aku salut padamu," Brand hanya bisa menggeleng kepalanya tidak habis pikir dengan Rihan.


"Selama beberapa tahun ini, apa kak Brand sudah bertemu dengan Elle?" Tanya Rihan.


"Sama sekali belum. Aku juga tidak ingin bertemu dengannya. Aku takut dia menjebakku lagi, atau perasaanku padanya akan semakin sulit dilupakan."


"Apa yang akan kakak lakukan jika bertemu dengannya?"


"Entahlah! Mungkin sedikit memberinya pelajaran tanpa menyentuhnya."


"Aku mengerti."


...


Di kamar Rihan, Neo sedari tadi bergerak gelisah di tempat tidur karena sudah cukup lama dia menunggu Rihan.


"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa lama sekali?" Gumam Neo pelan lalu bangun dan duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur kemudian mengambil ponselnya dan mendownload sebuah game acak dan memainkannya untuk mengusir kebosanan.


Baru lima menit, Neo sudah mematikan ponselnya dan meletakkannya di samping nakas.


"Sudah hampir satu jam. Ck... Apa aku menyusul saja? Akan aneh kalau aku ke sana. Tidak-tidak." Gumam Neo lalu menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Sebaiknya melihat-lihat kamar Rei mungkin sedikit lebih baik," Batin Neo lalu turun dari tempat tidur dan menuju walk in closet milik Rihan.


Setengah jam kemudian, Rihan masuk ke kamarnya dan tidak melihat Neo di sana. Padahal menurut Alex, Neo sudah di kamarnya. Mengangkat bahunya tidak peduli, Rihan menuju kamar mandi ingin membersihkan diri.


Masuk ke kamar mandi, Rihan menuju wasstafel dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Ketika akan mengambil pembersih wajah yang biasa dia pakai, ternyata tidak ada.


"Tidak mungkin Alen lupa menyiapkannya," Batin Rihan mengerutkan kening.


Rihan berbalik dan menatap pada ruangan kaca di belakangnya yang hanya menampilkan dirinya. Ruangan itu khusus bathtub dengan dinding kaca dimana orang di dalam bisa melihat keluar, tetapi orang diluar tidak bisa melihat ke dalam.


Sedikit menyipit matanya, Rihan menuju pintu ruangan itu.

__ADS_1


Ceklek


"Bhaaaa...!!!"


__ADS_2