Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KERAS KEPALANYA ROSIANA


__ADS_3


Cinta ini indah jika satu sama lain saling memahami pasangan. Cinta ini akan terasa manis bak gula jika tidak saling menyakiti. Cinta ini akan mendamaikan jika saling percaya dan tidak ada kecurigaan.


Langkah ini akan terasa ringan jika kau selalu memberi dorongan. Beban ini terasa terbang seperti kapas jika kau memapah ku dalam beratnya penat. Jadilah kau matahari ku yang selalu memberi terang, dan sinarnya menghangatkan jiwaku. Sejuknya tutur kata mu, menentramkan jiwa. Akan ku serahkan jiwa raga ini demi tambatan hati.


*******


" Mas! Cukup! Non Sarwenda sudah datang. Suara mobilnya sudah terdengar. Cepat keluar!" kata Rosiana dengan kepanikan sambil mendorong tubuh Wardha yang mulai menguasai dirinya.


" Ah! Baiklah! Lain kali, aku tidak ingin hal ini gagal lagi." ujar Wardha sambil merapikan bajunya.


Terlihat Rosiana pun mulai merapikan pakaian nya yang mulai terbuka dan acak- acak kan rambutnya. Wardha lebih dulu keluar dari kamar tamu itu lalu dengan berlari kecil menuju halaman rumah yang sudah terparkir mobil milik Sarwenda. Sarwenda dan yang lainnya keluar dari dalam mobil itu.


" Maaf, sayang! Lama nungguin mama yah! Tadi banyak barang- barang bagus di butik. Jadi, bikin bingung, mama." kata Sarwenda sambil mencium pipi kanan kiri milik suaminya, Wardha.


" Kenapa tidak di beli semua, kalau kamu suka semuanya." sahut Wardha.


" Wow! Hahaha kamu ini, mas! Tidak semua barang itu ada ukurannya pas di badan aku, mas. Kamu kan tahu sendiri, sekarang aku tambah gendut. Tidak seperti Rosiana dan Mbak Santi. Kenapa mereka kurus seperti jari kelingking yah?"kata Sarwenda sambil melihat Mbak Santi dan Rosiana yang mulai mengangkat barang- barang belanjaan yang ada di dalam mobil.


" Kamu gemuk atau kurus, masih cantik kok sayang!" sahut Wardha.


Rosiana yang mendengar, berada tidak jauh dari mereka itupun hanya bisa melirik Wardha. Wardha pun yang merasa dilihat Rosiana hanya melemparkan senyuman nya.


" Ayo Ros!" ajak Mbak Santi sambil membawa barang bawaan nya.


" Eh? I.. iya mbak Santi." sahut Rosiana sambil berjalan mengikuti Mbak Santi.


" Barang- barang ini, kita letakkan dimana mbak?" tanya Rosiana.


" Di belakang saja!" jawab Mbak Santi.

__ADS_1


" Oh iya, Ros! Setelah ini, ada yang ingin akun tanyakan padamu. Datanglah ke kamar aku setelah ini." tambah Mbak Santi.


" Ta... ta.. tapi, aku mau ke kamar Siwa. Aku mau bersama Siwa malam ini." ujar Rosiana.


"Hanya sebentar saja, kok. Haduh, Hati-hati kamu kalau tidur di kamar Siwa. Pujaan hati kamu, pasti tidak akan membiarkan kamu tidur dengan nyenyak di sana." goda Mbak Santi.


" Maksudnya?" tanya Rosiana.


" Sudahlah! Ayolah ke kamar Mbak sekarang!" ajak Mbak Santi sambil menarik tangan Rosiana.


" Sekarang duduk lah!" suruh Mbak Santi sambil menutup pintu kamarnya dapat rapat.


Rosiana duduk di kursi yang ada di dalam kamar milik Mbak Santi. Kepalanya tidak berani menatap ke mata tajam milik Mbak Santi. Rosiana hanya diam menunduk seolah hendak di intro grasi oleh Mbak Santi.


" Bibir kamu merah dan lembut. Seperti nya habis kena ciuman yang panjang oleh seseorang yang mahir di dalamnya. Panas tubuhnya masih membara, seolah getaran rangsangan nya masih membekas di benak kamu. Kamu sangat menikmatinya, yah Rosiana? Kamu sangat bahagia, walaupun penuh kekhawatiran dan ketakutan." kata Mbak Santi.


" Kamu sudah cukup dewasa. Semuanya adalah kamu yang menentukan. Pilihan baik atau buruk, penuh resiko atau tidak adalah keputusan kamu. Selagi kamu tidak akan menyesali semua yang sudah kamu ambil dari tindakan kamu. Semua terserah kamu, Ros!" ucap Mbak Santi.


