Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BERJIWA BESAR


__ADS_3

Semakin kuat dorongan untuk melepaskan, semakin berat keinginan menggenggam nya.


Semakin besar tekad melupakan, semakin lekat diingatan.


Semakin berusaha merelakan, semakin tidak ikhlas karena perasaan menggila.


Perjalanan melupakan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Percayalah! Waktu akan menyembuhkan asmara bergejolak rasa rindu dendam. Tidak perlu dilupakan karena suatu hari, rasa kecewa dan sakit hari ini akan dikenang sambil tersenyum ikhlas. Semua butuh waktu. Tidak perlu tergesa- gesa! Nikmati proses nya dari sesak menghimpit raga menuju kedamaian jiwa.



" Winda! Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Galuh setelah mereka berada di dalam kamar utama milik Winda dan Surya.


Mereka sudah sampai di kediaman keluarga Pak Hartono. Di rumah itu terlihat sepi. Tampaknya Pak Hartono dan Bu Hartini kembali ke rumah Dinasnya. Rumah megah dan mewah itu jadi semakin sepi tanpa adanya Pak Hartono dan Bu Hartini. Tinggal Intan beserta Wardha suaminya dan juga Winda beserta Surya.


Memang ada beberapa pembantu atau asisten rumah tangga yang menjadi ramai rumah megah dan mewah itu.


" Jam berapa biasanya, Surya pulang dari kantor, Win?" tanya Galuh pelan.


" Tidak pasti, Galuh! Kadang sore, kadang sampai larut malam atau bahkan tidak pulang dengan alasan bertemu dengan relasi atau kliennya." kata Winda yang mengisyaratkan di dalam nya ada keluhannya.


" Oh! Kamu yang sabar yah, Win!" ucap Galuh.


" Iya, Galuh. Galuh! Aku mohon padamu, apa yang kita lihat tadi tidak perlu di bahas atau di perpanjang dengan Mas Surya. Kita pura- pura tidak mengetahui nya saja. Aku tidak ingin ribut dengan Mas Surya. Lagi pula, apa yang kita lihat tadi, belum tentu sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan saat ini." ujar Winda sambil mengusap kepala Wisnu yang sudah berbaring di sebelah Winda setelah Mbk Atik menyerahkan Wisnu ke dalam kamar Winda.


" Tapi kenapa?" tanya Galuh yang mengandung bentuk protesnya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, Galuh. Aku hanya belum siap jikalau Mas Surya menceraikan aku begitu saja setelah aku mengetahui perselingkuhan ini. Apalagi jika aku marah atau membahas masalah ini. Bagi Mas Surya, ini akan menjadi senjata utama untuk menceraikan aku. Jika memang benar-benar, Mas Surya berselingkuh dengan Sarwenda seperti yang sudah kita lihat." kata Winda tanpa ada beban mengucapkan kalimat per kalimat itu.


" Winda! Sebenarnya ketika kita di kafetaria itu, aku sudah berjumpa dengan mereka. Dan wanita itu yang bernama Sarwenda, seperti yang kamu bilang, mengakui kalau dia adalah istri kedua Surya." cerita Galuh.


" Apa? Bahkan mereka sudah berani menikah? Astagfirullah Mas Surya!" ucap Winda dengan suara bergetar.


" Winda!" panggil Galuh sambil memeluk tubuh Winda supaya memberikan ketenangan pada Winda.


" Aku tidak pernah menyangka, Luh. Jika secepat ini, Mas Surya menodai perkawinan ini. Menghadirkan wanita lain dalam rumah tangga kita. Apakah setelah ini aku akan sanggup, Galuh?" ujar Winda dengan pilu.


" Jika kamu tidak sanggup, aku bisa membantu kamu dalam segala hal. Rumah aku terbuka lebar untuk kamu dan juga Wisnu, Winda!" ucap Galuh.


" Tapi, untuk saat ini aku belum siap jika harus berpisah dengan Mas Surya. Aku belum bisa kerja,jika Wisnu masih bayi merah begini. Lagi pula aku masih begitu sayang dengan Mas Surya. Bagi aku, Mas Surya masih sosok suami yang sempurna. Mungkin saja aku kurang memberikan kan perhatian pada Mas Surya,ketika aku mengandung anak Mas Surya sehingga Mas Surya mencari wanita lain untuk menghapus rasa kesepiannya." ucap Winda.


