Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 ( EPISODE 33)


__ADS_3

Setiap penyakit ada obatnya. Setiap masalah ada jalan penyelesaian. Tetap sabar, berusaha dan terus berdoa. Entah doa itu masih ditangguhkan atau akan disegerakan. Namun selalu berbuat kebaikan dan berprasangka baiklah kepada Nya. Supaya kita mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati. Ikhlas akan ketentuannya baik jodoh, rejeki maupun maut.


*******


Pagi itu Wardhana duduk di depan rumahnya. Ditemani anaknya Arsyil, Siwa dan juga Dahlia. Sengaja Siwa dan Dahlia datang pagi- pagi untuk mengurus papa nya. Mereka ingin memberikan semangat kepada papa nya untuk lebih cepat pulih dari penyakit stroke nya. Papa Wardhana di duduk kan di kursi roda sambil sengaja berjemur dibawah sinar matahari pagi. Ketiga anak- anaknya Wardhana ikut menemani Wardhana di pagi itu. Dengan sedikit candaan dan cerita ringan supaya papanya bisa ikut mendengarnya. Wardhana sesekali tersenyum dan kadang terkekeh sampai berguncang bahunya karena mendengar cerita lucu dari anak-anak nya yang saling bercerita dan bercanda. Kebetulan hari itu adalah hari libur, jadi mereka tidak bersekolah.


Dari depan pintu rumah itu Rosiana datang sambil membawa minuman hangat dan camilan. Arsyil segera bergegas mendatangi mama nya itu yang kini sudah di teras rumah meletakkan minuman dan camilan itu di atas meja.


" Mas Siwa, Mbak Dahlia, ayo kita cicipi donat buatan mama aku." kata Arsyil sedikit berteriak. Dahlia dan Siwa duduk menuju teras rumah itu. Sedangkan Rosiana kini menemani suaminya yang sedang berjemur dibawah sinar matahari.


Wardhana sesekali tersenyum melihat anaknya bisa rukun walaupun antara Dahlia dengan Arsyil beda mama. Apalagi dengan Rosiana, dirinya merasa beruntung memiliki anak tiri seperti Dahlia yang menyayangi Arsyil, adiknya dan Siwa, kakaknya. Rosiana melihat suaminya pun ikut tersenyum melihat kebersamaan anaknya dan tumbuh besar dengan rukun. Walaupun sampai saat ini, Sarwenda masih belum pernah sekalipun mendatangi Wardhana ketika jatuh sakit dan mengalami stroke itu. Namun dengan seringnya Siwa dan Dahlia datang dan berkunjung di rumah itu, membuat lega hati Wardhana dan Rosiana. Itu sudah cukup membuat bahagia Wardhana karena dikelilingi oleh anak-anak nya yang masih memperhatikan dirinya.


" Pasti kamu bahagiakan, mas? Ketika melihat anak-anak kamu bisa rukun seperti itu?" ucap Rosiana sambil memberikan minuman coklat hangat ke mulut Wardhana dengan pipet. Wardhana tersenyum dan mengangguk pelan.


" Makan buburnya yah, mas!" kata Rosiana sambil menyuapi bubur yang kini sudah ditangan nya. Wardhana dengan patuh membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya yang cantik.


" Terimakasih banyak, Rosiana! Kamu masih sabar mendampingi aku ketika aku dalam kepayahan dan ketidakberdayaan ini." ucap Wardhana pelan. Kalimat yang diucapkan nya sudah semakin jelas tidak lagi diseret seperti dulu. Keadaan Wardhana sudah semakin membaik. Wardhana tidak rewel dan selalu menuruti semua dari usaha- usaha istri dan anak-anaknya supaya dirinya cepat pulih. Dari pengobatan alternatif maupun pengobatan medis tetap dijalaninya. Setiap hari dirinya mengikuti apa kata istri dan anaknya ketika harus berjemur dan dilatih untuk berjalan dan menggerakkan anggota badannya yang kaku. Sehingga pelan- pelan Wardhana bisa berjalan dan bergerak sendiri walaupun tetap masih diawasi oleh istri dan anak- anaknya.


Wardhana bersyukur memiliki istri seperti Rosiana dan juga ketiga anaknya yang ikut memperhatikan dan menyayangi dirinya ketika sakit stroke itu dan sepenuhnya tergantung pada mereka.


" Mama, biar aku yang menyuapi papa." kata Dahlia. Rosiana memberikan piring yang berisikan bubur itu kepada Dahlia.

__ADS_1


" Terima kasih, Dahlia! Kamu memang anak yang baik. Kalau begitu, mama ijin mengerjakan kerjaan rumah yang lain, boleh?" kata Rosiana. Dahlia tersenyum mempersilahkan mama tirinya itu meninggalkan papanya dan juga dirinya.


Siwa dan Arsyil kini duduk di teras rumah sambil menikmati minuman hangat dan donat buatan mama Rosiana.


" Bukankah itu mobil mama Sarwenda!" kata Arsyil. Siwa memastikannya.


" Iya, benar!" sahut Siwa. Mobil milik Sarwenda kini berhenti di depan rumah itu dan diparkir kan di sana. Sarwenda turun dari mobil itu dan berjalan ke rumah Rosiana. Dahlia yang juga melihat mamanya tiba-tiba datang hanya bisa melongo. Dahlia khawatir dan takut jika mamanya akan bertingkah aneh- aneh kepada papa Wardhana maupun Rosiana.