" Mbak.. a... a.. a.. aku masih sayang sama, mas Wardha!" ucap Rosiana pelan.


" Lalu? Kamu lupa, kalau Wardha sudah berkeluarga dan memiliki istri, anaknya. Bahkan anakmu saja sudah dianggap oleh non Sarwenda seperti anaknya sendiri. Banyak perubahan yang terjadi pada pribadi Non Sarwenda. Dia sekarang sudah sangat menyayangi keluarga kecilnya. Mencintai suami dan anak-anak anaknya. Apakah kamu tega, menghancurkan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan itu? Ros! Rosiana! Jawab!" pekik Mbak Santi.


" Mbak!" panggil Rosiana pelan sambil memeluk Mbak Santi.


" Bukankah kemarin sudah kita rencanakan. Kamu akan keluar dari rumah ini dan aku akan membantu kamu untuk segala nya." kata Mbak Santi.


" Tetapi, Mas Wardha tidak mengijinkan aku pergi dari rumahnya. Mas Wardha bilang, ia akan menikahi aku. Mas Wardha, bilang aku harus mau menjadi istri keduanya. Dan kami akan pulang kampung untuk meresmikan kita sebagai suami istri yang sah." kata Rosiana bersemangat.


" Rosiana!" teriak Mbak Santi. Rosiana yang mendengar teriakan Mbak Santi mulai menciut.


" Kamu ini, plin-plan! Kemarin bilang tetap setia dengan almarhum suami kamu, mas Jaka. Besoknya lagi bilang, mau pergi dari rumah ini dan berusaha menjauh dari tuan Wardha. Tapi sekarang, bilang hendak menikah dengan tuan Wardha. Mulut kamu itu, perlu di sekolahkan deh!" kata Mbak Santi penuh dengan emosi.

__ADS_1


" Mbak... Mbak.. Mbak Santi! Aku tidak bisa! Tidak bisa jika harus menolak cinta dan kasih sayang Mas Wardha." kata Rosiana pelan.


" Setelah apa yang sudah dia lakukan kepadamu? Dia meninggalkan kamu ketika kamu sedang berbadan dua. Dia tidak mau bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan kepadamu." kata Mbak Santi mulai pelan suaranya.


" Mas Wardha bilang, menyesal dan sangat menyesal meninggalkan aku di kala hamil itu, mbak." kata Rosiana.


" Mas Wardha tadi memperlakukan aku penuh kasih dan perhatian. Saya seperti seorang RATU yang di belai penuh kelembutan. Saya tidak bisa menolak kasih sayang itu mbak." ucap Rosiana dengan mata berbinar.


" Bilang saja kamu kesepian. Sudah berapa lama kamu tidak disentuh laki-laki, hah?" ucap Mbak Santi kasar.


" Mbak Santi!" kata Rosiana sambil menunduk.


" Baiklah! Apa yang sudah kalian lakukan ketika kami pergi tadi?" tanya Mbak Santi.


" Tidak ada!" jawab Rosiana.


" Jawab dengan jujur!" pekik Mbak Santi.


" Kami tidak sampai melakukan itu." jawab Rosiana sambil mempermainkan jari- jari tangannya.


" Kenapa?" tanya Mbak Santi lebih detail.


" Karena waktu saya sudah mulai naik, suara mobil nona terdengar ditelinga saya, mbak." jawab Rosiana sambil kembali mempermainkan jari- jari tangannya.


" Jadi? Kalau kami tidak cepat pulang, kamu akan mengikuti ajakan tuan Wardha? Kamu menikmati semua itu, Ros?" ujar Mbak Santi sambil berbisik.


Rosiana hanya mengangguk pelan. Kini bola matanya mulai takut akan terkaman bola mata Mbak Santi yang siap menghunus kan ke jantung Rosiana.


" Enak yah?" sindir Mbak Santi.


Rosiana kembali mengangguk pelan. Lalu mulai terkejut dan sadar akan pertanyaan apa yang sudah diberikan kepada dirinya.

__ADS_1


" Eh? Mbak Santi, maafkan aku. Aku khilaf!" ucap Rosiana lirih.


" Terus kan saja, kalau itu sudah menjadi keinginan dan keputusan kamu. Aku hanya bisa menasihati kamu. Dan aku sebenarnya tidak bosan- bosan untuk memberikan masukan yang terbaik buat kamu. Tetapi jika, mau kamu seperti itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Menjadi istri kedua atau madu menurut kamu adalah pilihan yang tepat. Yo wes lah! Capek aku, aku mau tidur. Sana kamu, tidur di kamar Siwa! Bisa aku pastikan, kamu besok pagi akan mandi keramas." kata Mbak Santi dengan polosnya.


__ADS_2