Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
TERIMAKASIH


__ADS_3

Aku mencintai mu dengan sederhana. Aku menyukai kamu dengan apa adanya. Milikilah aku dan cintailah aku Dengan setulus jiwa.


" Terimakasih sayang! Untuk liburan nya." kata Winda sambil melingkarkan tangannya di kedua bahu suaminya itu, Surya.


Saat ini Surya tersenyum menatap wajah istrinya yang teduh. Tidak ada keraguan lagi saat ini untuk selalu berbagi kasih dengan wanita yang sudah memberikan satu buah hati ini.


" Akulah yang berterima kasih, sayang. Kamu sudah memaafkan aku dengan sepenuh hati. Aku janji, cinta ini tidak akan terpisah kan lagi, kecuali memang Tuhan menghendaki nyawaku di cabut duluan olehNya." ucap Surya.


" Mas! Serem sekali bicaranya. Jangan bicara soal ajal mas. Aku jadi takut!" sahut Winda sambil mempererat pelukannya.


" Ajal, rejeki, jodoh sudah tertulis dalam kitabNya, sayang. Apa yang harus ditakutkan. Kita manusia hidup hanya menunggu giliran itu. Kita hanya berusaha berbuat baik dan menabung dari amal kebaikan kita. Dari nilai-nilai kebaikan itu, kita bisa memasuki tiket syurga Nya." ucap Surya serius.


" Iya mas! Tapi aku takut, sangat takut jika aku kehilanganmu mas!" sahut Winda penuh dengan wajah kekhawatiran.


" Demikian juga aku, sayang. Aku pun sangat takut, jika kehilangan kamu." Aku tidak akan sanggup jika hidup tanpa adanya kamu." kata Surya yang mengandung rayuan maut.


" Rayuan kamu, bikin aku melayang loh mas!" sahut Winda.


" Ini tidak sekedar rayuan sayang!" kata Surya semakin memeluk tubuh Winda dengan erat dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


Suara pintu di kamar di ketuk. Surya dan Winda langsung tertuju pada suara Mbak Ita yang nyaring.


" Pak Surya, ada tamu di luar." suara nyaring Mbak Ita membahana.


" Iya mbak Ita. Suruh tunggu bentar!" teriak Surya tidak kalah nyaring.


" Kenapa harus teriak- teriak sih, sayang? Kan bisa dibuka pintunya dulu." kata Winda sambil menoel hidung suaminya yang mancung itu. Tidak seperti hidung miliknya, yang tertunda Mancung nya.😂 Tetapi bukan juga pesek loh.


" Sebenarnya aku ingin berlama-lama begini loh, sayang. Rasanya kita seperti pengantin baru lagi." kata Surya.


" Ya sudah! Coba siapa yang mencari Mas Surya di luar." ucap Winda sambil melepaskan pelukan Surya.


Surya dengan sangat berat melangkah kan kakinya ke ruang tamu. Winda mengikuti Surya dibelakang nya.


" Sayang, Aku ke kamar Wisnu dulu." kata Winda sambil nyengir.


" Baiklah!" sahut Surya sambil berjalan mendekati tamunya.


" Halo bro!" sapa Surya ceria.


" Halo! Adih yang habis bulan madu." goda tamu Surya dengan laki-laki bertubuh atletis dengan wajah gantengnya.


" Hahaha! Kamu kapan bulan madu lagi?" canda Surya dengan tawa nya.


" Entahlah! Lagi proses pendekatan. Hehe." jawab tamu itu yang tidak lain adalah Niga.

__ADS_1


" Jadi gimana dengan anak- anak kamu, Ga?" tanya Surya.


" Anakku ikut aku, Surya. Ini membuatku semakin bersemangat dalam menjalani hidup. Anakku lah yang paling memahami aku." cerita Niga.


" Dewasa sekali anak kamu, Ga." sahut Surya.


" Iya, seperti papa nya. Hehehe." kata Niga.


" Istri kamu dimana?" tambah Niga.


" Lagi bermain dengan anak kami." jawab Surya sambil tersenyum.


" Widih! Anak kami!" sindir Niga.


" Hahaha." Surya tertawa lepas.


" Kamu terlihat bahagia sekali, bro! Setelah liburan dengan istri kamu." ucap Niga.


" Iya, begitu lah! Bahagia itu ternyata sederhana. Ketika kita berusaha mensyukuri yang sudah ada tanpa memalingkan yang lain. Itu lebih indah dari apapun." ucap Surya sambil memberikan secangkir kopi yang diberikan Mbak Ita kepada Niga.


" Terima kasih mbak Ita." imbuh Surya.


" Iya Pak sama- sama." sahut Mbak Ita.


" Di minum Ga!" suruh Surya.


Sesuai anjuran Surya, saat membuat kopi hitam itu kopinya ikut direbus dengan air yang panas dan menggelegak. Sehingga terciptalah aroma kopi yang khas. Ini membuat si penikmat kopi menjadi ketagihan untuk selalu menikmati kopi ini.


