
Di rumah kediaman Pak Hartono. Terlihat bapak- bapak dan beberapa pemuda masih khusuknya berdoa. Niga sebagai sahabat Surya hadir di ruang tengah rumah itu. Dengan beralaskan permadani lembut berwarna kebiruan, beberapa jamaah yang ikut membaca Yasin dan doa bersama duduk membuat lingkaran besar di ruangan yang cukup luas itu.
Setelah acara selesai, mereka digiring ke belakang rumah untuk menyantap beberapa hidangan yang sudah disediakan. Pak Hartono dengan ramahnya mempersilahkan tamu- tamunya untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan. Bang Hendra yang datang bersama Andrie mulai mencari Galuh dibelakang rumah itu. Mereka ingin mengajak pulang Galuh.
Antara Niga dan Andrie terlihat ada kekakuan diantara keduanya. Dua laki-laki itu sama-sama menyukai Galuh. Bang Hendra mulai membaca gerak-gerik diantara keduanya yang seperti menjaga jarak satu dengan yang lain. Bang Hendra yang melihat Galuh duduk di meja makan dekat dengan Winda mulai memberikan kode untuk mengajaknya pulang. Galuh mulai lebih mendekatkan diri ke Winda.
" Winda! Aku pamit pulang dulu yah! Bang Hendra dan Andrie sudah mengajak pulang." kata Galuh dengan pelan.
" Kamu makan dulu, Luh!" suruh Winda sambil melihat ke arah mama mertuanya.
" Galuh! Sebelum pulang, makan dulu." sahut Bu Hartini yang mulai mengetahui Galuh mengambil tas kecilnya hendak pulang.
" Eh iya Tante!" sahut Galuh.
" Ayolah aku temani kamu makan." ucap Intan yang sedari tadi berdiam diri di meja makan itu.
" Winda! Kamu juga ikut makan dong!" ajak Galuh sambil menarik tangan Winda.
Winda hanya menatap Bu Hartini, mama mertuanya.
" Iya Winda! Makanlah! Jangan menganiaya dirimu sendiri." sahut Bu Hartini.
Winda dengan malas berdiri mengikuti Galuh dan Intan yang sedang mengambil hidangan malam yang sudah disajikan.
Setelah mengambil beberapa makanan, mereka kembali duduk di kursi- kursi yang telah disiapkan. Galuh mendekati Bang Hendra yang sedang duduk bersama Andrie di sudut ruangan.
" Bang Hendra! Andrie? Tidak makan?" tanya Galuh yang membawa piring yang sudah terisi makanan.
" Yaelah! Mau ajak kamu pulang kok, kamu malah makan sih!" sahut Bang Hendra sewot.
" Tadi sudah mau pamit, tapi disuruh makan dulu sama Tante Hartini. Jadi tidak enak kalau langsung pulang." Galuh beralasan.
" Ya sudah! Cepat makannya!" ujar Bang Hendra. Andrie hanya tersenyum melihat Bang Hendra sudah tidak sabar menunggu Galuh makan.
Winda mendekati mereka, Bang Hendra dan Andrie yang masih duduk belum mengambil hidangan yang sudah disiapkan.
__ADS_1
" Bang! Makan dulu bang!" suruh Winda ramah dan pelan. Suaranya masih terdengar lemah.
Bang Hendra segera berdiri dan menyalami Winda.
" Aku turut berdukacita, Winda!" ucap Bang Hendra pelan.
" Terimakasih banyak bang! Oh iya, makan dulu bang, sebelum pulang. Lagi pula Galuh juga masih makan." kata Winda.
" Ba..ba..baiklah!" sahut Bang Hendra sambil mengajak Andrie dengan isyarat matanya.
Winda dan Galuh berlalu meninggalkan Bang Hendra dan Andrie yang mulai berdiri mengambil hidangan yang ada di meja panjang.
Tidak jauh dari tempat itu, Niga selalu memperhatikan Galuh yang mendekati Andrie. Bagi Niga ini adalah pemandangan yang bikin panas matanya. Hatinya masih terasa sesak tatkala Galuh masih bersikap cuek terhadap dirinya. Tetapi kebahagiaan Galuh, akan pilihannya membuat hati Niga akan cukup lega dengan mengesampingkan keinginan nya untuk memiliki Galuh.
Suasana malam hari itu, walaupun masih dengan duka tetapi mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kehilangan yang berkepanjangan. Setiap orang pada akhirnya akan menemui ajalnya. Setiap orang hanya menunggu giliran untuk menghadapNya. Siap tidak siap, ketika sudah waktunya manusia akan meninggalkan dunia yang fana ini.
