Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
INGIN TENANG


__ADS_3

Katakan! Dengan cara apa supaya aku bisa menyembuhkan rasa sakit ini? Katakan! Apa yang harus aku perbuat untuk melupakan kekecewaan yang telah kau perbuat? Sakit dan kecewa ini sudah memenuhi rongga jantung ku, hingga membuat sesak nafas ku. Haruskah aku berlari? Menghindari segala masalah ini? Katakan! Apa yang harus aku lakukan sedangkan aku sudah terlanjur tergantung pada rasa dan perhatianmu selama ini.



Haruskan aku menjadi perahu kertas yang terombang-ambing tanpa tujuan. Mengikuti arus membawaku melaju sampai titik akhir segala rusak perahu kertas itu. Bantu lah aku untuk bangkit dari dilema yang menyiksa ini.


*******


Winda sudah siap dengan tas dan perbekalan untuk Wisnu. Sore ini Winda ingin bermalam ke rumah Galuh. Hati nya sedang kacau dan butuh suasana baru dan penuh ketenangan. Bukan! Bukan untuk lari dari masalah, hanya saja Winda belum mau ribut dengan Surya.


Segala keperluan untuk Wisnu sudah masuk dalam tas, baju ganti untuk Winda pun ikut masuk ke dalam tas yang cukup muat banyak isinya. Susu Formula untuk Wisnu dan botol susu pun masuk ke dalam tas itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Winda saat ini. Winda harus segera pergi sebelum Surya pulang dan kembali dari kantor.


Winda keluar rumah tanpa berpamitan dengan Bu Hartini yang masih di dalam kamarnya. Winda sesegera keluar dari rumah mewah kediaman Pak Hartono itu. Mobil taksi yang dipesannya sudah menunggu nya di depan rumah itu. Satpam yang berjaga itu pun hanya melongo melihat Winda yang terburu- buru pergi. Hanya bantuan kecil dari satpam itu membawakan tas milik Winda tersebut untuk di masukkan ke dalam mobil taksi itu.


" Oh iya pak! Nanti sampaikan ke mama kalau saya buru- buru pergi ke rumah bapak ibu saya, pak. Jadi tidak sempat berpamitan dengan mama." kata Winda dengan kebohongan nya.


Satpam yang mendengar pesan dari Winda menyimak dengan seksama.


" Baik non! Nanti saya sampaikan kepada nyonya." ujar Satpam yang setengah baya itu.


Winda masuk di dalam mobil taksi itu. Wisnu yang ada didalam gendongannya masih terlihat pulas dengan tidurnya. Wisnu masih bayi mungil belum genap dua bulan dari kelahiran nya.


" Ke alamat ini pak!" ucap Winda sambil menyerahkan kartu alamat yang berisi alamat rumah itu kepada sopir taksi itu.


" Baik Bu!" sahut sopir taksi itu sambil mengambil kartu nama yang diberikan oleh Winda.


Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Winda mengusap lembut Wisnu di gendongan nya. Ponsel nya mulai bergetar di kantong nya. Perlahan Winda mengambil ponsel itu lalu mengangkat nya.


"Halo Galuh! Aku sudah di dalam taksi." kata Winda setelah panggilan masuk itu dianggap nya.


" Sudah sampai mana? Biar aku jemput sekarang." kata Galuh dengan cemas.


" Aturan kamu bilang biar aku jemput ke rumah, Winda." imbuh Galuh.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, Galuh. Ini sebentar lagi sampai di rumah kamu kok." ucap Galuh.


" Berapa menit lagi pak?" tanya Winda kepada Sopir taksi itu.


" Kurang lebih sepuluh menit lagi, Bu." jawab sipir taksi itu.


" Sepuluh menit sampai kok, ke rumah kamu Luh." ucap Winda.


" Baiklah. Aku tunggu yah." sahut Galuh akhirnya.


Mobil taksi itu masih melaju dengan kecepatan sedang. Wisnu masih aman dan nyaman di gendongan Winda. Tidak ada tangisan dan rengekan, mungkin nyaman didalam mobil taksi yang ber AC itu. Sepanjang jalan menuju rumah Galuh cukup lenggang sehingga lancar tanpa kemacetan.


" Nomer rumah berapa tadi Bu?" tanya sopir taksi itu.


" Nomer 17 kan?" Winda malah balik bertanya.


" Oh benar! Ini pak rumah nya!" sahut Winda setelah melihat Galuh duduk di serambi rumahnya.


