
Prankkkk...
Suara benda pecah di kamar milik Sarwenda. Dengan cepat Mbak Santi berlari lalu masuk ke kamar milik Sarwenda setelah ia mengetuk pintu itu beberapa kali dan tidak ada sahutan.
" Non Sarwenda!" panggil Mbak Santi yang mendapati Sarwenda memecahkan cermin kacanya.
" Saya ambil kan sapu dulu non." kata Mbak Santi lalu keluar dari kamar itu untuk mengambil peralatan yang diperlukan untuk membereskan kamar milik tuan nya itu.
Sarwenda masih terdiam. Pandangan nya kosong menatap ke cermin dengan pantulan bayangan dirinya.
" Apakah aku sudah tidak cantik lagi? Apakah aku sudah tidak se seksi dulu lagi?" gumam Sarwenda sambil membuka kaos yang menempel di badannya itu hingga terlihat warna BH berwarna hitam dan gunung kembar itu sedikit memberontak dari wadahnya.
Mbak Santi hanya diam tidak berani menatap majikan nya yang sedang gundah. Mbak Santi mulai membersihkan semua yang berserakan dan berantakan di kamar itu.
" Hari ini ponsel Mas Wardha masih belum aktif. Apakah dia sedang bermain api di belakang ku?" kata Sarwenda sambil menatap pantulan bayangan nya di cermin besarnya.
Mbak Santi tidak berani menjawab kegundahan yang dialami oleh majikannya itu. Dia tahu tapi tidak mungkin memberitahu. Mbak Santi paham, ikatan batin seorang istri pasti akan lebih kuat dan tajam jika suaminya malam macam di luar sana. Hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Dan itu sudah dirasakan oleh Sarwenda.
" Buatkan aku kopi hitam, Santi. Dan pergilah ke warung. Belikan aku rokok mild. Aku sangat kacau hari ini." kata Sarwenda.
" Non Sarwenda!" kata Mbak Santi lirih.
" Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, Santi. Aku hanya ingin rileks saja. Dan tolong jaga anak - anak dulu. Biarkan aku di kamar terlebih dulu. Jangan sampai mereka masuk ke kamarku." perintah Sarwenda.
__ADS_1
" Baik nona!" sahut Mbak Santi.
" Ambil uangnya di dompet itu." perintah Sarwenda sambil menunjuk ke arah dompetnya diletakkan.
" Ini non!" kata Mbak Santi sambil menyerahkan dompet milik Sarwenda kepada majikannya.
" Ambil saja!" suruh Sarwenda.
" Saya tidak berani non." sahut Mbak Santi akhirnya Sarwenda mengambil uang ratusan di dompetnya dan memberikan nya pada Mbak Santi.
" Jangan lama- lama yah, Santi!" perintah Sarwenda.
" Baik nona!" sahut Mbak Santi sambil berlalu meninggalkan majikannya.
" Aku ingin mendengar alasannya dari mulut kamu, Mas. Kenapa ponselmu tidak aktif. Ini sungguh membuat aku risau. Tapi semoga engkau tidak sedang mengkhianati aku. Tapi jika engkau mengkhianati aku, siapa wanita yang kau ajak bermain dengan mu? Memang benar, aku wanita yang sudah tidak berguna lagi. Tidak mampu memberikan pelayanan yang baik sebagai seorang istri." kata Sarwenda seperti bermonolog sendiri.
" Siapa wanita yang berani masuk dalam kehidupan kita? Siapa wanita yang berani mengganggu dan merusak rumah tangga kita?" teriak Sarwenda.
" Aku masih muda. Aku masih cantik kok. Aku masih mampu melayani kamu di ranjang ini. Mau berapa ronde? Aku masih sanggup kok. Dokter salah telah memvonis ku. Aku baik- baik saja. Aku tidak sakit. Aku hanya kecapean saja. Semua yang dikatakan dokter adalah kebohongan. Aku tidak sakit." kata Sarwenda sambil memarahi pantulan bayangan dirinya di dalam cermin.