*******
Di dalam mobilnya Bang Hendra ada Galuh dan Andrie.
Setelah berpamitan dengan Winda dan juga Pak Hartono dan Bu Hartini mereka,Bang Hendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil itu tidak ada percakapan, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Andrie juga tidak banyak bicara, mungkin saja sudah merasakan kantuk Karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB.
" Mati? Kamu pikir Ayam? Mati, meninggal Galuh." protes Bang Hendra yang menimbulkan reaksi Galuh hanya nyengir doang.
" Hehe maaf, meninggalkan dunia." ralat Galuh sambil melirik ke arah Andrie.
" Kamu sudah ngantuk, Ndrie?" tanya Bang Hendra kepada Andrie sambil menoel pinggang Andrie.
" Iya! Aku belum terbiasa begadang sampai jam segini. Apalagi besok kalau masih harus ngantor." jawab Andrie sambil menguap.
" Ya sudah! Kamu tidur di rumah saja. Kalau harus pulang dan nyetir mobil sendiri juga bahaya kan." sahut Galuh.
" Tidak bisa! Andrie harus pulang! Tidak boleh menginap di rumah. Soalnya di rumah ada anak gadis yang masih aku jaga." ujar Bang Hendra sinis.
" Anak gadis? Maksud kamu Galuh?" tanya Andrie polos.
__ADS_1
" Iyalah! Adikku satu- satu nya itu." jawab Bang Hendra.
" Hehehe." Andrie hanya nyengir saja sambil melirik ke arah Galuh.
" Aku sebagai abangnya, harus menjaga Galuh lebih ketat lagi. Berbeda ketika dulu Galuh masih memiliki suaminya. Tanggung jawab suaminya lah yang menjaga Galuh. Kini Galuh sudah single, dan aku sebagai abangnya harus menjaga nya. Jangan sampai para pria-pria hidung belang menggodanya." kata Bang Hendra sambil melirik ke arah Andrie.
" Ais! Aku bukan pria hidung belang, Hendra!" sahut Andrie yang merasa disindir.
" Oh ya? Tadi lihat Winda, janda yang masih baru- baru nya saja, sampai tidak berkedip loh." goda Bang Hendra.
" Apa? Apa benar bang?" tanya Galuh sampai melotot bolo matanya menatap ke arah Andrie.
" Tidak, Galuh sayang! Bang Hendra saja yang terlihat khawatir saja kalau- kalau aku mendekati Winda." jawab Andrie kepada Galuh.
" Oh ho! Apa bang Hendra ada naksir dengan Winda?" tanya Galuh polos dengan mata yang penuh selidik.
" Eh ti...ti..tidak! Aku mana level dengan janda!" sahut Bang Hendra.
" Abang jangan begitu dong! Aku juga janda loh bang. Nanti kalau aku diremehkan orang gara-gara janda, gimana bang?" ucap Galuh sambil manyun mulutnya satu Mili.
" Hahaha maaf, adikku sayang! Tapi lain dengan Andrie, dia hobby janda muda seperti kamu." kata Bang Hendra.
" Janda lebih berpengalaman, Hendra!" ujar Andrie menimpali.
" Jadi? Kamu suka aku gara-gara janda?" tanya Galuh dengan bola mata yang hampir keluar.
" Eh? Tidak! Tidak! Tidak! Salah lagi kan aku. Ini semua gara- gara Hendra. Sudah tahu adikmu galak, sukanya mengadu domba kami." ucap Andrie sambil memukul lengan Hendra yang sedang menyetir mobil nya.
" Aduh! Sial! Aku lagi nyetir. Kamu gak lihat apa?" kata Hendra sambil terkekeh.
" Aku tidak suka candaan Bang Hendra. Seolah status janda tidak ada bagus-bagus nya di mata bang Hendra. Bukankah adik, Abang ini juga janda? Aku sumpahi, Bang Hendra jatuh cinta dan tergila-gila dengan janda." ujar Galuh dengan sinis.
" Amin!" sahut Andrie sambil tersenyum. Spontan saja Hendra memukul balik lengan Andrie dengan keras.
" Sakit Hendra! Kamu pikir ini samsak, main pukul-pukul saja." kata Andrie sambil terkekeh.
__ADS_1
" Aku ikut sumpahi, kamu dapat istri, janda!" tambah Andrie.
" Kompak yah, kalian menyumpahi aku?" ucap Hendra sambil nyengir.