
Secerah mentari yang bersinar menyilaukan. Sejernih embun pagi yang tercipta di pucuk dedaunan. Hatiku haus dalam kasih sayang dan perhatian dari kasihmu. Jangan lagi membisu. Diam dalam keangkuhan ego dan gengsi mu. Ungkap kan dan curah kan segala rasamu. Jangan biarkan semua berlarut dan tenggelam dalam rasa rindu yang kian membuncah. Agar aku bisa mendengar segala manisnya rasa rindu yang terucap pelan. Aku disini masih selalu menunggu, menunggu datangnya senja yang jingga. Menghantarkan kehadiran mu dalam sentuhan hangat.
*******
"My queen! Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Bang Hendra di seberang sana melalui panggilan suara di aplikasi ponsel nya.
Winda yang sedang berduaan dan bermain dengan Wisnu di kamar menggenggam ponselnya dengan semangat karena panggilan suara dari sang pujaan hatinya.
" Lagi bermain dengan Wisnu nih. Sayang, ucapakan halo pada Om Hendra." ucap Winda penuh semangat.
" Halo!" ucap Wisnu dengan logat anak balita yang lucu.
" Hehe. Abang sudah makan?" tambah Winda akhirnya.
" Sudah sayang! Tadi sudah makan bareng-bareng dengan mama papa di rumah. Kamu masih di tempat mama mertua kamu, yank?" tanya Bang Hendra.
" Huum, Sebentar lagi saya juga balik bersama Intan." jawab Winda.
" Aku jemput kamu saja, gimana? Kamu tidak ingin berjumpa dengan mama papa mertua kamu yang baru?" tanya Bang Hendra.
" Siapa?" tanya Winda menggoda.
" Mama dan papa aku dong, sayang!" jawab Bang Hendra.
" Sekarang? Ajak Wisnu boleh tidak?" tanya Winda.
" Tentu saja boleh, sayang! Anak kamu, anak aku juga kan?" jawab Bang Hendra.
" Benarkah? Saya ingin lihat, bagaimana cara dan sikap abang dalam menghadapi anak kecil seperti Wisnu." kata Winda.
" Kamu terlalu meremehkan aku, Winda sayang!" sahut Bang Hendra.
" Eh tidak! Tidak begitu. Hanya saja saya belum pernah melihat abang akrab dengan Wisnu." keluh Winda.
" Belum ada kesempatan untuk aku lebih mengenal Wisnu, bukan? Di kantor, kamu juga gak mungkin membawa Wisnu dan ketika aku bersandang ke rumah kamu, Wisnu lagi tidur atau bermain dengan pengasuh Wisnu." alasan Bang Hendra.
" Iya deh! Abang mau jemput kemari jam berapa? Intan lagi Bermanja-manja dengan mama nya. Oh iya, Bang! Tadi mama nanyain, abang." kata Winda.
" Lalu?" tanya Bang Hendra.
" Iya, lantas kapan abang mau berjumpa dengan mama dan papa mertua saya." tanya Winda.
" Apakah itu harus, sayang?" tanya Bang Hendra malah menggoda.
" Tuh kan, abang ini! Katanya ingin menjumpai mama dan papa mertua saya. Beliau itu sudah menjadi mama papa saya juga selain ibu dan ayah kandung saya sendiri." kata Winda sedikit mengeluh.
__ADS_1
" Hehehe, iya sayang. Begitu saja, ngambek loh." sahut Bang Hendra.
" My queen! Aku Otw ke sana yah sayang." imbuh Bang Hendra akhirnya.
" Baiklah! Saya tunggu, my king!" sahut Winda semangat.
" Tunggu! Ada yang terlupa!" ucap Bang Hendra yang bikin terkejut Winda.
" Apaan sih? tanya Winda.
" Jangan pura-pura lupa!" sahut Bang Hendra.
" Apa lagi sih?" tanya Winda lagi.
" Ayolah cepetan! Aku segera menjemput kamu sayang! Ayo katakan!" jawab Bang Hendra sambil merengek.
" Hehehe, dasar abang!" sahut Winda terkekeh.
" I miss you, abang!" tambah Winda pelan.
" Aku tidak dengar." kata Bang Hendra.
" Ya ampun!" kata Winda sambil menghela nafas panjang.
" I miss you, abang Hendra yang ganteng, yang baik sedunia." tambah Winda.
*******
" Jadi, ini namanya Wisnu? Ganteng nya!" kata Bu Sundari kepada Winda.
Saat ini Winda dan Wisnu sudah berada di rumah Bang Hendra setelah Bang Hendra menjemput Winda di rumah kediaman rumah Pak Hartono. Saat Winda pergi di jemput Bang Hendra berpamitan terlebih dahulu dengan Bu Hartini dan berjumpa dengan Intan. Intan hendak bermalam di rumah keluarga besarnya, sejenak menghilangkan kegundahan dan kesepiannya.
Pak Suyatno, hanya diam dan sedikit tersenyum melihat mama muda yang bersama putra kecilnya yang mungil. Sesekali mencuri pandang ke arah Hendra yang seperti selayaknya laki-laki dewasa yang sudah siap menjadi suami dan kepala rumah tangga.
