Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MERAJUK NIC YE?


__ADS_3

Selamat malam semesta! Hadirmu dalam gelap masih ada celah cahaya. Celah itu menuntun ku dalam bisikan suara cinta dalam panggilan pelan rindumu. Mengalun dibawa oleh hembusan malam yang berjalan pelan. Aku disini masih tetap melagukan harmoni indah serangkaian bait- bait rindu. Mencoba merangkai kata-kata indah di dunia.



Hitam tidak selalu kotor. Hitam bukan berarti dalam kegelapan. Dibalik hitam itu, ada yang bersembunyi ditempat terang.


" Kamu kenapa senyum-senyum sedari tadi, Win?" tanya Bang Hendra yang sudah lama mengamati tingkah laku Winda yang ada di sampingnya.


" Tidak apa-apa!" jawab Winda sambil tersenyum.


" Ayo dong, katakan apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Hendra penasaran.


" Tidak ada, Abang!" jawab Winda masih tetap tersenyum.


" Katakan! Kalau tidak, kita akan di dalam mobil ini sampai besok pagi." ancam Hendra serius.


" Eh? Selalu diancam seperti itu loh. Apa tidak ada cara yang lebih ekstrim lagi?" tantang Winda.


" Tampaknya kamu sudah mulai suka menggoda ku, yah sayang!" ucap Bang Hendra sambil menggeser pantat nya berusaha mendekati Winda yang duduk di sampingnya.


Bang Hendra mulai mendekati wajah milik Winda. Kini aroma tubuh Winda semakin tercium jelas di hidung Hendra. Mata Winda seketika melotot dan mulai merubah posisi duduknya berusaha menjauhi Hendra yang mulai mendekat ke arah nya. Winda dengan pelan- pelan memundurkan wajahnya supaya lebih jauh dan menjaga jarak ke Hendra. Spontan tangan Winda mendorong wajah Hendra ke belakang.


" Stop! Oke oke...oke saya akan cerita!" kata Winda keras terlihat gugup dan panik akan ulah Hendra.


" Hahaha!" Hendra tertawa puas. Sebenarnya Hendra ini adalah tipe orang yang super jahil dan banyak cara supaya Winda bisa menyerah. Hendra tidak bermaksud mencium Winda karena dirinya sangat tahu, Winda sudah belajar mengenakan hijab. Hendra sangat menghargai Winda sebagai wanita muslimah yang mengenakan jilbabnya.


Hendra tersenyum puas dengan kata-kata Winda.


" Coba kamu ceritakan!" kata Hendra sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobilnya.


" Sebenarnya tidak ada yang serius loh, my king!" ucap Winda sedikit merayu.


" Oh ya! Aku sudah siap mendengar nya. Ayo cerita, kenapa kamu sampai senyum-senyum sendiri gitu." sahut Hendra.


Winda melihat Hendra kini malah memejamkan matanya. Saat itu mobil sedang dalam keadaan terparkir di pinggir jalan. Padahal rumah Winda sudah tidak jauh lagi dari tempat itu berada.

__ADS_1


" Saya tadi hanya teringat akan Galuh saja, my king!" Winda mulai bercerita.


" Kenapa dengan Galuh?" tanya Hendra pura-pura bertanya.


" Yah, kisah cinta nya yang dikejar oleh dua pria dalam waktu yang bersamaan. Saya yakin, Galuh sanggat mencintai Niga tetapi disaat yang sama, Galuh sudah menjalin hubungan dengan Andrie. Dengan Andrie, mereka sudah jauh-jauh hari membahas pernikahan juga. Kini, Niga kembali datang lagi yang membuat kegalauan dan dilema bagi Galuh." ungkap Winda.


" Oh!" sahut Hendra tanpa komentar lain.


Winda hanya melotot melihat reaksi dari Hendra.


" Astagfirullah! Respon nya jelek sekali yah?" ucap Winda sambil membuang mukanya antara kesal dan merajuk.


Hendra akhirnya menjalankan mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju rumah kediaman Winda. Sepanjang jalan tidak ada perbincangan. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Akhirnya sampailah mobil itu di depan pagar rumah Winda.


" Aku tidak mampir, my queen! Kamu gak papa kan?" ucap Hendra.


