Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SIWA (SI DAN WA)


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan embun pagi yang bening di ujung dedaunan. Tetesan nya memberikan kesegaran dan kesejukan yang tidak sengaja jatuh di wajah seorang ibu muda. Dia adalah Rosiana yang saat ini berada di depan rumah mewah milik Sarwenda. Di pekarangan rumah itu, Rosiana menjalankan tugas nya. Kerjaannya membersihkan sekitaran rumah depan dan mengurus tanaman. Selain itu, Rosiana juga bertugas mencuci dan menyetrika baju- baju majikannya.


Wardha berjalan menuju kursi kayu panjang di bawah pohon dengan meja di depannya. Wardha berjalan sambil membawa secangkir kopi nya. Matanya sekilas memperhatikan gerak-gerik dari Rosiana yang sedang menunaikan kerjaannya. Wardha akhirnya mendudukkan pantatnya sambil menikmati sejuknya pagi itu dengan secangkir kopi nya. Kini tangan nya mengambil bungkusan rokok dan korek nya di sakunya.


Pagi itu benar-benar Wardha nikmati semuanya dengan hisapan tembakau kesukaan nya. Sesekali matanya tetap menatap dengan tajam ke arah Rosiana. Ada berbagai pertanyaan yang ada di benaknya, kenapa wanita yang masih muda belia itu bisa sampai di rumah tinggalnya saat ini. Sudah sekian lama akhirnya, Rosiana menyelesaikan pekerjaannya. Kini ia melangkah menuju rumah itu dengan melewati Wardha yang masih duduk di kursi kayu panjang tersebut. Langkah nya terhenti tatkala, Wardha memanggil namanya pelan.


" Ros!" panggil Wardha sanggat pelan.


Sorot matanya ada permohonan supaya Rosiana berhenti sejenak untuk memenuhi panggilannya tersebut.


" Iya Tuan!" sahut Rosiana akhirnya menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara yang memanggil dirinya.


" Kamu kemarilah sebentar! Iya sebentar saja!" perintah Wardha dengan lembut.


" Ta...ta..tapi Tuan! Pekerjaan saya yang lain belum saya kerjakan, tuan!" sahut Rosiana.


" Cuma sebentar saja kok! Tidak akan lama, Ros." kata Wardha.


Akhirnya Rosiana mendekati kursi kayu yang panjang itu, lalu mendudukkan pantatnya di samping Wardha. Jarak duduknya sanggat jauh. Seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


" Dari mana kamu bisa mendapatkan alamat rumah ini? Siapa yang memberi tahukan kalau aku sudah tinggal disini?" tanya Wardha yang mulai mengeluarkan keingintahuan nya.


" Saya .. saya bertanya kepada mamak Mas Wardha. Dari beliau lah, memberikan informasi kalau Mas Wardha tinggal di kota ini. Saya...saya di suruh menjumpai Mas Wardha supaya bisa membantu saya mencarikan pekerjaan." terang Rosiana.


" Kenapa kamu sampai jauh- jauh kerja kemari? Apakah suami kamu tidak melarang mu?" tanya Wardha penuh selidik.


" Suami saya sudah meninggal, Mas! Lagi pula Siwa...Siwa biar berjumpa dengan ..dengan...." ucap Rosiana yang tidak melengkapi kalimat nya.


Wardha hanya diam dan menyimak setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rosiana.


" Cerita lah dengan jelas! Aku sangat bodoh jika harus berteka-teki atau menerka - nerka setiap kalimat yang kamu ucapkan yang tidak lengkap itu." sahut Wardha.


" Siwa adalah anak kandung, Mas Wardha!" kata Rosiana menjelaskan dengan singkat dan sangat padat.


Wardha terkejut tapi hanya menunjukkan sikap diamnya.

__ADS_1


" Waktu saya menikah dengan suami saya, saya sedang mengandung anak Mas Wardha. Mas Wardha waktu itu pergi ke kota." cerita Rosiana dengan gamblang.


" Lalu?" sahut Wardha.


" Maaf, Mas Wardha! Saya tidak menuntut tanggung jawab yang besar terhadap Mas Wardha. Cuma saya hanya ingin, Siwa bisa berjumpa dengan ayah kandungnya saja." kata Rosiana.


" Saya tidak akan merusak kebahagiaan keluarga kecil, Mas Wardha." tambah Rosiana.


Wardha hanya diam dan kembali menatap Rosiana yang dengan bijak berbicara.


" Tetapi, apakah kamu tidak menyadari akan hal ini? Kedatangan kamu, sanggat membuat kacau hati aku, Rosiana." ucap Wardha dengan mata berkaca-kaca.


" Saat itu aku sangat bingung! Aku belum siap jika harus menikah dan bertanggung jawab atas segalanya. Tapi aku juga sangat sedih harus meninggalkan kamu, menanggung semua itu sendiri. Tapi ketika mendengar kamu bisa menikah dengan seorang pria yang baik, hati aku cukup lega. Walaupun sebenarnya hati kecil aku tidak ikhlas melepaskan kamu, menikah dengan pria itu." kata Wardha.