Winda tersenyum sambil memangku Wisnu. Akhirnya Hendra pun meraih Wisnu agar berada di pangkuannya. Ada tekat untuk berusaha dekat dan akrab dengan Wisnu.
" Ayo sama om Hendra!" kata Bang Hendra bersikap ramah dan lembut supaya Wisnu bisa cepat dekat dan akrab dengan nya.
" Kok om, sih? Papa Hendra, itu yang benar." sahut Galuh yang ikut nimbrung di sana sambil terkekeh melirik Winda.
Winda pun melirik secara bergantian ke arah Hendra dan Bu Sundari juga Pak Suyatno.
"Hahaha, memang nya aku salah, Win? Eh, Mbak Winda? Mulai saat ini aku panggil kamu Mbak Winda dong. Hehehe." kekeh Galuh menggoda.
" Widih!" sahut Winda sambil mencubit pinggang Galuh.
" Jadi, Kira-kira kapan mama dan papa bisa berkenalan dengan mama papa Winda, Hen?" tanya Bu Sundari sambil melirik ke arah suaminya Pak Suyatno.
__ADS_1
" Bagaimana Win?" tanya Bang Hendra kepada Winda.
" Terserah, Bang Hendra saja. Siap nya kapan?" jawab Winda sambil tersenyum.
" Minggu depan saja, ma! Saya coba bersilaturahmi terlebih dahulu dengan mama papa, Winda terlebih dahulu sebelum pembicaraan serius perihal pernikahan ini. Bukankah begitu, Win?" kata Bang Hendra.
" Iya Bang!" sahut Winda.
" Bagaimana ayah dan bunda kamu, Win? Aku juga perlu minta ijin dan restu kepada mereka dong." kata Bang Hendra.
" Iyalah nak Winda, ayah dan bunda kamu harus mengetahui perihal keseriusan Hendra uang ingin segera meminang kamu." sahut Pak Suyatno serius.
" Papa, benar sekali!" sahut Galuh menimpali.
" Benar, om! Ayah dan Bunda sudah saya beritahu soal ini dari jauh- jauh hari, om. Bahwasanya Bang Hendra serius ingin menikah dengan saya." kata Winda serius.
" Lalu, bagaimana tanggapan mereka, nak?" tanya Bu Sundari.
" Ayah dan Bunda selalu mendukung segala keputusan yang saya ambil. Selagi saya bisa bahagia dengan pilihan hidup saya, mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan kami, tante." jawab Winda dengan ramah.
" Oh iya, Winda. Rubah panggilan om dan tante untuk mama papa aku, yah. Panggil mereka mama dan papa dari sekarang juga." sahut Galuh sambil terkekeh menggoda.
" Dan kamu pun, mulai sekarang dan selamanya. Jangan lupa panggil Winda dengan kakak atau mbak Winda." sahut Bang Hendra serius.
" Hahaha!" Galuh, Bu Sundari, Pak Suyatno terkekeh akhirnya melihat reaksi dari Bang Hendra yang ikut jutek dan keras terhadap Galuh.
Winda yang melihat reaksi dari Bang Hendra yang membela dirinya, menjadi malu dan merona wajahnya.
" Winda, eh maksud ku Mbak Winda. Kamu pasti akan bahagia jika benar-benar menjadi istri dari abang aku, Bang Hendra. Abang aku ini, tipe laki-laki yang sangat menjaga dan mencintai kekasihnya apalagi sudah menjadi istrinya." ucap Galuh sambil mencolek hidung Winda.
" Galuh! Kamu tetap saja panggil aku dengan nama saja. Bukankah kita sudah bersahabat lama? Aku tidak ingin kita makin berjarak lantaran aku kelak menjadi kakak ipar kamu." kata Winda tersipu malu.
" Asyik! Jadi, kamu sungguh-sungguh mau menikah dengan ku sayang?" tanya Bang Hendra menegaskan.
Winda yang spontan diberi pertanyaan tersebut di depan mama papa Bang Hendra hanya mengangguk pelan.
" Hehehe! Ayolah, kita makan- makan abang! Kita rayakan kebahagiaan abang ini karena, Winda sudah benar-benar mantap mau menikah dengan abang." ujar Galuh bersemangat.
" Boleh! Ajak jugalah, kekasih kamu itu yang bak Antonio Banderas." sahut Bang Hendra.
" Siapa?" tanya Bu Sundari yang ingin tahu.
" Waduh! Kamu benar-benar jahat, Galuh. Mama sampai tidak tahu calon suami kamu itu." sahut Bang Hendra menggoda.
" Mama, papa, maaf belum waktu nya." ujar Galuh langsung berlari menjauh dari tempat duduk itu.
Bang Hendra semakin terkekeh dan puas mengganggu Galuh. Tetapi Bu Sundari dan Pak Suyatno saling pandang, seribu tanda tanya masih tersekat di tenggorokan nya.
__ADS_1