Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 34)


__ADS_3

Galuh membawa Jelita ke depan rumah itu. Rumah milik abangnya, Hendra. Tadi malam Hendra sudah tiba dan kembali ke rumah itu. Hendra semakin betah tinggal di luar kota dan mengurusi anak cabang dari perusahaan nya di banding kan perusahaan nya di dalam kota itu. Semua urusan pusat, diserahkan pada Galuh, Niga serta orang-orang kepercayaan nya. Kepulangan Hendra, kembali membuat Jelita bersedih karena Hendra masih enggan menjumpai Jelita. Ditambah Hendra tidak ingin tidur satu kamar dengan Jelita. Hendra langsung ke kamar tamu yang dirubah menjadi kamarnya kini.


Galuh yang melihat kondisi rumah tangga abangnya itu tidak bisa memprotes nya. Memang pada dasarnya Jelita masih sakit dan harus menjalani terapi dan pengobatan. Ditambah masalah pengkhianat yang terjadi, masih menyisakan kekecewaan dan kebencian. Setelah Jelita di jaga oleh perawat yang menjaganya, Galuh mulai menjumpai abangnya itu yang saat ini sedang di ruang makan.


Bang Hendra duduk di kursi makan itu sambil menikmati kopi buatan asisten rumah tangganya. Galuh ikut duduk dan mendekati abangnya itu. Pelan- pelan Galuh ingin bicara dan memberikan masukan kepada abangnya itu.


" Bang!" panggil Galuh pelan. Bang Hendra melihat Galuh sambil menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan adiknya itu.


" Perkembangan Jelita sudah cukup baik, bang." kata Galuh untuk memulai pembahasan kali ini mengenai Jelita istri dari abangnya itu.


" Baguslah! Setelah dia benar-benar pulih atau banyak perubahan, aku akan menceraikannya." ucap Bang Hendra. Galuh yang mendengar nya seketika terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Hendra sesaat melihat adiknya yang sangat terkejut dengan rencananya untuk bercerai dengan Jelita.


" Bang!" sahut Galuh. Bang Hendra kini mulai menyalakan batang rokok miliknya.


" Galuh! Jangan membahas ini dulu! Ini benar-benar tidak menarik bagi aku. Oh iya, bagaimana kabar keponakan aku? Kenapa kamu tidak mengajaknya kemari sih?" ucap Bang Hendra.


Galuh akhirnya paham akan perasaan abangnya itu. Bang Hendra masih terluka akan pengkhianatan yang dilakukan Jelita itu. Ditambah pertengkaran kala itu sebelum kecelakaan terjadi. Jelita sudah memilih kabur meniggalkan rumahnya dan mendatangi dan berkencan dengan laki-laki lain. Bagi Hendra, kepergian Jelita sudah sangat jelas kala itu. Jelita lebih memilih laki-laki itu dan minggat dari rumahnya. Jelita meninggalkan dirinya. Bukankah itu sudah sangat jelas? Jelita tidak menginginkan dirinya. Walaupun kata maaf yang hendak diucapkan Jelita kepada nya. Namun Hendra tidak akan menerima Jelita kembali untuk menjadi istrinya. Mungkin saja, Bang Hendra bisa memberikan maaf itu kepada Jelita, namun bukan berarti bisa bersama kembali menjalani biduk rumah tangga bersama Jelita. Hatinya sudah sangat sakit ketika Jelita membohongi dirinya. Ditambah kebenarannya, Jelita memang mengkhianati dirinya dengan sahabat nya sendiri.


" Sebentar lagi mas Niga kemari mengajak keponakan abang yang super centil." kata Galuh. Hendra tersenyum jika mengingat keponakan nya yang super lucu dan gemesin itu.


Tidak lama orang yang ditanyain oleh Hendra telah tiba bersama ayahnya yaitu Niga. Dia adalah Keysa, putri dari Niga dan Galuh yang saat ini baru masuk ke Sekolah Menengah Pertama setelah kemarin masih duduk di bangku SD kelas enam.

