Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
ROSIANA


__ADS_3

Mendadak aku tidak mampu menguraikan kata- kata. Mendadak aku hanya terpaku menatap samar-samar bayangan mu. Kegelisahan dalam kehampaan hati ini. Aku seketika menjadi linglung. Aku menjadi budak akan pikiran yang tak menentu. Jantungku berdetak kencang entah apakah kamu selalu menyebut namaku dalam kerinduan yang terpendam. Kamu dalam dilema antara dua pilihan yang harus kamu tetapkan.



Sejauh mata memandang. Sejauh melupakan memori yang sudah tersimpan. Ingatan akan mantan tidak akan mudah dilupakan. Dan tentunya godaan mantan lebih menggoda dibandingkan dengan godaan syaitan. ( Hehehe )


*******


Sarwenda sudah menjalani kehidupan baru nya dengan Wardha. Mereka sudah resmi menjadi suami istri yang sah secara agama dan hukum. Mereka terlihat menikmati keluarga kecilnya bersama si kecil dari buah cinta nya. Sarwenda memiliki seorang putri yang dari hubungan sebelum menikah nya dengan Wardha. Memang kenyataannya itu adalah anak dari Wardha.


Suatu hari ketika mereka sedang duduk bersantai di taman, ada seorang wanita yang berpenampilan sederhana datang bersama seorang anak laki-laki nya. Mereka sudah berada di depan pagar rumah Sarwenda dengan menjinjing tas nya. Walaupun penampilan nya terlihat sederhana, wanita itu masih terlihat kecantikan nya yang alami. Satpam rumah Sarwenda pun menghampiri nya.


" Mencari siapa Bu?" tanya Pak satpam itu.


" Pak Wardha! Apakah Pak Wardha benar tinggal di sini?" tanya wanita itu ramah.


" Benar! Ada perlu apa yah?" tanya Pak Satpam itu.


" Sa...sa..saya mau melamar pekerjaan sebagai pembantu rumah ini." jawab wanita itu yang bingung akhirnya keluar lah jawaban itu yang keluar dari mulut wanita itu.


" Oh sebentar yah!" sahut Pak satpam itu lalu menghampiri Sarwenda dan Wardha yang masih duduk santai bersama putri kecilnya yang masih balita.


Tidak lama kemudian, satpam itu kembali mendekati wanita itu setelah menyampaikan perihal tamu yang mencari nya tersebut kepada majikannya.


" Baiklah Bu! Ibu diijinkan masuk dan menemui bapak dan ibu di taman." kata satpam itu sambil membuka pintu gerbang rumah mewah milik Sarwenda dan menunjukkan majikannya sedang duduk di taman.

__ADS_1


Wanita yang datang bersama anak laki-lakinya itu akhirnya masuk dan berjalan mendekati Sarwenda yang sedang duduk bersama Wardha dan putri balita nya. Anak laki laki itu mungkin berumur kurang lebih lima tahunan. Anak laki-laki itu terlihat tampan walaupun pakaian yang dikenakan nya tidak menunjukkan bahwa dirinya bukan anak dari keluarga yang kaya.


" Assalammualaikum Bu, pak!" sapa wanita itu yang menyapa Sarwenda dan Wardha sambil mengulurkan tangannya.


Wardha yang melihat wanita itu datang secara tiba-tiba memunculkan ekspresi yang sangat terkejut. Apalagi wanita itu datang dengan membawa anak laki-laki nya yang sudah besar.


" Oh iya? Apakah kami mengenalmu Bu?" tanya Sarwenda ramah.


Wardha hanya diam sambil memandangi wanita yang datang bersama anaknya itu. Wajah kekhawatiran kini muncul dalam benak Wardha tetapi Wardha berusaha bersikap tenang seolah tidak mengenali wanita yang cantik alami itu.


" Saya datang dari kampung, Bu. Sudikah kiranya saya diberi pekerjaan untuk membangun mengurus rumah ibu." kata wanita itu memohon.


" Kamu tadi bilang mencari Pak Wardha. Apakah kamu satu kampung dengan suami saya?" tanya Sarwenda sambil melihat suaminya.


" Iya! Ibu ini adalah tetangga ku, sayang! Kasih saja pekerjaan, kasihan sudah datang jauh-jauh dari kampung ke kota besar ini." sahut Wardha.


