
" Kamu sakit apa, Galuh?" tanya Winda yang sudah berada di kamar Galuh sambil menatap wajah pucat milik Galuh.
" Aku kecapekan saja, Win!" jawab Galuh asal.
" Benarkah? Apa ada yang bisa aku bantuin dari kerjaan kamu, Luh?" tanya Winda serius.
Galuh yang ditanya malah menatap balik ke wajah Winda yang mengucapkan kalimat itu.
" Lho aku serius, tahu! Ada tidak, laporan atau apa saja mungkin aku bisa menggarapnya." ucap Winda yang menebak tatapan Galuh antara tidak percaya dan tidak yakin.
" Tidak ada kok! Sudah kelar semuanya." akhirnya Galuh berkata demikian.
" Andrie sudah menjenguk kamu?" tanya Winda.
" Sudah!" jawab Galuh singkat sambil menatap beberapa tangkai bunga mawar putih yang diletakkan di vas bunga.
Winda lalu mengikuti arah mata Galuh yang melihat rangkaian bunga mawar putih yang diletakkan di meja rias tidak jauh dari tempat tidur di kamar Galuh.
Winda tersenyum melihat nya dan kini pandangan nya kembali melihat wajah Galuh.
" Jadi? Kamu masih rindu dengan Niga? Sampai kamu jatuh sakit seperti ini." goda Winda sambil nyengir.
" Apaan sih? Enggaklah! Ngapain aku rindu dengan Niga?" jawab Galuh sambil mencubit pinggang Winda.
" Iya juga tidak apa-apa kok, toh Niga sudah berstatus duda kan? Eh, lebih tepatnya duda keren yang mapan." goda Winda lagi.
" Atau aku telepon kan dia, supaya Niga kemari yah." imbuh Winda menggoda Galuh sambil berpura- pura mencari nomer milik Niga.
" Winda!" sahut Galuh memelas.
" Iya! Iya! Aku merindukan nya!" teriak Galuh akhirnya.
" Aku merindukan nyaaaa!" Winda menyanyi dengan pelan.
" Winda!" kata Galuh sambil mencubit lagi pinggang Winda.
Jika kamu rindu aku, kenapa tidak kau ungkapkan segala perasaan itu padaku? Jika kau kangen aku, kenapa kau hanya diam tidak berusaha menemui aku? Apakah sangat susah jika harus mengatakan itu semua dengan kejujuran mu. Apakah sangat rugi jika kamu menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya terhadap ku? Aku ingin mendengar kata-kata indah itu dari mulut kamu, agar aku bisa lega dan merasakan kesejukan dari kata-kata rindu itu. Seperti kemarau yang panjang, menantikan air hujan tatkala itu. Seperti juga aku saat ini, aku perlu itu dan sangat menantikan itu.
Aku merindukan mu!
Iya, aku merindukan mu. Bayanganmu pun tidak sanggup aku gapai. Aku tidak bisa melepaskan keangkuhan ku. Ketika kita bertemu, aku hanya mampu menjauhi kamu. Lalu kebisuan itu tercipta lagi. Kamu pun tidak kuasa memaksa ku. Padahal aku sedikit ingin dipaksa olehmu. ( Hahaha asyemmm opo Ono ngene Iki?)
__ADS_1
" Kalian itu sebenarnya gimana sih? Ketika berjumpa di rumahku, tidak saling tegur sapa. Masing-masing angkuh dan cuek. Padahal sama-sama saling peduli dan diam-diam memperhatikan satu sama lain. Hubungan yang aneh!" ucap Winda sambil tersenyum melihat Galuh yang memeluk guling kesayangan nya.
" Apakah guling itu juga pemberian, Niga? Sampai memeluk nya begitu eratnya." goda Winda sambil nyengir.
" Apaan? Tidak yah! Itu pemberian Niga!" kata Galuh sambil menunjukkan boneka beruang cukup besar yang diletakkan di atas lemari bajunya.
Winda melihat boneka yang ditunjukkan oleh Galuh dan mulai melangkah mendekati boneka itu lalu mengambilnya.
" Ya ampun! Kasihan sekali kamu hanya di letakkan diatas lemari. Seharusnya kamu di keloni." ucap Winda sambil melirik ke Galuh.
Galuh hanya tersenyum melihat Winda yang seperti dramaqueen.
" Nih peluk ini saja dari pada guling mu itu!" kata Winda sambil memberikan boneka beruang yang cukup besar itu.
