Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 19)


__ADS_3

Di rumah pribadi Haidar. Saat ini Haidar dan Winda sudah bersiap- siap hendak ke rumah ayah dan bunda Haidar, atau ke tempat mertua Winda. Haidar sudah menunggu Winda sedang berdandan di ruangan tengah. Sambil menunggu Winda bersiap dan berdandan, Haidar masih menikmati secangkir kopi hitam buatan bibi pembantu rumah tangga di rumah itu. Haidar sesekali membuka ponselnya karena ada pesan masuk dari bundanya untuk memastikan kembali untuk datang ke rumah orang tuanya tersebut. Tentu saja, kedua orang tuanya merasa kesepian setelah Haidar pindah dari rumah mereka. Haidar adalah anak tunggal dan pasti sangat kesepian ketika Haidar memutuskan pindah ke rumah barunya.


Sudah hampir satu jam, Winda berdandan dan tidak juga keluar dari kamarnya. Haidar menjadi penasaran akan istri tercintanya itu, tumben lama sekali berdandan nya. Haidar akhirnya masuk kembali ke dalam kamarnya.


" Sayang!" panggil Haidar setelah masuk ke kamarnya. Winda menoleh ke arah Haidar dan tersenyum kepadanya. Winda menyembunyikan benda kecil itu dari Haidar.


" Lama sekali sih, dandannya sic yank! Hampir satu jam aku nungguin nya loh!" ucap Haidar. Winda malah melingkarkan kedua tangannya ke pundak Haidar. Haidar malah semakin gemas dan mengecup lembut dahi lalu turun ke bibir tipis milik Winda.


" Aku ada kabar yang menggembirakan, mas!" kata Winda.


" Apa itu, hemm?" sahut Haidar sambil tetap mesra dengan Winda dan kembali mencium pipi kanan dan kiri milik Winda yang mulai chubby.


" Nanti saja lah kalau di rumah bunda dan ayah." kata Winda akhirnya lalu melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi manja bergelayut di leher Haidar.


" Sekarang saja yak! Aku penasaran loh!" kata Haidar malah kini giliran Haidar memeluk pinggang Winda dan kembali rapat dan dekat tubuh suami istri itu.


" Nanti saja lah! Biar surprise!" kata Winda sambil tersenyum.


" Kalau gak bilang sekarang, apa harus aku buat kamu tidak berdaya seperti semalam, hemm? Ayo katakan!" ancam Haidar nakal.


" Mas, selalu gitu deh ancamannya!" sahut Winda dengan manyun bibirnya.

__ADS_1


" Ayo katakan atau...." kata Haidar sambil meraup bibir mungil itu sampai Winda melotot matanya.


Winda sedikit mendorong wajah Haidar supaya ciuman liar Haidar bisa terhentikan. Kalau tidak? Laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu akan membawanya ke dunia yang penuh peluh keringat karena kepanasan dalam permainan nakalnya.


" Iya, iya aku akan mengatakannya. Eh aku akan menunjukkan sesuatu padamu, mas!" kata Winda lalu mengambil benda pipih, kecil itu dan diberikannya kepada Haidar.


Haidar lalu melihat dengan teliti benda kecil yang ditunjukkan oleh Winda. Garis dua berwarna merah terlihat jelas dan sangat jelas dari alat tes kehamilan itu. Haidar tersenyum dan bersyukur dalam hatinya. Haidar mencium Winda dari dahi, pipi dan bibir nya dengan lembut. Haidar kini bersujud sejenak dan dalam sujud nya, Haidar berucap pujian dan rasa syukur nya akan kehamilan Winda.


" Ya Tuhan! Terimakasih atas semua kepercayaan ini. Semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik dan amanah akan titipan dari Engkau Ya Tuhan Zat Pencipta dan Penguasa Alam Semesta." ucap Haidar begitu terharu. Winda yang mendengar ucapan pujian dan rasa syukur itu hanya diam, terharu betapa ini tidak disangka nya. Di usianya yang sudah berkepala empat, Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk mengandung. Tentu saja, Haidar sangat senang. Betapa tidak, Haidar menanti untuk menikahi Winda sampai bertahun-tahun itu kini impian dan harapan nya terkabulkan. Bahkan sekarang dirinya akan segera menjadi ayah.


