Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BOS WISNU


__ADS_3

Mentari teriknya begitu menyengat kulit. Menusuk hingga ke pori-pori. Beradu dalam desiran darah mengalun sendu. Aku masih sendiri menapaki jalan sepi. Selalu menantikan kau hadir walaupun hanya sebatas bayangan yang melintas di pesisir. Angan enggan berpikir namun semua kenapa terpikir. Dalam sedih rindu yang memberontak kalbu. Namamu masih lekat di sini, menemani kekosongan hati.



Jiwa kerdil dalam keangkuhan diri. Mulai mengintip pelan karena rindu yang mulai memberontak. Menguasai langkah yang kian gontai. Masih selalu teringat kata- kata yang menepiskan bimbang. Menghibur hati tatkala resah. Ucapan dan janji yang mungkin kosong tak ada niatan untuk membuktikan. Bahwa kamu sudah jatuh dalam rasa. Berusaha membohongi hati yang mulai gundah. Kita sama- sama tenggelam dalam samudera khayalan yang hanya menunggu pertemuan. Temu dalam sebuah mimpi tidur yang tidak nyata. Wujud dari ingin mu dan ingin kita. Lalu hanya ada sedih, pilu dan secercah harap. Berharap namun tiada kuasa melangkahkan langkah. Aku dan kamu masih di sini dalam dimensi waktu yang terpenjara sepi.


(Jeritan Winda dan Hendra di dalam ruang kosong tak bertuan)


*******


Di pusat perbelanjaan kota.


Winda bersama Wisnu menikmati permainan di pusat kota.


" Mama, bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Wisnu dengan bahasa bijak seperti orang dewasa. Winda mengusap pucuk kepala Wisnu dengan gemas dan tersenyum menatap manik Wisnu yang memohon.


" Apa itu Wisnu sayang?" tanya Winda dengan lembut.


" Aku mau es krim! Siang- siang begini pasti sangat enak lewat di tenggorokan kita, ma!" sahut Wisnu kembali membuat tertegun Winda. Anak yang masih berumur 6 tahun itu sudah mulai bijak dalam berbicara. Mulai cerdas dalam mengungkapkan kata dan perasaan.


" Hahaha tentu saja! Ayo kita cari es krim di dalam! Setelah itu kita cari bakso beranak yuk! Mama lagi kepingin makan bakso." ajak Winda sambil menggandeng Wisnu. Wisnu pun memeluk pinggang Winda seolah ingin melindungi nya, seolah dirinya adalah pangeran bertopeng yang tidak ingin putri itu di ambil orang.



" Ayo kita cepat habiskan es krim ini, sayang!" ajak Winda setelah mereka menemukan tempat yang menjual es krim beraneka rasa.


" Pelan- pelan saja, mama ku sayang! Kita tidak sedang di situasi diintai musuh. Jadi pelan- pelan saja menikmati dingin dan nikmatnya es krim ini di lidah dan lewat ke tenggorokan kita." ucap Wisnu makin membuat gemas Winda yang mendengar nya. Wisnu mulai pandai mengkritisi segala hal.


" Baiklah! Sedikit- sedikit saja makannya." sahut Winda mengalah.


" Tapi mama ingin bakso beranak itu, sayang!" tambah Winda mulai berontak keinginannya.


" Mama sayang! Jangan khawatir! Bakso nya tidak akan beranak sebelum kita datangi. Oke? Tenang aja, mama ku yang cantik!" ucap Wisnu kembali mematahkan kata- kata Winda. Winda akhirnya menghela nafasnya pelan. Sebenarnya ini siapa yang menjadi mama nya sih, kenapa si anak malah menekan keinginan ibunya yang sudah tidak sabar ingin ke warung makan yang menyajikan bakso beranak itu.


Tidak beberapa lama, akhirnya Wisnu menarik mamanya ke tempat yang menjual bakso beranak itu. Winda dibuat geli oleh tingkah Wisnu yang seolah menarik kekasihnya.


" Nah, sekarang mama boleh pesan bakso beranak itu. Mama mau berapa mangkok, biar Wisnu bayarin." ucap Wisnu akhirnya sambil tersenyum dan menggiring mama nya duduk di pojokan.

__ADS_1


" Dua mangkok boleh?" tanya Winda akhirnya.


" Tidak kurang, ma! Tiga atau empat porsi, biar mama puas. Gimana?" sahut Wisnu dengan ekspresi datar.


Winda tersenyum dan menarik nafasnya perlahan.


" Hehe satu mangkok saja deh, nak! Dan satu mangkok es teler." kata Winda akhirnya sambil mengeluarkan ponselnya di dalam tasnya.


" Mama yakin?" tanya Wisnu dengan bola mata membulat membentuk kelereng.


" Yakin Wisnu sayang, yang ganteng, yang bawel, tapi mama suka." jawab Winda dengan tersenyum.


" Oke! Biar Wisnu pesankan dulu." kata Wisnu sambil melangkah ke depan meninggalkan Winda yang duduk di pojok itu.





