
Rangkaian kata yang tak bermakna. Satu persatu di sambung dalam kalimat dalam paragraf. Tidak ada nilai dan pesan didalamnya. Tangan masih terus bergerak menuangkan ide dan gagasan. Curahan rasa yang tak bisa diungkapkan dalam realita. Terdiam sejenak dalam kerinduan yang tak berujung. Aku dan kamu dalam diam. Tidak mampu mengungkap segala perasaan. Kangen yang bertumpuk, menggunung dan makin mengerucut. Hanya berusaha kita tepi, dengan selalu mengingat Nya. Kasih Nya yang tiada batas. Rahman dan Rahim Nya tiada diragukan. Kita tidak saling menyapa. Kita tidak saling menanyakan kabar. Kita saling berjauhan. Kita saling menahan. Walaupun begitu, kita terasa dekat dalam doa yang selalu kita panjatkan. Kita serasa nikmat saling mengirim kan doa- doa terbaik untuk kebahagiaan dan kesuksesan. Kelak jika berjodoh, kita tiada kuasa untuk menolak pertemuan kita. Antara Niga, Andrie, dan Galuh.
" Sudah tidur yah, Wisnu?" tanya Galuh yang masih di rumah Winda ikut membantu membereskan baju- baju bayi milik Wisnu.
" Sudah! Wisnu mah kerjaan nya masih tiduran Mulu. Kalau kita? Ngomongin orang. Ya kan?" ucap Winda sambil terkekeh.
Galuh ikut tersenyum sambil melempar bantal sofa yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
" Eh??" sahut Winda yang berusaha mengelak dari serangan Galuh yang tiba- tiba.
" Bagaimana kabar dua pria yang berusaha mendekati kamu, Luh?" tanya Winda sambil nyengir.
" Hahaha! Mereka baik- baik saja. Antara Niga dan Andrie sama - sama menunjukkan perhatian yang lebih padaku. Apalagi Andrie. Wah tiap hari telepon melulu, Sehari bisa seperti minim obat 3x sehari. Mulai protektif ketika aku keluar rumah." cerita Galuh sambil cengar-cengir dengan wajah yang sumringah.
" Kamu mulai terbiasa dengan perhatian nya yah, say?" tanya Winda.
" Seperti nya begitu. Aku disuruh kirim lokasi ketika aku pergi. Dia ingin tahu dan memastikan, kalau aku baik- baik saja. Hadeuh!" cerita Galuh dengan wajah cerah.
" Bagus dong! Ada yang benar-benar menyukai kamu dan memperhatikan kamu seperti itu." sahut Winda.
" Dahulu, apakah Surya juga begitu ketika memperlakukan kamu?" tanya Galuh hati- hati.
" Waktu pacaran? Hahaha. Tidak! Tidak seperti itu, kalau Surya. Mas Surya langsung datang dan mendekati aku. Kau kan tahu, hampir tiap hari datang ke kos an aku bukan? Setelah usai dari kampus dan kegiatan kampus, dia selalu main ke kosan ku. Memastikan aku sudah makan atau belum." cerita Winda.
" Kamu zaman masih kuliah, puasa Daud tidak pernah tertinggal. Sebenarnya apa yang kamu cari sih? Ibadah rajin, puasa tidak putus. Hadeuh, kamu itu dulu seperti Al Qur'an yang berjalan, tahu." ucap Galuh dengan godaannya.
" Kamu ini, loh. Dulu itu aku prihatin, Galuh. Karena merantau dan jauh dari orang tua. Dengan ekonomi yang tidak lebih, aku ingin berhasil di masa depan. Untuk ibadah itu sendiri, semua itu untuk diri sendiri saja, Galuh. Sebenarnya yang lebih utama itu jika bisa bermanfaat bagi orang banyak di sekitar aku. Entah dari ilmu pengetahuannya yang aku miliki atau harta yang kita sedekahkan dan infaq kan itu kepada orang yang berhak." cerita Winda sambil tersenyum.
" Baik Bu ustadzah!" sahut Galuh terkekeh.
" Jangan begitu dong. Aku juga masih belajar. Aku bukanlah seorang wanita yang memiliki kesempurnaan. Hubungan aku melalui sholat, puasa itu lantaran aku butuh dan itu merupakan kebutuhan aku. Dari ibadah itu aku bisa berdoa, meminta kepada Nya baik dalam keluh kesah aku." cerita Winda serius.
" Benar, Bu Ustazah!" sahut Galuh.
__ADS_1
" Jadi gimana ceritanya? Kamu sudah jadian dengan Andrie?"tanya Winda.
" Kalau jadian belum! Tapi yah, begitu lah!" jawab Galuh sambil nyengir.
" Andrie dan kamu adalah orang dewasa. Apakah kamu harus perlu mendengar ungkapan perasaan cinta nya Andrie melalui serangkaian kata indah itu? Haha." ucap Winda terkekeh.