" Dan anak kamu, apakah tidak sekolah? Kenapa kamu membawanya ke kota juga? Siapa namanya?" tanya Sarwenda seperti wartawan yang sedang magang.


" Ibu ini namanya Rosiana, sayang!" sahut Wardha.


" Sayang? Aku loh bertanya kepada wanita ini. Kenapa juga kamu yang menjawabnya?" protes Sarwenda.


" Oh iya, maaf!" sahut Wardha menjadi menciut karena kena protes istrinya.


" Nama saya Rosiana, bu. Anak saya bernama Siwa. Saya sengaja membawa anak saya ke kota supaya, dia bisa berjumpa dengan ayah kandungnya. Rencana saya Siwa akan saya sekolah kan di kota ini juga, Bu." jelas Rosiana.

__ADS_1


"Panggil saja aku Nyonya!" sahut Sarwenda sedikit memerintah.


" Oh iya tadi kamu bilang, kalau kamu ingin menjumpai ayah kandung dari anak ini kan? Apakah kamu sudah tahu alamat rumah ayah kandung Siwa?" tanya Sarwenda macam detektif yang masih magang.


" Sudah, nyonya!" jawab Rosiana singkat.


" Baiklah! Aku tidak akan bertanya-tanya lagi. Lagi pula bukan urusan aku juga, kan? Maaf!" kata Sarwenda akhirnya menyudahi tanda tanya yang masih banyak bermunculan di otaknya yang penuh curiga sebagai wanita.


" Jadi, saya boleh bekerja disini nyonya?" tanya Rosiana.


" Baiklah! Kamu boleh bekerja disini. Soal pembagian tugas kerjaan rumah, nanti biar disampaikan oleh Mbak Santi yang sudah lama kerja menjadi asisten rumah tangga disini." terang Sarwenda.


" Terimakasih nyonya." sahut Rosiana sambil menjabat tangan Sarwenda dan Wardha kembali.


Wardha hanya diam dan terbengong saja dengan situasi saat ini. Segalanya akan menjadi kacau jika rahasia pribadinya dahulu akan terbongkar. Kedatangan Rosiana membuat hatinya sangat kacau. Hati Wardha juga bercampur aduk tatkala melihat wajah anak kecil laki- laki itu yang pendiam tapi sangat menggemaskan. Tetapi ketika melihat Rosiana yang penuh kesedihan dan kesusahan itu, semakin membuat hatinya seperti ditusuk-tusuk jarum yang beribu-ribu jumlahnya.


Entah rahasia apa yang tersimpan diantara Wardha dengan wanita yang datang bersama anak laki-lakinya itu. Apakah mereka pernah terkait hubungan yang serius? Apakah Rosiana menyimpan rahasia dari Wardha di masa remajanya ketika masih tinggal dikampung sebelum memutuskan pergi ke Kota.


Setelah Mbak Santi datang karena panggilan Sarwenda itu, maka Rosiana dan anak laki-laki nya itu masuk ke dalam rumah. Mbak Santi menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Rosiana bersama anaknya. Di rumah Sarwenda itu, memang besar dan megah. Banyak kamar- kamar kosong di belakang rumah dekat dapur memang disengaja dibikin untuk tempat tinggal asisten rumah tangga nya. Untuk kesejahteraan pembantu nya, Sarwenda memang bisa diacungi jempol. Sarwenda termasuk tipe majikan yang membuat pembantunya nyaman dan tidak ada keluhan, termasuk gaji yang diberikan sampai makan tiap harinya. Apa yang di makan oleh Sarwenda, meraka pun ikut merasakan nya, kecuali jika makan di luar. Hanya beberapa pembantu nya saja secara giliran yang di ajak pergi makan di luar. Kalau soal royal, Sarwenda memiliki itu semua.


" Tetangga Mas Wardha, di kampung aneh-aneh yah. Apakah Rosiana ini sudah lama ditinggal suaminya? Ceritanya kok, supaya anaknya bisa berjumpa dengan ayah kandungnya." kata Sarwenda penuh selidik.


" Mungkin saja! Aku juga tidak tahu." sahut Wardha mulai gelisah.


" Ah kamu, mas! Kamu hanya tahu soal diriku saja!" ucap Sarwenda sambil menoel hidung suaminya itu.

__ADS_1


" Itu pasti, sayang!" sahut Wardha sambil merengkuh tubuh istrinya itu.


__ADS_2