Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 37)


__ADS_3

Hari yang dinanti telah tiba. Winda ditemani oleh bu hartini dan juga Haidar sudah berada di rumah sakit. Kali ini Haidar tidak menghendaki adanya resiko ketika hendak melahirkan buah cinta nya bersama dengan Winda. Haidar menginginkan Winda melakukan operasi cesar. Walaupun sebenarnya Winda menginginkan untuk melahirkan secara normal. Karena paksaan dan juga pengertian dari Haidar dan juga ibu mertuanya, akhirnya Winda menerima saran untuk melakukan operasi cesar dalam kelahiran anaknya kali ini.


"Winda,Sayang! Kamu sayang aku bukan? Jadi tolong kali ini nurut sama aku yah, sayang? Kamu operasi cesar saja yah! Aku akan mendampingi kamu dan juga anak kita yang akan lahir dan menghirup udara di dunia ini." ucap Haidar sambil mengusap lembut rambut kepala Winda. Winda sudah mulai meringis menahan mules di perutnya. Tangan Winda sesekali mencakar lengan kekar Haidar ketika perutnya sudah mules. Haidar meringis menahan sakit karena cakaran kuku Winda.


" Mas! Kamu disini aja yah, mas!" ucap Winda masih takut- takut jika hendak melakukan operasi itu. Namun Haidar selalu memberikan kekuatan kepada Winda supaya tidak lagi takut dan khawatir. Haidar menemani istrinya itu.


Dokter dan beberapa petugas medis sudah mempersiapkan segalanya untuk operasi. Winda sebenarnya masih belum ikhlas jika melakukan operasi cesar itu. Dia ingin menikmati bayi mungilnya nanti keluar dari jalan yang sebenarnya bukan dengan operasi. Beberapa kali Haidar dan juga sebelum nya mertuanya pun memberikan pengertian kepada Winda. Apalagi dokter karena usia Winda sangat rawan jika harus melahirkan secara normal.


Sesuai saran dokter juga, dan tidak ingin mengambil resiko kelahiran Winda kali ini. Usia Winda yang sudah berkepala empat juga sudah rawan. Walaupun secara fisik, Winda masih kuat dan energik. Akhirnya surat perjanjian operasi cesar itu ditandatangani sudah oleh pihak yang bersangkutan.


Pak Hartono dan Intan masih berada di kantor. Wisnu pun sudah mulai magang di perusahaan kakeknya itu. Walaupun Wisnu sendiri masih belum merampungkan tugas-tugas akhirnya di bangku kuliah. Namun atas saran kakek dan juga tante nya, Wisnu disuruh magang dulu, supaya lebih paham akan seluk-beluk di perusahaan kakeknya itu. Kenapa Wisnu memilih ikut di perusahaan kakeknya karena Wisnu lah salah satu yang bakal menjadi pewaris nanti selain anak dari Intan nanti.


Berbeda dengan perusahaan Haidar, ayah tirinya. Walaupun Haidar juga menghendaki Wisnu ikut belajar dan memahami dulu akan bisnis yang digeluti nya. Namun Wisnu lebih tertarik dengan perusahaan konstruksi milik kakek nya itu. Apalagi saat ini Wisnu memang kuliah mengambil jurusan konstruksi dan properti. Walaupun perusahaan mereka bergerak di bidang yang sama, namun Wisnu lebih nyaman belajar dan magang di perusahaan kelak nya tersebut. Lantaran Intan, tantenya pun ikut membimbing Wisnu juga ketika magang di kantor itu bersama kakek dan juga tantenya.

__ADS_1


Walaupun saat ini Intan mengandung anak Andrie, namun tidak menyurutkan semangat nya untuk bekerja dan pergi ke kantor. Tentu saja Intan tidak melakukan pekerjaan yang berat dan menguras otaknya. Sudah ada asisten dan orang-orang kepercayaan nya yang bisa meng-handle kerjaan nya nanti jika dirinya harus banyak di rumah atau duduk manis Terima laporan saja di dalam ruang kerjanya.