" Ayo mama, cantik! Kita eksekusi makan dan minuman ini!" kata Wisnu bersemangat.


" Wisnu tahu kalau mama suka pedas. Jadi Wisnu pesan kan saja satu." sahut Wisnu mulai memakan bakso itu dengan lahap.


Sesaat mereka menikmati kebersamaan. Sesaat mereka seperti anak- anak yang segala keinginan nya haris segera dipenuhi. Sesaat Winda dimanjain oleh Wisnu. Sisi kekanak-kanakan nya muncul jika Winda memberontak ingin dipenuhi segala inginnya.


Tidak jauh dari mereka ada sepasang mata yang memperhatikan gerak- gerik mereka. Karena penasaran akhirnya mendekati tempat duduk Winda dan Wisnu.


" Halo Mbak!" sapa seorang pria dengan penampilan santainya.


" Eh halo!" jawab Winda hampir saja tersedak karena makan bakso beranak nya. Laki-laki itu malah spontan terkekeh melihat ekspresi Winda yang begitu bersemangat menikmati makanan di depannya.


" Pelan- pelan saja makannya, mbak!" ucap laki-laki itu. Wisnu masih fokus dengan baksonya sesekali menatap laki-laki itu penuh selidik.


" Saya boleh bergabung?" tanyanya dengan sopan. Namun mendapatkan tatapan tajam dari Wisnu seolah ada sorot mata Wisnu ada kecemburuan di sana.


" Apakah saya boleh ikut duduk di sini?" kembali laki-laki itu bertanya namun kali ini minta persetujuan dari Wisnu. Akhirnya Wisnu memberikan ijinnya karena bahasa dari laki-laki itu terhadap dirinya sangat menghargai dirinya.

__ADS_1


" Baiklah! Silahkan saja om!" sahut Wisnu masih dengan ekspresi datar.


Cukup lama mereka menikmati makanan dan minuman nya. Belum ada pembicaraan kembali. Namun mata mereka saling berbicara satu dengan yang lain. Setelah makanan Wisnu selesai dia eksekusi, akhirnya Wisnu lah yang mulai menginterogasi laki-laki itu.


" Apakah kami mengenal om? Atau mama ku sudah mengenal om?" tanya Wisnu penuh selidik.


Winda dan laki-laki itu akhirnya saling pandang. Lalu laki-laki itulah yang angkat bicara.


"Om adalah rekan bisnis mama kamu, nak!" kata laki-laki itu memulai berbicara.


" Panggil aku Wisnu saja, om!" ucap Wisnu dengan gayanya yang cool.


Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah Wisnu yang terlihat posesif dengan mama nya.


" Benarkah? Mama mengenal om ini?" tanya Wisnu kepada mamanya yang penuh selidik.


" Baru kenal kemarin lusa waktu acara makan- makan di rumah kakek Hartono." jawab Winda masih berusaha menghabiskan es teler nya.


Wisnu mulai manggut-manggut lalu melihat Winda dan laki-laki itu secara bergantian.


" Panggil saja aku, om Haidar!" kata laki-laki itu kepada Wisnu.


" Baiklah om Haidar! Aku sudah selesai makan. Om Haidar makan dan minum apa, biar aku yang bayarin." kata Wisnu dengan lagak bos nya.


" Apa?" kata Winda terkejut dengan gaya Wisnu yang ingin mendominasi. Tidak kalah terkejutnya Haidar melihat sikap dan perilaku anak kecil di dekatnya itu. Namun senyumnya akhirnya mengembang melihat ke arah Wisnu.


" Jangan menolak yah om. Kalau om sudah ingin bergabung di kursi kami, itu berarti om menerima kalau dibayari atau ditraktir oleh kami. Atau om memang sengaja ingin dibayari oleh kami, karena dompet om tertinggal di dalam mobil atau rumah?" kata Wisnu ceplas-ceplos.


" Eh, astaga Wisnu sayang!" protes Winda rasanya ingin menggigit pipi Wisnu saat itu juga. Namun Haidar malah terkekeh melihat tingkah lucu Windu yang menampakkan sisi sebagai bos dan sangat posesif nya.


" Baiklah! Lain kali giliran om yang mentraktir kalian yah!" ucap Haidar dengan lembut.


" Oke! Aku akan membayar ini semua." kata Wisnu sambil melangkah ke kasir hendak meninggalkan mereka berdua.


" Eh iya om! Titip jagain mama aku dulu, om!" tambah Wisnu dengan ekspresi datar.


Winda tersenyum geli melihat tingkah lucu putranya sedangkan Haidar terkekeh tidak henti- henti nya melihat kelucuan sikap dari Wisnu.

__ADS_1


" Maafkan sikap Wisnu, mas. Dia mungkin kurang sopan dengan mas!" kata Winda akhirnya.


" Tidak masalah! Aku sangat menyukai anak, mbak." sahut Haidar dengan lembut.


__ADS_2