" Mama!" sebut Dahlia pelan yang saat ini mamanya sudah di dekatnya bersama Wardhana yang masih di kursi roda.


Wardhana menatap Sarwenda dengan mata berkaca. Wardhana ingin berucap namun bibirnya bergetar hebat. Rasanya sulit untuk berkata ketika Sarwenda tiba-tiba datang. Ini membuatnya bahagia dan juga penuh kejutan.


" Terima kasih sudah mau datang ke rumah ini." kata Wardhana pelan. Namun Sarwenda masih diam dan melihat kondisi Wardhana saat ini.


" Apakah kamu sudah cukup baik, mas?" kata Sarwenda berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.


" Ini sudah jauh lebih baik. Semua ini karena perhatian anak-anak yang selalu menyayangi aku." sahut Wardhana.


" Aku minta maaf, Sarwenda. Kesalahan aku di masa lalu mungkin saja membuat kamu membenciku." kata Wardhana. Sarwenda tersenyum getir.


" Itu sudah terjadi. Tidak usah diungkit kembali, mas! Maaf aku pun baru bisa datang sekarang." ucap Sarwenda. Wardhana tersenyum dan bernafas lega.

__ADS_1


" Kedatangan kamu saat ini sudah lama aku nanti. Maaf dan ampunan kamu itu yang aku harapkan juga. Terimakasih banyak kamu meluangkan waktu kamu saat ini." kata Wardhana. Sarwenda tersenyum berusaha menyembunyikan matanya yang kini mulai berkaca. Bagaimana pun juga laki-laki yang saat ini duduk di kursi roda ini, dulu adalah suaminya dan pernah membuat warna indah dalam kehidupan nya. Betapa hatinya juga tidak tega melihat laki-laki yang dulunya kuat dan gagah, kini masih dibantu dengan kursi roda atau berjalan masih tertatih-tatih seperti anak balita yang baru belajar berjalan.


Ketiga anaknya, Siwa, Dahlia dan juga Arsyil pelan- pelan masuk ke dalam rumah. Mereka cukup lega melihat mama Sarwenda berdamai dengan papa Wardhana. Senyum bahagia terlihat dari Siwa, Dahlia dan juga Arsyil. Bagi mereka tidak perlu lagi menyimpan dendam maupun kebencian. Berdamai dan bersahabat dengan masalah dan juga orang-orang yang membuat kecewa akan lebih membuat hati tenang.


" Matahari sudah mulai panas. Kita pindah di teras saja yah, mas!" ucap Sarwenda lalu mendorong kursi roda itu menuju depan teras rumah itu. Betapa Wardhana sangat terharu akan perbuatan Sarwenda yang dengan tulusnya mendorong kursi rodanya ke teras rumah itu. Bagi Wardhana walaupun itu adalah hal kecil, namun seperti bentuk perhatian yang besar untuk dirinya yang masih tergantung dengan orang di dekat nya.


Wardhana menangis. Air matanya tumpah. Rasanya dia saat ini sangat cengeng semenjak mengalami sakit ini.


" Kenapa kamu menangis, mas?" tanya Sarwenda sambil mengusap air mata Wardhana yang jatuh di ujung matanya. Sarwenda ikut berkaca matanya. Sungguh dirinya tidak akan sanggup jika melihat seorang laki-laki menangis seperti itu.


" Aku bahagia, kamu memaafkan aku setelah apa yang sudah aku lakukan terhadap kamu." ucap Wardhana pelan. Sarwenda mengusap air mata itu.


" Apakah kamu juga menangis, Sarwenda?" tanya Wardhana tangan kanannya berusaha menghapus air mata Sarwenda yang mulai jatuh itu. Sarwenda berusaha tersenyum.


" Kamu cepat lah pulih, mas! Aku ingin melihat kamu seperti dulu. Wardhana yang jarang sakit dan bisa berjalan dan berdiri sendiri." kata Sarwenda lirih. Wardhana terdiam dan tersenyum. Wardhana mulai berdiri dari kursi roda nya.


" Kamu lihat! Aku sudah bisa berdiri. Bahkan aku juga sudah bisa berjalan kembali, kok. Kamu tidak perlu menangis. Lihatlah!" kata Wardhana sambil memperagakan kalau dirinya bisa berdiri dan berjalan, walaupun masih tertatih-tatih seperti anak balita yang baru belajar berjalan. Ketiga anak nya yang melihat dari dalam hanya ikut terharu dan ikut menitihkan air matanya. Semangat itu tidak pernah luntur untuk kembali pulih dan sehat. Karena ada Anak-anak dan juga istrinya yang selalu membantu dan memberikan semangat bagi Wardhana untuk bisa kembali seperti dulu.


Sarwenda menitihkan air matanya. Sungguh, dia tidak akan tega jika mengingat kondisi Wardhana dulu dengan sekarang yang jauh berbeda.


Namun memang setiap orang akan diuji dengan berbagai bentuk-bentuk permasalahan. Baik dengan mengalami kesakitan, kemiskinan, ataupun masalah keluarga nya. Lalui semuanya dengan sabar dan tanpa berkeluh kesah. Semoga dengan ujian itu, akan gugur segala dosa maupun kesalahan yang sudah kita perbuat di masa yang lalu.

__ADS_1


(Terimakasih buat reader yang setia mengikuti cerita ini. I love you, semilyar buat bunda- bunda yah.😘😘🥰😍. Tetap jaga kesehatan dan pola makan yah!)


__ADS_2