
" Iya! Walaupun kita sama- sama merasakan kerinduan itu! Kita harus berani mengakhiri nya. Aku tidak ingin meneruskan cinta terlarang ini." kata Jelita dengan mantap.
" Oke! Aku kok tidak yakin dengan kamu yah, sayang!" sahut Andrie.
" Karena dari kemarin akulah yang bilang ke kamu untuk mengakhiri hubungan ini. Namun kamulah yang selalu tidak mau. Tapi sekarang kamu sudah bertekad dan yakin mengakhiri ini dengan penuh keyakinan kalau kamu mampu jauh dengan aku." kata Andrie dengan tersenyum menggoda.
" Pelan- pelan aku akan berusaha. Dan kamu juga, sayang!" ucap Jelita sambil menatap langit-langit kamar villa itu.
" Oke! Kita harus saling blokir!" kata Andrie akhirnya.
Karena keletihan sepanjang hari bergelut dalam pertempuran syahwat itu, akhirnya mereka terbangun ketika matahari memancarkan sinar nya dengan totalitas nya. Di siang hari yang panas, mereka kembali pulang. Sementara mereka sepakat tidak saling komunikasi, bahkan bertemu. Mereka setuju untuk mengakhiri hubungan terlarang yang sebenarnya menimbulkan sensasi yang menantang bagi mereka berdua.
Andre langsung ke kantornya untuk bekerja sedangkan Jelita kembali ke rumahnya. Jelita kembali menjadi seorang istri yang manis menanti suaminya kembali pulang setelah beberapa hari menjalankan bisnisnya.
Jelita berendam di bathub yang ada di kamar mandinya yang terhubung dengan kamar pribadinya. Jelita ingin rileks dan membersihkan segala keletihan nya karena seharian kemarin bermain dengan Andrie tanpa kenal letih. Betapa rakus Andrie ketika itu karena menyadari akan mengakhiri hubungan terlarang itu. Seolah-olah kesempatan itu adalah kesempatan terakhir menghabiskan menu makanan yang esok hari tidaklah akan ia dapatkan kembali.
Jelita memejamkan matanya. Pikiran nya masih terngiang-ngiang akan pertemuan terakhir dengan Andrie. Dirinya sebenarnya belum yakin kalau bisa memutuskan hubungan antara Andrie itu. Namun sampai kapan dirinya dan Andrie terjerat dalam cinta terlarang yang penuh dengan gejolak syahwat. Jelita sadar dan sangat sadar kalau apa yang ia lakukan bersama Andrie adalah kesalahan besar. Dirinya dan Andrie telah sama- sama mengkhianati pasangan nya. Apakah Jelita sudah tidak mencintai suaminya dan mati rasa sehingga bisa begitu mudahnya jatuh hati dan jatuh dalam pelukan Andrie. Sedangkan kenyataan nya, suaminya tidak pernah mengkhianati nya. Tentu saja Jelita belum pernah mencium bau pengkhianatan atau perselingkuhan dari suaminya itu. Suaminya selalu menyayangi dirinya dan selalu penuh kerinduan ketika kembali pulang ke rumah.
" Aku bukan istri yang baik! Aku sudah menyalah gunakan kepercayaan suamiku. Aku telah mengkhianati dirinya. Tapi cinta ini sungguh menyiksa aku ketika aku berusaha menepis nya. Kenapa?" gumam Jelita sambil memejamkan matanya dan tubuhnya masih terendam di air yang hangat di dalam bathub itu.
Ketukan pintu kamar nya membuyarkan lamunan Jelita. Jelita bergegas keluar dari bathub itu dan menyambar handuknya. Jelita melangkah menuju pintu kamarnya yang ia kunci. Betapa terkejutnya Jelita, karena suaminya datang lebih awal dari yang dia bilang.
" Loh bang, kamu sudah tiba?" ucap Jelita dengan ekspresi terkejut.
" Kamu senang tidak, aku datang lebih Cepat?" tanya suami Jelita.
" Tentu senang dong!" sahut Jelita sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dan mencium pipi suaminya. Suaminya mengecup dengan hangat kening dan bibir milik Jelita.
" Kamu lagi mandi yah? Makanya pintu kamar nya dikunci." tanya suaminya.
__ADS_1
" Heem! Lagi berendam!" sahut Jelita dengan suara manja.
Jelita yang saat ini hanya mengenakan handuk terlihat begitu seksi. Suaminya jadi tersenyum sambil mengedipkan mata.
" Sepertinya aku harus meminta hak ku dulu deh!" ucap suaminya yang sudah melepaskan semua yang ia kenakan kecuali boxer nya.