" Haduh! Berdebu Winda!" sahut Galuh laku memeluk boneka beruang itu.
" Hahaha asyemmm! Bilangnya berdebu tapi dipeluknya juga. Dasar sudah rindu beratnya sama Niga!" goda Winda.
" Hidup ini tidak usah dibuat ribet, Galuh! Capek? Istirahat saja. Ruwet? Hajar saja. Rindu? Datangi lah!" ucap Winda.
" Weleh! Enak sekali ngomongnya, Win! Kamu saja, belum tentu bisa seperti itu kan dulu." sahut Galuh sambil terkekeh.
" Hehehe, iya betul! Karena aku orangnya baik dan penuh perhitungan. Tidak asal grusa- grusu saja." kata Winda.
" Mengakui sendiri, kan?" sahut Galuh.
" Kamu kalau kepo dengan urusan orang, langsung mendadak menjadi sehat yah." kata Winda.
" Aku kan penasaran dengan abang ku sendiri." sahut Galuh.
" Nanti juga kamu akan tahu." ujar Winda.
" Aku tidak akan tahu jika kamu tidak menceritakan semua nya padaku, Win." sahut Galuh.
" Ayolah Winda, ceritakan semuanya padaku?" pinta Galuh sambil merengek.
" Yah begitulah!" jawab Winda sambil melangkah keluar pintu kamar Galuh.
" Mau kemana? Disini saja!" pinta Galuh sambil berusaha mengejar Winda.
Winda sudah membuka pintu kamar Galuh dan bersamaan dengan itu Bang Hendra sudah berada didepan pintu kamar itu. Mata Bang Hendra dan Winda saling beradu. Galuh yang melihat situasi tersebut tersenyum geli.
" Hahaha! Terkam saja, bang!" teriak Galuh yang membuat kaget diantara keduanya.
__ADS_1
" A..aku mencari mu, Win! Papa dan mama ku ingin melihat mu." kata Bang Hendra.
Galuh tersenyum melihat abangnya yang gugup dan mulai salah tingkah.
" Aku dicari papa mama, tidak bang?" goda Galuh.
" Tidak! Kamu dicari Andrie diluar." jawab Bang Hendra.
" Bohong banget!" sahut Galuh sambil tiduran kembali.
" Galuh! Aku ke ruang tamu dulu yah!" pamit Winda.
" Baiklah! Tenang saja, papa mama ku super baik dan tidak galak kok, Win. Kamu tidak perlu tegang." goda Galuh.
" Eh?" Winda melotot ke arah Galuh lalu beralih ke Bang Hendra.
" Aku akan menemani kamu kok, Win!" kata Bang Hendra.
" Aduh, so sweet deh!" goda Galuh sambil tersenyum.
Bang Hendra dan Winda berjalan ke ruang tamu. Sampai diruang tamu, Winda duduk di depan papa dan mama Hendra setelah bersalaman dengan papa mama Hendra. Hendra ikut memperkenalkan Winda kepada papa dan mama nya.
" Santai saja, Win! Papa dan mama ku tidak akan memakan kamu kok." goda Hendra.
Winda hanya tersenyum lalu melihat mama dan papa Hendra saling bergantian.
" Jangan peduli kan Hendra, dia selalu begitu. Suka jail dan godain orang." sahut mama Hendra.
Papa Hendra hanya diam saja sambil meneliti wanita muda yang duduk di depannya itu.
" Kamu sudah makan nak?" tanya mama Hendra.
" Sudah Tante, tadi di kantor." jawab Winda.
" Astagfirullah! Hendra! Anak orang kamu buat lapar loh! Ajak Winda makan dahulu, sana!" perintah mama Hendra.
" Eh, maaf! Kamu lapar Win?" Hendra malah bertanya.
" Hendra! Kamu malah bertanya gitu, sih! Ajak Winda makan sana!" omel mama Hendra.
" Iya! Iya mamaku yang cantik! Ayo Winda, kita makan dulu!" ajak Hendra kepada Winda.
" Tapi masih kenyang, Mas!" sahut Winda.
__ADS_1
" Kalau kamu menolak, nanti aku yang kena Omelan mama. Ayolah!" ajak Hendra sedikit memaksa.
" Baiklah!" sahut Winda dengan berat hati mengikuti langkah Hendra menuju ke meja makan yang letaknya di ruang belakang.