Winda hanya diam lalu membuka pintu mobil itu. Hendra hanya melihat reaksi Winda diam tanpa menjabat tangannya dan ucapan salam.


Winda berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya Hendra hanya menghela nafas panjang tanpa mengejar Winda ke dalam rumah.


" Eh, apakah Winda marah dengan aku? Biar sajalah! Nanti aku telepon setelah sampai rumah. Atau besok pagi saja ketika di kantor, aku kasih bunga dan beberapa batang coklat." kata Hendra seperti bermonolog sendiri.


" Haha! Bisa merajuk juga, my queen. Hehe. Itu berarti dia sudah sangat dalam sayang nya kepadaku." kata Hendra penuh percaya diri.


Sedangkan Winda mulai uring-uringan dalam hatinya.


" Payah kali, kalau punya kekasih tidak peka, dingin seperti es. Menyebalkan!" gerutu Winda sambil masuk ke dalam kamarnya.


" Mbak Winda!" panggil Intan yang sedari tadi duduk di ruang tengah yang keberadaannya tidak dilihatnya oleh Winda.


" Eh Intan! Ada apa?" sahut Winda yang mengurungkan masuk ke dalam kamarnya lalu berjalan mendekati Intan yang duduk di sofa.


" Aku duduk disini pun sampai tidak dilihat loh! Ada apa mbak, kok uring-uringan?" tanya Intan.

__ADS_1


" Oh tidak ada! Maaf, sampai tidak memberi salam ke kamu, In! Pekerjaan kantor lumayan membuat pusing, jadi berasa capek juga." cerita Winda.


" Oh! Bagaimana kalau aku panggil kan tukang pijit yang super mantab langganan mamaku sejak dulu, mbak?" tawar Intan.


" Laki-laki atau perempuan?" tanya Winda.


" Perempuan, mbk! Dia sudah ibu-ibu kok, mbak." kata Intan.


" Baiklah! Cepatlah hubungi dia, Tan! Kira-kira bisa tidak kalau malam ini, pijitnya." kata Winda.


" Oke! Akan aku hubungi ibu pijat itu!" ucap Intan sambil menghubungi kontak yang bertuliskan ' Bu Parmi tukang pijat'.


Intan mulai menghubungi nomor tersebut sampai akhirnya tersambung dan mulai terdengar percakapan diantara mereka.


" Bagaimana, Intan?" tanya Winda.


" Bisa, mbak! Nanti habis sholat magrib katanya ibu itu." jawab Intan sambil meletakkan ponselnya di meja.


" Baiklah! Terimakasih banyak Intan! Aku mandi dulu deh! Oh iya dimana, Wisnu?" kata Winda.


" Wisnu di kamarnya, mbak! Lagi asyik bermain." jawab Intan.


" Oh iya!" sahut Winda sambil masuk ke dalam kamarnya.


*******


" Sudah cukup lama, Niga tidak kesini lagi. Apakah Niga sudah benar-benar menjalin hubungan dengan wanita itu? Sehingga sudah sibuk dan tidak ada waktu untuk bermain dengan Wisnu lagi?" pikir Intan sambil melamun.


" Kenapa hatiku sesakit ini yah? Aku kira aku akan lebih dekat dengan Niga. Dan Niga pun akan merasakan nyaman ketika bersama aku. Ternyata itu hanya pikiran aku yang sangat keliru. Aku terlalu percaya diri, menganggap Niga menyukai aku. Rasa suka itu tidak bisa dipaksakan. Betapa kasihan ya aku, menyukai seorang laki-laki tapi dia tidak menyukai aku. Ya Tuhan!" keluh Intan dalam pikirannya.


" Berusaha memberikan perhatian kepada pria yang aku sukai, tetapi pria itu ternyata tidak menyukai aku. Ini sangat menyakitkan. Lalu kenapa Mas Niga seolah selalu menanggapi setiap perhatian yang aku berikan kepadanya? Apakah tidak ada sedikit pun rasa suka atau sayang itu padaku? Lalu, jika dia tidak menyukai aku, kenapa harus peduli juga terhadap aku. Ini seperti pemberi harapan palsu." kata Intan pelan.


" Ya sudahlah! Akan aku hapus jejak Niga di hatiku." tekad Intan penuh semangat.


( Pemanasan dulu yah!)

__ADS_1


__ADS_2