
" Jadi kamu satu kampung dengan Pak Wardhana?" tanya Mbak Santi setelah mereka saling berkenalan dan kini mereka berada di dalam kamar yang ditempati Rosiana serta anaknya saat ini.
Rosiana setelah diterima bekerja di rumah Sarwenda, hari itu juga sudah langsung bekerja. Setelah semua pekerjaan rumah terselesaikan dengan baik, Mbak Santi bermain di kamar Rosiana. Mbak Santi ini, tipikal yang suka mengenal dan ingin dekat dengan semuanya. Kini mereka saling bercerita dan saling mengenal satu dengan yang lain setelah sebelumnya makan malam bersama. Anak laki-laki Rosiana pun sudah mulai terlelap dalam tidurnya setelah merasakan kenyang.
Siwa, semenjak dalam kandungan sudah ditinggal pergi oleh ayah kandungnya. Nasib Rosiana sangat sebatang kara, ditinggal laki-laki yang telah menghamilinya. Laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab, pada akhirnya ada seorang pria yang sedari dahulu mencintai Rosiana yang mau menikahi dirinya. Akhirnya Rosiana menikah dengan pria yang bukan ayah kandung dari Siwa. Beban moral di lingkungan nya mendesaknya harus menikah disaat dirinya berbadan dua. Pandangan di kampung ketika hamil diluar nikah akan dianggap wanita tidak baik dan tidak menjaga harga dirinya. Hal itulah, akhirnya Rosiana mau menerima pria yang ingin menikahi dirinya walaupun pria tersebut sangat jelas tahu kalau Rosiana sedang hamil.
Rumah tangga Rosiana memang tidak ada permasalahan yang rumit dan serius. Suaminya menerima segala sesuatu nya dari masa lalu Rosiana yang sudah menjalin hubungan dengan pria lain selain suaminya tersebut. Rumah tangga Rosiana penuh kebahagiaan karena suami Rosiana memang benar-benar pria yang bertanggung jawab dan mencintai dirinya dan anaknya. Walaupun anak itu bukan darah daging dari suaminya tersebut. Tetapi taksir berkata lain, suami Rosiana mengidap penyakit yang serius hingga tulang punggung keluarga nya menjadi hancur, dan Rosiana lah yang membanting tulang menghidupi semua biaya berobat suaminya serta kehidupan sehari-hari nya. Kehidupan Rosiana menjadi serba kekurangan. Kesusahan dan kesukaran dalam kebutuhan sehari-hari dan untuk berobat suaminya di hadapinya.
Karena keterbatasan dan kendala berobat yang tidak maksimal, suami Rosiana tidak bisa ditolong. Sudah satu tahun ini, Rosiana telah menjadi janda karena suaminya yang meninggal. Siwa sudah tidak memiliki ayah sebagai sosok yang akan dijadikan panutannya. Walaupun ayah tiri, suaminya telah menganggap Siwa adalah sebagai anaknya sendiri.
"Iya! Kami dulu satu kampung dengan Pak Wardhana. Tetapi sudah cukup lama kami tidak berjumpa." jawab Rosiana sambil membuang muka nya menyembunyikan sesuatu rahasia yang tidak akan diungkapkan nya pada Mbak Santi. Baginya masa lalunya sudah tidak perlu diceritakan kembali. Saat ini Rosiana hanya fokus untuk bisa membesarkan dan menyekolahkan Siwa sampai tingkat lebih tinggi. Agar nasib Siwa lebih baik dari pada dirinya yang hanya sekolah sampai tamatan SMP.
" Kelihatan nya kamu masih sangat muda yah, Rosiana? Betapa umur kamu?" tanya Mbak Santi penasaran. Wajah Rosiana masih terbilang lebih segar tanpa guratan di wajahnya. Wajah ayu yang polos tanpa makeup yang berlebihan.
" 23 tahun!" jawab Rosiana sambil tersenyum malu.
" Hah? Jadi kamu ketika hamil Siwa masih terbilang muda belia? Astaga? Dan waktu kamu menikah umur ...." ucap Mbak Santi sambil berusaha menghitung umur Rosiana saat itu.
" Umur 17 tahun, Mbak!" jawab Rosiana sambil tersenyum.
" Ya ampun! Laki-laki yang menghamili dirimu, kurang ajar sekali!" kata Mbak Santi penuh emosi.
