Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Akhir Seorang Ariana


__ADS_3

"Hahaha... cerita yang menarik. Aku tidak menyangka, calon istri kak Alex sangat berani. Aku ingin bertemu dengannya!" Rihan tertawa sangat lebar mendengar cerita dari Alen. Mommy Zanri itu sudah duduk sambil bersandar di atas ranjang. Ada Zant di sampingnya.


Yang baru mendengar cerita ini, ikut tersenyum. Terlebih lagi, ketika melihat tawa senang Rihan, mereka ikut senang. Sangat jarang mereka bisa melihat tawa bahagia kesayangan mereka ini.


Drrttt


Drrttt


Drrttt


Getaran tanda panggilan masuk di ponsel Alex membuat Rihan menghentikan tawanya.


"Angkat saja, Kak! Siapa tahu penting," Rihan tersenyum tipis menatap Alex yang sudah dua kali menolak panggilan dari calon istri yang dimaksud Mommy Rosse, yang tidak lain adalah Telly.


Karena nonanya yang meminta, Alex tanpa ragu menjawab panggilan dari Telly. Alex bahkan mengaktifkan mode speaker.


"Ada apa?" Tanya Alex datar. Semua yang ada dalam ruangan itu fokus mendengarkan Alex bicara.


"Kak Alex dan yang lainnya dimana? Aku datang, tapi tidak ada orang di mansion."


"Kami di Indonesia."


"Huh? Jauh sekali! Ada urusan apa di sana? Kapan pulang?"


"Suaranya manis sekali," Rihan terkekeh geli ingin menggoda Alex.


"Suara siapa itu, Kak?"


"Bukan urusanmu!"


"Loh! aku juga berhak tahu, karena aku calon istrimu. Siapa dia, Kak?"


"Berikan ponselmu padaku, Kak." Rihan mengulurkan tangannya meminta ponsel Alex.


"Kami sedang sibuk. Untuk apa kamu menelpon?" Rihan berbicara dengan nada datar. Rihan ingin tahu seberani apa gadis ini.


"Kamu siapa? Berikan kembali ponsel kak Alex." Suara Telly terdengar gugup, karena nada suara Rihan seakan mengintimidasinya.


"Aku siapanya kak Alex, itu bukan urusanmu. Menahan ponselnya untuk waktu yang lama, semua terserah padaku. Toh, pemiliknya juga tidak marah."


"Kamu siapa sih?" Nada suara Telly sudah berubah tenang.


"Jika aku mengatakan, aku kekasihnya bagaimana?"


"Benarkah? Aku sama sekali tidak percaya. Aku dan kak Alex saling mencintai. Dia lelaki setia yang tidak mudah berpaling. Jangan mencoba membodohiku!"


Rihan tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Telly, juga nada tenang gadis itu. Hanya dari cara bicaranya, Rihan sudah bisa menebak orang seperti apa Telly ini.


"Kenapa kamu begitu percaya padanya? Sangat jarang kalian bertemu. Aku sangat yakin, kamu tidak tahu seperti apa sifat asli kak Alex." Rihan ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi dia akan ikut permainan yang dibuat Telly.


"Kamu! Kembalikan ponsel kak Alex, sebelum kesabaranku habis."


"Jika kesabaranmu habis, apa yang ingin kamu lakukan?" Nada suara Rihan sangat meremehkan. Tapi sebenarnya dia sedang menahan tawa.


"Menyusulmu ke Indonesia, dan memukulmu." Telly terdengar sangat tegas.


"Hahaha... Kamu berani? Aku menunggumu,"


"Kenapa tidak?"


"Hoho.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu! Kamu yakin, kamu mencintai kak Alex? Jika lusa kak Alex melamarmu, apa kamu siap?" Pancing Rihan dan menyeringai.


"..."


"Bukankah, katamu kalian saling mencintai?"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu! Kembalikan ponsel kak Alex." Rihan hanya bisa geleng kepala dan mengembalikan ponsel Alex.