" Sayang! Mulai sekarang, kamu harus hati- hati dan jangan capek- capek yah, yank! Nanti biar aku yang urus semua keperluan kamu." kata Haidar penuh kekhawatiran karena kehamilan Winda ini.


" Iya, mas! Sebenarnya aku tuh capek kalau sudah begituan dengan kamu. Kalau cuma satu trip saja tidak capek. Ini kadang-kadang kamu minta sampai dua, tiga kadang empat ronde dalam sehari." ucap Winda sambil manyun bibirnya. Haidar menjadi terkekeh. Haidar kembali memeluk istrinya tersebut dan menciumi nya.


" Mas! Ayo kita ke tempat bunda dan ayah! Sekalian jalan, aku ingin asinan mas!" kata Winda semangat.


" Tentu sayang! Pokoknya apa yang jadi keinginan kamu, pasti akan aku penuhi asal tidak membahayakan janin kita ini, yank! Ayah bunda pasti akan senang jika mengetahui kabar kehamilan ini. Mereka akan mendapatkan cucu dari anak kesayangannya." ucap Haidar bersemangat.


" Ayo!" ajak Winda.


Betapa bahagianya Haidar ketika mengetahuinya Winda hamil itu. Penantian dan harapan nya selama ini akhirnya dipenuhi oleh Tuhan. Pelan- pelan Haidar menjalankan mobilnya ke jalan menuju rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


" Kita mampir dulu periksa yah, Yank! Aku akan memastikan kalau kamu benar-benar hamil dan memastikan usia kehamilan kamu sudah berapa hari. Oke?" kata Haidar penuh semangat. Winda tersenyum sambil mengangguk pelan. Menyetujui semua yang dikatakan oleh suaminya.


Haidar benar-benar membawa Winda ke klinik kandungan, memastikan bahwa Winda benar-benar mengandung. Setelah sampai di klinik itu, Winda diperiksa oleh dokter spesialis kandungan. Dan ini benar-benar nyata dan benar kalau Winda saat ini sudah mengandung. Betapa Haidar kembali bahagia, apalagi Winda melihat suaminya begitu gembira ketika dirinya bisa hamil anaknya.


" Sayang! Kamu tadi sudah mendengar penjelasan dari dokternya bukan? Kamu tidak boleh stress dan harus banyak istirahat. Tidak boleh capek- capek. Pokoknya semua tugas rumah biar bibi yang pegang semua. Oke! " kata Haidar ketika mereka sudah keluar dari ruang pemeriksaan tadi.


" Heem, sayang!" sahut Winda. Haidar senyum- senyum sendiri membayangkan dirinya akan menjadi ayah dan menggendong anaknya yang masih kecil mungil.


" Wisnu akan aku kabari, yank!" kata Haidar penuh semangat.


" Nanti saja!" ucap Winda.


" Kenapa? Pasti Wisnu akan senang, mama nya hamil dan dia akan segera memiliki adik kecil." kata Haidar bersemangat.


" Nanti sajalah, kalau sudah tiba di rumah bunda dan ayah. Ayo, sekarang kamu jalankan dulu mobilnya. Bunda dan ayah pasti sudah menunggu kita. Dari tadi kita mampir- mampir saja loh! Dan lagian ini belum beli asinannya loh!" ucap Winda cemberut. Haidar terkekeh melihat istrinya manyun seperti itu.


" Apakah ibu hamil akan jadi mudah ngambek yah?" sahut Haidar sambil cekikikan.


" Mungkin saja! Kamu nanti harus sabar jika aku bisa tiba-tiba emosi tidak jelas yah, mas!" kata Winda sambil tersenyum.


" Tentu sayang!" sahut Haidar lalu menjalankan mobilnya kembali ke arah rumah Ayah dan bundanya.

__ADS_1


" Biar aku saja deh yang mengabari Wisnu, kalau aku hamil. Hehehe." kata Winda lalu mulai menghubungi Wisnu putranya.


SELAMAT YAH WINDA, KAMU BISA HAMIL DI USIA EMPAT PULUHAN.


__ADS_2