Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 38)


__ADS_3

Masih di kamar inap rumah sakit.


" Selamat mbak Winda, adik bayi nya lucu banget loh! Ihh gemesin banget loh! Rasanya mau gigit pipinya aja." seru Intan yang kini sudah berada di kamar inap rumah sakit itu bersama Pak Hartono, dan juga Wisnu. Sedangkan Ibu Hartini memangku bayi merah itu di kursi kamar VVIP itu. Pak Hartono ikut duduk di sebelah bu Hartini yang saat ini memberikan susu formula sementara sambil menunggu air susu Winda keluar.


" Mama, aku kini sudah punya adik. Oh iya, nama adik siapa ma?" sahut Wisnu. Winda dan Haidar saling pandang. Pak Hartini dan Pak Hartono pun jadi ikut memperhatikan pasangan suami istri tersebut secara bergantian.


" Siapa mas, nama putra kita?" tanya Winda. Haidar tersenyum lalu mulai menyebutnya dengan penuh kebanggaan.


" Wibisana Putrajaya Haidar." sebut Haidar dengan bangganya. Wisnu manggut-manggut. Kakek dan neneknya langsung serentak memanggil bayi yang masih merah itu.


" Wibi!!" panggil Pak Hartono dan Bu Hartini.


" Wah, aku sudah ada saingan nih! Kakek nenek jadi terbagi-bagi cintanya kepadaku." sahut Wisnu. Winda tersenyum lalu meraih tangan Wisnu yang saat ini ikut duduk di dekat mamanya yang duduk bersandar di tempat tidur itu. Intan malah terkekeh lalu mengacak-acak rambut Wisnu.


" Kamu kok cemburu sama adik kamu sendiri sih? Tidak boleh begitu dong!" ujar Intan. Wisnu kali ini cemberut.


" Wisnu sayang! Kamu tidak malu kan, jika kamu masih memiliki adik bayi? Padahal kamu sudah hampir lulus kuliahnya." ucap Winda. Wisnu kali ini tersenyum.


" Tidak mama, Wisnu benar-benar bahagia dan senang sekali. Tidak ada rasa malu sedikit pun, Wisnu masih punya adik bayi." sahut Wisnu. Haidar kini ikut mengusap pundak Wisnu.


" Apakah selama magang di kantor papa, Wisnu mulai lirik- lirik dengan seorang wanita?" tanya Winda. Wisnu memainkan bola matanya.

__ADS_1


" Tidak ada, mama! Di kantor kakek, karyawan yang bekerja di sana rata- rata sudah berumur." ujar Wisnu. Intan menahan tawanya.


" Waduh, jadi tidak ada vitamin nya dong!" goda Haidar. Wisnu nyengir kuda.


" Begitu lah, papa Haidar! Kalau di kantor papa, ada tidak?" tanya Wisnu mulai jahil. Haidar mencoba mengingat nya.


"Sepertinya juga tidak ada tuh, nak!" sahut Haidar. Wisnu memutar bola matanya jengah.


" Hadeuh!" keluh Wisnu.


" Keponakan ku ini hanya pura- pura saja, mbak Winda! Padahal diam- diam dia sudah punya gebetan di kampusnya. Makanya dia gencar pergi ke kampus sampai bela-belain ikut semester pendek." tuduh Intan. Haidar kini menjauh dari tante dan mamanya dan ikut bergabung duduk bersama kakek dan neneknya.


" Aku ikut semester pendek supaya cepat lulus, tante! Dan cepat dapat duitnya." sahut Wisnu. Bu Hartini langsung memberi kode supaya Wisnu jangan bicara keras karena Wibi, si bayi yang masih merah itu saat ini sedang tidur.


" Mana ada loh, bayi kok mengkhayal!" sahut Ibu Hartini. Pak Hartono kini malah merangkul cucu kesayangan nya itu.


" Bener loh, nek! Lihat saja Wibi! Kadang senyum- senyum sendiri lalu gak lama nangis." ujar Wisnu asal. Kakek Hartono menjadi gemas pada Wisnu.


" Kita cari makan aja yuk, nak!" ajak kakek Hartono dengan Wisnu. Wisnu bersemangat.


" Ayolah, Kek! Ingin bakso beranak aja kek!" sahut Wisnu. Intan menyahuti.

__ADS_1


" Aku juga mau! Ikut yah!" sahut Intan.


" Mama, papa mau bakso juga?" tanya Wisnu. Kedua nya menjawabnya dengan cepat.


" Mau banget!" sahut Haidar. Winda ikut mengangguk.


" Nenek tidak suka bakso, kek! Tidak perlu dibeliin." goda Wisnu sambil melirik ke arah neneknya. Neneknya manyun bibirnya. Pak Hartono hanya terkekeh saja.


" Ayolah, nak! Jangan usil!" ajak Pak Hartono. Mereka bertiga meninggalkan kamar inap itu. Winda dan Haidar hanya tersenyum menatap punggung anak laki-laki nya itu yang sudah mulai tumbuh dewasa.


" Wibi Putrajaya Haidar!" panggil Winda sambil tersenyum ketika Bu Hartini sudah meletakkannya di box bayi di sebelah Winda.


" Masih nyeri jahitan di perut nya, sayang?" tanya Haidar. Winda hanya tersenyum.


" Dinikmati aja, mas! Bukannya begitu yah, ma?" sahut Winda. Bu Hartini membalasnya dengan senyuman.


" Mama, ke toilet dulu yah, Win!" ujar Bu Hartini. Winda mengangguk pelan. Kini Haidar mengecup kening Winda dan membisikkan sesuatu.


" Jadi, setelah ini aku puasa dulu yah, yank?" bisik Haidar. Haidar mencubit Haidar cepat.


" Tidak harus puasa, mas! Nanti aku bisa melakukannya dengan cara lain. Kamu jangan khawatir!" ucap Winda. Haidar akhirnya tersenyum merekah.

__ADS_1


" Syukur lah! Ini nih kalau punya istri yang pengertian dan pintar menyenangkan suami." sahut Haidar.


__ADS_2