
Semua sikap dan tindakan mu menimbulkan tanda tanya besar bagiku. Suatu kesalahan, jika kamu mengira aku tidak mampu menjawab semua nya. Karena dalam diam dan kebisuan itu, kau tunjukkan semuanya seolah biak- baik saja. Padahal ada yang kau sembunyikan dari semua cerita apa yang selalu kau sandiwara kan di depan ku. Lalu senyum itu sebagai topeng mu di hadapan ku, kalau tidak ada rahasia itu yang kau rahasia kan dariku.
Sini dan kemari lah mendekat kepadaku. Sejenak buanglah segala batu- batu keras dalam isi kepala mu. Istirahat lah semua ambisius mu dalam mengejar impian- impian itu. Bersama kita akan memperjelas lukisan indah dari bayangan itu. Bersama kita melangkah dengan kaki yang sama mewujudkan cita-cita dari angan semu. Dari yang maya akan menjadi nyata. Bukan sekadar ilusi atau khayalan. Kembali dan duduklah bersamaku! Menuang dan menikmati secangkir kopi bersamaku dan dengan pelan- pelan kita rasakan sentuhan damai itu bersama aku. Aku dan kamu akan menunjukkan pada dunia, bahwa mimpi- mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Seperti senja yang tepat waktu hadirnya. Tidak seperti ucapan dan janji kamu terhadapku. Mungkin saja aku terlalu terburu-buru dan menuntut lebih darimu. Mungkin saja, aku terlalu memaksakan diri menjadikan kamu seperti yang ku mau. Nyatanya sekeras apapun kau berusaha menyenangkan ku, kau tetap menjadi pribadi yang kuat.
Maafkan jika aku terlalu berlebihan terhadap ini. Seharusnya aku menjadikan kelemahan mu itu bagian dari kelebihan itu. Nyatanya dari kelemahan mu itu membuat aku perhatian dan tertarik padamu. Lalu? Apa yang kau inginkan dariku?
*******
Dua orang sudah tepat di pintu utama rumah kediaman milik Winda setelah Winda dan Hendra baru saja pergi keluar untuk makan atau lebih tepatnya merajut kasih setelah beberapa jam, waktu dalam pertempuran dingin dalam perasaan masing-masing.
Dua orang itu adalah Galuh dan Niga. Mereka memang sudah cukup lama tidak bermain di rumah Winda. Galuh dan juga Niga sama- sama disibukkan dengan aktivitas usaha- usahanya dalam mengais rejeki. Selain itu mungkin saja mereka sudah lebih egois karena lebih mengutamakan dan memikirkan seseorang yang lebih dekat dipikirannya yaitu kekasihnya sendiri. Ditambah lagi, Galuh pun juga berusaha lebih dekat keluarga Niga yang akan bakal menjadi bagian dalam hidupnya nanti terutama anak tunggal Niga.
Galuh pun mulai masuk ke dalam rumah itu yang pintunya terbuka sedangkan Niga seni memilih duduk di teras sambil mulai menyalakan rokoknya.
" Winda!" panggil- panggil Galuh sambil mengetuk pintu kamar Winda.
" Ehem!" suara Intan yang tiba-tiba datang sambil menggandeng Wisnu menghampiri Galuh. Tatapan mata Intan tidak dan sangat tidak menyukai kedatangan Galuh. Ditambah lagi, bagi Intan sikap Galuh yang masuk rumah begitu saja terkesan tidak sopan. Walaupun Galuh adalah sahabat Winda dan sudah sering datang ke rumah tersebut, bahkan tidur dan menginap di rumah itu.
__ADS_1
" Kamu! Tidak ada sopan sopan nya yah!" sindir Intan dengan sinis.
Galuh mencari sumber suara itu lalu menengok ke belakang punggung nya. Mata Galuh ikut melotot dengan melihat Intan yang menatap nya dengan tajam ke arahnya.
" Kamu kemari tidak telepon Mbak Winda dulu? Mbak Winda lagi keluar." kata Intan masih dengan sikap kurang bersahabat.
" Eh? Baiklah, aku akan menunggu nya!" sahut Galuh dengan sikap yang menunjukkan kurang suka juga karena sikap Intan yang tidak berusaha ramah dengan nya.
" Tante Galuh!" sebut Wisnu dengan pelan.
" Eh Wisnu!" sambut Galuh lalu menghampiri Wisnu yang masih di gandeng tangannya oleh Intan.
