Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
CURHATAN GALUH


__ADS_3

Kamu tidak akan mengira, jika di semesta ini kamu bisa mendapatkan apa saja yang kamu inginkan. Di dalam nya ada semua keindahan. Maka mintalah apa saja yang kamu harapkan dari tujuan dan cita-cita kamu. Angkatlah kedua tanganmu ke atas! Pinta lah semua nya tanpa terkecuali. Dan jika kamu menginginkan aku. Sebutlah pelan nama ku dalam bait indah doa mu.



Winda dan Galuh sudah berada di pusat pembelanjaan kota. Galuh menarik tangan Winda masuk menuju kafetaria. Mereka mencari posisi di sudut ruangan, agar mereka lebih nyaman untuk bercerita tanpa gangguan hilir mudik para pengunjung kafe yang ada. Galuh mulai memesankan makanan dan minuman untuk dirinya juga Winda. Winda terlihat sangat anggun dengan dandanan nya. Beberapa mata mulai liar menatap tajam ke arah mereka yang sedang duduk di kursi pojok. Dua wanita itu sangat terlihat elegan dengan penampilan nya. Galuh dengan penampilan selayaknya wanita karir sedangkan Winda selayaknya wanita dewasa yang penuh aura yang terpancar pesona nya.


" Kamu tidak pernah lupa, menu apa yang selalu ku pesan jika masuk di kafe ini, Galuh." kata Winda sambil memainkan ponselnya.


" Tentu saja non! Aku adalah sahabat kamu yang sudah banyak mengenal dan memahami kepribadian kamu sejak dari dulu." timpal Galuh.


" Oke! Aku percaya itu. Sekarang silahkan kamu cerita, apa yang hendak kamu tumpahkan semua nya padaku. Seperti halnya sudah sekian lama kita menanti turunnya hujan di musim kemarau yang kering kerontang. Hujan itu selalu di nanti banyak orang. Dan air itu sudah meluap karena sekian lama tertahan tidak tercurahkan." kata Winda panjang kali lebar sehingga menghasilkan rumus persegi.


" Santai saja dulu, Winda! Kita makan dan minum dulu. Kita nikmati kebersamaan kita terlebih dahulu. Bukankah sudah lama kita tidak jalan keluar seperti ini sejak kamu dan aku menikah dan mempunyai kehidupan sendiri bersama keluarga kecil kita." sahut Galuh menimpali.


" Aku sudah tidak sabar, Galuh." ujar Winda.


" Santai saja nona cantik! Aku bakal cerita semua nya ke kamu tanpa sedikitpun rahasia yang aku tutupi. Kalau aku cerita sekarang, pada akhirnya selera makan ku bisa hilang. Itu tidak menyenangkan bukan?" ucap Galuh.


" Oke! Oke! Bisa di terima." sahut Winda tersenyum simpul sambil mengaduk minuman yang sudah di atas meja.

__ADS_1


Beberapa menu yang dipesan sudah tersedia di atas meja tempat mereka duduk. Winda dan Galuh mulai menyantap hidangan itu dengan lahap. Sesekali obrolan ringan keluar dari mulut mereka. Sesekali candaan kecil keluar dari mulut Galuh ketika melihat beberapa laki - laki yang memperhatikan gerak-gerik mereka.


" Itulah laki - laki, Winda! Selalu penasaran dengan seorang wanita yang menurut nya menarik hatinya. Sebelum mereka bisa mendapatkan apa yang akan diinginkannya, mereka akan terus mengejar nya. Ketika sudah memperoleh semua yang diinginkannya, mereka dengan seenak jidatnya meninggalkannya. Menorehkan luka kepada wanita tersebut. Di tinggal pas lagi sayang - sayang nya." cerita Galuh dengan senyuman getirnya.


" Tidak semua laki- laki seperti itu, Galuh! Ada beberapa laki- laki memang serius menjalani hubungan dengan lawan jenisnya. Kasih sayang, perhatian memang tulus di berikan nya. Bukan karena hasratnya." sanggah Winda.


" Kamu berbicara tatkala berpatokan dengan Surya. Notabene Surya adalah laki-laki yang bertanggungjawab dan menyayangi kamu dengan tulus dan segenap jiwa nya. Berbeda dengan aku, Winda." kata Galuh seraya menghela nafas dalam-dalam.


" Perkawinan ku dengan Pras sudah berakhir, Winda!" tambah Galuh memulai ceritanya dengan judul satu kalimat itu.


