Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BERUSAHA MERAYU


__ADS_3


Aku bukanlah manusia yang sempurna, namun aku berusaha menjadi apa yang kau minta. Walaupun terkadang aku merasa itu bukanlah aku. Aku seperti menjadi pribadi lain demi ingin mu. Berusaha sempurna dimata mu. Dan itu sungguh membuatku sangat lelah, menjadi seseorang yang bukanlah pribadiku. Ini seperti bermain drama. Aku memerankan tokoh yang sifat, watak, penampilan yang karakter nya bukanlah asli ada pada diriku. Lalu aku seperti berpura-pura imut, senang, gembira, tertawa bahkan pura- pura menangis supaya mengikuti semua dari gambaran orang sempurna di mata kamu.


*******


Antara Hendra dan Herika masih bertahan duduk di bangku taman depan rumah Winda.


" Kalau kamu benar-benar takut kehilangan Winda, bujuk lah dia dengan cara lebih lembut. Hilangkan sesaat gengsi kamu." kata Herika kepada Hendra.


Hendra hanya melihat tajam apa yang dikatakan oleh Herika.


" Kalau kamu tidak berusaha membujuk, merayu, menghibur, menenangkan nya, jangan salahkan aku jika aku akan maju sepuluh langkah lagi supaya bisa menyingkirkan kamu. Aku juga sangat menyukai Winda. Namun aku tahu, Winda hanya menyukai kamu. Winda masih menganggap aku sebagai temannya. Tidak lebih dari itu. Tapi, kalau kamu menjauh, aku tidak bisa menjamin jika lambat laun aku juga bisa membuat Winda jatuh hati kepadaku." ucap Herika seolah membuat kobaran semangat untuk Hendra.


Hendra melotot tajam ke arah Herika lalu bangkit dari duduknya melangkah masuk ke dalam rumah Winda. Hendra ingin berusaha kembali meminta maaf kepada Winda dan berusaha menenangkan hati Winda.


Herika tersenyum melihat Hendra yang segera bertindak seolah ini adalah kompetisi. Dia juga tidak ingin tersingkir oleh hadirnya Herika dalam kehidupan Winda.


Hendra memulai mengetuk pintu kamar Winda dan berusaha meminta maaf atas segala ucapannya yang menyinggung Winda. Mungkin sebelumnya Hendra telah membuat Winda kecewa ketika dirinya dengan sengaja membuat Winda cemburu saat di kantor nya waktu itu.

__ADS_1


"Queen! Sayang! Bukakan pintunya dong, sayang! Aku ingin bicara. Tolong maafkan aku, sayang! Winda! Winda!" kata Hendra dengan suara keras.


Cukup lama Winda tidak bergeming di dalam kamarnya. Masih belum membuka pintu kamarnya. Suara Hendra yang terus menerus memanggil Winda membuat Wisnu sempat mendengarnya ketika Wisnu bersama Mbak Atik Hendak ke dapur.


" Papa Hendra!" panggil Wisnu sambil mendekati Hendra.


" Wisnu sayang!" sahut Hendra sambil memeluk Wisnu.


Wisnu melihat pintu kamar mamanya yang masih tertutup. Kini pandang nya beralih ke Hendra yang seperti risau.


" Papa Hendra belum ketemu dengan mama?" tanya Wisnu sambil berusaha membuka pintu kamar milik mamanya.


" Tapi di kunci kamar mama." gumam Wisnu.


" Mama masih di kamar, Wisnu. Kamu bisa membantu papa Hendra tidak?" kata Hendra ingin memanfaatkan Wisnu dengan situasi tersebut.


Wisnu membulat matanya dengan apa yang dikatakan Hendra. Bantuan apa yang akan diminta Hendra untuk dirinya.


" Wisnu harus bantu, papa Hendra apa?" tanya Wisnu.

__ADS_1


" Hem, mama masih di dalam kamar. Wisnu bisa panggilkan mama tidak?" jawab Hendra akhirnya.


" Oh begitu!" sahut Wisnu dengan mata membulat.


" Wisnu bisa bantu kan?"ucap Hendra lagi.


" Papa Hendra! Apakah mama lagi marahan dengan papa Hendra?" tanya Wisnu sambil membulat matanya bak kelereng.


Hendra yang mendengar pertanyaan Wisnu jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya Hendra hanya sedikit tersenyum kepada Wisnu.


" Oh mama lagi marah dengan papa Hendra, jadi mama gak ingin berjumpa dengan papa Hendra?" sahut Wisnu yang menilai situasi dua orang yang sudah dewasa itu.


" Kalau begitu, Wisnu gak mau ikut campur deh!" tambah Wisnu sambil menjauh dari Hendra. Namun Hendra berusaha menahan Wisnu.


" Wisnu sayang! Papa ingin minta maaf dengan mama. Masak gak boleh jika papa mau minta maaf sama mama." kata Hendra berusaha merayu.


" Tapi mama lagi gak mau diganggu tuh! Nyatanya pintu kamar nya gak mau bukain." sahut Wisnuu yang bikin gemas Hendra.


" Tolong papa, Wisnu!" kata Hendra akhirnya.

__ADS_1


" Entar yah, pa! Wisnu pikir-pikir dulu." sahut Wisnu sambil melangkah ke dapur.


"Eh! Astaga!" keluh Hendra sambil mengacak-acak rambutnya.


__ADS_2