Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SERUMAH?


__ADS_3

Semburat senja tiada lagi dinantikan indah. Semua menjadi tiada berwarna tatkala kecewa dalam rasa yang lunglai pasrah. Berganti malam kelam,hitam dalam sunyi senyap tak bercahaya. Walau titik dalam nya tidak ada arah. Bintang - bintang mulai meredup ketika semangat langkah tiada kuasa di tapak kan. Pikir yang mulai putus asa hanya diam dan pasrah akan situasi yang ada. Menjalani dan melalui yang sudah terjadi. Berusaha tersenyum menunjukkan gigi yang putih bersih.


Ambillah tangan ini! Raihlah jemariku ini agar kuat aku dalam melalui jalan yang berdiri. Aku masih perlu kamu, seperti sang fajar yang menantikan mentari. Aku perlu cahaya itu, agar hangat dalam kebekuan hatiku. Aku perlu sinar mu sebagai petunjuk jalan langkahku.



Jingga masih kutunggu dalam senja. Harapan disana agar semua masalah terkikis dalam tawa senyummu. Semangat baru karena lembar cerita baru. Harus dibuat sebahagia mungkin, karena hidup tidak melulu tentang kamu. Masih ada semangat yang memberi kekuatan baru. Buah hati ini akan mendorong hidupku lebih berarti. Sebagai wanita yang tegak berdiri tanpa terus menerus meratapi nasib.


*******


" Hai Winda! Mikirin apa lagi?" tanya Galuh yang sore itu bertandang di rumah kediaman Pak Hartono dan berada di taman belakang rumah.


Suara gemericik air kolam di taman mewarnai mereka dalam duduk santai di bangku kayu. Troli bayi milik Wisnu pun ada di sebelah Winda dan Galuh. Percakapan santai tapi ada keluhan yang masih belum di ungkap. Dari se raut wajah Winda yang menyiratkan sedih dan juga tekanan.


" Tidak ada! Aku hanya sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah ini." jawab Winda sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


Galuh mulai melihat sosok Sarwenda yang mulai sibuk mengatur orang asisten rumah tangga di kediaman keluarga Pak Hartono. Sikap Sarwenda yang mulai menguasai dan mengatur segalanya. Galuh menarik nafas kasarnya yang melihat Sarwenda dengan suka hati memerintah Mbak Ita dan beberapa pembantu di rumah itu.


" Ini gorden harus di ganti, aku tidak mau warna ini. Ini sudah cukup ketinggalan zaman dengan model saat ini." kata Sarwenda yang menyuruh beberapa asisten rumah tangga di rumah itu dengan gaya bicara nya yang keras.


Beberapa orang mengangkat tempat tidur spring bed dari kamar yang di tempati oleh Sarwenda. Lalu meletakkan ke belakang di gudang.


Galuh dan Winda diam menyaksikan itu semua.


" Kenapa pak? Bukankah masih bagus tempat tidur itu pak? Kenapa di bawa ke gudang?" tanya Galuh usil.


" Nona Sarwenda menginginkan tempat tidur yang baru. Ini kurang empuk katanya." jawab Pak Toni sambil mengangkut tempat tidur itu bersama dua orang lainnya.


Pak Toni adalah tukang kebun di rumah kediaman keluarga Pak Hartono.


" Astaga! Baru beberapa hari dia di rumah ini, sudah mulai bertingkah. Bikin eneg juga." sahut Galuh pelan.


" Minumlah air hangat, kalau kamu eneg Galuh!" ujar Winda sambil tersenyum.


Galuh hanya menatap Winda dengan melotot saja.


" Kamu! Kenapa bisa masih bertahan dengan situasi seperti ini sih?" tanya Galuh.


" Bukan begitu! Aku pun juga ingin dan sudah tidak sabaran untuk segera pindah di rumah baru, Galuh!" ucap Winda.


" Oh begitu yah! Kapan mulai pindahnya?" tanya Galuh.

__ADS_1


" Lusa! Iya insyaallah lusa. Bantu aku beres- beres semua nya, Galuh." kata Winda sambil tersenyum.


" Tentu! Aku akan membantu kamu!" sahut Galuh sambil meraih tangan milik Winda.


" Semoga kamu kuat dengan segala permasalahan ini ya, Winda. Aku adalah sahabat kamu. Aku tidak ingin kamu dianiaya seperti ini." kata Galuh.


" Dianiaya gimana?" kata Winda sambil terkekeh.


" Hati kamu yang teraniaya." ucap Galuh.


Dan Winda hanya menunjukkan senyuman yang terlihat dipaksakan.


" Awas dengan barang - barang milik aku. Itu barang mahal dan bermerek semua. Gaji galian sebulan tidak akan sanggup untuk membeli nya." kata Sarwenda dengan suara keras yang memenuhi ruangan tengah itu.


Galuh kembali menarik nafasnya dalam-dalam sambil melihat ke arah Winda. Winda hanya memainkan ponselnya, asyik dan fokus membaca novel di aplikasi ponselnya. Sedangkan Wisnu masih di troli bayi dorong sesekali ada suara ocehan nya yang mulai nyaring. Galuh sesekali bermain dan menyapa Wisnu yang masih bisa tiduran itu.


" Winda! Kamu lapar tidak?" tanya Galuh.


" Kamu ingin makan, Luh?" tanya Winda malah balik bertanya.


" Bagaimana kalau kita keluar yuk! Jalan - jalan di sekitar perumahan ini. Mumpung masih sore." ajak Galuh kepada Winda.