" Oh Winda! Kenapa di saat seperti ini, kamu masih bisa menerima dan berusaha bijaksana. Jelas- jelas, Surya sudah mengkhianati kamu, Winda." kata Galuh menimpali.


" Winda! Kamu dari dulu masih tidak berubah. Kamu masih saja, menyakitkan diri kamu sendiri." sahut Galuh.


" Bukan begitu, Galuh! Karena aku masih menyayangi Mas Surya. Kami sudah menjalani hidup cukup lama dalam suka dan duka. Cukup banyak pengorbanan yang sudah Mas Surya lakukan untuk mempertahankan hubungan dengan aku sebelum pada akhirnya Kembali ke rumah megah dan mewah ini." cerita Winda.


" Oke! Oke! Baiklah! Aku hargai keputusan kamu, Winda!" sahut Galuh.


" Galuh! Kamu harus mendukung ku saat ini. Dan ku mohon, jadilah sahabat ku yang menampilkan segala keluhan ku nanti ketika aku merasakan kepahitan rumah tangga ku ini." kata Winda akhirnya.


" Tentu saja, Winda sayang. Aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan menjaga segala permasalahan pribadi kamu." ucap Galuh.

__ADS_1


" Terimakasih banyak, Galuh! Oh iya, bagaimana dengan kamu?" ujar Winda.


" Aku sudah lebih baik setelah menceritakan semua nya kepadamu. Aku yakin, suatu hari aku akan menemukan laki - laki yang lebih baik dari Mas Pras." ujar Galuh.


" Amin. Amin!" sahut Winda.


" Tapi, maaf Winda. Akhirnya aku pun ingin mendoakan kamu, supaya kamu juga secepatnya mendapatkan laki - laki yang lebih baik dari pada Surya. Paling tidak kami berjumpa dengan laki-laki itu, kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu kamu bisa dengan mudah punya kekuatan untuk menggugat cerai dengan Surya." kata Galuh.


" Astagfirullah, Galuh! Otak kamu kok nakal banget sih!" sahut Winda sambil menoel jidat milik Galuh.


" Aww! Winda! Aku ingin melihat kamu lebih bahagia. Bahagia lahir dan batin. Tenang dan tentram jiwa dan raga. Memang sih, saat ini kamu sudah cukup bergelimang harta dan serba kecukupan. Tapi apakah kamu saat ini sudah memperoleh ketenangan dan ketentraman, jika sudah mengetahui pengkhianatan Surya dengan wanita lain?" ucap Galuh.


" Galuh! Jangan di bahas lagi dong, sayang!" sahut Winda.


" Eh?? Bagaimana kalau kita makan saja yuk! Kita lihat, Mbk Ita masak apa hari ini. Seharian aku belum lihat,menu apa yang sudah di sajikan." kata Winda berusaha mengalihkan pembahasan dari pembicaraan yang bikin sesak hatinya.


" Winda! Aku masih kenyang!" sahut Galuh.


" Oh begitu yah! Aku kan menyusui, Luh. Aku ke ruang dapur dulu yah! Sekalian nanti aku bawakan buah- buahan yang tadi kita beli di supermarket." kata Winda.


" Baiklah!" sahut Galuh.


" Jagain Wisnu yah! Jangan kamu cubit yah!" kata Winda sambil tersenyum.


" Eh walah! Aku gigit, iya!" ujar Galuh sambil mencium pipi Wisnu yang pulas tertidur. Wisnu jadi menggeliat karena ada yang mencium nya dengan kasar.

__ADS_1


Winda kini keluar dari kamar utama nya. Berusaha menghibur dirinya dari rasa terkejutnya dengan permasalahan yang ada. Baginya ini sangat mengejutkan. Surya sosok yang dikenalnya adalah laki-laki yang sempurna, kini ternyata sudah menikahi dengan wanita lain.


Jikalau waktu bisa kembali berputar. Kejadian ini tidak akan aku rela terjadi. Jikalau malam bisa aku rubah menjadi siang. Aku ingin, tidak ada kegelapan di dunia ini. Tapi mana mungkin. Segala sesuatu perlu istirahat. Seperti semesta ini yang kelelahan dengan tiap hari sibuk dengan tugas dan kewajiban nya. AH demikian halnya aku. Aku perlu tidur, untuk mengistirahatkan pikiran juga ragaku dari semua permainan dan permasalahan kehidupan ini.


__ADS_2