
Di Amerika, tepatnya di dalam mobil milik Logan, pria itu sedang menatap pada layar laptopnya yang menayangkan sebuah video yang sudah dia pause. Lebih tepatnya rekaman cctv orang yang menukar makanan untuk Rihan.
"Sepertinya tidak asing. Tapi, di mana aku melihatnya? Apa aku tanya saja pada Neo?" Gumam Logan dalam hati lalu menutup video itu kemudian mengambil flashdisk yang masih tertancap pada laptop.
Logan berencana membawa flashdisk itu pada Neo. Baru saja dia akan menyalakan mesin mobil, ponselnya tiba-tiba berdering.
"Ada apa, Bos?" Jawab Logan pada orang yang menelpon yang tidak lain adalah Neo.
"Kamu di mana?"
"Di pinggir jalan. Sebentar lagi aku sampai di kantor. Aku juga ingin melaporkan hasil pencarianku," Jawab Logan dan mulai menekan tombol on pada mobil untuk memanaskan mesin lebih dulu.
"Hentikan pencarianmu."
"Kenapa?" Tanya Logan heran.
"Rei sudah menemukan orangnya, jadi tidak usah kamu cari lagi."
"Baiklah. Aku akan berhenti sekarang," Logan menatap flashdisk di tangannya.
"Hmm. Segeralah ke kantor. Ada yang harus kamu kerjakan."
"Oke."
Panggilan berakhir.
***
Di sisi lain, di Indonesia, Rihan baru saja keluar dari kelas. Memakai tas ranselnya hanya sebelah, Rihan berjalan keluar. Ketiga temannya juga setia ikut di belakang.
"Rei..." Panggil Albert pelan membuat Rihan mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Hmm." Deheman Rihan tetapi tetap berjalan menuju tempat parkir.
"Ira sudah ikut bersama kakaknya. Kalau begitu, bagaimana dengan proyek akhir semester kita? Laporannya belum selesai," Perkataan Albert membuat Rihan baru mengingatnya.
"Kita akan membuatnya sekarang." Rihan mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Neo.
"Di sini?" Tanya Albert.
"Cari tempat lain," Jawab Rihan sambil mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Sebaiknya di cafe dekat kampus saja." Usul Dian.
"Baiklah. Kita ke sana!"
David hanya mengangguk setuju dan mengikuti yang lainnya. Rihan sendiri sedang menunggu panggilannya dijawab.
"Halo bocah, kamu sudah merindukanku lagi? Padahal kita baru saja bertukar kabar semalam." Sambut Neo di seberang sana dengan semangat empat lima.
"Aku butuh rekapan hasil kesehatan Tata sekarang." Balas Rihan to the point.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk proyek akhir semester. Aku tunggu sekarang."
"Oke. Beri aku waktu 2 menit untuk mengirimnya."
"Hmm."
Setelah itu, Rihan mematikan sambungan telepon.
"Secepat itu?" Tanya Albert penasaran.
"Hm."
Albert hanya mengangguk dan terus berjalan menuju tempat parkir. Mereka kemudian masuk ke mobil masing-masing dengan Dian satu mobil dengan Albert. Hanya membutuhkan 3 menit dengan kendaraan, Rihan dan teman-temannya sampai di cafe yang dimaksud.
Memarkir mobil di tempat yang disediakan, keempatnya lalu masuk kedalam. Mereka juga mengambil posisi duduk di bagian pojok agar tidak terganggu oleh pelanggan lain. Setelah semua mendapat tempat duduk, Albert sebagai ketua kemudian memesan minuman juga cemilan.
Karena dalam perjalanan Neo sudah mengirim hasil pemeriksaan Phiranita lewat email pada Rihan, sehingga mereka mulai mengerjakan proyek dengan tenang. Sesekali mereka akan sedikit berhenti karena adanya perbedaan pendapat yang harus dimasukan ke dalam pembahasan.
Albert dan Dian yang sedang asik mengetik. Lebih tepatnya Dian yang mengetik. Sedangkan Rihan dan David sudah memberikan pendapat mereka sehingga hanya perlu diketik oleh Dian. Albert hanya menemani Dian.
Baru lima menit, Albert yang tadinya fokus dengan Dian, kini teralihkan karena tidak sengaja melihat ekspresi serius David yang sepertinya menatap sesuatu. Karena penasaran, Albert juga melihat ke sana.
Ternyata yang David lihat adalah Mentra dan Beatrix yang sedang menyamar sebagai Rihan. Rihan sengaja mengundang mereka ke sini. Rihan ingin tahu bagaimana reaksi David.
"Dev," Panggil Albert menyadarkan David.
"Kenapa?" Tanya David menatap Albert.
Posisi duduk mereka, Rihan membelakangi pintu masuk, sedangkan Dian di sampingnya, setelah itu Albert. Di sebelah Albert ada David yang juga berhadapan dengan Rihan. Karena posisi duduk itu, sehingga David dapat melihat jelas Mentra dan Beatrix yang masuk ke dalam cafe.
"Memangnya kenapa?" Tanya David mengerutkan kening. Dia tidak mengerti dengan tindakan Albert.
