Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 12)


__ADS_3

Wardhana sudah kembali ke rumah Rosiana. Kesedihan masih menghinggapi wajah Wardhana. Seberapapun Wardhana menyembunyikan semuanya dari Rosiana, namun istri keduanya itu mampu memahami dan tahu akan perbedaan dari Wajah Wardhana. Wardhana sesekali memijit pelipis nya sendiri. Wardhana merasakan berat kepalanya. Rosiana mulai mengkhawatirkan keadaan suaminya tersebut. Rosiana bergegas membuatkan teh manis hangat untuk suaminya dan diberikannya pada laki-laki yang sudah menikahi dirinya tersebut.


" Mas, diminum dulu tehnya mas!" suruh Rosiana pada suaminya itu. Wardhana masih diam dan hanya mengikuti anjuran istri mudanya itu untuk meminum teh manis hangat.


" Ada apa, mas?" tanya Rosiana mulai khawatir akan keadaan Wardhana. Setelah kepulangannya dari rumah Sarwenda, Wardhana menunjukkan kesedihan dan memegangi kepalanya.


" Tidak apa- apa! Ini kepalaku terasa sakit." kata Wardhana sambil kembali memijit pelipis nya. Rosiana yang mendengar keluhannya Wardhana jadi ikut memijat bagian leher dan kepala Wardhana.


" Mau aku kerokin, mas? Atau kita periksa, mana tahu tensi darahnya tinggi atau kolesterol nya juga tinggi." kata Rosiana.


" Nanti saja periksa nya! Mungkin aku kecapean." kata Wardhana sambil masuk ke kamarnya lalu diikuti oleh Rosiana.


Rosiana mulai melepaskan kaos oblong yang dipakai oleh Wardhana. Diambilnya minyak kayu putih dan uang logam seribuan untuk mengerok badan Wardhana. Wardhana diam saja dan menurut apa yang dilakukan oleh Rosiana terhadap dirinya.


Rosiana mulai mengerok punggung Wardhana. Wardhana sesekali meringis karena kesakitan.


" Kamu masuk angin, mas! Kamu tadi sudah makan belum? Asam lambung kamu naik nih!" kata Rosiana sambil memastikan perut Wardhana memang benar-benar kembung.


" Rosiana! Aku dan Sarwenda akan bercerai!" kata Wardhana akhirnya memulai bercerita.


" Hah?" sahut Rosiana terkejut.


" Kami bertengkar dan cekcok. Sarwenda minta cerai dari aku." cerita Wardhana, Rosiana hanya diam menyimak cerita Wardhana.

__ADS_1


" Siwa dan Dahlia sudah mengetahui rencana perceraian aku dengan mama nya. Dahlia dan Siwa sedih dan menangis. Tetapi kemauan Sarwenda untuk bercerai dengan aku sudah menjadi keputusan nya yang tidak bisa dirubah. Ditambah aku juga sudah mengucapkan kata talak kepada Sarwenda." Wardhana.


" Mungkin, jodoh aku dengan Sarwenda cukup sampai disini." tambah Wardhana lagi.


Rosiana tidak berani memberikan komentar. Karena kemauan Sarwenda lah yang pertama kali untuk menggugat cerai itu.


" Setelah ini, aku sudah tidak bekerja di perusahaan milik Sarwenda lagi. Jadi, aku harus memulai mencari kerjaan baru atau wirausaha sendiri. Kamu tidak apa- apa kan, jika aku sudah tidak memiliki kekuasaan, kekuatan dan kekayaan yang berlimpah? Semua aset- aset akan diserahkan ke anak- anak. Aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Yang penting saat ini aku hanya mempunyai kamu saja yang memperhatikan dan menyayangi aku." kata Wardhana dengan sedih.


" Mas!" sahut Rosiana sambil memeluk Wardhana.


" Kamu tidak apa- apa kan kalau aku miskin?" kata Wardhana sambil melihat wajah Rosiana.


" Kamu bicara apa sih, mas! Aku tidak merasa miskin. Selama ini aku sudah merasa cukup dengan adanya kamu didekat aku. Usaha warung kita pun sudah mulai ramai, bukan? Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari sudah cukup kalau kita hidup sederhana dan tidak mengikuti gaya hidup. Bukankah aku selama ini tidak menuntut kamu, mas? Aku sudah terbiasa hidup seadanya, tidak berfoya-foya dan tidak bergaya glamor. Karena aku lahir dan besar si kampung dan memang sudah terbiasa hidup nrimo ing pandum." kata Rosiana.


