
Air hujan itu turun dan yang jatuh itu ketika aku mulai jatuh cinta kepadamu. Jatuh tersungkur itu mungkin terasa sakit rasanya tetapi ketika jatuh cinta itu hinggap disini, rasanya sangat membuat linglung. Jantung menjadi berdebar tidak menentu jika hanya mengingat wajah dan menyebut namanya saja. Tapi terasa sesak di dada ketika melihat nya bersama pasangannya. Mungkin saja cemburu atau karena cinta itu masih tersimpan rapat-rapat di dalam hati. Rindu dan kangen pada seseorang yang belum mengetahui perasaan cinta yang dimiliki. Jadi cinta yang masih terpendam.
" Hai Abang! Ayo dimakan tuh makanan nya. Sedari tadi di aduk- aduk mulu. Kenapa bang? Kurang enak masakannya?" kata Galuh yang duduk di depan Hendra, kakaknya.
" Bukan! Lagi gak selera makan saja!" jawab Hendra sambil kembali mengaduk- aduk makanan yang sudah ada di dalam piringnya.
" Kalau lagi gak selera makan, kenapa juga ambil porsinya cukup banyak tadi." sahut Galuh mulai sewot.
" Tadi sih bersemangat ingin makan, tapi jadi gak ingin makan." kata Hendra lalu berdiri meninggalkan Galuh.
" Mau kemana bang?" tanya Galuh penasaran.
" Mau ke kamar, tidur saja!" jawab Hendra dengan langkah cepat masuk ke dalam kamarnya.
" Eh bang! Kita nonton yuk!" ajak Galuh dengan berteriak.
" Nonton apa? Di rumah juga bisa." teriak Hendra.
" Habis nonton film, ke rumah Winda. Dia rumah sendirian, suaminya lagi ke luar kota dengan urusan proyeknya." teriak Galuh lagi.
Hendra yang mendengar nama Winda di sebut jadi bersemangat dan kembali berjalan mendekati adiknya, Galuh.
" Winda? Di rumahnya kan masih ada pembantu rumah tangga nya, babysister nya, satpam rumahnya. Kamu ini terlalu lebay kalau menceritakan keadaan seseorang." ungkap Hendra sewot.
" Ayolah bang! Cuma mampir sebentar kok. Aku ingin memberikan jilbab untuk Winda saja kok." rengek Galuh.
" Pergi sendiri juga bisa kan? Kenapa harus mengajak, Abang? Aku ini pimpinan di kantor dia kerja. Bisa jatuh reputasi aku. Gengsi juga jika aku harus datang mengunjungi bawahan ku. Apalagi tidak ada kepentingan." cerita Hendra.
" Ya ampun! Bang Hendra ini. Sejak kapan menjadi kaku begini sih." sahut Galuh.
" Baik! Baiklah tapi tidak perlu pakai acara nonton film yah. Langsung ke rumah Winda saja. Mengantar jilbabnya lalu langsung pulang." ucap Hendra.
" Okelah! Sebenarnya aku mengajak Abang nonton film di luar biar Abang cukup mengetahui perkembangan di luar. Tidak hanya kerjaan saja yang diurusi. Abang perlu hiburan dan merefresh pikiran." ujar Galuh.
" Terimakasih sudah perhatian dengan Abang. Abang punya cara sendiri untuk bisa bahagia dan menghibur diri sendiri." sahut Hendra.
" Baiklah! Hem...aku bersiap-siap dulu ya bang." kata Galuh.
" Iya sana!" sahut Hendra juga ikut masuk ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, Hendra mulai berdiri didepan kaca. Ia mulai merapikan rambutnya, menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh nya. Penampilan nya sudah mulai di ubahnya bak anak muda yang akan mendatangi kekasih nya.
__ADS_1
Tok
tok
tok!
" Bang Hendra! Ayo! Aku sudah siap nih!" teriak Galuh yang sudah ada di depan pintu kamarnya.
" Berisik sekali sih! Ayo!" kata Hendra seraya membuka pintu kamar nya.
Galuh memandangi Abang nya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Galuh tersenyum melihat penampilan abangnya itu.
" Keren juga abang ku satu- satu nya ini." ucap Galuh sambil merapikan Krah kemeja putih yang dikenakan Hendra.
" Abang mu dari dulu sudah keren! Baru tahu?" sahut Hendra.