"Setelah aku kembali, aku akan melamarmu. Apa kamu siap?" Alex tetap dengan nada datarnya. Alex ingin mendesak gadis itu. Alex ingin melihat sejauh mana persiapan permainan yang Telly buat.


"Halo? Suara kak Alex tidak jelas. Halo? Halo?"


Tut


Panggilan berakhir. Telly sudah memutuskan sambungan terlebih dahulu. Semua dalam ruangan itu hanya bisa tertawa karena sadar bahwa Telly mematikan telepon dengan sengaja.


"Gadis itu benar-benar..." Rihan hanya bisa geleng kepala dan tersenyum tipis.


"Nona... Keluarga Ariana ingin bertemu dengan anda." Alex membuka suara setelah tidak ada lagi pembicaraan di ruangan itu. Alex juga baru mendapat pesan dari salah satu bawahannya yang berjaga di luar.


"Kenapa mereka ingin bertemu denganmu, Sayang?" Tanya Mommy Rosse karena belum tahu keadaan Ariana.


"Entahlah, Mom. Katakan pada mereka untuk masuk." Alex hanya mengangguk dan mengirim pesan pada bawahannya.


Hanya beberapa menit, pintu terbuka. Seorang wanita paru baya dan seorang pria muda masuk. Keduanya datang dengan keadaan gugup sekaligus takut.


"Kami minta maaf, karena sudah mengganggu waktu keluarga besar Lesfingtone dan presiden Jerman bersama ibu. Saya dan ibu saya ingin meminta maaf pada nona Rihan." To the point Alvin, kakak Ariana dengan suara tegas, berusaha meredam ketakutan dan kegugupannya.


"Bukankah seharusnya yang meminta maaf adalah Ariana?" Mommy Rosse membuka suara dengan nada tidak ramah. Mommy Rihan itu tentu saja tidak menyukai keluarga itu. Terlebih Ariana.


BRUKK


"Saya mewakili adik saya, benar-benar minta maaf. Saya tahu, kesalahan yang dibuat Ariana sangat fatal. Saya mohon! Maafkan adik saya, Nona Rihan. Maaf karena sampai saat ini Ariana belum meminta maaf pada anda dan keluarga anda.


Tolong maafkan kesalahannya. Ariana sekarang terbaring koma karena kecelakaan. Dia sudah mendapat karmanya. Sebagai seorang kakak, saya akan menebus kesalahannya. Hukum saya saja, Nona!" Alvin berbicara dengan tegas, setelah berlutut di tengah-tengah ruangan itu. Tidak ada rasa malu sedikitpun.


BRUKK


"Saya juga sebagai ibunya benar-benar minta maaf karena gagal mendidiknya dengan baik. Saya juga siap menerima konsekuensinya. Kami siap menerima semua hukuman, asalkan kalian memaafkan anak saya. Saya mohon, Tuan, Nyonya, Nona Rihan." Ibu Ariana berbicara setelah ikut berlutut di samping Alvin. Wanita paru baya itu sudah menangis.


"Sebelum itu, saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membawa Ariana ke rumah sakit. Anda sangat baik hati, meski Ariana sudah berlaku jahat pada anda dan keluarga. Terima kasih dan maaf." Sambung ibu Ariana sambil menunduk.


"Semua keputusan ada di tanganmu, My Queen! Kami semua hanya ikut apa katamu." Zant berbicara lalu mengecup sayang kening istrinya.


"Aku sudah memaafkannya setelah dia dipulangkan ke Indonesia. Aku hanya menyayangkan sikapnya yang tidak berubah setelah semua yang dia alami. Entah apa yang ada dalam pikirannya." Rihan membuka suara dengan tenang.


Rihan memang sudah tidak lagi memendam kebencian pada Ariana setelah gadis itu dipulangkan ke Indonesia dan mengalami hal buruk setiap harinya. Bagi Rihan itu sudah cukup. Apalagi, setelah Ariana kecelakaan kemarin. Sepertinya yang dia katakan sebelumnya, itu upah karena perbuatannya sendiri. Rihan bisa menebak kemungkinan terburuk setelah kecelakaan itu.


