
Selamat membaca!
.
.
.
"Bukannya isi laporan akan kita buat setelah melihat perkembangan Ira?" Albert berkomentar, setelah melihat layar laptop milik Rihan yang terdapat deretan kalimat yang menjelaskan kondisi Phiranita mulai dari awal pemeriksaan hingga dia keluar dari rumah sakit.
"Seharusnya kamu bersyukur Rei sudah membuatnya, dan kita hanya perlu menambahkan perkembangan Ira untuk hari-hari ke depan. Memangnya kamu berani menyuruhnya untuk membantumu?" Tanya David diakhir kalimatnya sambil menatap Albert dengan malas.
"Aku setuju dengan Dev! Setidaknya Rei tidak seperti kebanyakan orang yang ketika sangat disegani, dia juga akan semakin menunjukan kekuasaannya." Balas Dian tanpa melepas pandangannya dari layar laptop milik Albert.
Mereka bertiga memang masih berada di ruang tamu, sedangkan Rihan sedang mengantar sang sahabat untuk beristirahat.
"Iyaya... Benar juga!" Albert menyahut sambil menganggukkan kepalanya.
"Berarti setiap hari kita harus datang kesini? Itu bagus!" Albert berbicara dengan antusias.
PLETAK
"Aku yakin pikiranmu hanya ada makanan." Balas David setelah menyentil dahi Albert cukup kuat.
"Issss... Sakit Dev. Tapi memang benar! Hehehe..." Albert membenarkan perkataan David setelah meringis sakit. Jika setiap datang ke sini, Albert tentu saja tidak akan bosan. Ada makanan enak di sini.
"Tidak setiap hari juga, Al. Kita hanya akan datang ketika jadwal terapi Ira." Dian membuka suara sambil terus menggerakkan jari-jarinya pada keyboard.
"Benar juga. Tidak bisa sehat aku nanti," Albert memasang wajah lesuhnya.
"Memangnya di rumahmu tidak ada makanan sehat?" Tanya Dian heran. Setahunya orang berada seperti mereka setiap hari pasti memakan makanan bergizi.
"Ada. Tapi aku tidak suka," Albert masih memasang wajah lesuhnya.
"Bilang saja mau makan enak, apa susahnya?" David mencibir sambil menggeleng.
"Kamu selalu saja memojokku, Dev. Pergi saja sana!" Albert membalas David sinis. Tidak lupa, dia menatap jengah temannya itu.
"Kalian berdua selalu saja berdebat hal tidak penting." Lerai Dian karena bosan dengan dua pria ini.
"Kamu memang selalu mengerti aku, Dian" Ucap Albert mendramatis, lalu berpindah duduk di sebelah Dian, kemudian ikut menatap layar laptop. Jadi kini Dian yang berada di tengah kedua pria tampan ini.
"Perasaan, aku netral kok." Gumam Dian melirik sekilas Albert.
"Wah... Sepertinya aku harus mencari pawang." Kini Albert sudah berpindah duduk lagi ke sofa singel di depan David dan Dian.
"Sepertinya aku salah memilih teman," Gumam David pelan tapi masih bisa didengar oleh Dian, membuat Dian hanya bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus pulang. Sudah waktunya kerja part time." Dian baru sadar setelah menatap arloji di tangannya.
"Kamu kerja? Dimana orang tuamu?" Tanya Albert penasaran.
"Jika aku tidak bekerja, siapa yang akan memberiku makan? Kedua orang tuaku sudah meninggal saat aku berumur 10 tahun." Jawab Dian sambil tersenyum. Kematian orang tuanya sudah lama sekali. Jadi, dia tidak terlalu merasa sedih ketika membahas mereka.
Dian kemudian menutup laptop dipangkuannya setelah menyimpan hasil ketikannya. Sedangkan kedua pria yang mendengarnya bungkam seketika. Mereka hanya bisa bersyukur dalam hati karena terlahir dalam keluarga yang utuh dan berkecukupan pula.
"Ma... maafkan aku karena tidak tahu." Albert membalas Dian dengan nada merasa bersalah, sambil menatap sendu Dian.
"Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk meminta tolong pada kami." David tersenyum tipis pada Dian di sebelahnya.
"Ya. Tenang saja! Aku masih sanggup," Balas Dian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Itulah Dian, dia akan sangat sensitif jika sudah berbicara menyangkut kehidupan pribadinya. Jika membahas kedua orang tuanya, dia tidak sedih, tetapi jika itu tentangnya sendiri, entah kenapa ketika ada yang mengasihaninya, dia akan merasa sangat sedih.
"Aku pamit ke toilet sebentar." Dian berdiri dan meletakkan laptop di atas meja, kemudian berjalan dengan cepat menuju dapur.
"Ya."