" Eit! Biarlah Wisnu bersama aku. Kamu duduk saja di sana dengan manis." cegah Intan yang kurang suka jika keponakan nya dekat dan lebih akrab dengan Galuh.
Galuh tersenyum melihat dan mendengar Wisnu ingin bersamanya. Kini Intan semakin melotot tajam matanya ke arah Galuh. Galuh dengan cuek meraih tangan Wisnu dan mengajaknya ke depan menghampiri Niga yang sedang duduk di teras.
" Ada om Niga di depan loh, sayang! Ayo kita ke sana!" kata Galuh yang tidak peduli dengan Intan yang masih menatap nya dengan sikap yang tidak bersahabat.
" Om Niga!" panggil Wisnu setelah mulai dekat dan melihat punggung milik Niga yang kekar.
" Halo Wisnu sayang! Kangen tidak dengan om Niga?" kata Niga sambil meraih tubuh mungil milik Wisnu lalu menggendong nya setelah batang rokok nya di letakkan nya di asbak.
" Kangen dong, om!" ucap Wisnu dengan lucunya. Intan dari dalam mendengar suara laki-laki yang sudah tidak asing bagi dirinya itu. Laki-laki yang sempat ada dalam hatinya dan laki-laki yang sempat diharapkan menjadi penjaga hatinya itu. Tetapi saat ini laki-laki itu sudah bersama wanita lain dan itu bukan dengan dirinya.
__ADS_1
" Ah! Aku sudah ada Andrie bukan? Andrie lebih baik dan jauh lebih baik dari pada Mas Niga." gumam Intan lalu berlari kecil ke belakang lebih tepatnya ke dapur untuk membuatkan kopi laki-laki itu. Bukan membuatkan minuman untuk Galuh.
" Mas Niga, apakah masih menyukai kopi hitam? Aku akan membuatkannya. Semoga kali ini, kopi buatan ku bisa membuat dia teringat kalau kita pernah dekat. Eh? Apa yang aku pikirkan? Buang semua harapan itu dengan nya, Intan! Kamu sudah ada Andrie dan dia juga sudah lebih memilih Galuh dibandingkan aku." kata Intan seperti bermonolog sendiri.
" Kopi hitam yang direbus akan lebih nikmat dan aroma kopinya akan lebih harum dibandingkan dengan sekedar di seduh. Penikmat kopi yang paham betul cita rasa." kata Intan sambil tersenyum sendiri.
" Dengan sedikit gula. Iya, Mas Niga tidak suka manis dalam kopinya." gumam Intan sambil menuangkan kopi hitam yang sudah direbus nya sampai Menggelegak dan di saringnya supaya ampas kopi tidak ikut serta dalam cangkir kopi itu.
" Seujung sendok teh saja gula nya. Hem.. aromanya sih sudah cukup menggoda. Semoga Mas Niga menyukai nya dan mau meminumnya. Galuh? Aduh malas sekali sebenarnya mau kasih minum wanita itu. Tapi gak apa- apa lah. Air putih saja lah... hehe." kata Intan pelan lalu mulai meninggalkan dapur setelah semuanya siap.
" Eh kenapa jantung aku masih berdebar hebatnya? A... a.. aku masih punya rasa dengan Mas Niga? Oh tidak! A... a.. aku sudah ada Andrie." kata Intan lalu mengambil nafas panjang supaya jantungnya tidak berdebar tidak karuan.
Langkahnya sedikit diperlambat supaya hatinya bisa sedikit tenang jika berhadapan dengan Niga.
" Hai!" sapa Intan lalu mendekat ke teras yang ada Galuh dan Niga.
" Ini Mas Niga, kopi hitamnya!" kata Intan ramah sambil meletakkan secangkir kopi yang berisikan kopi hitam itu di atas meja. Lalu segelas air putih itu juga di letakkan nya di atas meja tanpa mempersilakan ke Galuh.
Galuh hanya memperhatikan gerak- gerik dan tingkah Intan yang super lucu seperti anak kecil.
" Oh iya! Terima kasih banyak, Intan!" kata Niga dengan ramah sambil melirik ke arah Galuh.
Galuh hanya mendengus sambil bermain dengan ponselnya. Sedangkan Niga masih sibuk dengan Wisnu yang lagi ingin ber manja dengan dirinya.
__ADS_1