Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Taruhan


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


"Masih banyak tempat kosong, kenapa harus di sini?" Max berbicara dengan nada tidak suka. Max berpikir bahwa semakin banyak orang di samping Rihan, maka lama kelamaan dia akan diacuhkan, dan Max tidak ingin itu terjadi.


"Mereka hanya ingin duduk di sini. Lagipula masih ada kursi kosong untuk mereka berdua." Albert malas berdebat karena sedang asik menikmati makanannya.


Jujur, dia juga tidak suka dengan kehadiran Ayu dan Ariana. Akan tetapi, dia tidak bisa mengatakannya secara terang-terangan.


"Kenapa si anti sosial ini ada bersama tuan muda?" Gumam Ayu dalam hatinya sambil menatap penuh permusuhan pada Max.


"Selalu saja bertambah orang aneh di sisi tuan muda." Batin Ariana menatap tidak suka pada Max.


"Jika kalian tidak suka denganku, jangan duduk di sini!" Max seakan tahu apa yang kedua gadis itu pikirkan tentangnya.


"Apa kami bisa duduk di sini, Tuan Muda?" Tanya Ayu lembut sambil tersenyum manis menatap Rihan yang sedang menikmati makan siangnya dengan tenang.


"Silahkan duduk! Tuan Muda tidak suka diganggu jika sedang makan." Balas Alex datar.


Memang kebiasaan Rihan tidak akan berbicara ketika sedang makan. Kecuali ada sesuatu yang penting.


"Terima kasih," Jawab Ayu dan Ariana hampir bersamaan kemudian duduk di kursi kosong yang ada.


Posisi duduk mereka, Rihan di tengah, Alex di sebelah kiri, Alen di sebelah kanan. Di hadapan mereka, ada Max di depan Rihan, di sebelah kanannya ada Albert, David dan Dian. Sedangkan di sebelah kirinya ada Ayu dan Ariana.


Ayu dan Ariana tidak berani untuk duduk di samping kiri dan kanan Alex maupun Alen yang masih kosong. Entah kenapa, tapi melihat tatapan tajam kedua asisten Rihan, Ayu dan Ariana tidak berani mendekat.


"Kami akan memesan makanan kami sendiri." Ucap Ayu ketika sudah duduk.


"Berikan mereka piring!" Alen menginstruksi seorang pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Baik, Nona."


"Silahkan, Nona!" Seorang pelayan berbicara setelah meletakkan piring kosong di depan Ayu dan Ariana.


"Terima kasih."


Keduanya dengan gaya lembut mengambil makanan di piring masing-masing dan mulai menikmatinya.


"Anda sudah selesai, Tuan?" Alen bertanya ketika melihat sang majikan sudah membersihkan mulutnya dengan tisu, sedangkan makanan di piring belum sepenuhnya dimakan. Dan ini merupakan pertama kalinya Alen melihat sang majikan tidak menghabiskan makanannya.


Rihan memang kehilangan nafsu makannya karena kehadiran Ayu dan Ariana. Belum lagi, sedari awal dia sudah pusing dengan perdebatan Max dan Albert yang persis seperti anjing dan kucing.


"Hm."


"Baik, Tuan." Gumam Alen lalu menganggukkan kepalanya kemudian ikut menghentikan makannya, begitu juga dengan Alex. Alen kemudian berdiri dan mulai membersihkan piring makan sang majikan bersama piringnya dan piring sang kakak.

__ADS_1


"Silahkan lanjutkan makan kalian," Ujar Alex karena melihat yang lain mulai ikut berhenti makan.


"Terima kasih, Kak Alex. Kebetulan aku belum kenyang." Balas Albert semangat kemudian melanjutkan makannya tanpa menyadari adanya tatapan tidak suka dari Ayu dan Ariana padanya.


Mereka semua sudah menghentikan makan mereka, hanya Albert sendiri yang masih setia dengan piring yang menggunung karena baru saja mengambil tambahan lauk di piringnya.


"Aku bisa malu punya teman sepertimu. Dan aku harus mengeluarkan banyak uang jika mentraktirmu makan." Ejek Max menatap memicing Albert yang memasukkan makanan hingga mulutnya penuh.


"Dan bersyukur, aku bukan temanmu." Balas Albert setelah menelan makanannya.


David dan Dian hanya geleng kepala lalu tersenyum karena sudah terbiasa dengan sikap Albert di saat makan bersama Rihan.


"Kenapa harus ada orang serakus ini?" Cibir Ayu pelan sambil menatap jijik pada Albert.


"Dan aku tidak peduli!" Balas Albert yang mendengar cibiran Ayu.


"Cepat habiskan makanmu dan kita main basket." Max segera mengalihkan pembicaraan.


"Mm."


"Bagaimana kalau kita bagi dua tim untuk tanding basket?" Usul Max dengan antusias.


"Aku ingin satu tim dengan Rei." Sambung Max tersenyum lebar. Tentu saja dia sangat mengharapkannya.


"Aku tidak setuju!" Balas Albert cepat setelah membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Tanding basket?" Ulang Ayu yang penasaran dengan apa yang mereka bahas.


"Tapi aku tidak setuju kamu satu tim dengan Rei. Bagaimana jika aku kalah?" Albert melirik malas Max.