"Mereka..." Albert menunjuk dengan dagunya.
"Ada apa? Siapa mereka yang dimaksud?" Tanya Dian yang penasaran.
"Tidak ada. Lanjutkan saja tugasmu," David tidak ingin Dian tahu.
"Aku tidak selemah itu, Al." Ucap David malas.
"Baguslah. Aku tidak ingin membuang pulsa hanya untuk memanggil ambulance karena kamu serangan jantung." Canda Albert lalu terkekeh kemudian kembali menatap pada layar laptop.
"Tentu saja tidak. Jangan aneh-aneh, Al."
"Kamu sepertinya sudah bahagia. Apa sebaiknya aku mundur saja?" Gumam David dalam hati lalu menghela nafas pelan.
David yang masih bergelut dengan isi hatinya dikagetkan dengan kedatangan Mentra dan Beatrix.
"Anda di sini juga, Tuan Muda." Sapa Mentra ketika sampai di tempat duduk Rihan dan lainnya.
"Hmm."
" Boleh kami duduk di sini?" Izin Mentra dan diangguki oleh Rihan. Kebetulan setiap meja memiliki 6 buah kursi, sehingga Mentra dan Beatrix bisa duduk di sana.
__ADS_1
"Dev..." Panggil Albert dengan berbisik. Sayangnya David belum sadar dari lamunannya.
"Hai, Dev." Panggil Beatrix berhasil menyadarkan David.
"Eh... Ri...Rihan..." David menjawab dengan gugup.
"Boleh kami duduk di sini?" Tanya Beatrix ramah.
"Silahkan duduk." Balas David yang terus menatap wajah Beatrix.
Mentra yang melihat tatapan intens David pada sang kekasih hanya bisa menahan emosi. Seorang Mentra sangat posesif terhadap miliknya. Jika bukan karena tugas yang harus mereka lakukan, maka Mentra mungkin sudah menghajar David.
"Kalian saling mengenal, Rei?" Tanya Albert penasaran.
"Saya dan Rei berteman sudah hampir 3 tahun. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Mentra Gallo Puantya. Ini kekasih saya, Rihan Senora." Ucap Mentra seadanya.
"Kami mengenal anda. Senang berkenalan langsung dengan anda. Saya Albert, ini Dian dan ini..."
"Dia David. Saya mengenalnya. Dia teman kekasih saya waktu SMA. Rihan Sudah menceritakan banyak hal semasa dia sekolah dulu. Karena berteman dengannya, hingga... sudahlah, lupakan!" Mentra sengaja menggantung.
David yang mendengarnya merasa bersalah. Dia hanya bisa memasang ekspresi bersalah pada Beatrix.
"Aku pamit ke toilet sebentar." Beatrix berlalu menuju ke toilet.
"Aku akan menelpon ibuku sebentar. Aku lupa sudah membuat janji dengannya." David ikut meminta Izin dan berjalan menuju belakang cafe.
Rihan, Mentra dan Albert hanya membiarkannya saja. Lagipula mereka tahu apa yang sebenarnya yang akan David lakukan. Sedangkan Dian, gadis itu hanya bisa menatap bingung ketiga manusia di depannya ini yang hanya diam di tempat masing-masing.
Di bagian toilet, Beatrix baru saja menyelesaikan panggilan alamnya dan segera menuju wasstafel untuk mencuci tangan sekaligus bercermin. Merasa penyamarannya masih oke, dua keluar dari sana.
Sret
Grep!
"Apa yang..." Perkataan Beatrix terhenti.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," David adalah orang yang sudah menarik tangan Beatrix secara tiba-tiba hingga gadis itu menubruk tubuh David kemudian dipeluk erat.
"Aku merindukanmu. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihatmu dari dekat dan memelukmu." Ujar David dalam hati yang masih memeluk erat Beatrix. Dia sangat senang, meski hanya sekedar memeluk.
"Seandainya bukan karena nona, sudah kutendang pria ini." Kesal Beatrix dalam hati.
"Ada apa denganmu, Dev? Aku sesak," Beatrix berusaha melepas pelukan erat David.
"Maafkan aku, Ri. Apa yang dilakukan Ariana padamu semuanya karena aku. Aku mohon maafkan aku..." David sangat merasa bersalah. Ekspresi tulusnya membuat Beatrix hanya bisa menghelas nafas berusaha sabar. Padahal pelukan David yang begitu erat membuat Beatrix mulai risih.
"Ak...Aku akan me...maafkanmu jika kamu melepas pelukanmu. Aku bisa mati karena pelukanmu, Dev."
"Maafkan aku..." David lalu melepas pelukannya.
"Bisakah kamu memaafkan aku, Ri? Bisakah kita kembali seperti dulu? Aku rindu masa-masa itu," David kini memegang kedua tangan Beatrix. Ditatapnya Beatrix dengan pandangan memohon.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi untuk mengulang masa SMA dulu, sepertinya, tidak. Aku tidak ingin mengingat lagi masa itu. Bagiku itu masa-masa yang kelam," Balas Beatrix lalu tersenyum tipis pada David kemudian melepas tangan David.
__ADS_1
"Aku mengerti."