
Sudah hampir dua minggu, Jelita dengan Andrie tidak saling komunikasi. Mereka benar-benar menahan diri dan sepakat tidak saling menghubungi. Jelita dua minggu ini benar-benar menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suaminya. Walaupun ingatannya masih kuat tertuju pada Andrie. Saat ini Hendra sedang berada di rumahnya.
Di rumah Hendra, saat ini mereka sudah siap untuk bepergian. Hendra ingin mengajak istrinya berkunjung ke rumah sahabat lamanya. Jelita pun sudah bersiap dengan penampilan sesuai karakter nya. Namun Hendra kurang begitu menyukai jika Jelita mengenakan rok mini seperti saat ini.
" Sayang! Pakai celana panjang saja! Dingin loh malam ini!" protes Hendra dengan halus.
" Kenapa? Bukankah ini sangat bagus dan keren, yank? Lagipula aku kan perginya dengan kamu, sayang!" sahut Jelita seolah tidak berkenan jika harus berganti pakaian kembali.
" Jelita, sayang! Ganti sajalah! Nanti kalau di tengah jalan aku jadi tidak bisa menahan imron aku gimana? Kamu mau jika aku melakukan nya di dalam mobil?" ucap Hendra sebenarnya tidak menyukai jika Jelita melawan dirinya kalau soal penampilan atau baju yang terlalu terbuka dan seksi.
Jelita malah tertawa seolah tidak paham akan maksud dari Hendra.
" Sudahlah, mas! Keburu malam, ayolah kita cepat pergi. Tidak bagus juga kalau terlalu malam kita bertamu nya, apalagi sahabat kamu juga sudah beristri bukan?" kata Jelita sambil menarik tangan Hendra. Hendra akhirnya hanya menarik nafasnya.
" Semoga saja, sahabat aku tidak tertarik dengan istri aku ini." kata Hendra yang didengar oleh Jelita. Jelita malah cekikikan.
" Kamu terlalu waspada dan khawatir, mas! Aku kalau sudah jalan dengan kamu, mana ada laki-laki yang berani mendekati aku. Mereka kalah telak karena kamu memiliki kesempurnaan itu dari wajah yang ganteng, bodi yang atletis, mobil Mentereng, penampilan oke. Percaya sama aku, mas!" kata Jelita sambil masuk ke dalam mobil mereka.
" Iya! Tetap saja semua mata laki-laki itu sama liarnya kalau melihat wanita seksi seperti kamu." kata Hendra.
" Apakah kamu juga termasuk seperti itu, mas?" tanya Jelita.
" Aku terkecuali, yank!" sahut Hendra. Jelita tersenyum menatap Hendra.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Sebelum mereka sampai ditempat yang dituju, mereka singgah di suatu tempat yaitu toko bakery. Jelita dan Hendra turun membelikan beberapa kue untuk buah tangan sahabat yang sudah lama tidak Hendra kunjungi ini. Kalaupun Hendra bertemu dengan sahabatnya itupun ketemuan di luar seperti minum kopi bersama dan tidak pernah saling bertemu atau berjumpa dengan istri- istri mereka.
Sesaat Jelita sedikit ragu ketika mobil suaminya itu kini sudah berhenti di depan pagar rumah milik sahabat nya Hendra itu. Hendra membukakan pintu samping itu, namun Jelita masih belum juga keluar dari mobilnya.
__ADS_1
" Ayo, yank keluar dari mobil!" suruh Hendra. Akhirnya, Jelita dengan langkah yang kurang bersemangat mengikuti langkah Hendra. Hendra akhirnya menggandeng Jelita masuk ke dalam rumah itu.
Di teras, ternyata sahabat Hendra sudah menunggu nya bersama istri tercintanya. Mereka berdiri menyambut kedatangan Hendra dengan Jelita.
" Halo bro! Tambah gemuk kamu!" ucap Hendra kepada sahabat nya.
" Hahaha kamu juga, loh semakin makmur!" sahut sahabat Hendra dengan ramah.
" Ayo masuk!" suruh istri sahabat Hendra itu dengan ramah sambil menjabat tangan Hendra dan juga Jelita.
Mereka masuk ke dalam rumah itu, lalu duduk di ruang tamu.