__ADS_1


"Uncle Hendra!" teriak Keysa dari pintu utama masuk sudah memanggil dengan kerasnya. Membuat Hendra seketika terkekeh karena tingkah centil dan periang nya keponakannya itu.


" Hai! Hai! Salim dulu sama uncle!" sahut Galuh yang menarik hidung Keysa pelan yang saat itu langsung duduk di kursi makan itu. Bang Hendra seketika senyuman nya mengembang melihat Keysa, keponakan nya tiba ke rumahnya.


" Uncle, saya bawain makanan kesukaan uncle loh!" kata Keysa setelah bersalaman dengan uncle nya itu langsung membukakan makanan kesukaan saudara laki-laki mama nya itu.


" Sehat, bang Hendra?" sapa Niga yang kini ikutan duduk setelah menyalami kakak ipar dan juga istrinya itu.


" Sehat!" sahut Hendra singkat. Keysa cemberut merasa dicuekin oleh uncle nya.


" Kamu kenapa sih, datang- datang langsung cemberut?" tanya Galuh yang kini perubahan wajah anak gadisnya seketika berubah tatkala dirinya merasa di cuekin oleh uncle nya.


" Enakan gak, uncle?" tanya Keysa yang memakan makanan yang ia bawa tadi bersama dengan uncle nya.


" Lumayan! Churros nya beli dimana tadi?" tanya Hendra. Keysa tersenyum melihat uncle nya melahap churros yang ia bawa tadi yang dicocol kan dengan coklat.


" Ditempat langganan papa." jawab Keysa sambil makan churros itu.


Tawa Hendra seketika terhenti tatkala Jelita datang dengan menggunakan kursi rodanya yang dibantu oleh perawat nya.


" Ibu Jelita!" panggil Keysa. Keysa ini memang kalau dengan Jelita memanggilnya dengan panggilan ibu Jelita. Jelita tersenyum.

__ADS_1


" Ibu Jelita mau churros?" kata Keysa sambil menyuapi ke mulut Jelita satu churros itu. Jelita mulai menggigit dan mengunyah nya pelan.


" Enak kan, bu? Uncle paling suka makanan ini." kata Keysa masih dengan gayanya yang ceria. Hendra mulai berdiri dan hendak meninggalkan ruang makan itu.


" Uncle ada sedikit urusan. Uncle ke kamar dulu yah!" ucap Hendra kepada Keysa sambil mengusap rambut milik Keysa. Jelita seketika menundukkan kepalanya. Jelita merasa kalau Hendra masih berusaha menghindari nya. Niga dan Galuh tidak bisa berbuat banyak.


" Ayo mbak Jelita, kita makan sama-sama di sini yuk!" ajak Galuh. Perawat itu mulai mendekat kan kursi Roda itu ke meja makan.


"Kalian makan saja. Aku masih kenyang." ucap Jelita.


" Aku ingin menjumpai Bang Hendra." kata Jelita lagi. Galuh dan Niga malah saling pandang.


" Biar Keysa antar ke kamar uncle!" sahut Keysa. Namun sebelum Keysa hendak berdiri dan mendekati Jelita tangan Keysa ditahan oleh Galuh.


" Kamu makan saja nak! Ibu Jelita biar diantar oleh Mbak Perawat saja." kata Galuh. Galuh takut kalau Keysa mengetahui kalau uncle nya itu sebenarnya tidak menginginkan Jelita mendatangi dirinya sementara waktu. Galuh takutnya Bang Hendra itu mengusir Jelita atau bahkan tidak mengijinkan masuk ke dalam kamarnya. Jika diantar oleh Perawat itu, paling tidak Keysa tidak akan melihat insiden suami istri yang sedang ada masalah itu. Kemungkinan- kemungkinan akan terjadi.


" Baiklah!" sahut Keysa kembali memakan camilan nya.


Kini Jelita mulai mendekati kamar yang saat ini ditempati oleh Bang Hendra. Dengan bantuan perawat nya, kini Jelita sudah berada di depan pintu kamar Hendra.


" Kamu boleh pergi dulu mbak!" kata Jelita kepada perawat itu. Perawat itu mengikuti apa kata Jelita.

__ADS_1


__ADS_2