Winda hanya melongo. Tidak percaya dengan kalimat yang di keluarkan oleh Galuh, sahabatnya itu. Mata Galuh mulai berkaca-kaca. Galuh pun mulai bercerita perihal konflik yang terjadi dalam rumah tangga nya.


" Tidak Winda! Pras berkhianat di belakang aku. Tatkala aku sedang sibuk- sibuknya dengan karier aku. Mungkin saja ini adalah salah aku. Kurang memperhatikan Pras. Sehingga apa yang kurang dari diriku, di carinya di luar sana. Pras mendapatkan dari tempat kerjanya. Yah! Wanita itu adalah rekan sekantor nya. Setiap hari berjumpa menjadikan timbul benih-benih asmara diantara mereka. Akhirnya hubungan diantara mereka terjalin sudah sekian lama dan baru sekarang di ungkapkan karena wanita itu telah mengandung anak Pras. Wanita itu, datang kepadaku, Winda. Bukan Pras yang menyampaikan semua nya." cerita Galuh dengan suara bergetar.


" Pras yang aku kenal adalah laki-laki yang sangat menyayangi diri kamu, Galuh! Apakah semudah itu, Pras akan meninggalkan kamu. Kalian berpacaran cukup lama dari bangku SMA sampai kuliah. Perjuangan kalian dalam mempertahankan dan menjaga hubungan aku acungkan jempol seratus kali, Galuh." ucap Winda.


" Kenyataannya Pras, berkhianat dari aku, Winda!" sahut Galuh.


" Apakah Pras menginginkan pisah dengan kamu dan memilih wanita itu?" tanya Winda hati- hati.

__ADS_1


" Pras tidak menginginkan perceraian itu. Tapi akulah yang menggugatnya. Aku tidak ingin ada wanita lain dalam rumah tangga aku, Winda. Kamu tahu, wanita itu sudah mengandung anak Pras. Aku harus mundur! Aku bukan lah wanita yang sempurna yang belum bisa memberikan keturunan pada Pras." imbuh Galuh dengan suara bergetar.


" Galuh! Galuh sayang! Sabar yah sayang!" sahut Winda seraya mengelus pelan punggung tangan milik Galuh.


" Dalam setiap hubungan selalu saja ada ujian nya. Ini ujian terberat bagi Pras ketika berjumpa dengan wanita itu. Dan pada akhirnya, Pras tidak kuat dan goyah ketika dihadapkan dengan wanita itu." tambah Winda.


" Ini semua salah aku. Aku terlalu sibuk dengan kerjaan aku sehingga aku melupakan perhatian ku dengan Pras. Pras yang begitu aku sayangi dari dulu. Walaupun dia melakukan kesalahan, di mataku dia masih laki- laki yang terbaik bagi aku." kata Galuh.


" Kalau kamu masih menyayangi Pras, kenapa kamu menggugatnya?" tanya Winda.


" Aku tidak sanggup jika, Pras harus membagi cinta nya pada wanita itu, Galuh. Aku tidak akan terima itu! Aku bakalan tidak sanggup." sahut Galuh dengan suara yang terdengar getir dan pilu.


" Ya sudah! Tenangkan dirimu. Semua sudah terjadi. Sekarang kamu fokus dengan karier mu saja. Pelan- pelan lupakan kepahitan hidup kamu. Jalan kamu masih panjang, sayang. Aku akan selalu bersama kamu. Aku akan memberi kekuatan kamu, agar kamu bisa berdiri tegar menghadapi semua ini. Kamu tidak sendiri, Galuh! Ada aku di sini." ucap Winda sambil mengelus pundak Galuh.


" Terimakasih banyak, Winda! Kamu adalah sahabat aku sejak dari dulu. Semoga pernikahan kamu dengan Surya selalu baik- baik saja. Jangan pernah mengalami seperti yang sudah aku alami, Winda." kata Galuh.


" Aamiin! Aaminn! Ya sudah! Di habis kan makanan nya! Kamu harus kuat! Jangan sakit! Mulai sekarang manjakan diri kamu! Di dunia ini, masih banyak laki- laki yang antri untuk mendapatkan kamu." ujar Winda sambil tersenyum.


" Hehehe kamu Winda! Selalu ada cara yang bikin aku tertawa." sahut Galuh sambil menyeruput minuman yang masih tersaji di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2