" Di sekitar sini, paling ada mie ayam, bakso, cemilan pangsit pedas. Jarang aku jalan - jalan di sekitar sini." kata Winda.


" Hahaha! Memang benar! Aku di rumah terus, sesekali pergi dengan mama atau Intan ke mall saja. Demikian juga dengan Mas Surya." jawab Winda sambil nyengir.


" Pantas saja! Kamu kurang energi Yin dan Yan, energi positif dari sinar matahari dan alam ini." sahut Galuh sambil terkekeh.


" Hahaha! Benar juga katamu. Ayolah! Sebentar aku ambil dompetku di kamar dulu. Kamu dorong Wisnu keluar yah!" suruh Winda.


" Siap!" sahut Galuh.


Winda mulai mengambil dompet nya di kamar dan sesegera menyusul Galuh yang mulai keluar menuju halaman rumah. Di sana tentu saja bertemu dengan Sarwenda.


" Mau kemana? Aku ikut boleh tidak?" tanya Sarwenda.


" Tidak boleh!" jawab Galuh tegas dan sinis.


Kini mata Sarwenda seperti memohon ke arah Winda. Winda hanya memalingkan wajahnya sambil berjalan.


" Winda! Aku boleh ikut tidak?" tanya Sarwenda lagi.

__ADS_1


" Kami jalan kaki loh! Nanti kaki kamu lecet-lecet." jawab Winda sekena nya.


" Tidak! Aku sudah biasa jalan kaki kok. Lagi pula aku kan sedang hamil anaknya Mas Surya. Jadi aku harus sehat dan perlu olahraga yang cukup bukan? Supaya bayi dalam kandungan ku ini bisa berkembang lebih baik." kata Sarwenda sambil mengusap perut nya yang belum membuncit.


" Tidak usah! Kami ingin berdua saja. Kami ingin bernafas dengan lega. Adanya kamu, bikin sesak dan mual perut kami." sahut Galuh tanpa basa-basi.


Sarwenda hanya diam sambil melotot ke arah Galuh.


" Kalau bukan di rumah Pak Hartono sudah ku remas mulut kamu, Gadis binal." keluh Sarwenda dalam hati.


" Ayo Winda! Tidak usah menghiraukan wanita pelakor ini. Energinya bikin mau nyiram dengan air keras saja, biar melepuh. Supaya dia tidak bisa membedakan antara hidung dan mulutnya karena mukanya jadi rata." ucap Galuh tanpa perasaan.


" Galuh! Ayolah! Jangan ribut! Nanti aku malah kena ceramah dengan mama, kalau dia mengadu." bisik Winda.


" Apa? Berani mengadu? Ku kuncir mulutnya dengan gelang karet warna merah dobel dua, kalau berani ngadu - ngadu gitu." Imel Galuh sambil mendorong troli bayi Wisnu.


Winda mengikuti Galuh keluar dari gerbang sambil tersenyum ke arah Sarwenda.


" Kami pergi sebentar saja kok, Mbak Sarwenda." kata Winda dengan suara keras sambil melambaikan tangan nya.


" Yah Winda! Kamu jahat sekali!" ucap Sarwenda.


********


" Jadi apa yang kamu ketahui dari Surya, Pak Koko?" tanya Bu Hartini penuh selidik kepada Pak Koko yang duduk di depan nya.


Di dalam mobilnya Bu Hartini, ada Intan, Pak Koko dan juga Bu Hartini sendiri. Mereka memang sengaja mengajak Pak Koko untuk berbelanja bulanan sekaligus ingin mengintrogasi sopir pribadi Surya. Iya hari ini Surya berangkat ke kantor nya tanpa sopir pribadinya. Sengaja mamanya meminta Pak Koko untuk mengantarnya berbelanja hari ini. Tentu saja Surya tidak akan menolak permintaan mama nya tersebut.


" Perihal apa nyonya?" tanya Pak Koko pura-pura bodoh.


" Soal hubungan nya dengan Sarwenda. Apakah waktu pernikahan sirinya, kamu ikut dan menyaksikan semuanya? Dan apa penyebab utama, Surya bisa menikahi Sarwenda? Dari dulu Surya tidak menyukai Sarwenda. Kalau ingin sudah dari dulu, Surya menerima perjodohan itu dan tidak menikahi Winda, pilihan nya." tanya Bu Hartini yang panjang dan lebar.


Pak Koko mulai gelagapan dengan bertubi - tubi pertanyaan dari majikannya.


" Sebenarnya berawal dari malam itu nyonya. Seperti nya, Mas Surya di jebak oleh Non Sarwenda sehingga mabuk dan tidak bisa pulang ke rumah. Waktu itu saya menunggu di teras rumah non Sarwenda sampai akhirnya saya pun tidur di sana." cerita Pak Koko memulai cerita semuanya.


" Sudah aku tebak! Berawal dari tidak ingin mencicipi makanan, lalu akhirnya ketagihan." sahut Bu Hartini akhirnya.


" Mama! Jadi enak makanan dari Sarwenda, ma?" tanya Intan bergurau sambil terkekeh.


Bu Hartini menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.

__ADS_1


" Baiklah! Kita jalan pulang dulu, Pak Koko. Nanti kita berhenti dan mampir di kafe, kita ngopi dulu di sana. Kita lanjutkan ceritanya dengan santai di sana." kata Bu Hartini akhirnya.


" Baik nyonya!" sahut Pak Koko sambil menjalankan mobilnya.


__ADS_2