
Di rumah kontrakan Winda dan Surya. Surya sudah duduk berhadapan dengan papa dan mama nya. Winda di belakang sedang membuatkan minuman teh manis panas. Pak Hartono dan Bu Hartini menatap tajam ke arah Surya. Ada kerinduan yang disembunyikan. Mereka merasa angkuh untuk mengakuinya.
" Surya! Kamu harus pulang! Sebentar lagi adikmu Intan akan menikah." ucap Bu Hartini memulai pembicaraan.
" Kamu bisa pulang dengan istri kamu Winda." sahut Pak Hartono.
Surya hanya diam,belum menanggapi ucapan dan ajakan papa dan mama nya.
" Di minum dulu pa! Ma!" kata Winda yang baru datang dan bergabung di ruang tamu rumah kecil itu.
Setelah meletakkan teh manis itu,Winda segera pergi meninggalkan percakapan ibu,bapak dan anak itu.
" Winda! Kamu duduk lah disini!" teriak Surya.
" Eh?" Winda menoleh dan melihatnya ekspresi wajah papa dan mama Surya.
" Kamu boleh duduk dan bergabung dalam pembicaraan kami. Bukankah kamu sudah menjadi istri Surya. Jadi kamu sudah menjadi keluarga kami juga." ucap Pak Hartono yang membuat Surya berusaha meneliti kebenaran ucapan papa nya itu.
" Aku serius Surya! Pulanglah ke rumah bersama istrimu Winda. Papa sudah mulai tua. Kamulah satu-satunya harapan papa untuk meneruskan bisnis keluarga kita." kata Pak Hartono lagi.
" Iya anakku! Mama juga sangat kesepian dirumah. Sebentar lagi kami akan memiliki anak dari Winda. Winda dan anak-anak mu perlu segala fasilitas yang baik." ucap Bu Hartini.
Surya menatap wajah istrinya Winda. Winda menundukkan kepalanya. Segala keputusan yang akan diambil suamiku, pasti ia akan ikuti.
__ADS_1
" Winda!" panggil Ibu Hartini.
" Iya ma!" sahut Winda.
" Bujuk lah suami kamu agar pulang kerumah mama dan papa!" ucap Ibu Hartini mengiba.
" Baiklah ma! Nanti saya bujuk Mas Surya!" sahut Winda.
" Kalau begitu,papa dan mama tidak perlu lama-lama disini. Aku tunggu kedatangan kalian untuk pulang kembali kerumah!" ucap Pak Hartono.
Pak Hartono dan Bu Hartini akhirnya berlalu meninggalkan rumah kontrakan Surya dan Winda yang kecil itu.
Surya mendekati istrinya dan merengkuh tubuh nya.
" Iya Mas! Aku juga demikian!" sahut Winda sambil melingkarkan tangannya ke leher Surya.
" Aku mencintaimu lebih dari apapun! Aku tidak ingin mereka menghina kamu ketika kita pulang kerumah yang mewah dan besar itu." ucap Surya.
" Tapi Mas! Papa ingin kamu mambantu meneruskan usahanya! Kamulah satu-satunya yang bisa diandalkan!" ucap Winda.
" Aku tahu itu!" sahut Surya.
" Kalau begitu, pulanglah kerumah mama dan papa kamu Mas!" ucap Winda.
__ADS_1
" Kenapa kamu bicara seperti itu? Apakah kamu tidak ikut pulang bersama dengan aku?" tanya Surya.
" Hem...Hem..!" Winda masih bingung dan akhirnya menunduk kan kepalanya.
Surya mengangkat dagu Winda pelan.
" Kamu harus ikut aku pulang sayang! Aku akan selalu melindungi kamu!" kata Surya.
" Baiklah! Demi kamu Dan keluarga kamu!" sahut Winda.
" Winda! Jangan kwatir! Aku akan selalu menyayangi kamu! Mama dan papa aku pasti akan menjadi menyukai kamu setelah ada cucu nya ini!" ucap Surya.
" Iya mas! Amin!" sahut Winda.
Surya dengan lembut mengusap perut Winda. Ada bayi mungil masih ada didalam perut Winda. Surya menciumi perut istrinya itu penuh dengan kasih sayang.
" Rasanya sudah tidak sabar ingin menggendong kamu nak! Ayah dan Ibu ingin melihat kamu lahir di tengah-tengah kami."
" Ayah? Ibu?" sahut Winda.
" Hehe! Lalu kita minta dipanggil apa?" tanya Surya.
" Ayah dan Bunda juga bagus kok." ucap Winda Akhirnya.
__ADS_1
" Bunda! Bunda yang cantik dan lembut!" sahut Surya sambil mengecup dahi Winda.