Kembali di rumah sakit. Kini Winda sudah masuk ke ruang operasi di dampingi oleh Haidar. Betapa sebenarnya Haidar tidak tega jika melihat atau menyaksikannya proses operasi cesar yang mengambil anaknya di dalam rahim sang istrinya tersebut. Semua akan dia abadikan. Rumah sakit itu memberikan ijin untuk momentum yang mengharukan itu.


" Kamu tenang, berdoa ya sayang! Aku akan disini menemani kamu!" kata Haidar membuat lega dan tenang Winda yang sudah siap dengan operasi cesar itu.


Di luar Bu Hartini terus berdoa supaya proses operasi itu berjalan dengan lancar tanpa halangan. Anak dan ibu selamat. Sambil menunggu kedatangan suami, anak serta cucunya, Bu Hartini kembali menghubungi Intan yang sudah perjalanan menuju ke rumah sakit.


" Intan, kalian sudah sampai mana, sayang?" tanya bu Hartini melalui sambungan ponselnya.


Bu Hartini masih saja berdoa. Mulutnya mengucapkan doa- doa supaya dirinya dan juga proses operasi Winda di dalam lancar. Hingga tidak berapa lama, terdengar suara yang cukup nyaring dari luar, suara tangisan bayi. Suara itu seperti suara bayi laki-laki. Bu Hartini tersenyum lega. Namun masih menunggu petugas kesehatan yang masih di dalam dan belum keluar dari ruangan itu. Demikian juga Haidar belum keluar dari sana.


" Alhamdulilah! Semoga anak dan ibu sehat semua nya! Aamiin!!" ucap Bu Hartini pelan.

__ADS_1


Di dalam ruang operasi, Haidar mengusap lembut puncak kepala Winda. Haidar mencium kening Winda setelah semua petugas medis selesai menjahit bagian perut yang disayat untuk mengambil bayi mungil di dalam rahim Winda. Tangan Winda dan Haidar terpaut dan saling berpegangan. Buliran kristal bening itu jatuh sudah di sudut mata suami istri itu.


" Aku sudah menjadi ayah, Sayang! Aku benar-benar resmi menjadi ayah. Aku sudah punya putra dan itu dari rahim kamu, sayang! Terimakasih, Winda sayang!" ucap Haidar sambil mencium punggung tangan milik Winda. Winda tersenyum bahagia.


Seorang perawat menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu yang sudah bersih dan di bedong. Haidar tersenyum dan menatap bayi mungil itu yang hidung nya mirip dengan dirinya. Namun kulit dan wajahnya mengikuti ibunya, Winda.


" Ini putra nya, pak! Ibu!" kata perawat itu menunjukkan sebentar kepada Haidar dan Winda. Namun setelah itu bayi laki-laki dibawa pergi oleh perawat itu dan akan di bawa ke ruangan dokter spesialis anak dan nanti akan diletakkan di ruang bayi karena suhu badannya masih belum stabil.


" Pelit sekali! Cuma sebentar kasih tunjuk adik bayi nya." gerutu Winda pelan. Haidar menahan tawa.


" Hehe nanti kalau adik bayinya sudah normal suhu tubuh nya, akan diserahkan kepada kita. Dan sebentar lagi kamu juga dipindahkan ke kamar inap." ucap Haidar. Dan benar saja, tidak lama kemudian beberapa perawat sudah bersiap untuk mendorong tempat tidur yang di atasnya masih ada Winda yang berbaring di sana setelah Winda selesai dengan jahitan di perut nya. Haidar mengikuti nya.


" Haidar! Winda!" panggil Ibu Hartini yang sedari tadi menunggu di ruang tunggu. Ibu Hartini mengikuti nya dari belakang bersama Haidar menuju kamar inap VVIP.

__ADS_1


" Mama, adik bayi masih di tangani dokter spesialis anak, ma. " ucap Haidar.


" Iya, yang penting semua nya baik- baik saja. Dan Winda akan segera cepat pulih." kata Bu Hartini sambil berjalan beriringan dengan Haidar.


__ADS_2