
Aku terlahir tidak sempurna. Kamulah yang menyempurnakan kelemahan ini. Kamu seperti malaikat tak bersayap Dengan senyuman terukir itu mampu memberikan kesejukan dan ketenangan jiwa resah.
Wahai sang Surya! Sinar mu mampu menembus jantung ku yang kian melemah. Sorot cahaya mu mampu menciutkan amarah yang membakar jiwa.
Cahaya jingga mu memberikan ketenangan dan kesejukan pandangan mata. Berikanlah kehangatan hati yang resah ini karena kesalahan yang sudah terlewati. Hapuskan jejak noda langkah ini agar aku bisa melewatinya dengan bidadari pilihan. Sadarkan dan cambuk lah pikirku karena kejahatan melukai hati wanita yang ku kasihi.
Wahai wanita ku!
Tanganmu yang halus meredamkan kegelisahan dan kegundahan hati. Kamulah pasangan sejati ku. Tetapi aku dengan mudahnya mengkhianati kasih tulus mu. Aku tahu ini salah. Aku kurang bersyukur atas semua ini. Aku terlalu ceroboh melalui kerikil - kerikil yang menggoda pertahanan diri. Penyesalan pun sudah tiada mampu maaf selalu ku ucap lirih. Mampukah aku menatap wajahmu yang lugu akan perbuatan yang sudah ku lalui.
Winda ku! Maaf kan aku karena aku bukanlah laki - laki terkuat di dunia ini.
" Mas!" panggil Sarwenda yang membuyarkan lamunan Surya yang duduk di kursi santai di kolam renang hotel mewah.
__ADS_1
Surya dan Sarwenda saat ini sedang menikmati liburan di pulau Dewata Bali. Mereka menginap di salah satu hotel mewah di Nusa Dua Bali. Raut wajah semringah terukir jelas di muka Sarwenda. Impian nya menjadi kenyataan bisa menjalani hari-harinya dengan Surya. Harapan terindahnya bisa bersanding dengan Surya menjadi kenyataan. Walaupun apa yang sudah diperbuatnya melalui jalan yang tidak benar. Tetapi satu langkah itulah menjadikan Surya bisa berada di genggaman tangan nya. Surya kini lebih dekat dengan dirinya dibanding Winda. Kenapa tidak? Di kantor atau di perusahaan, Sarwenda lah yang selalu ada di dekat Surya. Sarwenda tersenyum puas dan penuh kemenangan. Hari - hari nya akan indah karena waktunya lebih banyak bersama Surya.
" Iya kenapa Sarwenda?" tanya Surya sambil kembali menyalakan batang rokok nya.
" Mau minum apa mas? Biar akan pesankan?" tanya Sarwenda.
" Tidak perlu! Nanti saja!" jawab Surya sambil menyeruput kopi capuccino dingin yang sudah dari tadi di atas meja.
" Oh! Atau mau tambah kopi nya mas?" tawar Sarwenda lagi yang masih gigih memberikan perhatian pada Surya.
" Hem! Boleh saja!" sahut Surya yang tidak ingin melihat wajah Sarwenda kecewa karena tawarannya selalu di tolaknya.
" Hem! Terserah kamu saja!" jawab Surya masih fokus dengan batang rokok nya yang menyala. Pandangannya jauh melihat air di kolam yang mulai tenang karena tidak ada lagi orang yang berenang di dalam nya.
" Baiklah! Tunggu sebentar yah mas!" kata Sarwenda sambil berjalan menuju petugas hotel yang duduk di ruang pojok bangunan itu.
__ADS_1
Surya terlihat berjalan tidak menapakkan kaki di tempat itu. Pikirannya ke tempat jauh. Tentu saja dimana hatinya masih tertuju dengan Winda yang sebentar lagi hendak melahirkan anak nya. Menurut perkiraan Minggu - Minggu inilah, Winda akan melahirkan. Betapa pikiran Surya semakin kacau, jika Winda benar - benar akan melahirkan ketika dirinya berada di luar kota sedang bersenang-senang dengan Sarwenda. Sedangkan Winda dengan mati - mati an berjuang mempertaruhkan nyawa melahirkan si jabang bayi nya.
Di cari nya ponselnya. Surya lupa bahwasanya ponsel dan tas nya dia tinggal di kamar hotel. Surya dengan segera bergegas ke kamar hotel.
" Kamu sudah di sini, Sarwenda?" Tanya Surya sedikit terkejut.
" Iya! Aku pikir kamu pasti akan kembali ke kamar. Jadi pesanan tadi, biar nanti diantarkan kemari saja." alasan Sarwenda.
"Oh! Lihat HP aku tidak?" tanya Surya sambil mencari-cari dimana HP nya ia letakkan.
" Coba di cek di dalam tas mas!" jawab Sarwenda sambil membantu mencari ponsel dan tas Surya berada.
" Hadeuh! Dimana aku letakkan yah? Aku takut ada kabar penting dari rumah." ucap Surya.
" Pakai ponsel aku saja mas! Mas hafal nomer orang rumah kan?" usul Sarwenda.
__ADS_1
Surya duduk lemas. Laki - laki ini mana hafal nomer HP Winda ataupun Papa, mama.
Kini pikiran Surya mulai kacau,limbung dan gelisah. Kembali Surya duduk di kursi santai dan menyalakan rokoknya. Sarwenda tersenyum puas dan penuh kemenangan.