Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SUDAH PULANG


__ADS_3

Setelah sampai di rumah kediaman Winda, mobil milik Herika parkir di depan pagar rumah. Mobil itu sengaja tidak diparkir ke dalam lantaran hanya singgah dan mengantar Winda saja.


" Saya tidak turun kan, tuan muda? Biar saya menunggu di dalam mobil saja." kata Pak Jackie.


" Iya Pak Jackie, lagi pula ada kepentingan apa kalau bapak turun dan masuk ke dalam." sahut Herika sambil nyengir.


" Eh jangan salah, Herika! Di dalam ada Mbk Atik yang masih single loh. Mana tahu mereka berjodoh." goda Winda sambil tersenyum.


" Benarkah?" tanya Herika sambil melirik Pak Jackie.


" Tuan muda, saya belum berminat!" sahut Pak Jackie spontan.


" Awas saja yah, besok kalau kemari lagi mencari sosok Mbak Atik." ujar Herika sambil menutup pintu mobil itu.


Mereka mulai masuk ke dalam rumah kediaman Winda sambil membawa tas platik yang berisikan makanan yang sengaja di beli untuk Bang Hendra juga yang lainnya.

__ADS_1


" Masuk dan duduk lah, Herika! Aku mau menjumpai Bang Hendra dulu. Biasanya dia berada di kamar Wisnu menidurkannya." kata Winda sambil melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Wisnu.


"Oh ho! Sejauh itu kah hubungan mereka itu? Hendra di sini sudah dekat dan menyatu dengan anak laki-laki Winda. Aku rupanya sudah kalah start." gumam Herika sambil menyalakan batang rokok nya dan duduk di sofa ruang santai rumah Winda.


Winda membuka pintu kamar Wisnu sebelum mengetuknya. Di dalam hanya ada Wisnu yang sudah tertidur pulas dan Mbak Atik yang sedang merapikan mainan dan beberapa baju bersih di sana.


" Eh sudah tidur yah, anakku sayang!" kata Winda sambil mengusap lembut rambut Wisnu.


" Iya mbak Winda! Sekitar satu jam lalu, Wisnu tidurnya setelah capek bermain dengan Pak Hendra." cerita Mbak Atik.


" Lalu? Dimana Bang Hendra sekarang?" tanya Winda.


" Eh?? Bang Hendra tampak marah karena saya tidak kunjung pulang gak?" tanya Winda.


" Itu... itu tidak terlihat Mbk! Pak Hendra sibuk bermain dengan Wisnu dan mengajak makan malam dengan Wisnu. Saya menyelesaikan tugas yang belum selesai Mbak. Jadi saya tinggalkan mereka berdua." cerita Mbak Atik.

__ADS_1


" Oh begitu yah! Mbak Atik, tolong bikinkan kopi hitam untuk Herika." perintah Winda.


" Herika?" tanya Mbak Atik seperti mengingat- ingat siapa Herika itu.


" Herika kawan kuliah aku dulu, Mbak Atik. Dia sahabat dari Mas Surya. Satu jurusan dengan Mas Surya." cerita Winda.


" Saya panggil dengan Mas Herika saja, yah Mbak Winda." kata Mbak Atik.


" Iya tidak apa-apa. Herika masih muda ini." sahut Mbak Winda sambil tersenyum lebar.


" Gantengan mana dengan Pak Hendra, Mbak?" tanya Mbak Atik ingin menggoda.


" Herika! Eh? Maksudnya sama- sama ganteng. Mbak Atik lihat sendiri lah, penilaian aku dengan Mbak Atik mungkin beda." ucap Winda.


" Hehe. Seperti nya Mbak Winda dengan Mas Herika bisa santai dan tidak terlalu formal. Jadi seperti berasa muda terus." nilai Mbak Atik.

__ADS_1


" Iya, bener kata Mbak Atik. Enak ngobrol nya sampai lupa pulang tadi. Eh? Aku rasa Bang Hendra marah dengan aku, deh. Aku coba hubungi Bang Hendra dulu, Mbak Atik. Mbak Atik cepatlah bikinkan minuman atau kopi buat Herika. Saya di sini dulu." kata Winda.


" Baik Mbak Winda." ucap Mbak Atik sambil berlalu dari kamar itu.


__ADS_2