" Keren? Tapi gak punya cewek, itu namanya tidak keren bang!" ujar Galuh sinis.
" Belum mau saja!" Belum ada yang pas dihati." sahut Hendra.
" Masih belum bisa melupakan kak Yuslita?" tebak Galuh yang membuat mata Hendra melotot tajam ke arahnya.
" Widih! Jangan khawatir bang!.Mungkin saja Kak Yuslita bukan jodoh untuk Abang. Suatu hari nanti, Abang pasti akan bertemu wanita yang terbaik melebihi kak Yuslita. Kak Yuslita sudah bahagia dengan pilihannya." kata Galuh sok dewasa.
" Kamu sok tahu!" sahut Hendra yang membuang muka untuk menyembunyikan semua kesedihan nya karena teringat akan Yuslita yang mengkhianati hubungan antara mereka.
" Kak Yuslita, sekarang tinggal dimana yah?" kata Galuh sambil melirik ke arah abangnya itu.
" Di Bandung!" jawab Hendra.
" Tuh kan! Masih mengikuti perkembangan kehidupan kak Yuslita. Pasti sering mengintip sosmed nya kan?" tebak Galuh sambil terkekeh.
" Tidak juga!" sahut Hendra.
" Sekarang kak Yuslita sudah punya anak berapa, bang?" tanya Galuh lagi.
" Tidak tahu!" jawab Hendra datar.
" Hahaha! Ya sudah! Yuk kita beranggapan bang!" ajak Galuh sambil menarik tangan abangnya itu.
" Tidak perlu ditarik- tarik macam kambing saja, Abang. Abang bisa jalan sendiri." ujar Hendra.
__ADS_1
" Sebenarnya aku belum membelikan jilbab untuk Winda, bang." kata Galuh sambil berjalan ke luar rumah ke arah garasi mobil.
" Ya ampun! Lalu kita kemana dulu nih?" tanya Hendra sewot.
" Tenang dong, bang! Nanti mampir ke butik pakaian muslimah. Sekalian mana tahu, Abang ingin membeli kan juga untuk Winda. Sekarang dia kan lagi belajar mengenakan hijab. Winda jadi terlihat anggun dan lebih cantik jika pakai kerudung." kata Galuh sambil tersenyum.
" Ngapain juga Abang membelikan Winda pakaian? Di kira Abang ada maunya." ujar Hendra sambil menghidupkan mesin mobilnya.
" Bang Hendra kan atasan, Winda. Tidak ada salahnya kok, jika membelikan barang untuk karyawan nya, contoh nya baju muslim untuk pekerja kantoran." usul Galuh yang sudah di dalam mobil itu.
" Hem..gitu yah? Nanti lihat dulu, apakah barang nya bagus-bagus dan cocok kalau dikenakan untuk Winda." ucap Hendra sambil menjalankan mobilnya.
Mobil itu mulai keluar pekarangan rumah mewah itu setelah satpam penjaga rumah itu membuka gerbangnya.
" Terimakasih pak! Kami keluar sebentar pak! Oh iya Pak! Nanti mama dan papa kan datang ke rumah. Tolong sampaikan, kalau kami keluar sebentar." pesan Hendra kepada satpam rumahnya.
" Baik bang Hendra!" sahut Satpam itu.
Mobil itu mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Mama dan papa Hendra tinggal di Bandung. Dua Minggu atau kadang sebulan sekali mereka ke Jakarta. Galuh terlihat memainkan ponselnya.
" Kamu sedang menghubungkan siapa, Adikku sayang?" tanya Hendra.
" Hubungan Winda! Dia mau dibawain makanan apa?" jawab Galuh.
" Kamu baik sekali dengan Winda." ujar Hendra sambil melirik ke arah adiknya itu.
" Iyalah! Bagiku Winda adalah sahabat terbaik aku. Diapun juga tulus menganggap aku demikian." ucap Galuh bersemangat.
" Apakah Winda sebaik itu?" tanya Hendra penuh selidik.
" Winda itu selalu care dengan aku, bang! Dari dulu sampai sekarang dia tidak berubah." cerita Galuh.
" Weleh!" sahut Hendra.
" Winda itu enak kalau diajak ngobrol." kata Galuh.
" Oh ya?" sahut Hendra.
" Bang! Jangan lupa mampir ke butik dulu, bang?" kata Galuh.
" Iya!" jawab Hendra datar sambil menjalankan mobilnya.
__ADS_1