" Tidak! Tidak! Jangan sekarang dong sayang! Kamu harus mandi dulu. Bukankah kamu habis perjalanan dari luar kota?" tawar Jelita berusaha bernegosiasi. Jelita tidak bisa membayangkan jika hari ini harus digempur oleh suaminya. Sedangkan dirinya sudah begitu letih bermain dengan Andrie kemarin. Bagian intim nya saja masih berasa pegal rasanya karena dirinya menggunakan nya melebihi batas sampai beberapa ronde.
" Sayang!" sahut suaminya seperti merengek.
" Nanti malam sayang! Aku janji aku kasih servis yang memuaskan untuk kamu deh! Aku yang di atas. Bagaimana?" kata Jelita dengan bahasa vulgar.
" Baiklah!" ucap suami Jelita akhirnya. Lalu dirinya masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
" Setelah ini kita makan dulu yah, sayang!" kata Jelita penuh perhatian.
" Oke! Kamu mau makan apa?" tanya suami Jelita.
" Oke!" teriak suami Jelita yang sudah mandi dengan pintu kamar mandi yang tidak ditutup.
*******
Di ruang makan, Jelita dan suaminya duduk sambil menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh bibi, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
" Bagaimana perkembangan bisnis, abang di luar kota?" tanya Jelita sambil menguyah makanan nya.
" Anak cabang di luar kota perkembangannya mulai signifikan. Sepertinya aku akan lebih sering-sering ke kota itu, sayang! Karena prospek nya sangat menjanjikan sekali." cerita suami Jelita.
"Benarkah? Tapi kamu jadi meninggalkan aku sendiri di rumah ini dong!" sahut Jelita sedih.
__ADS_1
" Hem? Apa kamu ikut jika aku ke luar kota? Di sana kan ada rumah kita juga kan? Walaupun tidak sebesar di sini dan tidak ada yang pembantu di sana. Tetapi kalau mau nanti kita bisa mengajak bibi kalau kamu mau ikut ke luar kota bersama aku." usul suami Jelita.
" Bagaimana, yah? Tapi aku sudah merasa nyaman di rumah ini sih?" sahut Jelita.
' Apakah kamu tidak kangen jika kita selalu berpisah seperti ini? Kamu tidak kesepian jika tidak ada aku?" tanya suami Jelita kembali.
" Tentu saja aku kangen kamu, bang! Tentu saja aku selalu kesepian jika tidak ada kamu di sini. Tetapi kamu pun juga sering telepon dan video call kan? Bagi aku itu sudah cukup mengobati rasa sepi dan kangen aku." kata Jelita.
" Lagi pula, di sana kamu juga sibuk dengan bisnis kamu bukan? Aku tidak mau mengganggu kamu, bang!" tambah Jelita.
" Mengganggu apa sih? Justru aku lebih senang jika kamu bisa ikut mendampingi aku, sayang!" sahut suami Jelita.
" Nanti saja lah! Aku masih nyaman di rumah ini." kata Jelita.
" Sebenarnya aku sudah mendambakan seorang anak loh, sayang! Kita sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak. Kalau kamu ikut bersama aku, kita bisa mulai program buat anak. Hehehe" suami Jelita terkekeh.
"Oh iya, bagaimana pemeriksaan terakhir di dokter spesialis itu? Apa katanya?" kata suami Jelita kembali.
" Tidak ada masalah, bang!" sahut Jelita.
" Adikku, Galuh sudah memiliki anak. Sedangkan aku belum! Kenapa Tuhan belum mempercayakan kita memiliki anak yah? Apakah aku belum layak untuk menjadi ayah?" kata suami Jelita yang tidak lain adalah Bang Hendra.
" Bang Hendra! Jangan berkata begitu dong! Aku menjadi sedih! Sebagai seorang wanita, aku seperti belum sempurna jika belum merasakan bagaimana mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak. " sahut Jelita sambil menundukkan kepalanya.
" Maaf, Jelita sayang! Sudahlah, kita bahas yang lain saja yah, sayang! Oh iya, aku ada sesuatu untuk kamu! " kata Bang Hendra.
" Benarkah? Apa itu?" sahut Jelita seketika berbinar.
" Nanti saja setelah aku meminta hak aku." ucap Hendra sambil memainkan matanya dengan nakal. Jelita tersenyum melihat kegenitan suaminya.
__ADS_1
" Baiklah! Nanti malam aku yang di atas!" bisik Jelita nakal. Hendra tersenyum mendengarnya.