" Tentu saja dong! Wanita suka keromantisan dan puisi- puisi indah untuk mengungkapkan perasaan. Budak cinta akan menjadi menggila ketika rindu dan cinta itu sudah meluap- luap." ujar Galuh.
" Hahaha.. kamu ini? Lalu bagaimana dengan Niga, Luh?" tanya Winda.
" Niga? Dia baik- baik saja. Setelah aku memblokir nomer nya, aku tidak tahu lagi kabar nya. Dan dia juga tidak lagi datang ke rumah atau ke kantor aku." cerita Galuh.
" Awalnya ada masalah apa, kamu bisa berani memblokir nomer Niga? Bukankah ceritanya kamu dari dulu menyukai nya?" tanya Winda sambil nyengir.
" Hadeuh bukankah kamu, menyuruh aku lebih fokus pada Andrie kan?" jawab Galuh terkekeh.
"Pasti ada alasan lain bukan, tidak sekadar mengikuti nasihat dan masukkan ku." ujar Winda sambil mengambil ponselnya yang berdering.
" Siapa? Angkat dulu, Winda!" tanya Galuh.
" Winda! Aku tunggu di depan ya sayang. Kita makan malam dulu di luar. Ajak Galuh juga." kata Surya melalui sambungan ponselnya.
" Iya mas! Wisnu bagaimana?" tanya Winda sambil melihat ke arah tempat tidur bayi yang di dalamnya ada Wisnu yang terlelap tidur nya.
" Ini sudah ada Mbk Ita dan mama datang kemari." kata Surya memberi tahu.
" Oh ya?" tanya Winda sambil melihat ke arah Galuh.
" Aku tunggu ya, sayang! Mama juga minta dibelikan sesuatu." kata Surya.
" Baik mas!" sahut Winda akhirnya sambil meletakkan ponselnya setelah panggilan masuk itu terputus.
" Mertua kamu datang kemari yah, Win?" tanya Galuh.
" Benar! Yuk kamu ikut aku. Kita cari makan dulu." ajak Winda sambil menarik tangan Galuh yang duduk santai bersandar di kursi sofa kamar itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak kalian berdua saja yang jalan. Aku biar di sini ikut jagain Wisnu sekalian masukkan bajunya Wisnu ke lemari. Rapikan ini kamar." kata Galuh.
" Sudahlah! Itu besok lagi, Luh. Entar Mbk Ita juga bantuin semuanya." sahut Winda dengan tetap menarik tangan Galuh.
" Kamu tidak ganti baju dulu, say?" tanya Galuh.
" Bukankah ini sudah rapi, aku?" jawab Winda sambil sedikit merapikan rambutnya.
" Kamu terlihat lebih cuantik dan anggun ketika mengenakan jilbab pasmina, gitu loh, Win!" puji Galuh.
" Benarkah? Hehehe.. kamu minta dibelikan apa, hah? Eh cerita Niga nanti kita lanjutkan di mobil saja yah." kata Winda sambil merapikan kerudungnya.
" Janganlah! Nanti Surya dengar! Bukankah Niga kawan akrabnya Surya waktu di BEM?" cerita Galuh.
" Hahaha! Yuk kita keluar!" ajak Winda sambil keluar dari kamarnya tapi di depan kamar sudah ada Bu Hartini dan Mbk Ita.
" Eh Winda, sayang!" sapa Bu Hartini sambil memeluk Winda. Winda bergegas mencium tangan mertuanya itu dengan penuh semangat.
" Mama! Maaf, saya keluar sebentar tidak apa-apa kan ma?" kata Winda sambil tersenyum.
" Iya tidak apa-apa! Tadi Surya juga sudah bilang ke mama kok. Eh Winda! Kamu terlihat lebih cantik dengan mengenakan kerudung loh, sayang!" puji Bu Hartini.
" Benarkah ma! Winda masih belajar juga nih, ma!" sahut Winda.
" Iya tidak apa-apa, semoga bisa Istiqomah kamu memakai kerudung nya. Hehe." ujar Bu Hartini sambil mendekati Wisnu yang tertidur pulas.
" Lama kelamaan, wajah Wisnu seperti kamu loh, sayang!" ujar Bu Hartini.
" Hehe. Mama, kami keluar dulu ya ma, mbak Ita!" pamit Winda.
" Kami pergi dulu, Tante, mbak!" pamit Galuh juga setelah bersalaman dengan keduanya.
" Bersyukur lah kamu, Win. Punya mertua yang perhatian dan penyayang gitu. Dulu mertuaku cuek nya minta ampun loh." cerita Galuh.
" Alhamdulillah! Aku bisa memiliki keluarga yang penuh cinta." sahut Winda.
__ADS_1
" Amin!" kata Galuh penuh semangat.