Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
DIANTAR PULANG


__ADS_3

" Assalamu'alaikum!" sapa Winda yang datang bersama Intan. Sedangkan Intan langsung masuk ke dalam kamarnya setelah menyalami kedua orang tuanya lalu menyalami ayah, bunda dan Haidar.


" Wa' alaikum salam." sahut Bu Hartini sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Winda. Setelah itu menjabat tangan semua orang yang berada di sana.


" Winda! Kamu harus cobain pempek ini sayang! Ini yang bikin bundanya Haidar." kata Bu Hartini sambil menyodorkan pempek yang ada di atas piring itu bersama cuko nya.


Winda lalu mencoba nya makanan yang sudah disodorkan di depannya itu. Haidar yang duduk di sana pun mengamati gerak- gerik Winda.


" Hem... mantap! Ini betul-betul enak sekali! Tante memang pandai sekali membuat makanan khas palembang ini." ucap Winda memuji.


" Jangan khawatir! Bundaku akan membuatkan pempek lebih banyak lagi kalau kamu suka." kata Haidar menyahuti.


Winda hanya mendelik saja mendengar ucapan dari Haidar terhadap dirinya.


" Apakah tiap hari kamu makan ini?" tanya Winda kepada Haidar.


" Kalau bundaku lagi buat saja, mbak." jawab Haidar sambil tersenyum.


" Kalau mendoan tempe ini yang bikin siapa?" tanya Winda sambil memakan mendoan itu sambil mencolek kan di sambel kecap.


" Itu yang bikin mama, Winda! Enak gak sayang?" tanya Bu Hartini.

__ADS_1


" Enak! Pas sambel kecapnya." jawab Winda sambil mulai merasakan kepedasan. Haidar yang melihat reaksi Winda yang kepedasan tersenyum lalu mengambilkan air mineral untuk Winda. Winda menerimanya dengan tersenyum.


" Terimakasih!" ucap Winda sambil meminum air mineral pemberian Haidar.


Cukup lama mereka berbincang-bincang di rumah itu hingga malam mulai larut.


" Mama! Saya seperti nya harus balik dulu, ma! Takutnya Wisnu menunggu saya pulang dan belum mau makan." pamit Winda sambil melihat jam di tangannya.


Bundanya Haidar memberikan kode kepada Bu Hartini dengan kedipan matanya.


" Oh iya! Baiklah, biar nak Haidar saja yang antar kamu pulang. Benar begitu kan bun?" ucap Bu Hartini yang langsung dibenarkan oleh bundanya Haidar.


" Eh??" Winda hanya melongo menatap Haidar.


"Ayo mbak Winda! Aku akan mengantar mbak sampai di rumah." ajak Haidar lalu diikuti Winda setelah Winda bersalaman dengan semuanya dan permisi.


*******


Di dalam mobil.


" Aku merasa ada yang aneh dari sikap mama dan bunda kamu deh, Haidar!" ucap Winda yang saat ini memanggil Haidar tanpa sebutan mas seperti kemarin.

__ADS_1


" Itu hanya perasaan kamu saja, Winda." ucap Haidar kali ini tanpa sebutan mbak dalam panggilan Winda.


Winda akhirnya menoleh. Keduanya sama-sama saling menatap.


" Kamu kenapa memanggil aku hanya Winda saja?" protes Winda sambil membulat bola matanya.


" Kamu juga kenapa memanggil aku dengan Haidar saja?" protes Haidar juga tidak mau kalah.


" Aku lebih tua dari kamu!" sahut Winda tegas.


" Cuma selisih dua tahun saja kok, bangga banget brojol duluan." sewot Haidar.


" Lalu aku harus memanggil kamu apa, dek Haidar?" ucap Winda yang mendapatkan bola mata Haidar makin membulat bak kelereng.


Haidar menepikan mobilnya lalu berhenti dipinggir jalan. Winda mulai menciut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Haidar.


" Eh??" Winda mendelik tatkala Haidar mulai mendekati dirinya lalu mengucapkan


dengan lirih terhadap nya.


" Jangan sekali- kali memanggil aku dengan sebutan itu lagi. Atau..." ucap Haidar yang membuat Winda semakin panik tatkala Haidar mulai dekat dan lebih dekat hingga nafasnya mulai tercium di hidung Winda.

__ADS_1


" Ba.. ba... baiklah, mas! Mas Haidar!" teriak Winda akhirnya yang membuat Haidar tertawa melihat reaksi Winda yang panik.


__ADS_2