" Sudahlah, Mas! Semua sudah berlalu. Kita sudah sama-sama menjalani kehidupan masing-masing. Saya dan Mas Wardha, sudah bahagia dengan pilihan kita sendiri. Saya hanya ingin, Mas Wardha bisa dekat dengan Siwa." kata Rosiana.


" Siwa? Siapa yang memberi nama itu?" tanya Wardha.


" Suami saya Mas! Beliau mencoba menggabungkan antara nama saya dengan nama Mas Wardha." jawab Rosiana.


" Oh??" sahut Wardha sambil manggut-manggut.


" Hah, nyonya?" sahut Wardha sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


" Kamu tahu, Ros! Hatiku sanggat sakit jika melihat kamu menjadi pembantu seperti ini." kata Wardha.


" Pembantu rumah tangga, juga manusia Mas! Lagi pula ini bukan pekerjaan yang hina. Saya cukup bahagia, melihat Mas Wardha bisa hidup damai, tentram dan bahagia." kata Rosiana lalu melangkah pergi meninggalkan Wardha.


" Rosiana! Kenapa hatiku masih bergetar hebat ketika mengucapkan namamu saja. Apalagi ketika dekat dan menatap wajahmu yang masih lugu." kata Wardha pelan.



Rasanya sangat sejuk, ketika menatap pemandangan gunung yang menjulang tinggi itu. Secercah harapan jauh disana. Mungkin aku sangat bodoh ketika meninggalkan sebongkah emas permata tatkala itu. Tetapi aku tidak sanggup dan belum sanggup menerima indahnya perhiasan itu. Jika aku paksakan, mungkin saja aku akan hancur lebur dalam keadaan. Lalu aku pergi begitu saja, tanpa ku peduli kan segala. Menyesali nya pun sudah tidak ada gunanya. Kamu dan aku sudah melewati kesulitan dan kesusahan hidup dari hasil perbuatan kita.


" Mas Wardha!" panggil Sarwenda dari pintu utama rumah itu.

__ADS_1


" Eh iya, sayang! Ada apa sayang?" sahut Wardha.


" Aku cari kemana-mana, ternyata disini. Ayolah kita sarapan, dulu!" ajak Sarwenda.


" Baiklah, sayang!" kata Wardha sambil bangkit dari duduknya dan mendekati Sarwenda yang masih berdiri di depan pintu utama rumah itu menunggu dirinya.


" Bagaimana, pembantu baru kita itu? Apakah kamu ada keluhan atau tidak?" tanya Wardha.


" Maksud Mas Wardha, Rosiana?" tanya Sarwenda.


" Iya!" jawab Wardha singkat.


" Oh.. tampaknya bagus kerjaan nya. Dia sangat tulus kerja disini. Semoga saja seperti yang lainnya juga, tidak ada keluhan ketika kerja disini." kata Sarwenda.


"Syukurlah!" sahut Wardha.


" Kenapa Mas? Kamu sangat peduli banget dengan nya." kata Sarwenda.


" Iyalah! Aku sangat tidak enak jika kerjaan nya tidak beres karena dia datang dari kampung yang sama dengan aku dan ternyata dia dikasih tahu alamat kita ini dari mamak." cerita Wardha.


" Oh ya? Kok kamu tahu?" tanya Sarwenda.


" Iya, tadi aku tanya ke Rosiana waktu membersihkan sekitaran taman depan rumah ini." jawab Wardha.


" Oh begitu!" sahut Sarwenda.


" Oh iya sayang! Tadi Rosiana bercerita kalau suaminya itu meninggal dunia, jadi itulah alasannya dia ingin kerja ke kota ini. Jadi anaknya sudah tidak punya ayah lagi, bagaimana kalau kita anggap sebagai anak kita, say." kata Wardha pelan-pelan.


" Baiklah! Tidak ada salahnya juga kalau kita bisa menjadi ayah dan ibu angkat anak itu. Kita akan menyekolahkan nya nanti." ucap Sarwenda.


" Sungguh bahagia nya aku, memiliki istri seperti kamu, Sarwenda!" sahut Wardha sambil memeluk tubuh istrinya itu dengan mesranya.


" Aku juga bahagia, hatimu sangat mulia mudah tersentuh dengan orang-orang kecil seperti mereka." kata Sarwenda sambil tersenyum bahagia.


" Baiklah! Bagaimana kalau nanti sore kita ajak Siwa jalan-jalan sekaligus kita belikan baju-baju yang bagus dan keren untuk nya." tambah Sarwenda.

__ADS_1


" Terserah kamu saja, sayang! Yang terpenting adalah peralatan sekolah,biar Siwa bisa mulai sekolah di usia dini nya." ucap Wardha.


" Tentu, Mas!" kata Sarwenda sambil tersenyum.


__ADS_2