"Terima kasih, Nona! Anda sangat baik hati. Terima kasih banyak. Terima kasih, Nona." Ibu Ariana tidak berhenti mengucapkan terima kasih sambil berderai air mata.


"Padahal mommy masih marah pada gadis itu. Tapi sudahlah. Karena kamu sudah memaafkannya, mommy dan daddy akan memaafkannya juga." Mommy Rosse menjawab dengan sedikit tidak rela. Daddy Jhack hanya tersenyum tipis melihat wajah kesal istrinya.


"Terima kasih, Nyonya! Terima kasih banyak."


"Terima kasih banyak nona Rihan, sekali lagi maafkan adik saya dan keluarga kami."


"Sudahlah. Berdirilah. Mataku sakit melihat kalian berlutut." Rihan berbicara dengan malas.


Beatrix dan Mentra kemudian membantu Alvin dan ibunya untuk berdiri.


"Jadi, bagaimana dengan keadaan Ariana?" Rihan bertanya setelah meminum segelas air dibantu oleh suaminya.


Baru saja Alvin akan menjawab, ketukan di pintu mengalihkan perhatian semua orang. Seorang pria dengan jas dokter masuk. Ternyata Dokter Lio.


"Apa terjadi sesuatu dengan Ariana?" Rihan menebak sebelum Dokter Lio membuka suara.


"Iya, Nona! Ariana baru saja mengalami kejang dan muntah darah. Kondisinya semakin memburuk. Kami sedang berusaha membangunkannya. Jika dia tidak sadar satu jam lagi, maka saya dengan terpaksa memvonisnya sebagai pasien mati otak. Itu berarti, tidak ada jalan keluar lagi untuk menyelamatkannya."


Mendengar itu, ibu Ariana sudah menangis di pelukan Alvin. Wanita paru baya itu tidak tahan mendengar berita ini.


"Baik, Dok. Terima kasih untuk informasinya. Jangan lupa untuk mengabari kami kondisinya satu jam lagi." Ucap Rihan setelah menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi."


Kakak Ariana dan ibunya juga pamit bersama Dokter Lio untuk melihat keadaan Ariana.


...


PLETAK


"Kenapa?" Rihan mengeryit karena Zant menyentil pelan dahinya.


"Jangan pernah berpikir untuk menyelamatkannya! Tanpa mendengar pernyataan dokter itu, aku sudah tahu kondisi terburuknya. Dia tidak bisa diselamatkan lagi."


Meski Rihan sudah memberikan penawar racun pada Ariana, tetapi efek kecelakaan membuat benturan di kepala Ariana berdampak buruk. Ariana tidak bisa diselamatkan lagi.


"Siapa juga yang ingin menyelamatkannya?" Elak Rihan lalu menatap ke arah lain.


"Aku sudah mengenalmu luar dan dalam, My Queen! Hanya melihat ekspresimu, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu tulang rusukku. Separuh jiwaku. Aku tahu semua tentangmu!"


"Mereka mulai lagi," Cibir Avhin membuat yang lain hanya bisa tersenyum.


...


Rihan kini bersama yang lainnya berada di ruang rawat Ariana. Awalnya Rihan ingin mendengar kondisi Ariana setelah satu jam, nyatanya dia berubah pikiran. Rihan dan yang lainnya sudah datang ke ruang rawat Ariana sebelum tepat satu jam. Rihan ingin melihat langsung kondisi gadis itu.


10 menit sudah berlalu dari satu jam yang mereka nantikan. Ariana tidak kunjung sadar. Ibunya, Amenda, sudah terisak dalam pelukan anak pertamanya. Mereka harus siap mendengar vonis mati otak untuk Ariana.


Di saat semua orang diam dengan pikirannya, Rihan melepas tangan Zant yang melingkar di pinggangnya, kemudian berjalan menghampiri Ariana terlihat pucat di brankar.


"Masih tidak mau bangun? Sampai seperti ini pun, kamu masih tidak ingin minta maaf? Benar-benar keras kepala!" Rihan bergumam dengan datar.