"Maaf Bi, toiletnya dimana, ya?" Tanya Dian pada seorang pelayan yang berpapasan dengannya.
"Lurus terus belok kiri, Nona." Jawab Pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih, Bi." Balas Dian kemudian bergegas menuju toilet yang dimaksud.
"Hiks...hiks...hiks... Kenapa aku sangat sensitif sekali? Huffft... Tarik nafas, buang. Huffft... Ayo semangat Dian!" Dian berusaha menyemangati dirinya sendiri di depan wastafel sambil menatap pantulan wajah sembabnya.
***
"Kami pamit, Rei. Kami akan datang dua hari lagi untuk melihat perkembangan Ira" Pamit Albert mewakili David dan Dian yang hanya menganggukkan kepala mereka.
"Hmm."
"Mari saya antar ke depan," Alex lalu mengantar ketiga tamu sang majikan keluar mansion.
"Ada yang ingin anda sampaikan, Tuan?" Tanya Alex setelah mengantar David dan lainnya.
Alex memberikan pertanyaan itu, karena ketika sang majikan masih di sana, itu berarti ada yang harus Alex kerjakan.
"Saya ingin rumah sakit Setia membuka program beasiswa bagi yang tidak mampu dan berprestasi untuk setiap Universitas di Jakarta." Ucap Rihan tenang.
"Baik, Tuan. Ada lagi?" Tanya Alex.
"Jangan lupa tanggung jawab ini diserahkan pada orang yang tepat, dan diberikan untuk mereka yang benar-benar membutuhkan." Lanjut Rihan.
"Siap, Tuan." Balas Alex.
__ADS_1
Rihan memang sengaja melakukannya karena setelah mengantar sang sahabat beristirahat, dia sempat kembali ke ruang kerjanya dan memasuki ruang kontrol mansionnya yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya, sehingga dia bisa mendengar dengan jelas apa saja pembicaraan ketiga tamunya.
Rihan juga melihat wajah sembab Dian setelah keluar dari toilet. Rihan sendiri tahu pasti bahwa Dian tidak akan mungkin menerima bantuan dari siapapun secara langsung, sehingga Rihan sengaja membuat program ini agar bisa membantunya.
"Dimana Alen?" Tanya Rihan menatap Alex yang sedang berdiri tegap di depannya.
"Alen sedang membantu yang lainnya di belakang mansion, Tuan." Jawab Alex tenang.
Yang dimaksud dengan belakang mansion adalah markas khusus orang terlatih milik Rihan di bagian IT. Markas khusus itu dibangun oleh Rihan di belakang mansion, tepatnya di bawah tanah.
Ada ruang bawah tanah yang sengaja dibuat di sana agar tidak ada yang akan curiga jika taman mini di belakang mansionnya ada pintu rahasia di bawah tanah yang akan terbuka jika sebuah kartu akses keluar masuk dimasukan ke dalam sebuah pot bunga khusus didekat pintu masuk.
"Membantu?" Tanya Rihan karena tidak biasanya Alen meninggalkan Rihan tanpa disuruh. Alen akan selalu stand by didekatnya hingga dia benar-benar sudah beristirahat.
"Iya, Tuan. Sepertinya ada yang penasaran dengan identitas anda sehingga mereka sedang berusaha membobol sistem kita dengan mengirim virus mematikan. Mereka sangat hebat sehingga orang-orang kita hampir saja kecolongan, jika Alen tidak segera membantu." Jawab Alex tanpa jeda.
"Cari tahu siapa mereka! Aku ingin beristirahat." Rihan kemudian berdiri dan hendak menuju kamarnya.
"Baik, Tuan."
"Satu lagi, Lex. Jika mereka masih menyerang, pasang saja sistem kendali otomatis agar kalian tidak perlu bekerja keras." Ujar Rihan setelah beberapa langkah dari tempat duduknya.
"Baik, Tuan. Selamat beristirahat!" Alex menatap Rihan yang hendak memasuki lift.
"Hmm."
***
"Maaf, Tuan. Sandera berhasil kabur!" Lapor seorang pria pada tuannya dengan takut-takut.
"Apa saja yang kalian lakukan selama ini?" Tanya pria yang dipanggil tuan itu dengan tenang. Tapi percayalah, sikap tenangnya membuat orang kepercayaannya merinding takut.
"Maafkan saya, Tuan. saya lalai menjaganya." Orang kepercayaan pria itu menjawab sambil menunduk takut.
"Hm. Cari sampai ketemu! Saya tidak ingin mendengar ada kegagalan." Ucap pria itu tenang lalu bersandar pada kursi kebesarannya.
"Baik, Tuan." Balas orang kepercayaan itu kemudian pergi dari sana.
"Sebuah pion tidak semudah itu kabur."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1