__ADS_1
" Mungkin saja laki-laki itu belum siap dengan semuanya." sahut Rosiana berusaha membela laki-laki yang menghamilinya.
" Belum siap menanggung resiko nya tetapi mau enaknya!" sahut Mbak Santi.
" Untung saja ada yang mau bertanggung jawab menikah dengan kamu, ya Ros! Suami kamu itu pasti orang yang sangat baik hati." kata Mbak Santi menilai semuanya dari cerita yang diungkapkan Rosiana.
" Tentu! Mas Jaka orang yang baik sekali." sahut Rosiana.
" Oh namanya Mas Jaka?" sahut Mbak Santi.
" Iya betul, Mbak!" ucap Rosiana akhirnya.
" Eh, Mbak Santi! Jangan bicara seperti itu. Segala sesuatu nya memang hasil dari perbuatan kita sendiri. Saya hanya bisa menyesali semua kesalahan yang saya perbuat ketika masih kasmaran- kasmaran nya dengan seorang laki-laki. Jatuh cinta yang pertama kali dan membuat lupa diri. Akhirnya terjadilah, yang seharusnya tidak boleh kami lakukan sebelum kami menikah." cerita Rosiana.
" Iya...ya! Kamu sabar ya, Rosiana. Kamu kelak pasti akan bertemu dengan laki-laki yang sudah meninggalkan kamu dan anak kamu itu. Dia pasti akan menyesali perbuatannya karena sudah menelantarkan kalian." ucap Mbak Santi.
" Saya tidak berharap lebih, Mbak Santi. Saya hanya meminta satu saja, membuat Siwa sekolah sampai tinggi dan sukses. Jangan seperti ibu nya." kata Rosiana.
" Kamu tidak ingin, hidup bahagia bersama pria yang menghamili kamu dulu?" tanya Mbak Santi penuh penasaran.
" Tidak akan! Saya tidak akan merusak kebahagiaan dia. Saya cukup senang ketika dia bisa hidup lebih baik dibanding saya dan bahagia bersama keluarga nya." kata Rosiana.
__ADS_1
" Hah? Katanya kamu sudah sekian lama tidak berjumpa dengan pria, ayah kandung Siwa? Kenapa kamu malah beranggapan kalau hidup laki-laki itu bahagia dan punya keluarga?" tanya Mbak Santi.
" Mana tahu pria itu, belum menikah dan tidak laku gara-gara kena hukum karma karena telah meninggalkan kamu yang polos dan lugu saat itu." tambah Mbak Santi.
" Hahaha! Mbak, saya bukan tipe pendendam, Mbak Santi. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk ayah dari Siwa, karena dulu saya sangat dan benar- benar jatuh hati padanya. Tidak ada keburukan di mata saya." cerita Rosiana.
" Ya ampun! Cinta memang bikin membutakan seseorang yah!" sahut Mbak Santi.
" Jadi? Apakah kamu masih mencintai ayah Siwa? Maksudnya ayah kandung Siwa?" tanya Mbak Santi bak wartawan yang masih magang.
" Tidak! Tidak! Hati saya masih ada almarhum suami saya. Saya ingin setia pada almarhum suami saya sampai ajal saya nanti, saya ingin dijemput oleh suami saya di syurga Nya." ucap Rosiana.
" Astagfirullah! Aku sangat terharu mendengar semua itu. Usia kamu masih sangat muda, sayang! Kamu masih bisa mencari jodoh kamu di dunia ini. Usia 23 tahun itu masih..." kata Mbak Santi tidak jadi melanjutkan nya.
" Hehe! Saya paham Mbak Santi. Tapi niat saya untuk saat ini seperti itu. Saya tidak akan menikah lagi." sahut Rosiana.
" Untuk saat ini, kan? Jadi tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu bisa berjumpa dengan seorang laki-laki dan membuat jantung mu kembali berdetak kencang. Itu jatuh cinta lagi. Hehe."
" Entahlah Mbak Santi! Saya hanya wanita kampung yang bodoh tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Di kota besar ini, mana ada laki-laki yang mau dengan wanita seperti saya." ucap Rosiana.
" Kamu cantik! Kenapa kamu harus minder?" sahut Mbak Santi sambil meraih tangan Rosiana dengan lembut.
__ADS_1