" Kamu adalah sosok laki-laki yang penyayang dan menyayangi aku dengan tulus, mas. Ketika aku dalam masalah dan seolah menjadi wanita yang dihina dan dicampakkan di keluarga Hartono. Engkau menawarkan kasih dan perhatian itu kepadaku. Katamu, kamu sudah sekian lama menyukai aku. Namun, aku sangat berharap jika kasih sayang mu tidak akan pernah berubah. Apalagi mengetahui kondisi kesehatan ku yang semakin hari semakin menurun." kata Sarwenda yang masih bermonolog sendiri sambil mengamati bayangan dirinya di kaca besar miliknya.
" Aku merasakan sesak, sakit, dan nyeri saat kamu jauh ini. Apa yang sedang kamu lakukan di sana, mas? Apakah kamu melakukan sesuatu yang jika aku mengetahuinya akan membuat kekecewaan terhadap ku. Apakah kamu mengkhianati aku, mas?" kembali Sarwenda bermonolog sendiri.
__ADS_1
" Argghhh... ahhh, tidak! Tidak! Kamu laki-laki yang baik dan setia. Aku yakin itu. Kamu tidak akan berbuat bodoh kan, mas?" kata Sarwenda sambil tersenyum sendiri.
" Mungkin saja aku sangat merindukanmu. Sehari bahkan dua minggu ini tanpa kabar dan berita dari kamu, membuatku kacau. Aku tidak bisa bernafas. Rasanya sangat sulit bernafas. Aku rindu aroma tubuhmu yang maskulin itu. Aku rindu perhatian mu. Aku rindu senyuman mu itu. Aku mulai menggilai mu. Cepatlah pulang mas. Aku tidak bisa melihat matahari tanpa kamu disisi aku." ucap Sarwenda.
Seketika ketukan pintu kembali terdengar. Sarwenda segera bergegas dan melangkah menuju pintu kamarnya.
" Santi, sudah kamu buatkan kopi hitam untuk ku?" tanya Sarwenda sambil membukakan pintu kamarnya dan menerima pesanan yang baru saja dibelikan Mbak Santi di warung. Beberapa bungkus rokok mild yang biasa di hisap oleh suaminya, Wardha. Sarwenda ingin merasakan barang kecil itu yang sering di hisap oleh suaminya.
" Ini saya buatkan dulu, non. Oh iya non. Jangan banyak- banyak menghisap rokoknya yah, non. Saya sangat mengkhawatirkan keselamatan non Sarwenda." kata Mbak Santi penuh perhatian dan dengan tatapan sedih.
" Iya, jangan khawatir Santi. Aku baik- baik saja kok. Aku hanya perlu sedikit rileks saja. Cepatlah! Aku perlu kopi hitam itu dan bawa ke kamarku yah." kata Sarwenda.
" Baik, non. Saya juga akan bawakan sedikit camilan yah non." sahut Mbak Santi.
" Terserah kamu saja!" ujar Sarwenda lalu berjalan dan duduk di kursi dalam kamarnya.
" Santi... Santi. Kamu lah yang peduli dengan aku. Padahal aku sering membuat kamu sakit hati." gumam Sarwenda.
" Aku akan mencoba menghubungi ponsel milik Wardha lagi. Mana tahu sudah aktif." kata Sarwenda sambil mengambil ponselnya dan mencari kontak suaminya itu.
Namun beberapa nomer kontak itu dihubungi, tidak tersambung.
" Mas Wardha! Kenapa bisa se teledor gini sih? Masak dua minggu ini tidak ada kasih kabar ke istrinya. Tega sekali kamu, mas! Jika ponsel kamu hilang, bukankah sangat mudah untuk membeli baru lagi? Apakah tidak ada niatan kamu untuk memberikan kabar terhadap aku?" pikir Sarwenda.
__ADS_1
" Dadaku sesak, sakit sekali, seperti tidak bisa bernafas. Mungkin aku tidak pernah merasakan kerinduan ketika berjauhan dengan seseorang yang aku sayangi. Apakah ini rasanya jika berjauhan dengan orang yang kita cintai. Benar juga kata pujangga. Rindu itu berat. Aku tidak akan sanggup jika harus seperti ini sampai sebulan, setahun bahkan se abad. Cinta memang gila!" kata Sarwenda sambil menyalakan batang rokoknya.