"Kamu tahu... Jika saja kamu tidak egois dan penuh dengan rasa iri, kita mungkin sudah menjadi teman. Sayangnya, tidak seperti itu. Sejak kepindahanmu, aku senang karena ada gadis cantik lainnya di sekolah kita. Dengan begitu, aku tidak akan kesusahan membersihkan lokerku dari kiriman para fans, karena sebagian pasti berada di lokermu.


Nyatanya, kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Karena rasa irimu itu, banyak teman-teman kita tidak suka padamu. Aku juga tidak bisa menyalahkan mereka. Semua itu karena kamu sendiri. Aku sudah memaafkanmu, jadi bangunlah dan hiduplah dengan baik."


Tanpa Rihan dan yang lainnya sadari, jari telunjuk Ariana bergerak. Hanya sepersekian detik, kelopak mata gadis itu bergerak pelan, diikuti dengan matanya yang terbuka.


"Benar, apa yang kamu katakan? Kita... uhuk... uhuk..." Ariana berbicara dengan pelan dan terputus karena batuk darah.


Ibu dan kakak Ariana panik. Dokter Lio segera memeriksa Ariana.


"Tidak perlu, Dok. Waktuku tidak banyak. Semua yang anda lakukan itu percuma." Gumam Ariana dan tersenyum tipis. Rihan segera menoleh dan mengangguk pada Dokter Lio, membuat pria muda itu menghentikan niatnya memeriksa Ariana.


"Sebelum aku mengakui semua dosa-dosaku..."


"Aku sudah tidak ingin mendengar pengakuan dosamu!" Potong Rihan, membuat Ariana tersenyum tulus.


"Baiklah. Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena sudah membawaku ke rumah sakit. Terima kasih karena karena kamu begitu baik pada orang sepertiku. Pada orang yang sudah menyakitimu di masa lalu. Bahkan menyakiti kedua orang tuamu. Maafkan saya Tuan, Nyonya..." Daddy Jhack dan Mommy Rosse hanya mengangguk, tanda mereka sudah memaafkan Ariana.


"Setelah memikirkan perkataanmu sebelumnya, aku berpikir, benar juga. Jika aku tidak iri pada kecantikanmu, kita mungkin sudah berteman. Orang tua kita mungkin juga akan berteman baik. Maafkan aku, ya. Semua karena rasa iriku padamu. Kini aku mendapat balasannya. Hidupku tidak akan lama lagi." Rihan hanya menatap Ariana tanpa ekspresi. Ariana sendiri hanya tersenyum menatap Rihan sambil terus mengeluarkan air matanya.


"Maafkan Angel, Ma... Kak Alvin... maafkan Angel. Maafkan semua kesalahan Angel. Maaf sudah membuat kalian kecewa. Jangan lupa untuk sampaikan salam Angel pada papa. Angel sayang kalian,"


"Angel, sayang... tidak bisakah kamu bertahan? Bertahanlah demi mama, Sayang."


"Maafkan Angel, Ma. Angel tidak kuat lagi. Meski sebenarnya Angel ingin bertahan, tapi... tidak bisa Ma..."


"Anak mama..."


"Semuanya, maafkan aku! Maafkan semua kesalahanku. Aku akan menerima hukumanku di atas sana. Aku pergi. Selamat tinggal."


"Selamat tinggal Rihan, bintang sekolah kita. Maafkan aku!"


Tut...tut...tut


Ariana menghembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu hanya bisa menangis histeris meratapi kepergian anak keduanya itu.

__ADS_1


"Saya tidak menduga ada kasus seperti ini. Saya berpikir, setelah melewati waktu yang diperkirakan, pasien akan mati otak. Ternyata, hal terduga terjadi. Pasien sadar setelah melewati waktu yang ditentukan. Dan bahkan, meninggal. Benar-benar kasus baru."  Dokter Lio masih tidak percaya dengan apa yang dialami Ariana.


"Diagnosis seorang dokter tidak sepenuhnya akurat. Selalu ada keajaiban dan hal tak terduga yang terjadi." Rihan membalas dengan datar. Dokter Lio hanya mengangguk setuju.


__ADS_2