" Hem! Benar- benar mantab!" kata Niga sambil tersenyum.


" Nyalakan rokok kamu!" ujar Surya.


" Tidak apa-apa di ruangan ini kah?" tanya Niga.


" Tidak apa-apa!" jawab Surya.


Niga dan Surya mulai menyalakan rokok nya. Dengan kopi hitam itu semakin menambah kenikmatan tersendiri. Dua laki- laki itu sama- sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai beberapa hari mulailah perbincangan kecil yang bikin golak tawa diantara keduanya.


*******


" Wisnu sayang! Kangen sekali mama, nak!" kata Winda sambil mencubit pipi tembem milik Wisnu.


Wisnu dengan senyuman lebarnya dan suara tawa anak bayi yang bikin gemas.


" Selama aku pergi, ada rewel gak Wisnu?" tanya Winda kepada baby sitter nya Wisnu.

__ADS_1


" Aman non. Tidak ada masalah. Wisnu tetap ceria dan lancar mimik susu asi yang di simpan." cerita baby sitter nya.


Dalam hal ini Winda selalu menyediakan kantong- kantong Asi nya di fresser. Sebelum di minum kan, kantong Asi itu di rendam dengan air hangat saja baru bisa di konsumsi oleh Wisnu. Jadi ketika Winda kerja atau bepergian tidak akan bingung dan Asi selalu ada di stok penyimpanan lemari es nya. Tiap kantong- kantong Asi itu di beri tanggal ketika Pump atau pemompaan Asi nya. Baby sitter kan memberikan terlebih dahulu Asi dengan tanggal yang lama sebelum yang lebih baru di Pump.


Suara lagu di ponselnya Winda berbunyi. Winda segera mengangkat panggilan masuk itu. Ada nama Galuh tertera dalam panggilan masuk itu.


" Halo cantik!" sapa Winda ceria.


" Duh, yang habis bersenang- senang!" sindir Galuh diseberang sana.


" Hehe! Badanku pegel semua. Aku mau pijit nih. Bisa anterin aku gak?" tanya Winda.


" Nyonya muda nih sukanya repot saja. Panggil saja tukang pijit ke rumah kamu. Tapi gak apalah, aku ke rumah kamu bentar lagi. Aku mau ajak kamu jalan." kata Galuh.


" Kemana? Tapi aku lagi malas jalan- jalan loh. Cuapek banget badan aku, Luh!" ungkap Winda.


" Iya, aku paham. Cuma sebentar doang loh. Nanti aku kasih tukang pijit yang paling enak, langganan aku." kata Galuh.


" Baiklah! Aku tunggu yah!" ucap Winda.


" Otw, sayang!" sahut Galuh dengan semangat.


Baby sitter nya Wisnu hanya tersenyum dan menyimak percakapan majikannya.


" Senang yah, non punya sahabat yang tulus." kata baby sitter berusaha akrab dengan majikannya.


" Eh iya, mbak. Syukurlah!" kata Winda singkat.


" Mbak titip Wisnu yah, aku mau siap- siap." ucap Winda sambil tersenyum dan keluar dari kamar Wisnu setelah mencium pipi chubby milik Wisnu dengan gemas.


*******


Jodoh itu tidak akan kemana. Terkadang apa yang kita inginkan sering kali luput dari genggaman. Tetapi yang tidak kita harapkan malah datang tanpa rencana. Mungkin saja baik menurut penilaian kita tetapi belum tentu baik menurut penilaian Tuhan untuk kita. Sekian lama menjalin hubungan lewat pacaran pun terkadang terhenti di tengah jalan dan tidak sampai ke pelaminan. Seseorang yang kita cinta pun belum tentu menjadi milik kita. Lalu apakah kita cukup berdiam saja menunggu, jika semua sudah digariskan olehNya? Tentu saja tidak bukan? Harus ada usaha dalam setiap langkah dari tujuan kita, walaupun hasilnya dan kita menuai belakangan.


" Assalammualaikum!" Galuh memberi salam.


Seketika mata Niga dan Surya tertuju pada Galuh. Surya mulai nyengir, sambil melirik reaksi dari Niga. Tetapi Surya tetap pura-pura tidak tahu kalau sebenarnya wanita yang di incer Oleh Niga adalah Galuh, sahabat istrinya itu


" Waalaikum salam!" jawab Surya dan Niga serempak.


" Winda ada di kamarnya kok." ucap Surya yang melihat Galuh spontan gugup melihat ada Niga di ruangan itu.


" Oh iya! Saya langsung ke kamar Winda saja, Surya!" kata Galuh gugup sambil berjalan cepat menjauh dari ruangan itu.


" Haha! Hai bro! Ada apa?" tanya Surya pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, Bro! Sampai dimana obrolan kita tadi." sahut Niga berusaha mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2