Galuh bergegas menghampiri mobil taksi yang didalamnya ada Winda beserta Wisnu itu. Setelah membayar ke sopir taksi tersebut, Winda keluar dari mobil itu. Galuh membantu membawa tas perbekalan yang di bawa Winda.


" Hahaha. Iya minggat, sekalian nyari suami baru." sahut Winda.


" Amin!" sahut Galuh.


" Sial! Kenapa di amin kan, nih bocah." ucap Winda.


" Mana tahu dapat suami baru lagi, hahaha." goda Galuh.


" Ya ampun! Tidak semudah itu ferguso!" ujar Winda sambil tersenyum.


" Ya sudah! Yuk masuk! Jangan sampai Wisnu masuk angin loh!" ucap Galuh sambil melangkah masuk ke pekarangan rumah nya yang terlihat nyaman dan asri.


" Tidurkan di sini dulu, Wisnu!" suruh Galuh.

__ADS_1


" Omong- omong Nyonya Hartini kok bisa kasih ijin ke kamu pergi bersama Warga Wisnu, Winda." tanya Galuh.


" Kepo banget sih kamu!" sahut Winda tersenyum simpul.


" Idih! Awas yah kamu!" sahut Galuh.


" Aku gak pamitan dengan Mama. Langsung pergi saja. Cuma pesen saja sama satpam. Hahaha." kata Winda.


" Tumben, kamu jadi anak yang pembangkang." ucap Galuh.


" Bukan begitu, Galuh. Aku cukup kacau otak aku. Jadi aku gak mau uring- uringan nanti ketika Surya pulang." cerita Winda.


" Kamu ini gimana sih? Biar saja semua harus diselesaikan tidak lari seperti ini." kata Galuh emosi.


" Galuh! Kamu kan tahu, Wisnu masih kecil dan aku tidak cukup modal jika menggugat cerai dengan Mas Surya. Aku belum punya kekuatan untuk itu. Aku belum bisa bekerja jika Wisnu masih bayi seperti ini." keluh Winda.


" Kamu ingin menggugat cerai Surya?" tanya Galuh akhirnya.


"Lalu? Jalan terbaik untuk kami apa, jika tidak cerai?" tanya Winda.


" Aku juga tidak bisa berbagi suami dengan wanita lain, Galuh!" imbuh Winda.


" Tapi. Tapi Winda! Wanita itu masih di nikahi siri. Sedangkan kamu sudah kuat menjadi istri sah dari Surya. Apa yang kamu risau kan, Winda." ucap Galuh.


"Galuh! Biar aku tenang dulu deh. Aku lagi kacau." sahut Winda sambil membaringkan tubuhnya dekat dengan Wisnu.


Tangannya mengusap lembut kepala Wisnu. Wisnu masih bayi dan sangat kecil. Harus kah mama dan papa nya cerai ketika Wisnu masih bayi seperti ini?


Aku tidak cukup nyali untuk melupakan manisnya cintamu. Aku tidak cukup berani melupakan mu begitu saja tanpa jejak lagi. Aku tidak punya kekuatan, jika setiap hari tanpa perhatian dan sentuhan hangat dari tangan kamu. Aku sudah sangat terbiasa dengan semua itu. Apakah semudah itu aku harus menghapus jejak-jejak kamu di hati dan pikiranku? Apakah aku mampu jika hari- hari ku tanpa kamu lagi? Dengan segala senyuman yang bergelayut di kepalaku. Apakah aku mampu memutuskan telepati diantara hati kami. Sedangkan hati ku dan hatimu sudah terlanjur dekat dan menyatu. Ketika sakit itu hinggap padamu betapa aku juga merasakan kesakitan itu. Apakah ini tidak menyiksaku, menyiksa kita.


Bahagia mu adalah bahagiaku juga. Kamu tahu itu bukan? Derita mu adalah derita aku juga bukan? Sepi ku adalah sepi kamu juga. Kita sudah menjadi belahan jiwa yang tidak bisa di pungkiri oleh masalah itu.


( Tulisan ketika Author pusing kepala, demam, flue batuk melanda. Untung saja covid penularannya lewat bersentuhan, coba covid penularannya lewat rindu, bisa saja Author orang pertama yang terkena Covid...just kidding guys)

__ADS_1


Jangan lupa like+ komentar nya yah bai Bai I Miss you!!


__ADS_2