
Di rumah Winda, Bang Hendra sudah bermain dengan Wisnu. Wisnu yang sudah mulai bersekolah PAUD pun mulai bijak berbicara. Bang Hendra mulai belajar bersabar yang notabene Wisnu selalu ingin tahu dan menanyakan segala sesuatu yang dikiranya belum mengerti. Dengan sesekali tersenyum manja, Wisnu sudah mulai akrab dan terbiasa dengan Bang Hendra.
" Om Hendra, mau minum apa? Biar Wisnu yang buatkan." kata Wisnu yang melihat di meja itu belum ada minuman kopi atau teh, hanya minuman air mineral berbentuk gelas yang selalu disiapkan di meja itu.
" Memang Wisnu sudah bisa membuat kopi atau teh?" tanya Bang Hendra sambil mengusap puncak kepala milik Wisnu.
" Hemm, Wisnu akan belajar dulu dari Mbak Atik di belakang dapur. Nanti kalau Wisnu sudah bisa baru, Wisnu buatkan Om." jawab Wisnu dengan bahasa yang sudah makin jelas.
" Boleh! Om, ingin kopi susu." kata Bang Hendra.
" Oke siap, Om Hendra! Wisnu ke belakang dulu om." ucap Wisnu sambil dengan posisi berdiri tegap dan tangan menghormat mengikuti Pak polisi jika menerima tugas dari komandannya.
" Terimakasih, Wisnu!" sahut Bang Hendra.
Wisnu tersenyum sambil berjalan dengan cepat menuju ke dapur dan mencari keberadaan Mbak Atik di sana. Selang beberapa menit, Wisnu kembali menjumpai Om Hendra dengan membawa secangkir kopi susu yang dimintanya, diikuti Mbak Atik di belakang nya sambil membawa kue lapis legit dipiring itu.
__ADS_1
" Pelan- pelan, Mas Wisnu." kata Mbak Atik mengingat kan Wisnu supaya pegangan nya kuat ketika membawa secangkir kopi itu.
" Budhe Atik jangan khawatir! Wisnu sudah besar loh!" kata Wisnu lalu meletakkan secangkir kopi susu itu di atas meja tidak jauh dari Bang Hendra duduk. Mbak Atik pun meletakkan piring yang berisikan lapis legit yang sudah dipotong-potong kecil- kecil.
" Om Hendra, ini kopinya!" kata Wisnu sambil tersenyum lalu duduk mendekati Bang Hendra.
" Eh iya, Terima kasih sayang!" kata Bang Hendra sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Wisnu. Mbak Atik pun tersenyum melihat pemandangan itu.
" Silahkan di cicipi, lapis legit nya, Pak! Itu tadi oleh-oleh dari kawan Mbak Winda." kata Mbak Atik keceplosan.
"Hem, kawan kampus Mbak Winda dulu. Eh ini kata Mbak Winda sih, saya sendiri tidak tahu pasti pria atau wanita kawan, Mbak Winda itu Pak." kata Mbak Atik berusaha menutupi kegugupan nya.
" Oh yah sudah! Ngomong- omong Winda lama juga pergi nya, Mbak." kata Bang Hendra yang mulai merasakan sepi ketika Winda belum juga kunjung tiba.
Mbak Atik hanya terdiam sambil garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
" Mungkin saja di kasir, antrian panjang Pak Hendra." jawab Mbak Atik asal. Padahal Winda tidak sedang berbelanja.
" Aku coba menghubungi nya." sahut Bang Hendra lalu mencari kontak My queen nya itu.
Tersambung memang, namun tidak juga diangkat oleh Winda. Hal itu membuat Bang Hendra menjadi geram. Sedangkan sebelum kedatangan nya ke rumah Winda, dirinya sudah menghubungi Winda dan kasih kabar kalau dirinya sudah dalam perjalanan menuju ke rumahnya dengan membawakan makanan.
" Wisnu sayang! Bagaimana kalau kita duluan makan malam yuk. Mama Wisnu masih sibuk.
"ajak Bang Hendra sambil menggendong Wisnu ke ruang makan.
" Pak Hendra mau makan sekarang yah! Baiklah saya siapkan segalanya." sahut Mbak Atik.
" Tidak perlu, Mbak Atik! Saya tadi membawa makanan cepat saji kok. Sudah saya letak di meja makan." kata Bang Hendra.
" Oh gitu, Pak." sahut Mbak Atik sambil mulai gelisah Mbak Winda belum juga kembali ke rumahnya.
__ADS_1