
Haidar menimang anak laki-laki nya. Winda yang melihat suaminya menggendong anaknya itu terlihat sangat seksi, itu bagi Winda. Senyuman Winda merekah ketika Haidar mencoba menyanyikan lagu buat anaknya yang bernama Wibi itu, supaya bisa tidur di siang itu.
Mata Wibi melihat ayahnya, Haidar yang menyayikan lagu kekinian. Winda yang mendengar nya menjadi tertawa terpingkal- pingkal. Bukannya anaknya tidur, ini malah menatap wajah Haidar yang seperti aneh ketika menyuarakan lagu kekinian tersebut.
" Ayolah anakku, Wibi! Kenapa kamu melihat ayah kamu yang ganteng ini? Kamu seharusnya tidur mendengar ayah bernyanyi seperti ini." kata Haidar seperti sedang proses karena Wibi sang balita masih melotot matanya menatap ayahnya bersenandung.
" Ayah! Seharusnya kamu bernyanyi lagu yang slow dan pelan pengantar bobok. Ini? Kamu malah bernyanyi lagu dari group slank, loh!" prostes Winda yang saat ini malah cekikikan sambil ngemil camilan.
" Lihat, anak kita yank? Matanya masih bening dan membulat saja. Wibi belum ngantuk, nih." keluh Haidar. Winda kembali cengengesan.
" Kamu kok buru- buru banget sih? Mau ngapain sih, ingin Wibi bobok aja, mas." tanya Winda.
__ADS_1
" Mau itu sama kamu siang ini, mumpung libur nih." ucap Haidar pelan. Winda tersenyum saja menghadapi suaminya yang selalu minta jatah permainan di atas peraduan.
" Nanti malam aja sih, mas! Bagaimana kalau kita ketempat ayah dan bunda saja." usul Winda. Haidar menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar.
" Tapi itu dulu baru ketempat orang tua aku." sahut Haidar. Winda kembali cekikikan.
" Aku kasih Wibi ke baby sitter yah, yank?" kata Haidar. Winda meletakkan camilan nya dan mengambil Wibi dari gendongan Haidar.
" Mau dibawa kemana yank?" tanya Haidar sambil menyerahkan Wibi ke gendongan Winda.
" Tapi gituan dulu yah, yank?" sahut Haidar pelan. Winda tidak peduli dan cuek dengan ucapan Haidar dan tetap melangkah mencari baby sitter Wibi yang berada di belakang. Haidar bergegas bersiap dan masuk ke dalam kamar pribadi mereka.
__ADS_1
Haidar dengan semangat membuka semua kaos dan celana santainya hingga menyisakan boxer nya. Haidar berbaring di atas ranjang dan mulai menghayal kalau istrinya akan datang dan mencumbuinya. Tidak berapa lama, Winda masuk ke dalam kamar itu. Winda malah cekikikan melihat tingkah suaminya yang seperti sudah siap akan serangannya.
" Ayo, mas! Kita ke tempat ayah, bunda!" ajak Winda. Haidar kini bangkit dari peraduan itu dan mendekati Winda. Haidar mulai meraih tubuh Winda dan mulai bereaksi dengan keganasan nya. Winda tidak bisa menolaknya. Setiap inci bagian lekukan milik Winda mulai mendapatkan sentuhan dan re ma san dari tangan kokok milik Haidar. Winda mulai melenguh tatkala Haidar mencari titik-titik sensitif milik Winda. Winda mulai merasakan sensasi lain dari tindakan Haidar.
" Pelan- pelan saja mas!" bisik Winda.
" Bukannya hendak ke tempat ayah, bunda?" sahut Haidar dengan suara yang sudah berat.
" Huum tapi jangan kasar- kasar. Lakukan lebih halus lagi." pinta Winda. Haidar tersenyum menatap Winda yang mulai terbawa dalam permainan liar Haidar.
" I love you, Winda! Aku mencintaimu selalu." bisik Haidar dengan bisikan yang menghangatkan telinga.
__ADS_1
" I love you to, mas! Aku lebih mencintai kamu, mas! Semua dari kamu, aku suka!" balas Winda sambil pasrah akan perlakuan manis dari suami nya itu.
(😍🥰🤭🤭)