" Iya, aku paham kamu! Aku ingin tenang di masa tua aku, Ros! Aku sudah tidak ingin macam- macam lagi. Tapi ini malah Sarwenda menuntut cerai! Mungkin aku sudah banyak menyakiti Sarwenda hingga dia merasa lelah." kata Wardhana.


*******


Di suatu villa, sepasang laki-laki dan perempuan masih tidur di atas peraduan nya. Mereka berbaring dengan berselimut putih yang tebal. Cuaca pagi itu masih terasa dingin, hingga keduanya masih saling berpelukan mencari kehangatan. Suara musik dan lagu terdengar dari ponsel milik wanita itu. Tangannya mulai mencari letak ponsel nya. Setelah ketemu, wanita tersebut mulai membuka layar ponselnya.


" Iya, sayang!" sapa wanita tersebut yang tidak lain adalah Jelita.


" Tidur di tempat mama! Kamu di mana?" kata Jelita.

__ADS_1


" Oh masih di luar kota? Kapan pulang? Besok lusa? Baik aku tunggu, mas!" kata Jelita yang berbicara dengan suaminya yang masih berada di luar kota. Setelah nya Jelita menutup layar ponselnya dan kembali meletakkan ponselnya di sebelahnya.


Andrie yang di sebelah nya mendengar percakapan Jelita dengan suaminya tersebut. Andrie makin mempererat pelukan nya. Andrie tidak membiarkan pagi itu tanpa dekapan wanita disebelah nya.


Semalam Jelita menginginkan hubungan mereka berakhir. Setelah hari ini sebagai hari perpisahan untuk hubungan mereka. Hubungan antara Andrie dan Jelita. Andrie kembali menciumi wanita disebelahnya. Pagi itu Andrie ingin mengulang kembali pertempuran yang menghangatkan seperti yang mereka lakukan ketika malam. Rasanya masih belum puas ketika harus kembali mengingat kalau pertemuan itu adalah pertempuran yang terakhir kalinya untuk mereka. Dan tentu saja hari- hari berikutnya tidak akan ada lagi pergulatan panas yang mengeluarkan keringat cinta.


" Andrie! Kamu masih kurang?" ucap Jelita dengan suara masih serak.


" Kalau dengan kamu mana ada kata cukup, sayang!" sahut Andrie sambil menciumi wangi tubuh Jelita yang masih polos seperti dirinya.


" Aku tidak yakin bisa jauh dari kamu setelah hati ini, Jelita!" ucap Andrie sambil bermain- main di daerah sensitif Jelita. Jelita kembali mengeluh, menyuarakan irama yang membangkitkan semangat bagi Andrie.


Kamar villa itu menjadi saksi bisu akan tindakan mesum kedua orang itu. Mereka tidak peduli akan istri dan suaminya yang sedang merindukan nya. Mereka tidak peduli jika istri dan suaminya saat ini merasakan kegelisahan karena tindakan mereka. Saat ini Jelita dan Andrie hanya ingin meluapkan segala hasrat nya dan ingin melepaskan segala keinginannya yang tak berujung kepuasan. Mereka selalu dahaga padahal sudah banyak air yang melewati tenggorokannya. Itulah ibarat hawa nafsu yang tidak pada tempatnya, kenikmatan nya hanya sesaat saja.


" Setelah ini, kita harus memegang kesepakatan. Kita tidak akan berhubungan kembali. Kita tidak akan saling komunikasi dan saling menghubungi." kata Jelita setelah semuanya terkulai dalam pelepasannya.


" Walaupun aku merasakan rindu kepadamu?" sahut Andrie masih merasa berat.


" Iya! Walaupun kita sama- sama merasakan kerinduan itu! Kita harus berani mengakhiri nya. Aku tidak ingin meneruskan cinta terlarang ini." kata Jelita dengan mantap.


" Oke! Aku kok tidak yakin dengan kamu yah, sayang!" sahut Andrie.


" Karena dari kemarin akulah yang bilang ke kamu untuk mengakhiri hubungan ini. Namun kamulah yang selalu tidak mau. Tapi sekarang kamu sudah bertekad dan yakin mengakhiri ini dengan penuh keyakinan kalau kamu mampu jauh dengan aku." kata Andrie dengan tersenyum menggoda.

__ADS_1


" Pelan- pelan aku akan berusaha. Dan kamu juga, sayang!" ucap Jelita sambil menatap langit-langit kamar villa itu.


" Oke! Kita harus saling blokir!" kata Andrie akhirnya.


__ADS_2