" Mas! Bagaimana kalau kita makan malam saja dulu setelah itu baru sambung ngobrol nya." kata istri dari sahabat Hendra itu.
" Itu juga lebih baik!" sahut sahabat nya Hendra.
" Oke, Andrie! Kamu memang paling tahu kalau aku suka makan." sahut Hendra bersemangat.
Iya, sahabat Hendra dari dulu adalah Andre. Dan Intan pernah dikenalnya ketika berhubungan dengan Winda. Intan adalah adik ipar nya Winda, adik dari almarhum Surya.
Jelita menahan setiap rasa yang masih selalu menghimpit nya. Betapa dua minggu ini, dirinya memendam kerinduan yang makin menggunung. Dan sekarang? Jelita dan Andrie sama- sama menunjukkan kemesraan nya dengan pasangan sah nya. Ini seperti permainan atau adu akting satu dengan yang lain.
Intan mulai menyiapkan sesuatu yang kurang di atas meja makan itu. Kesibukan nya tentu saja dibantu oleh asisten rumah tangga nya. Intan tidak ada sedikitpun memiliki rasa curiga itu terhadap mata suaminya ketika menatap Jelita yang masih memendam gejolak rindu.
Perasaan mereka seperti semakin membuncah ketika pertemuan malam itu. Ini sangat menyiksa apalagi kedua nya harus memerankan posisi nya masing-masing sebagai suami dan juga istri yang setia terhadap pasangan nya.
Ini adalah garis hidup mereka. Kedua keluarga kecil itu pun masih sama- sama belum memiliki buah hati. Anak yang sama-sama mereka dambakan. Berbeda dengan Intan yang benar-benar menanti seorang anak dalam rahimnya, sedangkan Jelita memang belum ada niat untuk memiliki anak walaupun Hendra sendiri sudah sangat menginginkan nya.
__ADS_1
" Ayo! Jangan sungkan- sungkan bang!" kata Intan ramah kepada Bang Hendra.Bang Hendra tersenyum. Kalau mengingat dahulu, betapa Intan tidak menyukai dirinya lantaran dirinya menjalin hubungan dengan Winda, kakak iparnya dulu.
" Iya, ini sangat enak Intan! Aku suka sekali. Ini tidak apa- apa kalau aku habiskan?" sahut Hendra sambil terkekeh.
" Habiskan, Hendra!" kata Andrie dengan tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Jelita.
" Ayo, mbak makan saja semuanya! Jangan diet- diet!" kata Intan ramah kepada Jelita. Jelita tersenyum melihat Hendra dan Andrie secara bergantian.
" Ayolah, yank! Disuruh makan ini loh!" suruh Hendra kepada Jelita.
" Kamu ini loh, Bang Hendra! Jangan bikin malu!" sahut Jelita sambil tersenyum.
" Tidak apa- apa mbak! Kami sudah biasa kalau dengan Hendra." kata Andrie kepada Jelita tanpa berkedip. Jelita menunduk tidak berani menatap mata itu.
" Aku sate lilit nya saja, deh!" kata Jelita akhirnya. Dengan cepat Andrie menyodorkan piring yang berisi sate lilit itu dengan daging tuna.
Setelah acara makan malam itu, para suami saling mengobrol di ruang tamu. Sedangkan Intan dengan Jelita masih di belakang rumah sambil duduk dan ngemil makanan ringan.
" Kamu ikut program kehamilan tidak, Mbak?" tanya Intan pada Jelita setelah mereka mengobrol masalah trend model saat ini.
" Tidak, mbak! Jujur aku pribadi masih belum ingin memiliki anak sih mbak. Walaupun bang Hendra sudah sangat ngebet ingin punya anak." kata Jelita jujur.
" Kenapa? Kalian kan sudah lama menikah juga loh! Paling selisih satu tahun dari aku lama menikah nya." sahut Intan.
" Aku pribadi belum siap untuk menjadi ibu, mbak! Nanti mengandung, terus badanku jadi gendut dan setelah itu sibuk ngurus anak. Ah engga banget deh. Aku masih ingin seneng- senang dulu, mbak." kata Jelita.
" Begitu yah? Kalau Aku sudah sangat ingin punya anak itu." keluh Intan sambil tetap menunjukkan senyumnya.
__ADS_1