Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SARWENDA NGAMUK


__ADS_3

Mentari sudah mulai mengintip dibalik awan. Malu- malu sinarnya menembus gumpalan awan. Selimut tebal itu mulai tersingkap diantara dua insan yang terkulai di atas peraduan. Dua insan yang masih polos di atas kasur empuk dikamar sekotak. Keduanya masih menggeliat mengikuti irama yang membentuk gesekan jiwa. Permainan biola dengan ritme maju mundur menimbulkan suara keluhan yang tak bisa diartikan. Sampai merasa letih terkapar lemas dengan senyuman puas diantara keduanya.


" Mas, sudah terang! Cepat dan bergegaslah ke luar dari kamar aku." bisik Rosiana ditelinga Wardhana.


" Baiklah! Kasih ciuman dulu sebelum aku beraktivitas!" kata Wardhana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rosiana.


Rosiana mulai memberikan kecupan lembut nya di bibir Wardhana. Namun kembali Wardhana meraup bibir Rosiana hingga ciuman panjang itu terjadi. Pergumulan itupun akhirnya kembali terjadi lagi. Wardhana kembali menguasai tubuh Rosiana hingga membentuk roti tawar ditumpuk menjadi dua. Ditengahnya dengan toping keju yang meleleh dan berceceran. Gerak- gerakan erotis itu kembali tercipta. Irama gesekan biola itu pun menimbulkan suara yang khas ditelinga. Nyaris membuat merinding jika seseorang mendengar jeritannya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu kamar itu mulai menyadarkan mereka. Wardhana terperanjat seketika seperti halnya baut yang lepas dari kaitnya. Matanya mulai menatap ke arah Rosiana. Kepanikan muncul diantara keduanya, saling pandang lalu bergegas mengenakan pakaian masing-masing.


Suara ketukan pintu dan panggilan itu mulai menggema keras. Seolah memberontak tidak bisa menahan gejolak amarah. Suara ribut- ribut pun terdengar lebih dari satu orang. Satu suara yang cukup di kenal mulai membuat panik Wardhana.


Akhirnya pintu itu terbuka dengan paksa karena di dobrak Sarwenda dibantu oleh satpam rumah kediaman Sarwenda. Tatapan tajam dan penuh amarah menatap dua manusia yang habis bercinta itu. Mbak Santi berdiri tidak jauh dari kemarahan Sarwenda yang sudah melotot matanya seperti mau keluar. Satpam rumah itu hanya mematung bergidik ngeri karena harus menyaksikan pertunjukan itu. Menyaksikan tuan Wardhana beserta Rosiana di dalam satu kamar itu. Wardhana masih bertelanjang dada. Sedangkan Rosiana sudah mengenakan daster nya namun tanpa menggunakan bra nya.

__ADS_1


" Orang tidak tahu di untung! Berani sekali kalian berbuat zina di rumah aku?" teriak Sarwenda sambil melempar benda-benda yanga ada di dekatnya. Melemparkan benda-benda itu ke arah Wardhana dan Rosiana.


Wardhana melindungi Rosiana dengan badannya yang kekar. Hal itu semakin membuat Sarwenda naik darah. Sarwenda melangkah meraih rambut Rosiana yang masih terurai. Dijambaknya rambut itu sampai ditarik keluar kamar sepetak itu. Wardhana berusaha melerai dan melindungi Rosiana karena Wardhana menyadari Rosiana sedang hamil anaknya. Wardhana tidak ingin terjadi apa- apa dengan istri mudanya itu.


" Apa? Kau ingin melindungi wanita ini? Kalian sama-sama menjijikkan! Enyah lah kalian dari rumahku. Angkat kaki dari sini dan jangan bawa barang- barang milik aku." teriak Sarwenda tanpa memperdulikan beberapa pembantunya menyaksikan kehebohan pagi itu.


" Sarwenda! Aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu, sayang! Tolong lepaskan rambut Rosiana!" kata Wardhana memohon.


" Apa? Di saat seperti ini masih bisa kamu hendak mencari alasan? Aku sudah memergoki kalian melakukan hal menjijikkan di kamar ini. Lalu apa yang akan kamu jelaskan! Wardhana!!" kata Sarwenda dengan suara yang keras menggetarkan ruangan itu.


" Sarwenda! Dengarkan aku sayang! Sarwenda!!" ucap Wardhana keras.


" Mas! Mas bangun! Bangun mas! Ada apa mas! Aku disini sayang!" kata Sarwenda sambil memeluk suaminya dengan erat lalu mencium pucuk kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


Wardhana terbengong. Wardhana terduduk di atas peraduan kamar luas itu. Disebelah nya ada Sarwenda dengan lembut memeluknya setelah memberikan air putih kepadanya.


" Kamu mimpi apa mas? Sampai memanggil nama aku?" tanya Sarwenda panik.


" Eh aku.. aku aku takut kehilangan kamu, sayang! Kamu jangan pernah tinggalkan aku, sayang!" Jawab Wardhana mulai terkumpul nyawanya.


Sarwenda tersenyum betapa suaminya sangat menyayangi dirinya hingga begitu takut kehilangan dirinya sampai- sampai terbawa dalam mimpi.


" Sarwenda sayang! Kamu harus sehat selalu sayang! Aku tidak ingin kamu sakit!" kata Wardhana lembut. Lembut dan empuk banget seperti cake.


" Iya sayang! Aku sudah mulai pulih. Pelan- pelan penyakit ku akan sembuh sayang! Nanti terapis nya datang mengobati aku lagi kok, sayang!" kata Sarwenda sambil mengeratkan pelukannya ke Wardhana.


"Sarwenda, aku bersyukur bisa menjadi suami kamu, sayang!" ucap Wardhana lagi- lagi membuat adem seperti es krim.

__ADS_1


" Aku juga sayang! Aku juga beruntung memiliki suami seperti kamu sayang!" sahut Sarwenda sambil mendongak ke arah Wardhana. Wardhana pun akhirnya memberikan ciuman yang hangat nya.


( Jangan kecewa yah, masih mimpi😌☺☺. Lari ah sebelum kena jitak reader🏃🏃🏃)


__ADS_2