"Agar lebih adil, kalian berdua saja yang bermain." Alex menengahi ketika melihat wajah malas sang majikan saat mendengar Max mengatakan untuk membagi tim.


"Aku setuju!" Balas Albert menjulurkan lidahnya, mengejek pada Max.


"Ya, sudah. Ayo kita berangkat sekarang!" Max berdiri dan menarik lengan Albert kasar.


"Aku bisa jalan sendiri, lepas!" Albert melepas kasar pegangan tangan Max pada lengannya.


"Rei, kamu yang harus menjadi juri nanti. Ingat itu!"


"Kenapa tidak orang lain saja?" Usul Alex pusing dengan tingkah aneh Max.


"Tidak. Harus Rei agar adil. Bagaimana menurutmu, Al?" Tanya Max pada Albert.


"Kali ini aku setuju denganmu." Albert menunjukan jempol tangannya pada Max.


"Ayolah Rei... demi aku!" Max menatap Rihan dengan wajah memelasnya.


"Demi taruhanmu pastinya." Kesal Rihan dalam hati berjalan lebih dulu meninggalkan yang lainnya.


"Yes!" Max senang kemudian bertos ria dengan Albert.

__ADS_1


Keduanya tersadar karena kelakuan mereka. Akhirnya terjadilah kecanggungan selama perjalanan menuju lapangan basket.


***


Mereka kini sudah tiba di stadion khusus basket universitas yang sangat luas. Di sana juga ada aktivitas anak-anak entah dari fakuktas mana yang sedang bermain di sana.


"Yo... si anti sosial apakah sudah sembuh?" Ejek seorang pria di sana yang baru saja memasukkan bola ke ring basket dan menatap penuh ejekan pada Max.


Ternyata pria itu adalah mahasiswa jurusan bisnis. Lebih tepatnya, teman sekelas Max.


"Aku sakit dan tidaknya, apa hubungannya denganmu?" Balas Max acuh. Max mengepalkan tangannya menatap tajam pria di depannya yang berdiri bersama teman sebasketnya di belakang.


"Tentu ada hubungannya, karena aku tidak mau tertular menjadi anti sosial sepertimu. Benarkan teman-teman, hahaha..." Pria itu lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh teman-temannya.


"Tenang... tenang... aku penasaran, ada gerangan apa seorang anti sosial datang kemari?" Tanya pria itu setelah menghentikan tawanya dan teman-temannya.


"Kalau aku ingin bermain di sini, apa urusannya denganmu?" Balas Max menatap tajam pria di depannya yang masih Max ingat bernama Gibran. Pria itu termasuk dalam jajaran keluarga terkaya di Indonesia sehingga begitu angkuh dan sombong di kampus.


"Sepertinya kamu lupa aku siapa. Tentu itu ada urusannya denganku karena aku adalah orang yang memiliki hak di sini." Gibran tersenyum penuh mengejek pada Max.


Gibran memang bertanggung jawab untuk stadion basket ini karena dia adalah ketua tim basket yang selalu mewakili Antarik Universitas untuk mengikuti lomba hingga ke luar negeri. Jadinya, pihak kampus memberikan tanggung jawab lapangan basket padanya.


"Benar juga! Aku sampai lupa kalau dia adalah ketua tim basket. Hufttt..." Batin Max lalu menghembuskan nafas lelah.


"Bagaimana kalau taruhan saja? Timmu melawan tim Max." Usul Albert. Entah kenapa tiba-tiba dia memikirkan usulan itu.


"Kamu gila? Mereka adalah tim yang sudah memenangkan mendali di ajang internasional." Bisik Max pada Albert. Max tidak ingin menjadi bahan olok-olokan karena kalah taruhan.


"Idemu cukup bagus. Biar aku yang tentukan taruhannya." Gibran tersenyum senang. Bagus juga jika dia kenang taruhan. Dia punya sesuatu untuk dilakukan pada Max.


"Aku belum memberikan suara untuk ini." Max bersihkeras tidak ingin melawan Gibran.


"Huh... kamu takut?" Ejek Gibran tersenyum remeh. Kedua tangannya terlipat di dada.


"Bukannya takut. Hanya saja, timmu adalah juara internasional. Bagaimana aku bisa melawanmu?" Jawab Max.


"Apa taruhannya?" Rihan yang baru datang bersama Alex bertanya.


Rihan memang bersama Max dan yang lainnya akan menuju stadion basket, tapi di tengah jalan Rihan menerima panggilan telepon dari kantor pusat sehingga dia harus mengangkatnya. Dan akhirnya Max dan yang lainnya lebih dulu menuju lapangan.


Rihan yang sudah selesai dengan urusannya, bersama Alex menuju stadion basket. Ketika masuk, dia bisa mendengar apa saja yang dibicarakan oleh Gibran dan Max.


Mereka juga tidak sempat melihat Rihan dan Alex karena mereka berdua terhalang oleh tempat duduk penonton, dan juga posisi Gibran dan Max membelakangi masuknya Rihan dan Alex.


"Hoho... si Tuan Muda Rehhand ingin menjadi pahlawan di sini. Lihatlah teman-teman... hahahaha..." Gibran tertawa mengejek melihat kemunculan Rihan.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2